Bagaimana Mengajarkan Anak Mengambil Keputusan Sendiri Sejak Dini

Foto: www.gettyimages.com

Jika setiap kali kamu meminta si kecil untuk memilih sesuatu, tapi dibutuhkan waktu berjam-jam untuknya untuk mengambil keputusan—dia tidak sendirian. Hei, orang dewasa saja sering kali sulit membuat keputusan! Jadi, bagaimanakah cara mengajarkan anak mengambil keputusan? Haruskah keputusan yang diambil tepat—atau boleh salah? LIMONE menghubungi Salsabila Mayang Sari, M.Psi., Psikolog, seorang psikolog dan dosen pengajar mata kuliah Psikologi Perkembangan dan Pengembangan Kepribadian, Program Vokasi Universitas Indonesia.

Oh, untuk membuatmu semakin semangat, satu hal: kamu mengambil keputusan yang tepat menyediakan waktu dan membaca artikel ini. Sebuah petanda bagus.

Mengapa Penting Mengajarkan Anak Mengambil Keputusan Sendiri?

anak mengambil keputusan
Foto: www.freepik.com

Selama kita masih berada di dunia ini, sepertinya tiap hari akan dihadapkan dengan berbagai pilihan, mulai dari mau makan apa hari ini, pakai baju, masak apa, dan lain-lain. Begitu pula dengan anak-anak.

“Mereka akan bertahap dihadapkan dengan berbagai pilihan hidup sesuai tuntutan usianya. Dari awalnya hanya berada dalam lingkungan keluarga, seiringan pertambahan usia akan mulai berhadapan dengan lingkungan sekolah dan kemudian lingkup yang lebih kompleks lagi,” jelas Mayang.

Nah, mengambil keputusan sendiri merupakan cikal bakal mengasah rasa berharga diri anak.

“Jika anak tidak dilatih mengambil keputusan sendiri, ia tidak akan terbiasa memiliki kuasa dan kendali atas tindakannya sendiri. Jika ia merasa tidak tahu harus menentukan mana pilihan yang sesuai baginya, hal ini akan berdampak pada rasa percaya dirinya di kemudian hari,” paparnya.

Sebaliknya, “ketika anak dapat mengambil keputusan sendiri, ia akan mengenali apakah tindakannya tersebut berdampak baik atau buruk baginya sendiri maupun orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian, anak pun belajar untuk menyelesaikan masalahnya sendiri,” tegasnya.

Aba-aba untuk orangtua helikopter: terlalu sering mengambil keputusan untuk anak, bisa membuat anak tidak percaya.

“Seringkali orangtua khawatir anak akan terjerumus ke keputusan  yang salah. Umumnya, orangtua hendak meminimalisasi hal tersebut dengan langsung menentukan keputusan sepihak pada anak,” jelas Mayang.

Namun, kebiasaan mengambil keputusan sepihak atas nama anak ini, akan membuat si kecil menjadi ketergantungan dengan orangtua.

“Anak akan selalu merasa membutuhkan arahan dan pendapat dari orang lain sebelum bertindak. Hal ini membuat anak tidak terbiasa percaya diri dan mandiri dengan keputusannya sendiri. Ia akan merasa bahwa dirinya kurang berharga sehingga selalu membutuhkan bantuan orang lain dalam membuat keputusan,” terangnya.

Kapan yang Tepat Mengajari Anak untuk Belajar Membuat Keputusan Sendiri?

anak mengambil keputusan
Foto: www.rawpixel.com

Jawaban pendeknya: sejak dini.

“Sesederhana, mulai dari memilih permainan apa yang hendak dilakukannya, makanan apa yang mau duluan dilahap, baju mana yang mau dikenakan, dan sebagainya. Anak usia batita pun sudah dapat kita tawarkan pilihan-pilihan sederhana seperti itu agar membiasakannya menentukan pilihan sendiri,” sarannya.

Perbedaan antara usia batita dengan anak usia sekolah (6 tahun ke atas) adalah pengambilan keputusan pada anak sekolah sudah mulai lebih kompleks, dan dapat diterapkan pada situasi belajarnya.

“Anak akan dihadapkan dengan situasi eksternal, seperti tuntuan belajar di sekolah, memilih teman, memilih ekskul, dan lain-lain. Oleh sebab itu, orangtua dapat mulai mengajari anak memilih keputusan yang paling sering ditemuinya, seperti menentukan jam belajar, jam bermain, maupun jam mengerjakan tugas sendiri. Orangtua dapat membuat kesepakatan terkait pilihan anak tersebut dan memberikan kesempatan pada anaknya melakukannya terlebih dahulu,” anjurnya.

Berawal dari mengambil keputusan atas hal-hal yang sederhana ini, maka si anak akan belajar mengambil keputusan pada hal-hal yang jauh lebih kompleks di kemudian hari. “Rasa berharga akan dirinya sendiri pun akan semakin terpupuk. Dengan demikian, ia akan lebih percaya diri dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya,” imbuhnya.

Apa yang bisa kita lakukan jika anak sepertinya tetap sulit menentukan pilihan?

“Ketika kita melihat anak selalu bergantung dengan keputusan orangtua, kesulitan menentukan pilihannya, merasa tidak percaya diri, dan tidak bisa menyelesaikan masalah sendiri, itu merupakan gambaran awal kita perlu mendalami sejauh apa kemampuan pengambilan keputusan anak kita,” jawab Mayang.

Bagaimana Mengajari Anak Mengambil Keputusan?

anak mengambil keputusan
Foto: www.rawpixel.com

“Hal paling mendasar dari mengajarkan anak mengambil keputusan adalah orangtua memberikan kesempatan pada anak dalam menentukan pilihan dan anak merasakan pengalaman membuat keputusan secara langsung,” Mayang mengingatkan.

Selanjutnya, kamu bisa melakukan beberapa tahap ini dalam rangka mengajarkan anak untuk membuat keputusan sendiri.

Berikan Contoh 

Seperti yang sudah kita tahu, anak akan meniru apa yang dilakukan oleh orang terdekatnya. Jadi, orangtua perlu membiasakan anak melihat bagaimana proses pengambilan keputusan yang dilakukan ayah atau/dan ibu.

“Misalnya ketika berada di supermarket, bagaimana proses memilih jenis buah-buahan, sayuran, maupun makanan instan yang akan dibeli. Tunjukkan apa saja pertimbangan sebelum memilih salah satu benda tersebut. Kemukakan kelebihan maupun kekurangan dari setiap pilihan kemudian bandingkan antar pilihan tersebut. Anak akan belajar menelusuri dan memahami roadmap yang menuntun orangtua dalam menentukan keputusan tersebut,” ujarnya memberikan contoh.

Tawarkan Pilihan pada Anak

Mayang menjelaskan bahwa pada anak usia dini (di bawah 5 tahun), kemampuan berpikirnya masih terbatas untuk memahami hal-hal yang kompleks. Oleh sebab itu, orangtua dapat menawarkan sejumlah pilihan sederhana dan berjumlah terbatas. Misalnya, ‘mau makan pisang atau jeruk?’ atau ‘Mau main lego atau  lompat tali?’.

“Menanyakan mana hal yang lebih disukainya akan membuat anak belajar menentukan pilihannya sendiri. Untuk anak usia sekolah maupun lebih besar, orangtua dapat memberikan pertanyaan dua arah yang bersifat terbuka. Misalnya, ‘Buku mana yang mau dibaca?’ atau ‘Kamu mau jalan-jalan ke mana pekan ini?'” tambahnya.

Biarkan Anak Memilih

Dalam hal ini, anak perlu belajar dan praktik langsung dalam menentukan pilihannya. “Oleh sebab itu, berikan kesempatan anak berpikir dan membayangkan setiap keputusan yang dihadapinya,” ujarnya.

Oh, orangtua perlu bersabar menunggu dan menanti pilihan yang dikemukan anak. Karena, “pada awalnya, anak biasanya kebingungan dalam menentukan sejumlah pilihan. Dalam kondisi ini, orangtua yang diuji agar tidak memaksakan kehendaknya kepada anak,” tegasnya.

Bantu Anak Mengevaluasi Keputusannya 

Sam seperti orang dewasa, terkadang ada anak yang takut memutuskan pilihan karena khawatir keputusannya salah.

“Orangtua dapat mendampingi anak membandingkan sejumlah keuntungan maupun kerugian dari setiap pilihan yang dibuatnya. Ajak anak berdiskusi dan membayangkan apa yang akan terjadi apabila ia memilih suatu keputusan tersebut. Misalnya, ‘Apa permainan yang mau kamu lakukan sepulang sekolah nanti?’. Hal ini menjadi proses belajar bagi anak dalam mengasah kemampuan berpikir kritis dan menentukan pilihan pemecahan masalah sehari-harinya,” jelasnya.

Mengapa Kesalahan Bukanlah Sesuatu yang Menakutkan?

Foto: www.freepik.com

Sebuah pengingat: orangtua tetap perlu menghargai usaha anak mengambil keputusan sendiri meskipun ia salah mengambil keputusan.

“Dengan menghargai proses belajar anak, hal ini akan menjaga kepercayaan diri dan keberhargaan diri anak. Menyalahkan anak hanya akan membuat anak merasa bersalah dan takut mencoba mengambil keputusan sendiri kelak,” tekannya.

Menurut Mayang, kesalahan merupakan proses anak memahami sebab-akibat dari suatu tindakannya. Dan ketika orangtua dapat membantu anak mengevaluasi dampak pilihannya, anak akan tetap merasa percaya diri untuk mencoba mengambil keputusan sendiri di kemudian hari.

Apakah hal yang sama berlaku untuk semua usia anak?

“Untuk anak usia balita, orangtua dapat mengapresiasi usaha yang telah dilakukannya dengan sejumlah tindakan sederhana. Misalnya memberikan senyuman dan pujian atas keberaniannya telah menentukan keputusan sendiri. Posisikan diri sejajar dengan anak dan berempatilah pada perasaannya,” anjurnya.

Sementara untuk anak usia sekolah (mulai 6 tahun ke atas), orangtua dapat mengajak anak berdiskusi dua arah terkait keputusan yang telah dipilihnya.

“Ajak anak berandai-andai dalam situasi tersebut, tentang pilihan mana yang paling tepat dipilih di kemudian hari. Buat anak merasa tetap berharga dan memiliki kendali pada dirinya untuk menentukan keputusan sendiri di kemudian hari,” pungkasnya.

Selanjutnya: Jika anak melakukan sebuah kesalahan, adakah cara yang paling tepat menegurnya? Ini penjelasan seorang psikolog anak.

podcast button