ICYMI: Melewatkan Sarapan Bisa Membuat Emosi Lebih Labil

sarapan dan depresi
Foto: www.istockphoto.com

Sepertinya ibumu tahu sesuatu ketika selalu mengingatkan untuk sarapan. Ada sebuah penelitian baru yang kembali menyatakan bahwa melewatkan waktu makan, terutama sarapan, bisa meningkatkan risiko depresi. Dan kapan kamu makan juga memiliki peranan penting.

Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan?

Beberapa penelitian sebelumnya memang menyimpulkan bahwa melewatkan sarapan bisa meningkatkan risiko depresi. Contohnya yang dilakukan oleh ilmuwan di Korea Selatan pada 2017 yang bilang risiko mengalami depresi akan naik menjadi 43 persen jika melewatkan waktu makan ini.

Dipublikasikan di jurnal Psychological Medicine, studi Universitas Tasmania ini ingin mengetahui apakah kapan makan juga memiliki kaitan meningkatkan atau mengurangi risiko mengalami depresi.

Untuk menemukan jawabannya, tim peneliti mengajukan pertanyaan kepada lebih dari 1.000 orang (berusia antara 26 sampai 36) untuk mengetahui apa yang mereka makan hari sebelumnya. Lalu, lima tahun kemudian, pertanyaan yang sama kembali diajukan kepada partisipan yang sama ketika mereka sudah berumur antara 31 fan 41 tahun. Tidak hanya menjawab pertanyaan itu, para peserta studi juga melengkapi assessment of mood disorders seperti depresi, dysthymia (depresi moderat dan terus menerus) dan bipolar disorder. Asesmen yang sama mereka lakukakan lima tahun sebelumnya.

Apakah Kesimpulannya?

Hasilnya? Mereka yang melewatkan atau sarapan terlambat cenderung lebih rentan mengalami mood disorder. Hal ini jika dibandingkan dengan partisipan yang mengikuti jadwal makan ‘tradisional’ dan menikmati sarapan, makan siang dan malam pada waktu yang sama setiap hari.

Ini artinya, sarapan itu penting, tapi waktu kamu menikmatinya juga signifikan. “Kami menemukan bahwa mereka yang cenderung melewatkan atau menunda sarapan dan mengonsumsi porsi yang lebih besar saat akhirnya mereka makan, rentan mengalami mood diorder,” kata Johanna Wilson, penulis studi tersebut, kepada Psypost. Menurut mereka, hal ini ada hubungannya dengan hormon dan efek sirkadian. “Tapi ini juga bisa berkaitan dengan apakah seseorang adalah pecinta pagi atau malam, dikenal dengan chronotype.”

Pastinya, bukan berarti kamu akan mengalami depresi hanya karena melewatkan sarapan. “Sama seperti dengan studi epidemiologis lainnya, hasil ini lebih sebuah generalisasi terhadap sebuah populasi daripada individu,” jelas Wilson. Dan penelitian ini juga belum bisa menjelaskan apakah melewatkan sarapan meningkatkan mood disorders. Atau sebaliknya, malah mood disorders yang membuat kemungkinan melewatkan sarapan semakin tinggi? Belum lagi faktor bahwa ada orang yang benci banget sama pagi, dan hanya berfungsi optimal saat matahari hilang.

“Studi-studi di masa depan yang bisa mengidentifikasi hal-hal seperti karakter chronotype ini bisa berguna untuk menentukan pengaruh waktu makan dengan mood disorders,” tambah Wilson.

Berbicara tentang sarapan, menurut mana yang lebih sehat: sereal atau nasi? Ahli nutrisi ini menjawabnya.