Kompromi, Apakah Artinya Kita Rela Berkorban?

kompromi
Foto: www.canva.com

Saat menjalani hubungan, tidak jarang kita menemukan konflik di dalamnya. Untuk itu, diperlukan adanya kompromi dengan pasangan saat menentukan sebuah keputusan. Namun, apakah berkompromi sama artinya dengan berkorban? Bagaimana jika pasangan tidak setuju dengan keputusan yang dibuat?

Untuk menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas, LIMONE telah menghubungi Valeria Satwika Anindita, M.Psi., Psikolog, seorang Psikolog Klinis dari Unit Konsultasi Psikologi (UKP) Fakultas Psikologi UGM, Charisma Consulting, dan Rumah Konsul yang akan menjelaskan terkait arti kompromi dan cara melakukannya dengan tepat.

Apa Pengertian dari Kompromi?

Foto: www.canva.com

Valeria menjelaskan bahwa kompromi dalam pernikahan adalah “salah satu gaya atau tipe cara dalam resolusi konflik dan penyelesaian masalah. Seseorang yang melakukan kompromi cenderung berfokus pada kebahagiaan pasangan dan keberlanjutan hubungan,” tuturnya.

Lantas, perlukan kita melakukan kompromi?

“Mengingat jenis konflik dalam pernikahan cukup beragam, dan waktu terjadinya bisa berbeda beda baik itu dalam situasi genting atau tidak, maka tidak semua konflik harus diselesaikan dengan cara kompromi,” jawabnya.

Meski demikian, Psikolog Klinis ini menyatakan bahwa “kompromi tetap penting dalam pernikahan untuk mendapatkan win-win solution saat terjadi konflik,” ujarnya.

Terdapat beberapa manfaat dari dilakukannya kompromi, antara lain adalah:

  • Merasa didengarkan dan dipahami
  • Merasa dihargai
  • Lebih merasa lega dan bahagia
  • Pasangan (kedua pihak) merasa puas dalam hubungan
  • Dapat memupuk kekuatan dan ketahanan hubungan

Apakah Berkompromi Sama Artinya dengan Berkorban?

Foto: www.canva.com

Sesungguhnya, berkompromi dalam pernikahan mengarah pada upaya untuk mendapatkan win-win solution. “Namun hal tersebut tidak mudah untuk dicapai karena sulit untuk mencapai kompromi yang sempurna. Serta belum tentu dalam semua konflik dapat tercapai win-win solution,” paparnya.

“Ketika pasangan (dua orang) melakukan kompromi, terkadang yang terjadi adalah lose-lose solution karena solusi yang didapatkan bukan yang terbaik untuk semua pihak. Hal itu menjadi kelemahan dari gaya atau tipe cara kompromi dalam resolusi konflik,” lanjut Valeria.

Meskipun tujuan berkompromi adalah untuk kebahagiaan dan keberlanjutan hubungan, “tetapi jika salah satu pihak kurang terampil dalam berkomunikasi dan bernegosiasi, mungkin saja yang tercapai adalah win-lose solution. Ketika itu terjadi,maka salah satu pihak bisa jadi merasa ‘lebih berkorban’ dibandingkan pihak yang lain,” terangnya.

Apa Saja Hal yang Perlu Disepakati dalam Lingkup Pernikahan?

Foto: www.freepik.com

Psikolog Klinis ini menuturkan bahwa terdapat banyak hal yang perlu disepakati dalam menjalani pernikahan. “Terkait dengan konteks kompromi, pasangan perlu memahami bahwa setiap orang memiliki area fleksibel dan area tidak fleksibel,” ungkapnya.

Kedua area tersebut dapat dibayangkan seperti dua lingkaran, “yakni area tidak fleksibel di bagian dalam (lebih kecil) dan area fleksibel melingkari di luarnya. Area yang dimaksud bisa berisi value atau nilai hidup, prinsip hidup, ide, dan kebutuhan,” imbuh Valeria.

“Contohnya pada area tidak fleksibel, seseorang dapat memiliki beberapa kebutuhan serta prinsip hidup yang tidak bisa ditawar atau dikompromikan. Pasangan perlu memahami hal-hal apa yang termasuk dalam area fleksibel dan tidak fleksibel masing-masing, sehingga bisa terjadi kesepakatan mengenai hal-hal yang bisa dikompromikan dan tidak,” katanya.

Bagaimana Cara Berkompromi yang Tepat dengan Pasangan?

Foto: www.canva.com

Kenyataannya, kompromi sangatlah bergantung pada keterampilan komunikasi dan negosiasi. Untuk melakukan kesepakatan secara tepat dan menguntungkan kedua belah pihak, maka berikut cara yang bisa kamu lakukan:

Sampaikan keinginan dan kebutuhan dengan jelas

Menurut Valeria, hal pertama yang harus dilakukan adalah menyampaikan keinginan atau kebutuhan secara jelas. “Salah satunya bisa menggunakan I-message yaitu pesan yang dimulai dengan kata ‘saya’. Misalnya seperti, ‘Saya merasa bosan saat menunggu kamu berbelanja. Saya ingin menggunakan waktu itu untuk mencari keperluan renovasi rumah’,” paparnya.

Dengarkan tanggapan tanpa menyela

Kemudian, “cobalah untuk mendengarkan tanggapan tanpa menyela dan mencoba melihat situasi dari sudut pandang pasangan. Setelah itu mungkin pihak yang pertama menyampaikan keinginan mendapatkan perspektif baru, sehingga mengurungkan permintaannya,” sarannya.

Berikan penjelasan lengkap

Jika diperlukan negosiasi, maka berikan penjelasan lebih lengkap mengenai hal yang diinginkan. Jelaskan seberapa penting dan mendesaknya hal tersebut.

Berikan alternatif baru

Bisa juga berikan “alternatif baru dengan pertimbangan bahwa hal tersebut tidak menyulitkan dan tidak menimbulkan perasaan sedih pada pasangan,” ujarnya.

Bagaimana Jika Pasangan Tidak Setuju dengan Keputusan yang Dibuat?

Foto: www.freepik.com

Jika pasangan tidak setuju, “sementara yang diharapkan adalah kesepakatan dua pihak, maka yang perlu dilakukan adalah berdiskusi kembali. Di sisi lain, dalam hubungan termasuk pernikahan, bisa saja terjadi ‘agree to disagree’ karena dengan perbedaan pun setiap orang bisa tetap hidup berdampingan,” ujarnya.

Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, yakni bisa meliputi “kurangnya pemahaman karena penjelasan kurang lengkap dan menyeluruh tentang kesepakatan yang dibuat. Selain itu, bisa juga karena kurangnya toleransi terhadap perbedaan sudut pandang. Serta ada penilaian subjektif yang menimbulkan perasaan keberatan karena kesepakatan yang dibuat kurang adil baginya,” katanya.

Selama proses berkompromi, mungkin saja muncul adanya konflik. “Ketika suasana memburuk saat sedang melakukan kesepakatan yang tidak butuh keputusan segera, ada baiknya untuk mengambil waktu dan jarak untuk saling menenangkan diri masing-masing,” saran Valeria.

“Proses kompromi bisa memerlukan waktu cukup lama, sehingga dapat menguras tenaga. Dengan memberi jeda, masing-masing dapat mengisi ulang tenang dan membangun suasana baru yang lebih kondusif,” lanjutnya.

Namun jika kesepakatan dilakukan untuk keputusan yang mendesak, “maka bukalah pilihan win-lose solution atau lose-lose solution dengan kesadaran penuh sehingga dapat menerima konsekuensi bersama,” anjurnya.

Jika pasangan tidak ingin melakukan kompromi, maka kamu perlu mengenali area fleksibel dan area tidak fleksibel padanya dengan cara memperbanyak komunikasi dua arah. “Untuk dapat mengenali kedua area tersebut, mungkin membutuhkan beberapa kali diskusi,” terang Psikolog Klinis yang satu ini.

Terdapat dua faktor yang bisa menjadi kunci dari komunikasi efektif dalam pernikahan, yaitu “keterampilan menyampaikan pesan (I-message) dan kemampuan mendengarkan. Namun terkadang atau bahkan sering kali kita enggan untuk mendengar dan melihat dari perspektif lain. Sehingga menjadi sulit untuk mencapai kesepakatan,” paparnya.

Adakah Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Ketika Ingin Berkompromi?

Foto: www.canva.com

Ketika melakukan kesepakatan, ada baiknya untuk “mengenali area fleksibel dan area tidak fleksibel yang kita miliki terlebih dahulu. Salah satu yang terpenting adalah mengetahui kebutuhan diri sendiri. Kebutuhan mana yang bisa dipenuhi sendiri dan kebutuhan mana yang perlu dipenuhi bersama pasangan,” sarannya.

“Setelah itu akan lebih mudah untuk mengomunikasikan pada pasangan dan memulai untuk berkompromi. Saat akan berkompromi, perlu diingat bahwa tujuannya adalah untuk mencapai win-win solution, namun ingat juga bahwa tidak semua masalah harus diselesaikan dengan cara itu,” lanjutnya.

Pada saat berkompromi, bukalah diri pada berbagai kemungkinan dan alternatif pilihan lain. Sehingga tidak terpaku hanya pada satu solusi.

“Sebelum mencapai kesepakatan, pahami betul dan diskusikan secara terbuka mengenai konsekuensi yang ada dari setiap pilihan. Ketika sudah terjadi kesepakatan, usahakan untuk menjalankannya secara konsisten dan saling mendukung agar semua pihak merasa puas,” tambahnya.

Kesimpulan

Foto: www.freepik.com

Menurut Valeria, “berkompromi bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, tetapi selalu bisa diusahakan. Melakukan kompromi bisa membuat hubungan semakin awet dan tahan lama, jika kita ingin terus mengasah keterampilan berkomunikasi dengan pasangan,” ujarnya.

Ketika menghadapi konflik dalam pernikahan, “dibanding sibuk untuk mempertahankan keinginan atau menilai pasangan sebagai ‘lawan’, ubahlah cara pandang dengan lebih berfokus mencari tahu apa yang dinilai penting dan berharga bagi pasangan," tambah Psikolog Klinis yang satu ini.

"Dengan berusaha melakukan kompromi, setiap pasangan bisa tetap terhubung untuk berjuang bersama meskipun memiliki kebutuhan yang berbeda,” tutupnya.