Bagaimana Mengatasi Rasanya Sakit Hati Agar Tidak Menjadi Dendam?

rasanya sakit hati
Foto: www.unsplash.com

Saat mengalami kejadian yang buruk, secara sadar atau tidak kita akan mengalami perasaan sedih, terluka, bahkan sakit hati. Karena rasanya sakit hati ini akan membuat kita tidak nyaman, maka hal tersebut sebaiknya segera diatasi agar tidak menimbulkan dendam.

Simak penjelasan dari Devina Priskila Zabrina M.Psi., Psikolog, seorang Psikolog Klinis dari Toucheid, yang akan menjelaskan penyebab dan cara mengatasi rasanya sakit hati, serta mencegahnya agar tidak menjadi dendam.

Apa Definisi dari Sakit Hati?

rasanya sakit hati
Foto: www.unsplash.com

Menurut Devina, “sakit hati merupakan sebuah perasaan, dalam psikologi dinamakan emotional wheel. Teori ini masuknya perasaan tersakiti atau hurt. Jika kita berbicara tentang rasanya sakit hati, berarti merasa sakit di dalam konteks emosional,” ujarnya.

“Kalau sakit fisik itu misalnya seperti jatuh, kemudian terluka. Sementara sakit hati, itu rasanya berada di emosional, adanya perasaan tersakiti,” lanjutnya.

Psikolog klinis ini menuturkan bahwa sesungguhnya sakit hati merupakan turunan dari emosi sedih. “Jadi emosi utamanya itu sedih, kemudian diturunkan menjadi hurt, dan turunannya lagi ada namanya kecewa dan malu. Jadi kira-kira perasaan yang akan muncul meliputi sedih, kecewa, dan malu,” tuturnya.

Meski di antara sakit hati dan sakit fisik didasari oleh perasaan yang sama yaitu sakit, namun terdapat perbedaan antara keduanya.

“Bedanya kalau sakit fisik itu kelihatan lokasi sakitnya di mana, baik di kulit, kepala, atau lokasi lainnya. Sebab bisa dilihat oleh sensorik yaitu lima pancaindra kita. Tetapi kalau rasanya sakit hati yang menyerang psikologis, itu tidak kelihatan, namun terasa,” jelasnya.

Mengapa Kita Bisa Merasakan Sakit Hati?

Foto: www.pexels.com

Devina menjelaskan bahwa “kalau di psikologis, rasanya sakit hati ini disebabkan oleh adanya pengalaman yang menyakitkan. Seperti sakit fisik, ada peristiwa yang menyebabkan terjadinya hal tersebut, misalnya seperti jatuh di aspal. Begitu pun dengan sakit hati, itu juga karena adanya peristiwa pemicu,” ungkapnya.

Sebenarnya, tidak ada orang yang tiba-tiba merasa sakit hati. “Jika tidak mengalami kejadian apa pun lalu merasa sakit hati, biasanya itu pemicunya adalah masa lalu, jadi tidak secara langsung. Misalnya seperti adanya trauma, merasa dikhianati, diselingkuhi. Itu jika ditelusuri lebih lanjut, tidak akan tiba-tiba dan pasti ada penyebabnya,” terang Devina.

Tetapi mungkin penyebabnya terjadi dua bulan yang lalu, sehingga tracking-nya lebih sulit dibandingkan dengan mengalami rasanya sakit hati karena putus yang baru terjadi kemarin.

"Karena jika baru putus kemarin, itu akan lebih mudah, karena kejadiannya baru terjadi. Namun jika kejadiannya tiga tahun lalu pernah diselingkuhi atau 10 tahun lalu dikhianati sahabatnya, itu lebih sulit,” paparnya.

Apakah Perasaan Ini Bisa Berdampak pada Kehidupan Kita?

rasanya sakit hati
Foto: www.freepik.com

Ternyata, dampak dari perasaan sakit hati bisa bermacam-macam. “Jika dibagi, dampaknya akan terasa di fisik dan psikis. Kalau di fisik itu bisa lebih ke gejala sakit kepala, gangguan pencernaan, perubahan pola makan dan tidur,” tuturnya.

“Sementara untuk dampak psikologis akan sangat banyak, misalnya seperti tidak semangat, kehilangan motivasi, suasana hati tidak stabil, dan menarik diri dari lingkungan,” tambahnya.

Bahkan “jika lebih parahnya lagi, rasanya sakit hati ini bisa sampai ke gangguan psikologis seperti depresi, cemas, dan self harm. Kalau yang sedang, biasanya akan merasa bersalah, sensitif terhadap suatu hal, insecure, dan sulit untuk berkonsentrasi,” imbuhnya.

Biasanya ini akan dipengaruhi oleh intensitas kejadiannya. “Misalnya kejadian gagal nikah, itu intensitasnya bisa digolongkan besar. Sementara jika intensitasnya kecil itu seperti dimarahi oleh atasan. Jadi intensitas kejadian dan daya tahan orang itu sendiri akan mempengaruhi dampak dari perasaan sakit hati,” katanya.

Perlu diingat bahwa setiap orang memiliki daya tahan terhadap rasa sakit atau pain tolerance yang berbeda-beda.

“Ada yang diomeli sedikit langsung nangis, ada juga yang sudah diomeli berkali-kali tetapi masih kuat. Hal ini dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Eksternalnya tergantung dengan kejadian, dan internalnya itu terkait proses diri kita, karena setiap orang akan memproses kejadiannya dengan berbeda-beda,” jelasnya.

Bagaimana Cara Mengatasi Sakit Hati?

Foto: www.canva.com

Perasaan sakit hati ini mungkin akan tidak terasa nyaman, sehingga bisa diatasi dengan segera. Untuk itu, Psikolog Klinis yang satu ini memberikan tips yang bisa kamu ikuti, yakni:

Self care

Meski kelihatannya sederhana, namun mandi, makan, dan tidur merupakan langkah yang paling penting. “Kalau mengalami gangguan tidur, setidak-tidaknya cobalah untuk terlelap. Ketika makan, meski pola makannya berubah, tetap usahakan untuk makan. Begitu pun dengan mandi, kita tetap perlu membersihkan dan merawat diri,” sarannya.

Journaling

Sesungguhnya, journaling akan lebih ke emotional record. “Pikiran dan perasaan itu dicatat, boleh mencatatnya dengan bebas baik itu digital atau manual. Supaya nantinya apa yang kita rasakan tidak ditahan di dalam diri,” ujarnya.

Karena, “diri ini kan punya kapasitas. Jadi coba ditransfer ke luar lewat tulisan. Itu menjadi cara yang sehat dan adaptif. Akan tetapi bisa juga perasaan ini dibagikan ke orang terdekat, seperti support system,” katanya.

Melakukan hobi

Selanjutnya, kamu juga bisa melakukan aktivitas yang terkait dengan hobi. “Jika suka menonton, cobalah cari komunitas atau teman yang senang dengan kegiatan tersebut,” sarannya.

Hubungi tenaga profesional

Kemudian, jika memang tidak bisa diatasi sendiri. “Jangan ragu untuk mengubungi dan meminta bantuan dari tenaga profesional, konselor, atau psikiater,” anjur Devina.

Bagaimana Jika Rasa Sakit Hati Memicu Munculnya Dendam?

rasanya sakit hati
Foto: www.canva.com

Mungkin setelah mengalami peristiwa yang mengecewakan, beberapa orang akan merasa memiliki dendam. Namun bolehkah hal itu terjadi?

“Jika pertanyaannya boleh atau tidak, itu yang mengizinkan adalah diri sendiri. Apakah diri memberikan izin untuk merasakan emosi tersebut? Karena dendam termasuk ke dalam emosi yang dampaknya negatif dan itu memang bisa disebabkan karena rasanya sakit hati,” ujarnya.

Menurut Devina, timbulnya rasa dendam itu tidak dianjurkan. “Oke kita sedih, marah, dan kecewa pada orang tertentu. Namun ini justru akan menambah rasa sakit hati itu sendiri, baik terhadap kita maupun orang lain,” terangnya.

Selain itu, dendam juga akan memperkuat pengalaman dan emosi negatif. “Rasa sakit hati ini berasal dari pengalaman negatif dan tidak menyenangkan, kemudian jika kita memiliki dendam maka hal itu akan menambah porsi pengalaman itu sendiri. Serta menurut saya, dendam merupakan tindakan egois dan belum dewasa dalam menghadapi masalah,” katanya.

Untuk itu, Devina menyarankan agar memaafkan, berbesar hati, dan berempati. Lantas, bagaimana agar mencegah timbulnya rasa dendam?

“Supaya tidak muncul dendam, yang pertama kita harus paham dengan diri sendiri. Perhatikan apa peristiwa penyebabnya. Kemudian kita harus aware saat ini berada dalam posisi apa, sakit hati atau dendam, atau di dua-duanya. Yang paling penting, kita harus paham dan mengetahui diri sendiri. Jika mulai muncul dendam, maka cobalah meminta bantuan profesional,” sarannya.

Bisakah Kita Mencegah Agar Tidak Merasa Sakit Hati?

Foto: www.unsplash.com

Menurut Devina, terdapat tiga hal yang bisa dilakukan oleh seseorang agar mencegah munculnya rasa sakit hati, yakni:

Bersyukur

Tetap merasa bersyukur atas apa pun yang kita lalui. “Cobalah untuk mengambil sisi positifnya. Meski kita telah mencobanya, tidak apa-apa jika tidak berhasil. Pasti ada saja pelajaran yang bisa kita ambil dari kejadian tersebut,” ujarnya.

Manajemen ekspektasi

Kemudian, kita perlu mengetahui diri ini memiliki ekspektasi apa dan apakah sesuai dengan energi yang dikeluarkan serta kondisinya. Jadi diatur ekspektasinya dengan menganalisis kejadian tersebut.

Pikirkan berbagai skenario

Jangan lupa untuk memikirkan skenario terbaik, menengah, dan terburuk. “Karena sering kali kita terjebak dengan hanya membayangkan skenario terburuk saja, padahal ada yang terbaik dan menengah,” paparnya.

Bagaimana Jika Kita yang Menyebabkan Seseorang Menjadi Patah Hati?

rasanya sakit hati
Foto: www.freepik.com

Namun, jika ternyata kita yang telah menyebabkan seseorang menjadi patah hati maka perlu “empati terlebih dahulu terhadap diri sendiri. Analisislah mengapa kamu melakukan hal tersebut. Setelah itu baru berempati pada orang lain,apa yang ia rasakan, dampaknya, dan jika memungkinkan cobalah untuk meminta maaf,” sarannya.

Namun perlu dingat bahwa “memaafkan merupakan hak orang lain. Jika memang bisa meminta maaf dan hubungannya kembali baik, cobalah diskusikan agar masalah tersebut tidak terjadi lagi. Serta langkah tersebut juga bisa meminimalisir kejadian tersebut akan terulang di masa depan,” katanya.

Meski sesungguhnya, “menyakiti dan disakiti itu tidak bisa dihindari. Namun kita bisa mengetahui apa kemauan dari orang tersebut dan diri sendiri, dan cara untuk meminimalisir saling menyakiti,” imbuhnya.

Kesimpulan

Foto: www.freepik.com

Agar tidak menyakiti orang lain, hal ini bisa kita lakukan dengan cara mendengar terlebih dahulu kemauannya. Setelah itu, “komunikasikan secara efektif dengan i-message, yang bisa digunakan dua belah pihak, seperti ‘aku kecewa dengan apa yang kamu sampaikan’,” ujarnya.

Kemudian, selain menyampaikan apa yang dirasakan, berikan penjelasan terkait hal tersebut. Misalnya ketika seseorang selingkuh, ‘aku merasa kurang di hubungan ini, maaf jika aku melakukan kesalahan telah mengambil waktu kita untuk orang lain’,” contohnya.

Devina menuturkan bahwa “menyakiti dan disakiti orang lain itu tidak terhindarkan. Kita bisa saja secara tidak sengaja disakiti dan menyakiti, menurutku itu kodrat hidup. Tetapi yang bisa kita lakukan adalah mengusahakan yang terbaik, meski kita tidak tahu akan menyakiti orang lain atau tidak. Tapi lakukan saja yang terbaik,” ujarnya.