Tanya Psikolog: Apakah Penting Memiliki Sifat Idealis?

idealis adalah
Foto: www.gettyimages.com

Sebuah pertanyaan: Apakah kamu merupakan seseorang yang idealis? Meski sebagian orang mungkin tidak menyukainya, akan tetapi idealis adalah hal yang wajar untuk dimiliki manusia. Untuk mengetahui lebih lanjut terkait idealis, simak penjelasan dari Debora Basaria, M.Psi., Psikolog, seorang Psikolog Klinis dari Klee.Id dan Dosen Fakultas Psikologi Untar.

Apa Itu Idealis?

idealis adalah
Foto: www.freepik.com

Menurut Debora, “idealis adalah suatu pemikiran yang mengarahkan seseorang untuk untuk bertindak berdasarkan pengalaman, pemikiran, dan cita-cita yang ia tentukan serta berusaha untuk mencapai hasil maksimal. Ketika seseorang menampilkan perilaku idealismenya, biasanya karena ia memiliki keyakinan yang kokoh atas hal yang sedang ia hadapi,” jelasnya.

Ketika seseorang memiliki sifat idealis, tentunya ini merupakan hal yang wajar. Biasanya, sifat ini ada pada diri seseorang karena dipengaruhi oleh banyak faktor.

“Di antaranya memang memiliki kepribadian dengan kebutuhan berprestasi tinggi, atau memiliki kebutuhan akan aktualisasi diri yang tinggi. Serta biasanya didukung juga dengan sikap kerja yang memiliki motivasi dan daya juang tinggi,” paparnya.

Mengapa Seseorang Bisa Memiliki Sifat Idealis?

Foto: www.freepik.com

Pada umumnya terdapat beberapa faktor yang bisa memengaruhi sifat idealis seseorang, yakni:

Pengalaman

Faktor ini dapat memengaruhi sifat idealis khususnya pengalaman-pengalaman keberhasilan yang pernah dicapai.

Pendidikan

Semakin tinggi pendidikan seseorang, hal ini “membuatnya semakin mampu melihat peluang dan melakukan analisa risiko untuk mencapai target yang diinginkan,” ujarnya.

Budaya

Faktor budaya juga dapat memengaruhi munculnya sifat yang satu ini. “Ada budaya-budaya yang menekankan pada etos kerja yang tinggi dan pantang menyerah,” kata Debora.

Lingkungan

Kemudian, faktor kebiasaan dan pola pengasuhan orang tua juga bisa menjadi salah satu faktor penyebab individu bisa memiliki sikap ini. “Sejak kecil, individu dibiasakan untuk diberi tuntutan atau tantangan agar bisa berprestasi setinggi mungkin misalnya,” katanya.

Lalu, bagaimana cara mengetahui bahwa kita memiliki sifat idealis?

Paling sederhana untuk menyadari sikap ini adalah “individu tidak pernah menyerah ketika gagal. Ia selalu mencoba memikirkan apa yang harus dilakukan ketika gagal, dan mencoba secara kreatif untuk menemukan alternatif lain yang bisa ia lakukan dalam mencapai target yang ditetapkan,” ucapnya.

“Jadi ada keinginan untuk mau belajar dan juga selalu melihat peluang-peluang yang dapat diambil,” tambah Debora.

Apakah Penting Memiliki Sifat Idealis?

idealis adalah
Foto: www.unsplash.com

Sesungguhnya jika berbicara mengenai penting atau tidaknya, hal ini kembali kepada cara pandang dari masing-masing individu. Dapat dilihat dari “bagaimana mereka memandang hidup, membuat goal setting, atau prioritas dalam hidupnya,” terangnya.

Namun, Dosen Psikolog ini juga menambahkan bahwa terdapat beberapa manfaat yang bisa dirasakan individu dengan sifat idealis yang dimiliki, yaitu:

  • Individu akan tahu ke arah mana ia mengarahkan perilakunya, dengan kata lain memiliki rencana dalam aktivitas mereka. “Istilahnya memiliki road map untuk ditelusuri dalam mencapai tujuan,” paparnya.
  • Bisa fokus pada hal-hal yang ingin ia capai.
  • Mau memberikan daya juang dan kerja keras dalam pencapaian tujuan.
  • Umumnya menjadi individu yang anti mainstream.

Lantas, bagaimana jika seseorang tidak memiliki sikap idealis?

“Sebenarnya tidak wajib juga bagi setiap orang untuk memiliki sikap idealis. Kembali lagi kepada kepribadian dan cara berpikir masing-masing orang. Menurut saya yang paling penting adalah setiap orang memiliki tujuan apa yang ingin ia capai dalam hidupnya dan berproses aktif dalam usaha memenuhi tujuan hidupnya,” terang Debora.

Mengapa Sebagian Orang Tidak Menyukai Sifat Idealis Seseorang?

Foto: www.pexels.com

“Terkadang beberapa dari individu yang memiliki sifat idealis, tidak menutup kemungkinan dalam relasi sosialnya dengan orang lain akan lebih suka membicarakan apa yang akan ia capai. Seperti mencari masukkan dari orang lain terkait dengan hal yang ingin ia raih, sehingga terkadang orang lain akan merasa kurang nyaman,” tuturnya.

“Bisa saja dikarenakan individu dengan sifat idealis (tidak semuanya) cenderung fokus dengan apa yang ingin dicapai, sehingga kuantitas dan kualitas relasi dengan orang lain, misalnya teman dan keluarga, menjadi berkurang,” tambah Debora.

Kemudian, bagaimana cara mengatasi ketika seseorang tidak menyukai sifat idealis yang kita miliki?

Untuk mengatasi dan menyikapi hal tersebut, Debora menyarankan agar “melakukan komunikasi yang aktif secara heart to heart. Hal itu dilakukan agar orang lain mendapatkan pemahaman dan dapat memberi dukungan bagi kita,” anjurnya.

Akan tetapi jika ini tidak berhasil maka kembali lagi pada diri individu, bagaimana ia meyakini kemampuannya dalam mencapai apa yang ingin ia raih. “Dengan kata lain, memiliki daya juang untuk terus maju, karena ia tahu apa yang diinginkan untuk kebahagiaannya,” lanjutnya.

Kesimpulan

Foto: www.freepik.com

Ketika kita tidak menyukai sikap idealis seseorang, ada cara mengatasinya.

“Kita harus mencoba untuk melihat bahwa setiap orang berhak untuk mencari kebahagiaan mereka. Jika tidak menyukai (sikap idealis seseorang) maka lebih baik kita menjadi seorang observer atau pengamat, dibandingkan menunjukkan sikap negatif pada orang tersebut atas ketidaksukaan kita yang bisa saja cenderung subjektif,” imbuhnya.

Namun, jika rasa tidak suka yang kita rasakan terkait sifat idealis seseorang itu dirasa objektif, maka Debora menganjurkan untuk mencoba komunikasikan hal tersebut dengan yang bersangkutan untuk diberikan masukkan atau input yang bisa ia pertimbangkan.

It’s ok untuk memiliki sifat idealis selama individu merasa bahwa ia memiliki kapasitas, kemampuan, dan melihat idealisme itu bisa diwujudkan secara realistis,” tegasnya.

Karena, idealis yang tidak realistis adalah sesuatu yang akan mengindikasi adanya masalah dalam cara berpikir.

“Dengan kata lain, perlu untuk mengkaji terlebih dahulu apa yang ingin dicapai dan perlu melihat peluang atau kemungkinan yang bisa dilakukan. Hal tersebut bertujuan agar bisa mensinkronkan antara idealisme dengan realisasinya,” tutup Debora.