Ini Cara Menemukan Terapis yang Tepat… Menurut Seorang Terapis

Foto: www.gettyimages.com

Yep, mencari jodoh itu sulit, tapi pernahkah kamu mencoba mencari terapis yang cocok? Ibaratnya, jika mencari dan memilih terapis semudah “swipe kanan dan kiri”—sudah banyak orang yang akan menjalani terapi saat ini. Bukan berarti tidak ada terapis yang berkualitas dan bisa membantu di luar sana, tapi kebutuhanmu lebih dari itu. Salah satu yang terpenting adalah menemukan seseorang yang membuatmu bisa merasa nyaman. Pasalnya, yang akan kamu beberkan adalah (mungkin) rasa tergelap hidupmu yang mungkin hanya kamu, Tuhan dan Google yang tahu. Untuk itu, LIMONE menghubungi seorang psikolog untuk mendapatkan saran terbaik tentang bagaimana menemukan terapis yang tepat untukmu.

Prinsip Apa yang Harus Diingat Saat Mencari Terapis yang Tepat?

mencari terapis yang tepat
Foto: www.shutterstock.com

“Prinsip pertama, psikolog itu seperti ‘obat’. Mungkin saja kita tidak cocok dengan satu psikolog, tapi cocok dengan psikolog lainnya,” terang Alfath Hanifah Megawati, S.Psi., M.Psi., Psikolog, psikolog Klinis Dewasa dari TigaGenerasi.

Selain itu, yang juga perlu diingat adalah psikolog berbeda dengan dokter. “Mereka tidak punya obat atau ramuan ajaib yang bisa menyembuhkan kita dengan segeram,” kata psikolog yang juga berpraktik di Klinik Brawijaya Plaza UoB dan Kemang, Jakarta, ini.

Menurutnya, jika keluhanmu cukup berat, maka diperlukan sesi berkelanjutan dan perlu ada upaya yang sebaiknya dilakukan saat tidak mengikuti sesi. Pasalnya, kita (yep, kamu dan saya) “mempunyai peran yang lebih besar dalam kesembuhan diri kita,” jelasnya.

Lalu, prinsip berikutnya adalah (ini super penting): psikolog bukan paranormal. “Mereka tidak bisa membaca pikiran dan isi hati kita. Maka dari itu, perlu keterbukaan diri untuk menceritakan diri kita selama sesi dilakukan. Persiapkan diri kita sebelum bertemu dengan psikolog, sehingga sesi bisa lebih efektif dan efisien, seperti mempersiapkan catatan diri. Selain itu, kita perlu mempunyai kemauan dan keberanian untuk menggali ke dalam diri kita sendiri,” bebernya,

Apa Saja Tahap yang Bisa Dilakukan untuk Menemukan Terapis yang Tepat?

menemukan terapis yang tepat
Foto: www.gettyimages.com

Faktanya: ada banyak terapis berkualitas di luar sana. Lalu bagaimana mempermudah hidupmu dalam menemukan terapis yang tepat? Trik sederhana ini bisa membantu.

Demografi psikolog

“Misalnya, pilihlah psikolog yang secara lokasi dan biaya, terjangkau oleh kita.”

Jadwal praktik dari psikolog

“Jika tidak sesuai dengan waktu kita, maka sebaiknya cari yang sesuai. Karena ada kemungkinan sesi lanjutan diperlukan,” terang Alfath.

Usia dan jenis kelamin

Faktor ini juga bisa menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan. “Ada yang nyaman ditangani oleh psikolog yang berusia muda, ada yang lebih nyaman dengan yang lebih senior. Ada yang lebih nyaman terbuka dengan psikolog laki-laki, ada yang lebih nyaman dengan psikolog perempuan,” tuturnya.

Metode yang digunakan psikolog

Perhatikan jika psikolog mempunyai metode pendekatan yang berbeda dalam terapinya. “Misalnya, hipnotis, CBT, ACT, Mindfulness, dan pendekatan lainnya. Jadi bisa jadi, tidak cocok dengan satu pendekatan, tapi cocok dengan yang lainnya.”

Pembawaan diri psikolog

Bukan berarti kamu perlu tahu dengan detail kepribadiannya, karena itu membutuhkan waktu dan pengamatan langsung yang lebih jauh. “Jadi, cukup cari tahu pembawaan diri psikolog. Bagaimana cara dia berkomunikasi, kecenderungan bersikap/merespon, sampai penampilan diri,” saran Alfath. Bagaimana kamu bisa mengetahui? Berterimakasihlah kepada media sosial. “Kita bisa melihatnya dari media sosial, googling informasi, atau bertanya kepada orang yang pernah ditangani olehnya.”

Ah, media sosial—bisakah diandalkan dalam hal menemukan terapis yang tepat? Menurut Alfath, mengenal sekilas terapis melalui media sosial itu perlu. Asal, tidak dijadikan sebagai satu-satunya metode untuk mencari tahu informasi tentang terapis tersebut. “Kita perlu bertemu dan merasakan sendiri interaksi dengan psikolog tersebut. Maka, dalam proses mencari psikolog, ada yang bisa langsung bertemu dengan yang ‘klik’, tapi ada juga yang perlu mengalami proses ‘trial-error‘ sampai menemukan psikolog yang pas dengan diri,” ujarnya, mengingatkan.

Apa yang Sebaiknya Diperhatikan pada Sesi Pertama Konseling?

menemukan terapis yang tepat
Foto: www.istockphoto.com

Sebut saja, setelah mencari berhari-hari (atau berbulan-bulan), akhirnya kamu menemukan terapis yang tepat. Lalu, membuat jadwal konseling pertama. Sebagai pemula, adakah hal-hal yang harus diperhatikan untuk memastikan bahwa terapis tersebut cocok untuk jangka waktu panjang?

“Kita cocok dengan satu psikolog, biasanya ditandai dengan perasaan nyaman saat menjalani sesi tersebut dan adanya sedikit-banyak kelegaan/perbaikan setelah sesi tersebut berakhir,” jawab Alfath. Psikolog ini menekankan bahwa kecocokan dalam jangka panjang bukan hanya dilihat dari segi psikolognya saja. “Seringnya justru itu hadir dari diri kita,” tegasnya.

Faktor dari diri sendiri ini bisa berupa kita memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi, alias ingin mendapatkan hasil yang cepat dan instan. Lalu, faktor kurangnya keinginan untuk mengupayakan perbaikan diri; dalam artian kita cenderung pasif atau enggan menjalani saran psikolog. Atau, fakta jika kita masih menyangkal kondisi diri kita sendiri, dan lain sebagainya. “Jadi, kita perlu cek, ketidakcocokan dengan psikolog apakah karena faktor dari psikolognya atau justru dari dalam diri kita sendiri,” Alfath mengingatkan.

Adakah trik sederhana yang bisa membantu kita menjalani sesi dengan mulus? Berita bagus: ada. Yakni: ceritakan kepada orang terdekat dan yang paling kamu percayai bahwa kamu sedang menjalani konseling dan terapi. “Ini bukan hanya untuk membantu diri kita menjaga komitmen kesembuhan diri, tapi juga untuk memberi masukan terkait hambatan yang kita alami,” sarannya.

Jika di Sesi Pertama Kita Sudah Merasa Tidak Cocok, Bagaimana Menyampaikan Bahwa Itu adalah Sesi Pertama dan Terakhir?

Foto: www.gettyimages.com

Dan Alfath menekankan bahwa tidak ada istilah ‘psikolog buruk’. “Selama psikolog berpraktik sesuai dengan kode etik profesional dan mempunyai lisensi aktif untuk berpraktik, maka tidak ada istilah psikolog atau terapis yang buruk. Lebih kepada terapis yang tidak cocok dengan kita,” tegasnya.

Hm, jika dihadapi dengan situasi ini—kamu tidak merasa cocok—kemungkinan akan ada perasaan tidak enak. Jadi, haruskah berkata jujur bahwa kita merasa tidak sreg?

“Jujur dalam artian itu hak kita ya, bukan kewajiban,” tegasnya. Namun demikian, menurut Alfath, sebelum memberikan label ‘tidak cocok’, ada baiknya kamu menyampaikan kepada psikolog tersebut tentang hambatan dan kendala yang kamu alami selama sesi berlangsung.

“Kita bisa mengatakan kepada psikolognya dengan jujur, menanyakan saran ke depan, atau meminta referensi psikolog lainnya. Jika psikolog bertanya, ‘mengapa tidak cocok’, maka jawab dengan sudut pandang diri kita, misalnya, ‘Saya merasa keluhan saya tidak cukup membaik dengan metode ini. Apa ini memang kendala yang umum terjadi atau tanda bahwa saya tidak cocok dengan metode yang diberikan?’ Atau jika ada keluhan lainnya, misalnya, ‘Saya terkendala waktu dan biaya untuk melanjutkan sesi’. Boleh jujur, tapi perhatikan cara kita menyampaikannya,” Alfath menganjurkan.

Bagaimana menurutmu? Semoga penjelasan di atas membuatmu lebih memiliki gambaran tentang bagaimana menemukan terapis yang tepat—dan semoga bertemu terapis yang cocok, ya!

Dan berbicara tentang “menemukan”, ini mungkin alasan mengapa kamu belum menemukan pasangan hidup yang tepat.