Apakah Sikap Egois Selalu Negatif? Seorang Psikolog Menjawab

egois
Foto: www.stocksy.com

Beberapa hari yang lalu seseorang bilang kamu adalah orang yang “egois” setelah melakukan sesuatu. Entah kenapa perkataan tersebut membuatmu lumayan terguncang dan mungkin sulit tidur (apalagi bagi orang yang sensitif). Pasalnya, selama ini kamu merasa adalah salah satu orang paling murah hati dan altruistik di kalangan teman-temanmu.

Apakah kamu egois? Dan apa sebenarnya arti kata ini?

“Dalam psikologi, egois dapat diartikan sebagai kecenderungan untuk memprioritaskan keinginan dan kebutuhan pribadi di atas kebutuhan dan keinginan orang lain,” kata Ine Indriani, M.Psi, Psikolog, seorang psikolog klinis dari Brainspotting Indonesia, kepada LIMONE.

Apakah selfish selalu berarti negatif? Baca artikel ini sampai habis untuk menemukan jawabannya, dan mengapa kamu tidak perlu merasa bersalah saat sesekali egois.

Apakah Egois Selalu Negatif?

egois
Foto: www.rawpixel.com

“Dikatakan egois secara negatif kalau kita terlalu memperhatikan, memprioritaskan atau memaksa keinginan atau kebutuhan diri secara berlebihan atau terus-menerus. Dan mengabaikan kebutuhan atau perasaan orang lain, bahkan hingga merugikan orang lain,” lanjutnya.

Egois secara negatif, apakah ini berarti sifat egois bisa menjadi sesuatu yang positif?

“Egois atau mementingkan diri sendiri di atas kepentingan orang lain belum tentu selalu negatif, bila dilakukan tidak berlebihan dan ada latar belakang positif di balik perilaku egois tersebut,” tegasnya.

Menurutnya, pada saat tertentu, kita perlu mengutamakan diri kita sendiri. “Bahkan adakalanya kita perlu melakukan self-care sebelum membantu orang lain. Begitu juga misalnya bila kita naik pesawat, salah satu prosedur dalam menghadapi kedaruratan adalah memasang oksigen untuk diri sendiri sebelum memasangkannya untuk orang lain,” jelasnya.

“Oleh karena itu, egois yang tergolong negatif atau positif, baik atau buruk, perlu ditelusuri apa yang melatarbelakangi sikap tersebut. Termasuk juga melihat  apa tujuannya, untuk apa dan untuk siapa sikap egois ini dilakukan,” ujarnya.

Mau tahu satu bentuk sikap yang sepertinya terkesan egois tapi sebenarnya demi hajat hidup orang banyak? Uh-uh, melakukan karantina selama 14 hri setelah bepergian dengan pesawat di masa pandemi.

“Misalnya, kalau seseorang lebih mementingkan diri untuk istirahat dan karantina selama 14 hari setelah bepergian dengan pesawat, padahal rekan kerja yang lain harus tetap masuk ke kantor dan bekerja—maka kita tidak bisa menganggap orang tersebut egois secara negatif. Karena tujuannya adalah untuk menjaga diri dan mencegah carrier penyebaran virus,” tukasnya.

Contoh egois positif lain: ibu yang setiap hari mengurus anak, pada saat tertentu memprioritaskan kebutuhan diri untuk me-time dengan menonton TV, istirahat, atau shopping.

Atau kita melakukan self-care dengan memprioritaskan kesehatan fisik dan psikologis, misalnya dengan memilih hanya mau mengonsumsi makanan yang sehat, memprioritaskan untuk tidur nyenyak dan cukup, serta menyempatkan diri untuk berolahraga. Tujuannya? Agar kita lebih sehat secara fisik mental guna membantu orang lain lebih baik.

Perlukah Sakit Hati Saat Ada yang Menuduh “Egois”?

Foto: www.freepik.com

Ine menjelaskan bahwa perlu atau tidaknya sakit hati ketika ada yang menuduh kamu hanya mementingkan diri sendiri, sepenuhnya tergantung pada diri kita masing-masing.

“Kita boleh sakit hati, boleh juga tidak, karena tiap orang dapat memiliki penghayatan yang berbeda-beda ketika mendapatkan tuduhan egois,” ujarnya.

Untuk itu, kamu bisa mengajukan pertanyaan pada diri sendiri: apakah kamu merasa sakit hati atau tidak setelah dituduh sebagai orang yang egois?

“BIla tuduhan tersebut membuat kita sakit hati, terima perasaan sakit hati tersebut. Namun bukan berarti kita terus menerus meng-iyakan, bereaksi berlebihan dan menuruti reaksi sakit hati diri kita tersebut,” sarannya.

Ine menyarankan, apabila tuduhan tersebut berasal dari orang-orang terdekat, terima perasaan tersebut terlebih dahulu.

“Menerima dan memahami apa yang terjadi pada diri kita membuat kita lebih kenal dengan diri kita sendiri. Yang kedua, hindari langsung bereaksi. Sebaiknya menenangkan diri terlebih dahulu. Dengan kondisi tenang kita akan lebih jernih berpikir apakah kita perlu menegur atau bereaksi terhadap orang tersebut atau mengabaikannya dan tidak ambil pusing,” anjurnya.

Bagaimana Agar Menjadi Pribadi yang Peduli pada Orang Lain?

egois
Foto: www.freepik.com

Pandemi ini adalah salah satu momen yang tepat untuk menjadi orang selfish yang positif (menolak undangan orang lain dan memperbanyak waktu di rumah), yang pada saat bersamaan melakukan hal-hal yang berguna bagi kehidupan banyak.

Bagaimana sebenarnya cara menjadi pribadi yang memerhatikan diri sendiri, dan juga orang lain? Ine menyarankan untuk melakukan beberapa hal ini:

  1. Cobalah untuk mengenal dan memahami perasaan diri sendiri. Ini artinya, “mengenal karakter diri, kelebihan dan kekurangan, termasuk kebutuhan diri maupun apa saja yang membuat kita menjadi egois yang negatif,” jelasnya.
  2. Lakukan kegiatan yang bersifat egois dalam bentuk yang positif. Seperti melakukan self-care. Kamu dapat menanyakan pada diri sebelum memutuskan melakukan sesuatu yang egois: Apa yang membuat saya melakukan ini? Apa manfaat dari perilaku ini? Adakah yang dirugikan jika saya melakukan ini? Apa manfaatnya bagi orang lain? Bila lebih banyak manfaatnya,  keegoisan tersebut dapat berdampak baik pada orang lain.
  3. Ingat bahwa egois negatif terjadi ketika perilaku kita berlebihan dalam mementingkan diri sendiri. “Bahkan ada yang sampai merugikan sehingga yang terjadi adalah win-lose transaction,” tegasnya.

Jadi, apakah kamu orang yang selfish? Mungkin kamu bisa menemukan jawabannya saat melakukan self-care.

Selanjutnya: Ini cara mengajarkan empati kepada anak.