Bagaimana Mengajarkan Anak Lebih Independen? Ini Saran Psikolog

arti independen
Foto: www.freepik.com

Memiliki anak yang bisa melakukan banyak hal secara mandiri menjadi harapan bagi kebanyakan orang tua. Namun, hal tersebut pastinya tidak bisa diperoleh dengan singkat. Lantas, bagaimana cara mengajarkan arti independen pada buah hati? Serta apa saja manfaatnya?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, simak penjelasan dari Fania Kusharyani, M.Psi., Psikolog, Psikolog Anak dari TigaGenerasi dan Klinik Ruang Tumbuh yang akan membahas terkait cara menumbuhkan arti independen pada anak.

Apa Itu Independen?

Foto: www.canva.com

Menurut Fania, “arti independen adalah suatu kondisi atau kemampuan yang sebetulnya dapat dikembangkan. Jadi, kita bisa mengembangkan seseorang untuk bisa mandiri, sehingga memungkinkan untuk orang tersebut dapat melakukan sesuatu atau memenuhi kebutuhannya melalui ide, pikiran, dan perasaannya,” terangnya.

“Sehingga ia bisa melakukan tindakan problem solving yang bersumber dari dirinya sendiri, tanpa intervensi atau bantuan dari orang lain,” tambahnya.

Apakah Penting untuk Memiliki Sifat Independen?

Foto: www.canva.com

Sesungguhnya, “kemandirian itu penting untuk dimiliki oleh semua orang dan pada setiap jenjang usia, baik itu anak-anak maupun orang dewasa. Karena dengan adanya kemandirian maka hal tersebut akan membuat individu dapat bertahan dalam menghadapi tantangan dalam kehidupannya. Hal itu berkat ia terbiasa untuk memecahkan masalah dan menyelesaikan tugasnya sendiri,” tuturnya.

Ketika menyelesaikan masalah atau tugas tanpa adanya intervensi dari orang lain, “berarti tandanya kita terbiasa untuk menimbang dan berpikir terkait hal yang perlu dilakukan. Ketika kemandirian itu dimiliki oleh seseorang, ia akan bisa melakukan segala sesuatunya dengan lebih mudah,” ungkap Fania.

Karena pada dasarnya si anak sudah terbiasa untuk melakukan dan menyelesaikan hal-hal tersebut seorang diri, dan ia percaya akan kemampuannya sendiri.

“Dalam penelitian pun ditemukan bahwa ketika individu dewasa yang memiliki kemandirian, ia akan memiliki kesehatan mental yang lebih baik. Mereka terbukti memiliki self-efficacy dan well-being yang lebih baik dibandingkan dengan individu dewasa yang kurang memiliki kemandirian,” ujarnya.

Jadi self-efficacy ini terkait dengan keyakinan diri untuk menyelesaikan suatu tugas dan masalah. “Nah, itu terbukti lebih baik pada orang-orang yang memiliki kemandirian dan well-being. Selain itu kesejahteraan mereka juga lebih baik, karena mempunyai kepercayaan terhadap dirinya sendiri. Mereka percaya bahwa apa yang mereka lakukan ini baik untuk dirinya,” jelas Fania.

Bagaimana Ciri-ciri dari Seseorang yang Independen?

Foto: www.xframe.io

Menurut Fania, kita bisa melihat seseorang yang memahami arti independen itu dimulai dari hal dasar, di antaranya adalah:

Mampu mengambil keputusan

Seseorang dapat mampu mengambil keputusan tanpa dipengaruhi oleh orang lain dalam menyelesaikan suatu tugas atau memenuhi kebutuhanya.

“Biasanya ia bertindak sesuai dengan apa yang diyakini. Jadi ia akan memiliki kepercayaan diri yang baik. Karena dia terbiasa untuk bertindak menyelesaikan masalahnya sendiri, dan merasa dirinya mampu serta memiliki kepercayaan diri yang baik, “ ujarnya.

Berani mengemukakan pendapat

Kemudian, “seseorang juga berani atau tidak ragu untuk mengemukakan pendapat dan ide yang dimiliki. Selain itu, ia juga berusaha untuk mengembangkan dirinya. Karena individu tersebut mengetahui dan mengerti dirinya, dan tahu bahwa ia bisa mengembangkannya lagi. Jadi ia berani untuk berusaha menjadi lebih baik,” katanya.

Memiliki pandangan yang positif

Selanjutnya, “ia juga memiliki pandangan yang positif terkait dengan dirinya. Self-esteem dan konsep dirinya baik, sehingga bisa menerima kritik dan saran yang diberikan kepadanya. Jadi kritik dan saran dianggap sebagai suatu hal yang membangun, bukan sesuatu hal yang menjatuhkan dirinya. Hal tersebut berkat ia memiliki pandangan yang positif terkait dengan dirinya,” tutur Fania.

“Jadi sebenarnya kalau misalnya kita berbicara tentang kemandirian itu, banyak sekali manfaatnya dan saling terkait untuk membentuk kepribadian dari individu. Karena ia terbiasa untuk menyelesaikan masalahnya sendiri dan mengambil suatu keputusan, jadi memiliki konsep diri yang baik,” ungkapnya.

Dengan memiliki self-esteem yang tinggi, ia merasa bahwa dirinya berdaya dan mampu, untuk melakukan sesuatu. “Sehingga juga berani untuk mengemukakan pendapat atau ide yang dimiliki. Karena dia terbiasa dengan hal tersebut. Ketika ia mendapatkan kritik dan saran, itu bukan sesuatu yang ia terima sebagai hal yang menjatuhkan,” imbuhnya.  

Karena ia memiliki self-concept yang baik dan self-esteem yang tinggi sehingga itu menjadi hal yang membangun untuknya.

Pribadi yang bertanggung jawab

Ciri lainnya adalah ia sebagai pribadi yang bertanggung jawab. “Karena bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan berusaha untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, akhirnya dalam melakukan sesuatu pun cenderung melakukan hal yang bertanggung jawab,” ujarnya.

“Maksudnya adalah yang baik dan tidak merugikan orang lain. Yang bisa dipertanggungjawabkan kalau misalnya ada kesalahan. Serta bersedia dan mampu bertanggung jawab untuk hal tersebut,” lanjutnya.

Memiliki kontrol diri yang baik

Selain itu, ia juga memiliki kontrol diri yang baik. “Individu yang mandiri, ketika ia melakukan sesuatu itu motivasinya tidak berasal dari eksternal, bukan karena adanya reward dari luar, tetapi lebih ke motivasi internal,” katanya.

“Jadi ia terbiasa memiliki kontrol diri terhadap hal tersebut. Contohnya adalah jika individu tersebut tahu bahwa akan ada ujian. Kalau misalnya individu yang mandiri, ia tahu apa ya yang harus dilakukan. Seperti ‘Aku harus belajar, supaya nilai aku bisa bagus dan berhasil’. jadi motivasinya dari internal,” tuturnya.  

Sehingga akhirnya ia belajar bukan karena disuruh orang tua, bukan karena agar dia bisa mendapatkan hadiah ketika mendapatkan nilai bagus. Tapi ia belajar karena memang itu sudah menjadi tanggung jawabnya terhadap diri sendiri.

“Ketika harus belajar dan kontrol dirinya bermain, individu akan tahu bahwa ia harus mendapatkan nilai bagus supaya dirinya mampu memahami pelajaran ini. Jadi itu motivasinya lebih internal, ia mengontrol diri untuk melakukan sesuatu yang baik untuk kehidupannya. Karena dia tahu tujuannya apa dan bertanggung jawab terhadap dirinya, jadi motivasi dia dari internal,” terang Fania.

Adakah Faktor yang Bisa Memengaruhi Seseorang Menjadi Mandiri?

Foto: www.canva.com

Fania menerangkan bahwa faktor yang memengaruhinya itu biasanya pola asuh. “Jadi apakah ada kesempatan yang diberikan oleh orang tuanya atau lingkungannya untuk melakukan tugasnya sendiri dan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri?” ungkapnya.

“Serta apakah ada pengajaran dan pembiasaan untuk melakukan hal tersebut. Jadi ketiga hal itu merupakan faktor yang paling penting untuk memengaruhi seseorang bisa mandiri atau tidak,” katanya.

Misalnya terdapat seorang anak yang tidak bisa makan sendiri sampai usia empat tahun. “Ketika ditelusuri, akhirnya terungkap bahwa memang ia terbiasa untuk disuapi, tidak ada kesempatannya untuk mengeksplor cara makannya itu seperti apa,” paparnya.

Selain itu, “tidak ada pembiasaan di rumah untuk makan sendiri. Sehingga ia tidak diajari untuk makan sendiri seperti apa, dan hal tersebut memang perlu untuk dilakukan secara konsisten,” lanjutnya.

Apa Efek Positif dari Mengajarkan Arti Independen pada Anak?

Foto: www.canva.com

Pada anak-anak, “penting untuk mengajarkan arti independen. Karena dengan memiliki kemandirian, buah hati akan memiliki pandangan yang positif terkait dirinya. Ia akan memandang bahwa dirinya ini kompeten dan mampu melakukan pemecahkan masalah terkait dengan kehidupannya,” jelas Psikolog Anak yang satu ini.

“Hal ini pastinya akan memberikan dampak yang positif bagi perkembangannya. Anak jadi terbiasa untuk menyelesaikan tugasnya sendiri, serta melatih untuk memiliki daya tahan dan daya juang yang tinggi dalam menghadapi sesuatu,” lanjutnya.

Jadi “akhirnya tidak cepat menyerah dalam menghadapi suatu tantangan, karena ia terbiasa untuk mandiri dan melakukan sesuatu, memecahkan masalah, atau menyelesaikan tugasnya seorang diri. Tidak bergantung dengan pikiran, pendapat, atau arahan orang lain. Itu akan membuat dia akhirnya terbiasa untuk berjuang dan menyelesaikan tugasnya sendiri,” katanya.

Sehingga daya tahannya juga lebih baik. “Nantinya kita akan melihat bahwa ketika anak-anak yang sejak kecil terbiasa untuk mandiri, maka saat dewasa dia akan memiliki kesehatan mental yang lebih baik. Ia memiliki self-efficacy dan well-being, serta menjadi pribadi yang percaya diri, memiliki life satisfaction yang lebih baik terkait kehidupannya,” ungkap Fania.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Menumbuhkan Arti Independen pada Anak?

Foto: www.xframe.io

Mengajarkan arti independen pada anak sudah mulai bisa “dibentuk atau dibiasakan sejak kecil. Mulai berkembang itu di usia satu hingga tiga tahun. Di usia tersebut ada tahap anak untuk mengembangkan otonominya, dari mulai ingin melakukan semuanya sendiri dan mulai merasa dirinya itu terpisah dari orang lain,” ujarnya.

Pada kondisi tersebut, “orang tua bisa mulai memberikan kesempatan pada anak. Karena di saat tersebut anak sedang ingin melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendaknya, jadi kita bisa untuk mengajarkannya mandiri dan bertanggung jawab,” saran Fania.

Jadi dengan “kita memberikan kesempatan sejak dini, misalnya usia satu tahun dia ingin makan sendiri, menyuap sendiri—tidak apa-apa berikan kesempatan untuknya mencoba. Jadi misalnya pertama kita kasih dia finger food atau sendok juga, untuk snack sore ia makan sendiri. Sehingga nanti anak akan mandiri,” contohnya.

“Atau mungkin saat anak-anak diajarkan mandiri dan bertanggung jawab, membereskan mainannya sendiri. Jadi kalau misalnya pembiasaan kemandirian ini dilakukan sejak dini, itu akan memberikan kebiasaan yang baik untuk anak dan mudah untuk membentuknya,” katanya.

Karena pada dasarnya di usia satu hingga tiga tahun, “anak memang ingin melakukan segala sesuatu sendiri dan atas keinginannya. Kita bisa memfasilitasi, namun tetap kita arahkan secukupnya,” anjur Psikolog Anak ini.

Apa Akibatnya Jika Anak Kurang Independen?

Foto: www.freepik.com

Kemandirian ini memang memiliki peran penting, mulai dari masa anak-anak (early childhood) karena akan membentuk pandangan positif terhadap dirinya. “Ia memiliki self-esteem yang baik, kepercayaan diri, dan mampu mengatasi masalah ketika anak itu memiliki kemandirian,” terang Fania.

“Hal ini bisa dibayangkan, ketika dari kecil kita tidak mengajarkan arti independen pada mereka, dan anak memiliki sifat bergantung, nantinya mungkin saat belum bersekolah itu tidak akan berpengaruh, dan tidak disadari oleh orang tua. Sehingga jadinya nanti anak akan minta bantuan dan perlu pertolongan pada orang lain,” ujarnya.

Alhasil, orang tua akan melakukan apa pun untuk anak dan akhirnya dibantu terus. Padahal “buah hati akan terus tumbuh dan memiliki kehidupan yang berkembang. Tidak hanya dalam lingkup keluarga saja, tetapi nanti ia akan mulai bersekolah dan bersosialisasi, saat itu orang tua tidak bisa terus menemaninya, di situ nanti akan kasihan,” ungkapnya.

Ketika anak akan mulai lepas dari kita dan ikut berpartisipasi di sekolah, ia akan mengalami kesulitan karena tidak terbiasa untuk memecahkan masalahnya sendiri. Anak tidak terbiasa untuk mengambil keputusan sendiri dan tidak terbiasa untuk mengatasi permasalahannya sendiri.

“Jadi saat di sekolah ia akan bingung, tidak tahu harus melakukan apa. Ketika misalnya mengerjakan tugas ada kesulitan sedikit—dan biasanya di rumah akan dibantu—ketika di sekolah 'kan tidak mungkin. Dia tidak bisa mendapatkan bantuan terlalu banyak sama guru dan teman” tutur Fania.

“Itu akhirnya bisa menimbulkan masalah emosi dan perilaku pada anak. Bisa jadi anaknya nanti tidak mau sekolah, karena tidak percaya diri dan kesulitan untuk mengatasi masalahnya sendiri. Sebab di sekolah tidak ada yang membantunya,” paparnya.

Hal tersebut baru lingkup di sekolah dasar, belum nanti remaja dan dewasa.

“Di mana tanggung jawabnya lebih besar. Jadi penting untuk mengajarkan arti independen sejak kecil, karena akan membentuk anak untuk menjadi lebih kuat. Sehingga mampu mengatasi kesulitan-kesulitan yang terus bertambah dalam kehidupan,” lanjutnya.

Bagaimana Ciri-ciri Anak yang Independen?

Foto: www.freepik.com

Fania menuturkan bahwa hal ini bisa dilihat dari berbagai hal, yakni:

Mampu memenuhi kebutuhan dasarnya

Pada anak, independin itu bisa terlihat ketika ia mampu memenuhi kebutuhan dasarnya yang bersifat sederhana. “Misalnya ia ingin minum dan bisa mengambilnya sendiri. Sehingga tidak perlu rewel pada orang tua atau pengasuhnya. Karena ia tahu ketika perutnya terasa lapar dan ingin minum, apa yang harus dia lakukan. Jadi untuk kebutuhan dasarnya saja anak harus memenuhi sendiri,” tuturnya.

Berani mengeksplor lingkungan

Kedua, buah hati berani untuk mengeksplor lingkungannya. “Karena anak-anak yang mandiri itu memiliki kepercayaan diri yang baik, dan terbiasa untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Ia pun berani untuk mengeksplor lingkungannya. Sehingga terbiasa ketika mengalami kesulitan, maka bisa mengatasinya secara mandiri tanpa perlu banyak bantuan dari orang lain,” katanya.

Tidak perlu mendapatkan pengasuhan terus-menerus

Buah hati juga “tidak perlu mendapatkan pendampingan dari pengasuh secara terus-menerus. Tidak perlu ditunggui pengasuh atau orang tua. Karena ia memiliki inisiatif untuk memecahkan masalah dan menyelesaikan tugasnya,” ungkap Fania.

Didasari motivasi internal

Anak yang diajarkan arti independen, dalam melakukan sesuatu akan banyak didasari oleh motivasi internalnya. Sehingga orang tua tidak perlu menyediakan banyak reward untuk anak.

“Misalnya pada orang tua yang meminta anak untuk belajar, tidak perlu seperti 'Ayo kamu belajar nanti Mama kasih cokelat'. Orang tua hanya perlu mengingatkan 'Ayo belajar', karena anak akan tahu bahwa memang belajar itu penting untuknya,” ujarnya.

Bagaimana Cara Menumbuhkan Independen pada Anak?

Foto: www.rawpixel.com

Untuk menumbuhkan arti independen pada anak, orang tua dapat melakukan berbagai cara, yaitu:

Berikan rutinitas dan aturan yang jelas

Orang tua perlu memberikan stuktur pada anak, “bisa meliputi rutinitas atau juga aturan yang jelas. Jadi dengan adanya ini, anak akan tahu perilaku apa yang diharapkan dan apa yang harus dilakukan. Sehingga memberikan kesempatan baginya untuk bisa berusaha memenuhinya,” ujar Fania.

“Contohnya setiap hari dibuatkan rutinitas kegiatan yang berstruktur, seperti sekolah, makan, tidur, screen time-nya, atau waktunya bermain bebas. Dari kegiatan berstruktur dan rutinitas ini anak akan tahu 'Oh, aku jam segini waktunya makan, oh aku screen time-nya waktunya jam segini’. Jadi dia lebih secure, dan ini akan mengontrol perilakunya,” terangnya.

Dari waktu bermain bebas, juga akan memberikan kesempatan bagi anak untuk memilih dan memutuskan apa yang harus ia lakukan. “Atau misalnya ketika waktunya makan, dia bisa memutuskan 'Oke saatnya makan, apa yang harus aku lakukan? Aku harus cuci tangan dulu, harus ambil nasi dan lainnya',” contohnya.

Dari stuktur ini, “anak jadi bisa tahu perilaku-perilaku apa yang bisa ia harapkan sehingga nantinya terbiasa untuk melakukannya,” lanjutnya.

Pola asuh

Kedua adalah dalam hal pengasuhan. “Jadi kita sebagai orang tua, harus memberi kesempatan pada anak untuk mengerjakan tugasnya sendiri, memilih maunya apa, dan pakai baju apa. Dari hal-hal kecil saja itu bisa membantu menumbuhkan kemandirian pada anak,” sarannya.

Jadi ia terbiasa untuk memilih, percaya diri, dan menyelesaikan tugasnya sendiri. “Sebagai orang tua juga bisa memberi kesempatan pada anak untuk ia bisa melakukan kesalahan. Jadi jangan harus selalu sempurna, biarkan dan berikan kesempatan pada anak untuk bisa menyelesaikannya sendiri,” anjurnya.

“Misalnya dalam sekolah online, berikan kesempatan pada anak untuk menyelesaikan tugasnya sendiri. Kalau misalnya hasilnya tidak rapi dan masih berantakan, tidak apa-apa juga. Itu bukan suatu hal yang berbahaya. Jadi kita kasih kesempatan pada mereka untuk melakukan suatu kesalahan yang tidak membahayakan. Nantinya ia akan belajar untuk menyelesaikan masalahnya sendiri,” ujar Fania.

Atau pada orang tua yang anaknya sudah sekolah dasar, “ketika ia ulangan, jangan bantu supaya nilainya bagus. Kita kasih kesempatan untuk anak mencoba menyelesaikannya. Kalau misalnya nilainya jelek, kita terima dan diskusikan dengannya untuk mengatasi masalah tersebut,” paparnya.

Jadi anak akan terbiasa untuk merasakan suatu kegagalan, tapi setelah itu kita diskusikan dengannya apa yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya.

Berikan kesempatan pada anak

Lalu juga kita bisa memberikan kesempatan pada anak untuk mengambil risiko. “Saat melakukannya orang tua bisa membimbing anak. Jadi tetap kita berikan bimbingan kepada mereka, untuk diskusi potensi risiko yang akan terjadi itu seperti apa. Tetapi tetap keputusan memilihnya dikembalikan pada anak,” tuturnya.

“Biasanya untuk anak yang lebih kecil kita bisa membatasi pilihannya. Atau berikan pilihan yang aman dan kita setujui. Jadi orang tua meminta anak untuk memilih pilihan yang telah ditentukan,” saran Fania.

Ajak anak membantu pekerjaan rumah

Cara lainnya juga adalah kita ajak anak untuk turut membantu pekerjaan rumah. “Jadi supaya ia bertanggung jawab, berikan arahan bahwa kebersihan rumah itu bukan hanya tanggung jawab Mama saja. Tapi karena ia tinggal di sini, maka ia juga bertanggung jawab,” anjurnya.

“Tetapi tugas dan tanggung jawabnya perlu disesuaikan dengan usia anak. Lakukan dengan menyenangkan dan jangan dipaksa. Tanggung jawab yang sederhana saja seperti habis makan dibereskan piringnya. Kalau anaknya sudah besar, bisa dicuci sendiri. Jadi itu yang bisa dilakukan untuk mengajarkan kemandirian pada anak,” pesannya.

Biarkan anak memecahkan masalahnya sendiri

Cobalah beri kesempatan pada anak untuk memecahkan masalahnya sendiri. “Contohnya ketika ia ada konflik dengan teman atau saudara, kita sebagai orang tua jangan langsung mengintervensi. Jadi dilihat dulu konfliknya seperti apa,” katanya.

“Jangan langsung 'Eh Kakak jangan seperti itu'. Jadi kasih kesempatan si anak itu untuk menyelesaikan masalah sendiri. Dari situ ia akan belajar bahwa caranya seperti ini, dan anak bisa menimbang-nimbang pilihan,” imbuh Fania.

Kurangi judgement

Sebagai orang tua kita juga harus mengurangi judgement dan kontrol kita. “Jangan misalnya anak sudah berusaha merapikan tempat tidurnya, tetapi kita judgement, 'Ini kok kurang rapi, Dek’. Hal tersebut tidak memunculkan motivasi pada anak untuk melakukannya lagi,” ujarnya.

Ajarkan kecerdasan emosi

Yang terakhir, penting untuk mengajarkan kecerdasan emosi pada anak. Sebagai orang tua, kita bisa mengakui perasaan yang dialami oleh anak, dan membantunya untuk melakukan apa yang terbaik setelahnya.

“Jadi ketika anak merasa frustrasi saat kesulitan untuk menyelesaikan suatu tugas, kita bisa mengajarkan bagaimana cara mengatasi perasan tersebut. Kita terima perasaan dia 'Oh Adek kesel ya soalnya makanannya tumpah-tumpah'. Kita menerima dan berempati dengan perasaannya, terus bantu berikan solusi,” ucapnya.

Nantinya anak akan merasa kesulitan tetapi “merasa wajar dan ada yang bisa dilakukan untuk mengatasinya. Karena anak-anak itu sering kali membutuhkan waktu untuk mengekspresikan emosi mereka. Tugas kita adalah membuat mereka merasa nyaman, sehingga mereka merasa siap untuk menyelesaikan tugasnya kembali,” jelas Psikolog Anak ini.

“Ketika anak sudah merasa nyaman dan emosinya sudah stabil, nantinya keinginan untuk menyelesaikan tugas akan muncul dengan sendiri. Makanya penting untuk orang tua menerima perasaan anak terlebih dahulu dan melakukan emosional coaching. Karena ketika anak merasa nyaman kembali, ia akan mau melanjutkan lagi tugasnya secara mandiri,” tuturnya.

Bagaimana Jika Kesulitan untuk Mengajarkan Kemandirian Ini?

Foto: www.freepik.com

Sebagai orang tua, harus tahu terlebih dahulu kesulitannya dalam hal apa. “Apakah ibu tidak tahu cara mengajarkan anak untuk makan seperti apa, cara untuk anak bisa melakukan toilet training seperti apa. Kalau misalnya kita tidak tahu, maka perlu mencari informasi lebih lanjut terkait apa yang harus dilakukan,” sarannya.

Ketika sudah dilakukan dan tetap kesulitan, “maka telusuri mungkin saja karena tidak adanya konsistensi. Mungkin ketika orang tuanya ada di rumah, anak bisa makan sendiri. Tetapi saat orang tuanya pergi, anak disuapin oleh pengasuh. Itu akhirnya tidak konsisten, anak tidak belajar bahwa memang ketika makan itu ia harus makan sendiri,” ujarnya.

Jadi penerapannya harus konsisten, baik saat ada orang tua maupun tidak ada. “Komunikasikan dengan seluruh anggota keluarga terkait bagaimana cara dan aturan yang akan kita terapkan pada anak,” anjur Fania.

“Atau mungkin kesulitannya adalah kekhawatiran, karena biasanya ibu-ibu akan merasa tidak tega. Sebagai orang tua ketika mengajarkan kemandirian, itu bukan hal yang jahat. Kita harus pahami, bukan masalah anaknya lelah, tetapi kita ingin membentuk kemandirian pada anak yang manfaatnya itu untuk jangka panjang. Itu sangat besar untuk perkembangannya,” ungkapnya.

Menurut Psikolog Anak ini, memang mungkin sebagai orang tua harus tega. “Misalnya anak habis menumpahkan minuman, maka ia harus membersihkannya sendiri. Mungkin itu tega, tetapi untuk kebaikan anak itu tidak apa-apa, karena akan memberikan dampak yang baik untuk buah hati,” paparnya.

“Kita juga harus menimbang, lebih positif mana ketika kita membiarkan anak untuk membereskan sendiri, atau harus kita bantu. Jangka panjangnya harus kita pikirkan terlebih dahulu,” lanjutnya.

Adakah Faktor yang Menyebabkan Anak Kesulitan untuk Mandiri?

Foto: www.unsplash.com

Ketika hal ini terjadi, maka harus dilihat terlebih dahulu penyebabnya. “Apakah pola pengasuhan selama ini yang diberikan, sehingga anak tidak memiliki kesempatan. Atau anak jadi tidak berani mengambil keputusan karena biasanya selalu dibantu, disediakan terus, selalu dipilihin, jadi ia tidak punya kesempatan,” terangnya.

Bisa juga karena adanya “ekspektasi dari orang tua yang tidak sesuai dengan usia dan kemampuannya. Jadi tugas yang diberikan itu terlalu sulit, sehingga akan membuat anak jadi kesulitan untuk mandiri. Malah jadinya hopeless, dan tidak pernah merasakan momen di mana ia berhasil,” katanya.

Selain itu, bisa juga karena ada masalah fisik dan keterbatasan mental. “Sehingga anak kesulitan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Misalnya seperti anak yang terus-menerus mengompol, mungkin apakah ada keterbatasan fisik karena ternyata ada masalah dalam kandung kemihnya sehingga sarafnya ini tidak bisa menghantarkan sinyal ingin buang air kecil,” papar Fania.

“Atau memang pada anak-anak dengan intelegency-nya kurang, sehingga akhirnya dia tidak sadar dan tidak mengerti bahwa itu merupakan sinyal untuk buang air kecil,” lanjutnya.

Jika ada masalah lain, orang tua bisa menjadi detektif untuk mengetahui kira-kira kesulitan yang terjadi pada anak. “Mungkin kondisinya saat itu anak sedang sakit dan tidak enak badan, itu wajar sebenarnya. Akhirnya anak yang tadinya mandiri jadi dependen,” tuturnya.

Untuk itu, orang tua harus cari tahu terlebih dahulu ketika anak kesulitan. ”Jika memungkinkan, maka orang tua bisa juga dapat berkonsultasi dengan pihak profesional untuk mencari tahu hambatannya di mana,” pesannya.

Kesimpulan

Foto: www.canva.com

Fania menuturkan bahwa arti independen itu penting untuk dimiliki oleh setiap individu terutama pada anak.

“Karena hal tersebut dapat memberikan dampak yang positif pada perkembangannya kelak. Pembentukan kemandirian pada anak itu tidak bisa dilakukan secara singkat, tetapi membutuhkan waktu, kesempatan, pembiasaan, serta konsistensi pada lingkungannya,” ungkapnya.

“Jadi mengajarkan kemandirian pada anak walau membutuhkan waktu yang lama, tetapi merupakan investasi berharga yang bisa kita berikan pada anak. Sehingga orang tua diharapkan dapat bersabar dan terus berusaha untuk membimbing anak agar bisa mandiri. Mengingat manfaat jangka panjang yang bisa anak peroleh dari kemandirian yang dibiasakan atau dibentuk oleh orang tua,” tutupnya.