Si Kecil Suka Memukul? Ini Saran dari Psikolog

Foto: www.stocksy.com

Si kecil suka memukul temannya bahkan dirinya? Apalagi jika keinginannya tidak terpenuhi. Akhirnya, orangtua khawatir dan bingung harus melakukan apa! Demi membantu kamu, LIMONE menghubungi seorang psikolog untuk mengetahui mengapa anak suka memukul dan cara menghadapinya. Baca terus untuk tahu penjelasannya.

Mengapa Anak Suka Memukul?

Menurut psikolog anak Maria Stefani, penyebab anak suka memukul biasanya karena dia ingin mempertahankan diri, dan menganggap hal tersebut bisa menjadi pemecah masalah, serta itulah caranya mengomunikasikan perasaan.

“Poin pertama dan kedua berasal dari proses belajar. Perlu diingat anak akan menyimpan dalam memorinya segala sesuatu yang ia lihat, dengar atau rasakan pada usia dini terutama sebelum usia 6 tahun,” ujar melalui pesan singkat.

Psikolog klinis anak ini mengungkapkan proses ‘belajar’ yang dilakukan anak tersebut mungkin tidak terlihat secara langsung dampaknya. “Biasanya bila orangtua marah lalu memukul, maka anak juga memukul  saat marah,” jelasnya. Si anak bisa jadi berpikir bahwa memukul adalah reaksi ‘wajar’ dari rasa marah.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, alasan utama anak ketika marah suka memukul karena anak kesulitan untuk mengomunikasikan perasaannya. Oleh karena dia “belum bisa mengekpresikan emosinya, jadi memukul merupakan salah satu insting meluapkan perasaannya,” jelasnya menambahkan, “terutama saat merasa terancam.”

Kebiasaan anak yang suka memukul sejak dini akan terbawa-bawa hingga dewasa. “Jika hal ini terus berlanjut dan tidak disadari, maka akan berubah menjadi kebiasaan hingga anak dewasa,” ungkapnya.

Apakah Memukul Kembali Adalah Solusi Tepat?

Sering kali karena kita tidak tahu harus berbuat apa, ketika anak memukul temannya, kita lantas balas memukul si kecil. Sebaiknya jangan lakukan ini.

“Bila anak memukul orang lain dan kita memukul balik, maka anak akan belajar bahwa memukul adalah jalan keluar dan ia akan mengulanginya lagi,” lanjutnya.

Tak hanya itu efek negatifnya. Memukul anak di hadapan orang lain akan menyakiti egonya. “Selain itu dengan memukulnya justru menambah luka,” ujarnya. Maria menekankan kembali bahwa saat orangtua memiliki kebiasaan ini, si anak bisa perpikir bahwa “memukul adalah salah satu cara problem solving.”

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Orangtua Saat Tahu Anak Ringan Tangan?

Perilaku anak suka memukul biasanya diketahui ketika orangtua menyaksikan sendiri, “atau ada keluhan dari temannya, sesama orangtua, atau pihak sekolah,” imbuh psikolog ini.

Saat mendengar hal ini dari orang lain, Maria menyarankan agar orangtua mencari tahu kronologis kejadiannya terlebih dahulu. Dengan demikian kamu mengetahui penyebab jelas anak memukul orang lain.

Jika setelah berbicara dengan si kecil, kamu mengetahui bahwa dia melakukannya karena meniru kamu (orangtua atau orang dewasa lain) , maka mulailah menjaga sikap ketika berhadapan di depan anak. “Hal ini terjadi ketika anak meniru atau menyaksikan orang lain melakukan pemukulan,” Maria menekankan. “Dalam hal meniru orangtua, temannya maupun dari media baik real life atau lewat tayangan TV atau games.”

Selain itu, hal yang bisa membuat anak ringan tangan, bisa jadi karena dia juga menerima pukulan. “Pengalaman anak menerima pukulan membuat anak meniru,” katanya.

Bagaimana Cara Mengatasi Anak yang Suka Memukul?

Setelah orangtua memahami kronologis kejadian dan mengetahui penyebab pemukulan, maka mendekatkan diri pada anak menjadi langkah tepat untuk mengatasinya.

Hal yang pertama harus ingat ya, jangan menegur anak di muka umum,” Maria mengingatkan. “Sebaiknya lakukan secara pribadi,” ujarnya.

Langkah kedua, “ajak anak berkomunikasi dan dengarkan. Biarkan anak mengeluarkan perasaannya yang membuat ia melakukan pemukulan,” ucap Maria menambahkan.

Dan yang terakhir usahakan untuk berbicara dengan nada rendah. “Disarankan benar-benar paham kronologis dan berbicara secara pribadi agar tidak dikuasai emosi sesaat.”

“Namun, bila saat itu terdesak dengan pihak korban pemukulan, pastikan ada pihak ketiga yang menjadi mediator,” sarannya.

Tips untuk Para Orangtua Sibuk: Mengajarkan Anak agar Tidak Agresif

  1. Budayakan meluangkan waktu untuk mendengarkan anak. Tujuannya agar anak mampu berkomunikasi yang tepat.
  2. Belajar memahami perasaan anak. “Orangtua bukan hanya duduk mendengarkan, tapi benar-benar hadir untuk memahami dengan perasaan anak saat berada di kejadian yang ia ceritakan.”
  3. Ajari anak cara menyalurkan emosi yang tepat. “Orangtua dapat mengarahkan anak untuk melakukan hal-hal yang ia sukai dan membuat anak merasa nyaman. Jadi, hobi memang berperan penting dalam hal ini. Menyalurkan emosi dapat juga dengan bercerita pada orangtua,” ujar Maria.
  4. Ajari anak bahasa kasih. “Hal ini harus dimulai sejak anak masih kecil. Idealnya anak yang merasakan cinta kasih dari sekelilingnya akan minim melakukan tindakan agresif. Namun, bila anak sudah terlanjur besar, orangtua masih dapat mengajarkan anak mengasihi orang lain dengan menjadi role model bagi anak.”
  5. Bila perilaku memukul anak di luar kendali orangtua, “jangan ragu untuk meminta bantuan ahli. Pada usia tertentu, anak membutuhkan konseling lebih lanjut,” tegasnya.
  6. Jangan lupa mengajarkan anak untuk mengakui kesalahannya dan meminta maaf. “Hal ini sekaligus bermanfaat untuk melatih anak mengendalikan amarahnya.”

Selanjutnya: Ini cara mengajarkan anak mengambil keputusan sendiri.

podcast button