Toxic Friendship, Bagaimana Mendeteksinya? Ini Kata Psikolog

tanda-tanda toxic friendship
Foto: www.canva.com

Apakah definisi toxic friendship? Dan apakah kamu sedang menjalaninya?

Untuk mengonfirmasi kecurigaanmu ini, LIMONE menghubungi Zarra Dwi Monica, M.Psi., Psikolog, seorang psikolog klinis dan pendiri Setala Psychological Center, Jakarta Selatan, yang akan menjelaskan tentang tanda-tanda toxic friendship?

Apa Itu Toxic Friendship?

toxic friend
Foto: www.pexels.com

Mari menyamakan persepi tentang apa sebenarnya pengertian toxic friendship.

Toxic itu ‘kan sebenarnya racun ya, kalau kita mengacu pada KBBI [Kamus Besar Bahasa Indonesia]. Jadi, toxic di sini adalah istilah populer yang banyak digunakan masyarakat saat ini untuk menggambarkan hubungan tidak sehat,” jelas Zarra.

Sementara toxic friendship sendiri artinya adalah ada hubungan yang tidak suportif, tidak nyaman, yang menimbulkan emosi negatif atau membuat stres karena pertemanan.

Mengapa?

“Karena hubungan tersebut tidak didasarkan pada respek, sehingga perilaku di dalam hubungan sifatnya inconsiderate atau tidak mempertimbangkan kesejahteraan dari orang lain di dalam hubungan,” terangnya.

Dari penjelasan di atas, kita bisa menarik kesimpulan tentang ciri-ciri teman yang toxic.

“Pada dasarnya, kita bisa lihat dari perilakunya, apakah menunjukkan respek atau tidak. Hal lainnya adalah, apakah di dalam hubungan tersebut berdasarkan pada ketidakjujuran, atau perilakunya mengontrol, atau justru terlalu bergantung, atau bahkan yang paling ekstrem sudah berbentuk kekerasan,” bebernya.

Apa yang Membuat Seseorang Menjadi Toxic Friend?

toxic friend
Foto: www.pexels.com

Mungkin kamu penasaran dan bertanya-tanya di dalam hati, ‘kok bisa seseorang yang selama ini kamu anggap teman, ternyata menabur racun di dalam hubungan kalian?’

“Saat kita membicarakan mengenai penyebab, yang perlu saya luruskan di sini adalah sebaiknya kita tidak menebak-nebak penyebab yang ada dan melakukan simplifikasi. Karena bisa jadi banyak faktor yang melandasi perilaku tersebut,” tegasnya.

“Namun, secara umum faktor risiko seseorang berperilaku toxic alias tidak sehat bisa jadi berkaitan dengan pengalaman di masa lalu, karakteristik dari individu tersebut seperti emosi yang belum matang,” jelasnya.

“Atau bisa juga memang karena insecurity dalam diri yang tinggi sehingga seperti ada keinginan untuk menjatuhkan orang lain agar membuat dia merasa lebih berharga,” paparnya.

Apakah teman yang cuek, pesimis, sinis, penganut idealisme negative thinking termasuk dalam kategori toxic friend?

“Kita bisa amati perilakunya. Mau teman cuek, pesimis, terlalu optimis, atau apa pun itu, pada dasarnya ketika orang tersebut memperlakukan diri kita dengan tidak respek, maka itulah ketidaksehatannya,” tekannya.

Sebagai pihak luar mungkin kamu bisa mengidentikasi seorang toxic friend. Namun di sisi lain, sangat ada kemungkinan mereka tidak menyadari dirinya menyebarkan ketidaknyamanan, dan menimbulkan emosi negatif ketika berada di sekitar orang lain.

“Sayangnya, sangat mungkin. Bahkan, seringkali pola tidak sehat di dalam hubungan disalahartikan sebagai ekspresi kasih sayang,” imbuh Zarra.

Baca Juga :  10 Kado Yang Cocok Untuk Diberikan Kepada Sahabat Perempuan

Misalnya kita dilarang temanan dengan orang lain, tidak sedikit yang berpikir, ‘Dia sebegitu sayangnya sama saya jadi saya tidak dibiarkan berteman dengan yang lain’.

“Sehingga memang kesadaran tentang hubungan yang tidak sehat ini sangat penting untuk membuat orang bisa memberikan batasan diri pada perilaku tidak sehat,” ujarnya.

Bagaimana Menghadapi Toxic Friendship?

Foto: www.unsplash.com

Sedikit shakespeareesque: to be friend atau unfriend dengan orang seperti ini? Kamu mungkin sedikit ragu, apalagi jika hubungan kalian sudah berlangsung bertahun-tahun.

“Bila memang memungkinkan, coba komunikasikan dengan asertif apa saja perilakunya yang membuat tidak nyaman. Jelaskan apa yang kita rasakan, mengapa kita merasakan hal tersebut, dan apa yang kita harapkan,” saran Zarra.

“Selain itu, tetapkan boundaries yang jelas. Biarkan orang tersebut tahu dan memahami apa saja hal yang tidak nyaman bagi diri kita, sehingga ia lebih berhati-hati dalam membahas hal tersebut. Teman yang baik akan memahami ini dengan baik pastinya,” tekannya.

Sementara tentang apakah sebaiknya memutuskan atau tidak, Zarra mengatakan bahwa ini sepenuhnya adalah keputusan dan pilihan kamu.

“Nah, dari kitanya juga perlu mengecek, apakah selama ini respons yang kita tunjukkan sudah cukup efektif untuk menghentikan perilaku tersebut? Karena, kita tidak bisa mengontrol orang lain,” katanya.

“Tapi kita memiliki kendali penuh terhadap bagaimana kita merespons orang lain atau pun berpikir tentang orang lain,” jelasnya.

Sebut saja setelah berpikir, menimbang, merenungkan, kamu sepertinya hampir 99% akan mengonfrontasi teman tersebut. Apakah ini sebuah langkah yang baik?

“Membicarakan perlu, namun lakukan dengan asertif. Artinya tegas, namun dengan cara-cara yang baik,” jawab Zarra.

Kesimpulan

Foto: www.pexels.com

Tidak mudah memang membicarakan sikap toxic-nya dengan teman tersebut. Hal ini akan sangat jauh lebih sulit dibandingkan mengucapkan ‘shakespeareesque‘.

“Memang sulit ya, apalagi kalau kita tidak terbiasa. Jadi memang perlu belajar, perlu latihan untuk bisa membuat kita terbiasa asertif dalam menyampaikan apa yang kita rasakan atau pikirkan,” tambahnya.

Oh, satu hal lagi saat memilih untuk mengungkapkan hal tersebut, Zarra mengingatkan agar menyingkirkan ekspektasi, ambisi atau cita-cita ingin mengubahnya.

“Nah, perlu diingat bahwa jangan berekspektasi bisa mengubah orang lain. Karena fakta pahitnya dan ini sesuatu yang tidak bisa kita lakukan, lho,” ujarnya.

“Seseorang tidak akan berubah kecuali dengan keinginan dari dirinya sendiri. Itu pun disertai dengan usaha yang besar untuk dapat berubah. Jadi, berhadapan dengan teman yang toxic jangan berharap bisa mengubah mereka,” tekannya.

Jadi?

“Tugas kita hanya sebatas memberikan feedback mengenai apa yang kita rasakan berkaitan dengan perilakunya. Bila ia teman yang baik, harusnya ia sadar bahwa hal itu tidak bisa dibenarkan dan mau memperbaiki diri,” sarannya.

Baca Juga :  Ini Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Memberlakukan Time-Out, Kata Psikolog

“Bila tetap bersikeras merasa tidak bersalah dan tidak mau memperbaiki diri… well, saatnya tanyakan pada dirimu: ‘Apakah kamu mau terus-terusan berada dalam hubungan tersebut?'” tegasnya.