Apakah 4 Sehat 5 Sempurna Masih Relevan?

4 sehat 5 sempurna
Foto: www.unsplash.com

It’s 2020. Dan ada banyak jenis pola makan di luar sana. Mulai dari yang masuk akal (melirik diet mediterania), hingga yang luar biasa absurd (diet sup kol dan lemonade diet). Di antara semua jajaran diet tersebut, di mana posisi pola makan 4 sehat 5 sempurna? Apakah masih sempurna bagi kesehatan kita, termasuk generasi milenial dan Z?

Super penasaran, LIMONE menghubungi  dr. Kurnia Sitompul, M.Gizi, Sp.GK, seorang dokter spesialis gizi klinik, untuk mendapatkan penjelasan tentang relevansi 4 sehat 5 sempurna di jaman Netflix, TikTok dan Zoom ini (baca: super canggih dan viral).

Apa itu 4 Sehat 5 Sempurna?

4 sehat 5 sempurna
Foto: www.unsplash.com

Membicarakan pola makan ini, pasti mau tidak mau belajar sedikit tentang sejarahnya.

Konsep empat sehat lima sempurna atau dikenal dengan 4S5S dicetuskan oleh Bapak Gizi Indonesia, Prof. Poerwo Soedarmo, pada tahun 1952. Slogan ini merujuk pada konsep ‘Basic Four‘ yang diterapkan di Amerika Serikat. Basic four sendiri dikembangkan pada tahun 1940, yang awalnya dilakukan untuk mengelompokkan jenis makanan, yaitu susu, sayur dan buah- buahan, daging serta grain. Pengelompokan dengan basic four dilakukan karena kebingungan masyarakat atas jenis makanan yang sebelumnya terdapat tujuh kelompok,” paparnya.

Nah, konsep basic four ini kemudian diterjemahkan di Indonesia sebagai empat sehat lima sempurna (4S5S), yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayur, buah dan disempurnakan dengan susu bila mampu.

“Berbeda dengan Amerika Serikat yang memasukkan susu ke dalam basic four, di Indonesia susu dianggap sebagai penyempurna,” imbuhnya.

Dibandingkan dengan pola makan lain, 4S5S ini memiliki beberapa perbedaan. Di antaranya:

  • Konsep 4S5S ini secara mendasar merekomendasikan konsumsi karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral dalam kehidupan sehari-hari.
  • Terdapat anjuran konsumsi susu untuk melengkapi nutrisi yang diperoleh. “Susu dianggap sebagai sumber nutrisi yang penting saat itu,” tekan Dokter Kurnia.
  • Tidak diatur jenis makanan apa saja yang masuk ke dalam kelompok makanan pokok, lauk pauk dan sayur buah.
  • Tidak terdapat rekomendasi berapa banyak (porsi) dan kapan saja jenis makanan tersebut dapat dikonsumsi.
  • Absen anjuran mengenai konsumsi gula, garam dan lemak jahat.

Apakah 4 Sehat 5 Sempurna Masih Relevan?

4 sehat 5 sempurna
Foto: www.unsplash.com

Tidak bisa dipungkiri, 4 Sehat 5 Sempurna memiliki tempat tersendiri di hati orang Indonesia.

“Slogan 4S5S menjadi istimewa karena menjadi pionir munculnya kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya nutrisi saat itu. Masyarakat Indonesia menjadi mengerti jenis makanan apa saja yang sebaiknya ada setiap kali makan,” paparnya.

‘Saat itu’—bagaimana dengan sekarang, apakah pola makan ini masih relevan?

“Tidak, 4S5S dianggap sudah tidak relevan apabila diterapkan saat ini,” tegasnya.

Ah, itu mungkin alasannya mengapa kita sudah jarang mendengarnya.

“Kita sudah tidak pernah mendengar slogan gizi tersebut karena memang sudah digantikan dengan slogan baru, yaitu pedoman gizi seimbang (PGS),” jelasnya.

Menurutnya, selama 20 tahun lebih, konsep basic four dan 4S5S tetap dipertahankan. Akan tetapi, perubahan gaya hidup ternyata memengaruhi banyak hal, salah satunya pola makan. “Sehingga terjadi peningkatan angka kejadian obesitas dan penyakit tidak menular di seluruh dunia, serta Indonesia pada khususnya,” terangnya.

“Munculnya fakta tersebut seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, sehingga terjadi modifikasi beberapa kali pada konsep basic four. Pada akhirnya, tahun 1992 FAO merekomendasikan penerapan ‘Nutrition Guide for Balance Diet‘ sebagai pengganti basic four, yang diterjemahkan sebagai pedoman gizi seimbang (PGS) di Indonesia,” tambahnya.

Apakah Kurang Tepat Jika Ingin Menerapkan Pola Makan Ini?

Foto: www.unsplash.com

Mungkin karena alasan nostalgia atau kebiasaan seseorang masih melakukan pola makan ini. Namun, menurut Dokter Kurnia hal ini “kurang tepat,” tegasnya.

Meski memang konsep 4S5S merupakan dasar terbentuknya PGS saat ini, “namun tidak cukup detail dalam mengatur jumlah serta variasi bahan makanan yang harus dikonsumsi,” tekannya.

Menurutnya, apabila 4S5S tetap diterapkan akan ada efek negatif yang mungkin bisa terjadi. Di antaranya:

  1. Timbulnya kebingungan dan perbedaan persepsi di tengah masyarakat.
    “Sebagai contoh, konsumsi makanan pokok, namun jenis makanan pokok tidaklah sama pada masing-masing individu dan daerah,” paparnya.
  2. Tidak ada besar porsi makanan yang dianjurkan, sehingga konsumsi makanan dalam jumlah banyak atau terlalu sedikit pun akan dianggap wajar.

3. Tidak terdapat anjuran kapan saja jenis makanan tersebut harus dikonsumsi, sehingga akan mungkin bila dalam satu kali makan hanya terdapat karbohidrat saja, atau protein dan sayur saja.

4. Susu dianggap sebagai nutrisi pelengkap.
“Faktanya, kandungan nutrisi dalam susu dapat kita temukan pada makanan lain seperti kacang-kacangan, selain itu kasus intoleransi laktosa di Indonesia masih cukup tinggi,” jelasnya.


Semua hal di atas, “Apabila hal tersebut berlanjut, maka kita tidak akan mampu menekan angka malnutrisi (baik stunting, underweight dan obesitas) serta penyakit tidak menular,” tekannya.

Seperti Apa Pola Makan yang Lebih Relevan dan Disarankan?

Foto: www.freepik.com

Setelah mengetahui bahwa 4 Sehat 5 Sempurna adalah sesuatu yang sebaiknya ditinggalkan dan diingat hanya sebagai nostalgia—bagian dari fase perkembangan pola makan sehat di Indonesia—seperti apa pola makan yang disarankan?

“Untuk memenuhi nutrisi tubuh sebaiknya kita mengikuti pola makan sesuai pedoman gizi seimbang,” sarannya.

Lebih dalam Dokter Kurnia menjelaskan bahwa dalam PGS terdapat empat pilar yang menjadi upaya menyeimbangkan antara zat gizi yang keluar dan zat gizi yang masuk. Pola makan diatur pada pilar pertama, yang menekankan betapa pentingnya mengonsumsi keanekaragaman pangan untuk memenuhi kebutuhan gizi seseorang.

“Hal ini didasarkan pada fakta bahwa tidak ada satupun jenis makanan yang mengandung semua jenis zat gizi yang dibutuhkan tubuh,” tegasnya.

Selain variasi jenis makanan, pada PGS juga diatur proporsinya agar tidak berlebihan (sesuai kebutuhan individu) dan disarankan untuk dikonsumsi secara teratur.

“Pada PGS juga direkomendasikan tentang pembatasan konsumsi gula, garam dan lemak yang dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular. Meningkatkan konsumsi sayur dan buah untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral, serta memantau asupan air untuk membantu proses metabolisme dan mencegah dehidrasi,” terangnya.

Salah satu ‘kelebihan’ (atau kekurangan?) dari hidup di era modern adalah terlalu banyak pilihan. Ada begitu banyak pola makan di luar sana, bagaimana memilih yang tepat untuk kebutuhan diri sendiri?

“Mungkin pola makan yang dimaksud di sini identik dengan jenis diet. Yah, saat ini memang banyak jenis diet yang dijalankan, namun tentu saja efeknya tidak akan sama pada tiap individu,” tekannya.

“Pola makan yang paling tepat adalah pola makan yang menyesuaikan kebutuhan tubuh kita dengan tetap menerapkan pedoman gizi seimbang, mampu dijalankan secara terus menerus dan tidak memberikan efek samping apabila dilakukan dalam jangka panjang,” paparnya.

Kesimpulan

Oh, sebagai penutup, saran dari seorang dokter gizi klinik spesialis: “Pilihlah pola makan bukan sekedar mengikuti tren, namun berdasarkan apa yang dibutuhkan oleh tubuh kita dan sanggup dilaksanakan.”

Selanjutnya: Ini menu diet “ideal” untuk banyak orang (mungkin termasuk kamu).

podcast button