Bagaimana Mengajarkan Anak Menghargai Orang Lain?

menghargai orang lain
Foto: www.stocksy.com

Saat ini kamu sedang mengajarkan anak berempati, dan pada saat yang bersamaan juga ingin memperkenalkan konsep menghargai orang lain kepada anak. Bagaimana melakukannya dengan benar sehingga tidak hanya menghargai keluarga, anak juga teman-temannya, tetangga dan semua di sekitarnya. Berikut penjelasan Lecya Lalitya, M.Psi., Psikolog, seorang konselor sekolah dan psikolog anak dari TigaGenerasi kepada LIMONE tentang cara mengajarkan anak menghargai orang lain.

Apa Definisi Menghargai Orang Lain?

menghargai orang lain
Foto: www.freepik.com

Pertama-tama, mari menyamakan persepi terlebih dahulu tentang apa sebenarnya definisi dari penghargaan terhadap orang lain.

“Menghargai orang lain adalah sikap yang ditunjukkan seseorang ketika ia mengakui dan tidak mengganggu hak orang lain. Sebagai contoh, seorang anak dapat dikatakan menghargai orang lain ketika ia menunggu giliran berbicara di kelas atau mengantri saat ingin mencuci tangan di tempat umum,” terang Lecya.

Seandainya kamu butuh diyakinkan dan peneguhan tentang mengapa penting mengajarkan hal ini kepada anak, adalah karena manusia (termasuk kamu dan si kecil) adalah mahluk sosial.

“Sikap menghargai orang lain menjadi penting karena manusia adalah makhluk sosial yang hidup berkelompok, di mana setiap individu di dalam kelompok memiliki haknya masing-masing. Maka, sikap menghargai orang lain menjadi penting dimiliki setiap individu, temasuk anak usia dini, untuk menjalankan hidup bersosialisasi,” jelasnya.

Sejak dini. Apakah ini berarti ada kata ‘terlambat’ untuk mengajarkan anak tentang penghargaan terhadap orang lain?

“Agak tricky jika dikatakan terlambat diajarkan menghargai orang lain, karena kemampuan ini berkembang terus menerus seiring bertambahnya usia, bahkan hingga dewasa,” jawabnya.

“Di sisi lain, apabila kemampuan ini tidak dikembangkan sejak dini, anak kemungkinan sulit menjalin relasi yang positif dengan teman atau orang lain. Sebagai contoh, apabila ia tidak memahami bahwa setiap anak memiliki hak kepemilikan, ia akan sering merebut mainan teman, sehingga menimbulkan konflik pertemanan yang kemudian berdampak pada kehidupan bersosialisasinya,” imbuhnya.

Apa yang Perlu Diperhatikan Saat Mengajarkan Anak tentang Konsep Ini?

menghargai orang lain
Foto: www.freepik.com

Menurut Lecya, usia menjadi salah satu faktor utama yang harus diingat oleh orang tua saat mengajarkan anak tentang konsep penghargaan terhadap orang lain.

“Ya, usia menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena kemampuan menghargai orang lain berkaitan erat dengan perkembangan socio-emosi anak. Sehingga ‘apa yang diajarkan’ dan ‘bagaimana mengajarkannya’ sangat berkaitan dengan usia anak,” tekannya.

Memberikan contoh, Lecya mengatakan bahwa misalnya pada usia 4 tahun, anak sedang belajar untuk menunggu giliran dan tidak menyerobot orang lain, sehingga menjadi tidak sesuai jika orang tua mengharapkan anak usia 2 tahun untuk sudah mampu menunggu giliran. 

Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah perilaku orang tua. Uh-uh.

“Perlu diingat bahwa anak paling mudah belajar dari melihat contoh dan orang tua merupakan contoh terdekat anak. Akan menjadi sulit menanamkan sikap menghargai orang lain jika orang tua tidak menunjukkan perilaku ini. Misalnya, orang tua sering terlambat datang saat membuat janji dengan guru anak, menyerobot barisan saat mengantre di kasir perbelanjaan, atau berkata kasar kepada orang lain,” terangnya.

Ah, sama seperti banyak hal tentang konsep mengajarkan sesuatu yang baik, sebagai orang tua sepertinya kita perlu terus berefleksi dan memperbaiki diri.

Bagaimana Cara Mengajarkan Anak Menghargai Orang Lain?

menghargai orang lain
Foto: www.rawpixel.com

Penasaran bagaimana cara mengajarkan anak tentang konsep ini? Lecya menjabarkan beberapa cara utama yang bisa kamu dan pasanganmu lakukan sebagai orang tua. Ohya, seperti yang telah disebutkan, cara-cara ini perlu disesuaikan dengan usia anak, ya.

  • Menjadi contoh yang baik bagi anak. Hal ini dapat dilakukan dengan menghargai hak anak, tidak menggunakan kata kasar kepada anak, dan tentunya memberikan contoh perilaku penghargaan terhadap orang lain. Sebagai contoh, orang tua dapat mendengarkan pendapat dan keinginan anak dan menghindari memotong pembicaraan anak. “Perilaku ini berkaitan dengan hak anak untuk mengeluarkan pendapat dan berekspresi. Orang tua juga perlu memberi contoh menghargai orang lain terlepas dari status sosial-ekonomi, kondisi fisik, ras, agama, dan lainnya,” tekannya.
  • Mengajarkan sikap penghargaan terhadap orang lain dalam kehidupan sehari-hari, dimulai dari perilaku kecil, seperti tidak menyerobot, tidak berkata kasar saat marah.
  • Mengajarkan pengelolaan emosi. Misalnya, tidak boleh menyakiti orang lain atau merusak barang saat marah. Sebaliknya ia dapat mengomunikasikan perasaannya atau melakukan teknik relaksasi. “Orang tua juga perlu menghargai perasaan anak, hindari mengatakan ‘nggak boleh marah… ‘ dan ganti dengan ‘iya, bunda tahu kamu marah ya, karena…,'” anjurnya.
  • Mengajarkan anak cara mengomunikasikan keinginan dan perasaan melalui kata-kata. “Kemampuan ini paling tepat diajarkan pada anak usia 2-5 tahun,” terang Lecya.
  • Berikan pujian positif terhadap perilaku menghargai orang lain yang telah ia tunjukkan.
  • Meminta maaf pada anak saat melakukan kesalahan. “Orang tua pun terkadang bisa ‘lepas kontrol’ dan menunjukkan perilaku tidak menghargai. Dengan meminta maaf pada anak, kita mengajarkan bahwa perilaku tersebut tidak terpuji dan salah. Selain itu, orang tua juga menunjukkan sikap menghargai perasaan orang lain,” paparnya.

Bagaimana Jika Anak Menghadapi Kesulitan Mempraktikkan Hal Ini?

Foto: www.freepik.com

Doa ibu dan ayah adalah anak bisa belajar tentang cara menghargai manusia lain. Namun bagaimana jika anak sepertinya sulit menerapkan konsep ini secara nyata dalam kehidupannya sehari?

Menurut Lecya, saat anak menunjukkan perilaku tidak menghargai pihak lain, ini beberapa hal yang ibu dan ayah perlu lakukan.

  1. Tenang dan tidak memberikan label negatif pada anak, seperti nakal, susah dibilangin, kurang ajar dan lainnya.
  2. Tanyakan pada anak apa yang ia inginkan dan rasakan.
  3. Ajak anak untuk mencari solusi atau jalan tengah dari keinginan/perasaan dan hak orang lain. “Misalnya, saat ia ingin bermain ayunan namun ada anak lain yang sedang memainkan, ia dapat mengomunikasikan keinginannya pada anak tersebut dan bermain dengan mainan lain sambil menunggu giliran,” anjurnya.

Selanjutnya: Apakah si kecil memiliki kebiasaan memukul saat marah? Begini yang bisa kamu lakukan menurut seorang psikolog.

podcast button