Bagaimana agar Orang Tua Memiliki Ekspektasi yang Realitis terhadap Anak

Ekspektasi adalah
Foto: www.shutterstock.com

Ekspektasi adalah sesuatu yang dimiliki oleh orang tua terhadap anaknya. Namun apakah ekspektasi itu realistis, atau malah membebani si anak? Farraas A. Muhdiar, seorang psikolog klinis dari Tiga Generasi dan arsanara.id, akan menjelaskan tentang bagaimana mengeceknya.

Ekspektasi Adalah...

Ekspektasi adalah
Foto: www.freepik.com

"Sebenarnya secara umum ekspektasi itu harapan, ya. Harapan yang kita berikan baik ke diri sendiri atau pun ke orang lain. Biasanya berhubungan sama standar ideal kita, jadi kita maunya level idealnya seperti apa, lalu kita memiliki harapan pastinya," jelas Farraas.

Menurutnya, umumnya ekspektasi orang tua terhadap anak sebenarnya sangat bergantung dengan konteks sosial terus nilai-nilai yang dianut sama orang tuanya.

"Untuk orang tua di Indonesia, biasanya yang saya temui ekspektasinya itu, anaknya perilakunya baik nggak bandel istilahnya. Terus prestasi akademiknya oke, jadi orang yang sukses, membanggakan orang tua. Biasanya itu sih, ya harapan orang tua. Terus kalau orang tua yang punya nilai-nilai agama, biasanya pengen anaknya juga soleh, nggak melakukan hal-hal yang di luar ajaran agama," tambahnya.

Apa yang Dimaksud Ekspektasi Terlalu Tinggi dan Terlalu Rendah?

Foto: www.rawpixel.com

Satu yang pasti, Farraas menekankan bahwa wajar bagi orang tua memiliki ekspektasi terhadap anaknya. Sama seperti kita memiliki ekspektasi terhadap pasangan, rekan kerja, saudara, dan lain sebagainya. Dan biasanya ekspektasi ini sesuai dengan standar oribadi yang kita miliki.

"Jadi apa yang menurut kita baik, pasti kita pengen orang-orang di sekitar kita juga melakukan itu," ungkapnya.

Sementara mengenai 'ekspektasi terlalu tinggi' atau 'terlalu rendah', begini penjelasannya.

"Kalau dibilang terlalu tinggi biasanya mengacu kepada perbedaan antara apa yang menurut kita ideal dengan realitanya. Misalnya anak kita secara akademis prestasinya tidak terlalu baik, tetapi kita push dia supaya dia ranking satu terus, padahal jauh banget performance-nya. Itu berarti terlalu tinggi, karena jadinya nggak sesuai dengan kondisi nyatanya anak," terangnya.

Bagaimana dengan ekspektasi yang terlalu rendah?

"Kalau ekspektasi terlalu rendah kesannya seperti ngeremehin gitu ya, jadi sebenarnya anaknya bisa tapi terus kita bilang 'Ah kamu nggak usahlah coba itu.' Atau 'Kamu nggak usahlah capek-capek belajar, ya udahlah.' Padahal misalnya anaknya itu sebenarnya bisa," papar Farraas.

Dengan kata lain, orang tua perlu menemukan keseimbangan saat memiliki ekspektasi terhadap anak.

"Istilahnya seperti lagi main layang-layang, kita tahu kapan harus naik, kapan harus ulur, kapan harus nge-push, kapan harus agak santai sedikit," tekannya.

"Itu hanya bisa dilakukan kalau orang tua tahu anaknya itu seperti apa kelebihannya, kekurangannya, minatnya, bakatnya. Jadi sebenarnya orang tua itu sebenarnya menjadi fasilitator. Jadi anaknya ada di level mana, kemudian bisa nggak ya, ditingkatkan sedikit ke atas? dengan cara apa? Misalnya kita push, kita kasih arahan, kita kasih tahu caranya bagaimana," bebernya.

"Namun kita harus pelan-pelan, sesuai dengan level anak. Jadi standarnya itu disesuaikan dengan kondisi anak saat ini, atau sesuai dengan usia dia. Misalnya anak se-usia ini harusnya sudah bisa apa, itu yang harus kita jadikan pegangan. Bukan standar-standar ideal yang sebenarnya ada di kepala kita saja," tekannya.

Apa Akibatnya Jika Harapan Orang Tua Terlalu Tinggi/Rendah?

Ekspektasi adalah
Foto: www.xframe.io

"Misalnya anaknya minatnya di bidang olahraga dan seni, dan paling nggak bisa hitung-hitungan atau yang bersifat kaya sains, tapi orang tua punya ekspektasi, punya harapan anaknya jadi scientists, nggak match, beda banget," ujarnya memberi contoh.

Akibatnya adalah orang tua akan merasa anaknya itu kurang terus, dan bertanya-tanya 'anakku kenapa nggak bisa' atau 'anakku kenapa nggak bisa fokus' atau 'anakku kenapa nilainya jelek'.

'Dan akhirnya minat dan bakatnya anak yang sebenarnya sudah ada nih, jadinya tidak terasah karena menurut orang tua itu nggak penting. Padahal bisa jadi apa yang anak sukai dan anak bisa saat ini, kalau diasah bisa jadi kelebihan yang luar biasa. Mungkin anak kita yang paling strong di bidang itu," ujarnya.

Mengapa orang tua sering kali melakukannya?

"Sebenarnya berkaitan juga sama mindset, kadang-kadang kita punya satu mindset definisi anak yang sukses itu seperti apa dan kita kaku, orang tua suka kaku. Pokoknya anak yang sukses itu misalnya yang nanti kuliahnya itu PTN, terus nanti kerjaannya jadi apa, jadi manajer. Padahal yang kita tahu sendiri sekarang sudah banyak sekali jalan menuju sukses," paparnya.

Dan berbeda dengan orang tua yang mungkin masuk dalam kategori generasi milenial atau Y, anak-anak kita mungkin adalah generasi alfa. Ini artinya, orang tua dan anak berbeda.

"Dan anak-anak yang range-nya ada di generasi alfa, yang sekarang maksimal SD, di masa depan itu justru kebanyakan pekerjaan-pekerjaan mereka nanti belum di masa sekarang. Ada banyak sekali bidang-bidang yang nantinya akan berkembang," ungkapnya.

"Jadi orang tua memang perlu memperluas mindset bahwa jalan menuju sukses itu nggak cuma lewat jalan konvensional, misalnya lewat pendidikan. Kita harus lihat anak kita. Yang penting anaknya bisa berpikir kritis, anaknya bisa komunikatif, bertanggung jawab, mau berusaha. Nah, nilai-nilai itu yang sebenarnya kita taruh, kita ekspektasikan pada anak. Bukan sekadar nilai, sekadar prestasi tertentu saja," tegasnya.

Perlukah Anak Mengetahui Ekspektasi Orang Tuanya?

Foto: www.freepik.com

"Kalau menurut saya perlu," jawab Farraas.

"Karena sebenarnya itukan harapan ya, tetapi seperti yang tadi disebutkan bahwa ekspektasinya harus kita bikin realistis. Jangan sampai misalnya anaknya sekarang peringkat terakhir di kelas, terus kita bilang, 'Aduh Mama tuh, pengen banget kamu jadi peringkat pertama'—ini bisa membuat anak nanti jadinya merasa bahwa dia mengecewakan orang tuanya," ujarnya.

"Jadi menurut saya tetap perlu kasih tahu tapi yang realistis ya, misalnya, 'Oh Mama yakin kalau Kakak belajar terus, Kakak bisa kok dierima di sini'. Atau misalnya, 'Mama pengen deh anak mama jadi sering bantuin Mama di dapur'—itu 'kan juga sebenarnya ekspektasi," imbuhnya.

Farraas menambahkan bahwa anak perlu tahu harapan orang tua karena dia tetap perlu tahu apa yang menurut orang tuanya baik, apa yang buruk. Karena yang namanya anak-anak belum sepenuhnya bisa membedakan hal tersebut; belum sepenuhnya bisa merencanakan hidup.

"Jadi anak-anaknya tetap perlu arahan dan batasan dari orang tuanya selama tidak berlebihan. Dan selama kalau anaknya tidak bisa memenuhi ekspektasi tersebut, kita nggak jahat sama anak, kita nggak melakukan kekerasan verbal, atau misalnya dengan bilang, 'Ah, gimana sih, kamu gitu aja nggak bisa,'" bebernya.

Apalagi, jika sampai keluar kata-kata yang kasar—jangan sampai terjadi.

"Jadi nge-push anak itu boleh selama memang sesuai sama batas kemampuannya anak dan kalau tidak berhasil, kita tetap jadi tempat yang aman bagi anak kembali. Anak jadi nggak takut karena tidak berhasil melampaui target," Farraas mengingatkan.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Orang Tua untuk Membentuk Ekspektasi?

Ekspektasi adalah
Foto: www.xframe.io

Sama dengan banyak hal lain tentang parenting, dalam hal pembentukan ekspektasi pun orang tua perlu belajar jika belum mengetahui cara menemukannya.

"Belajarnya itu tiga hal, yang pertama belajar tentang diri sendiri: sebagai manusia apa sih, yang sebenarnya saya inginkan dalam hidup, nilai-nilai apa yang saya anut, karena itu akan kebawa ke anak. Jadi jangan ngikutin orang lain," ujarnya.

Jika menurut kamu, misalnya, pencapaian akademis itu memang tidak terlalu penting, "Ya udah jangan dipusingin, meskipun anak orang rankingnya tinggi, karena buat kita itu nggak penting. It's ok karena ada hal-hal yang memang perlu dilewatkan. Jadi kita perlu tahu prioritas hidup kita apa, apa yang harga mati banget yang harus kita ajarkan pada anak, dan yang ya, bolehlah tidak terlalu bagus misalnya bisa dilewatkan," katanya.

Satu hal yang perlu diingat orang tua (meski sering kali lupa) adalah tidak mungkin seorang anak itu bisa bagus dalam semua hal, pasti ada area-area yang bisa diprioritaskan.

"Kaya kita pun sebagai manusia nggak mungkin bisa sempurna. Jadi kita harus kenal juga, kalau kita misalnya nih, pengen anak kita rajin ibadah misalnya tapi kita sendiri nggak melakukan itu, tidak bisa menjadi contoh baik untuk anak, ya nggak akan tercapai. Jadi ekspektasi itu bukan cuma ke anak, tapi kitanya siap atau nggak menjadi role model, itu yang pertama," tekannya.

Yang kedua, orang tua perlu mengenali dulu anaknya.

"Anak kita ini minatnya apa, bisanya apa, cocok nggak dengan ekspektasi kita. Kalau nggak cocok, bisa nggak di-adjust, kita kurangin atau kita bantu supaya terasah skill-nya. Kalau ternyata sudah dicoba berbagai cara tapi belum bisa, mungkin bukan di situ keahlian anak kita, jadi direlakan," sarannya.

Yang ketiga, belajar juga tentang caranya, cara berkomunikasi dengan anak, cara membimbing anak, karena menjadi orang tua itu memang proses sepanjang hidup, tidak pernah berhenti belajarnya, tekannya.

Kesimpulan

Foto: www.freepik.com

Ekspektasi adalah sesuatu yang wajar dimiliki orang tua terhadap anak, dan ini bisa dipakai untuk mendorong untuk menjadi lebih baik dan berprestasi. Namun, harapan orang tua terhadap anak hendaknya seimbang dan realistis, menyesuaikan dengan kondisi, kemampuan dan preferensi anak.

Dan untuk menemukan ekspektasi yang penuh keseimbangan sering kali orang tua dituntut untuk belajar dan terus berupaya mengerti anak.

"Jadi jangan merasa, 'Ah aku anaknya udah ada tiga, nggak perlu belajar lagi, aku udah ngerti anak-anakku kaya gimana'—belum tentu, karena perubahan juga terus terjadi. Anak kita ini berbeda dengan kita kecil dulu, generasinya sudah berbeda, tantangan lingkungannya berbeda, paparan informasinya juga jauh beda, jadi kita nggak boleh ketinggalan sama anak kita," pungkasnya.