Bagaimana Cara Merawat Anak Ketika Menjadi Single Parent?

single parent
Foto: www.freepik.com

Ketika harus berperan menjadi seorang ibu atau ayah sekaligus, pastinya ini merupakan hal yang berat. Begitu pun yang dirasakan oleh single parent yang memiliki tanggung jawab untuk membesarkan sang buah hati sendirian. Meski sulit, tentunya hal ini tetap harus dijalani oleh orang tua tunggal. Akan tetapi, bagaimana cara merawat anak ketika kita menjadi single parent?

Simak penjelasan dari Alfath Hanifah Megawati, M.Psi., Psikolog, Psikolog Klinis Dewasa dari TigaGenerasi, yang akan membahas tentang bagaimana merawat anak dan merasa tetap bahagia ketika menjadi orang tua tunggal.

Apa Definisi dari Single Parent?

single parent
Foto: www.pexels.com

Single parent adalah seseorang yang tinggal dan mengasuh anaknya, tanpa suami, istri, atau pasangan. Dalam banyak kasus, single parent identik dengan pengasuhan dan pembiayaan anak secara mandiri, jadi pasangan (suami atau istri) tidak lagi terlibat secara konsisten terhadap dua hal ini,” jelasnya.

Ketika dihadapkan dengan kondisi tersebut, pastinya muncul rasa bersalah terlebih kepada sang buah hati. Tetapi, “merasa bersalah menjadi emosi yang umum dialami oleh seseorang yang single parent. Alasannya beragam, baik itu karena ketidakmampuan mempertahankan pernikahan, tidak bisa memberi keluarga yang utuh untuk anaknya, atau adanya hambatan untuk memenuhi kebutuhan diri atau anaknya tersebut,” papar Ega.

Sehingga, suami atau istri menjadi satu-satunya sumber pemenuh kebutuhan diri dan anaknya. Maka, ketika ia terhambat atau merasa kesulitan untuk memenuhinya baik itu disebabkan kurangnya kemampuan diri ataupun kesibukan aktivitas, ini akan menjadi hal yang sensitif untuk mengembangkan perasaan bersalah pada dirinya.

Perlukah Kita Menjelaskan Kepada Anak Terkait Kondisi Ini?

Foto: www.freepik.com

Menurut Ega, sangat penting untuk memberikan penjelasan mengenai situasi yang terjadi setelah perceraian ini. “Namun, penjelasan yang diberikan kepada buah hati perlu disesuaikan dengan usia sang anak. Sehingga bahasa yang kita sampaikan bisa dipahami oleh anak. Selain itu, penting juga untuk menyampaikan hal ini ketika kita tidak dalam kondisi emosional,” ungkapnya.

Namun, bagaimana jika anak malu memiliki orang tua tunggal?

“Penelitian menunjukkan bahwa tahun pertama dan kedua pascaperceraian orang tua adalah tahun yang berat bagi anak. Ia perlu waktu untuk memahami dan mungkin mengalami kesedihan akibat kehilangan salah satu sosok orang tua di rumahnya. Belum lagi mungkin terpapar emosi negatif dari orang tua yang mengasuhnya,” tuturnya.

Ketika berada dalam situasi ini, hal penting yang diperlukan oleh anak adalah kehadiran orang tua. Bagaimana anak tidak kehilangan perhatian dan fokus dari orang tua.

“Ketika anak merasa malu, sedih, atau emosi lainnya, penting untuk kita memahaminya bahwa itu merupakan perasaan yang dapat diterima, menemani dia berbicara, dan memberikan pemahaman yang membantu anak dapat mengelola emosinya tersebut,” saran Ega.

Apakah Memiliki Orang Tua Tunggal Dapat Berdampak Pada Kehidupan Anak?

single parent
Foto: www.unsplash.com

Sebenarnya, ketika coparenting atau pengasuhan anak tetap dilakukan pascaperceraian sehingga anak tidak kekurangan kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya, maka dampak negatif dari perceraian pada anak dapat terminimalisir.

“Terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa bukan perceraianlah yang memberikan dampak negatif dalam perkembangan anak. Tetapi justru konflik orang tua yang dipaparkan kepada anak, baik sebelum perceraian dan/atau setelah perceraian. Ketika orang tua disibukkan dengan konflik dan emosi negatif mereka, maka anak akan kehilangan perhatian dari mereka dan mulai terpapar emosi negatif orang tuanya,” jelas Ega.

Dalam kondisi ini, anak rentan menginternalisasi perasaan tidak berharga, takut, kesepian, marah, dan bahkan sulit untuk memercayai bahwa hubungan yang ia jalin nantinya akan berhasil. Ketika anak merasa kesulitan untuk mengelola emosinya dan tidak mendapatkan dukungan orang tua di saat itu, maka sangat mungkin anak akan mengembangkan perilaku yang berisiko bagi dirinya atau orang di sekitarnya.

Bagaimana Cara Merawat Anak Ketika Menjadi Single Parent?

Foto: www.rawpixel.com

“Ketika merawat anak dalam kondisi menjadi orang tua tunggal, maka kita perlu memahami bahwa anak memerlukan figur ayah dan ibu dalam perkembangannya. Serta, kondisi single parent ini tidak boleh menghambat pemenuhan kebutuhan anak,” tuturnya.

Maka, yang perlu dilakukan orang tua adalah memberikan ruang bagi mantan pasangan untuk ikut serta dalam pengasuhan. Serta tentunya memiliki waktu yang tepat dengan buah hati.

Namun, jika menjadi orang tua tunggal disebabkan oleh meninggalnya pasangan, “maka kita perlu mencari figur subtitusi bagi anak. Misalnya melibatkan keluarga kita untuk menggantikan sementara peran yang hilang tersebut,” sarannya.

Langkah terakhir adalah penting bagi orang tua tunggal untuk menentukan prioritas dan mengatur waktu yang dimiliki. Sangat mungkin ketika menjadi single parent akan membuat kita menjadi sibuk, karena tugas yang biasanya dapat dibagi, kini harus dilakukan sendiri.

“Jadikan anak kita menjadi salah satu prioritas. Hal ini perlu dilakukan agar ia tidak mengembangkan perasaan bahwa ia tidak berharga bagi orang tuanya,” anjur Ega.

Adakah Cara untuk Tetap Bahagia Meski Menjadi Single Parent?

single parent
Foto: www.unsplash.com

“Ketika manusia bisa merasa sedih, maka sebenarnya ia juga mampu merasa bahagia,” ujar Psikolog Klinis Dewasa ini.

Untuk tetap merasa bahagia meski harus menjadi orang tua tunggal, maka kamu bisa melakukan beberapa hal, seperti:

Menjaga fokus

Langkah pertama yang bisa kamu lakukan adalah fokuskan diri pada apa yang dapat dilakukan pada hari ini, serta mulai membangun harapan untuk masa depan. “Jangan terpaku hanya pada masa lalu yang gagal, sakit, atau menyedihkan, karena tidak ada yang dapat kita ubah,” tuturnya.

Menemukan makna

Kedua, temukan makna dan hal baik yang bisa didapatkan dari perceraian tersebut. “Blessing in disguise. Mungkin akan terasa sulit, tetapi itu hal yang bisa kita temukan nantinya,” katanya.

Menggantungkan kebahagiaan pada hal yang dikendalikan

Ketiga, gantungkan kebahagiaan pada hal yang dapat dikendalikan, bukan pada hal yang tidak dapat dikendalikan. “Yang dapat kita kendalikan adalah pikiran dan perilaku kita. Sedangkan pikiran dan perilaku orang lain tidak dapat kita kendalikan,” ucapnya.

Tumbuhkan keyakinan positif

Terakhir, tumbuhkan keyakinan positif dalam diri kita. Karena tidak ada hidup yang selalu buruk, ataupun tidak ada hidup yang selalu baik. “Bagilah hidup kita dengan orang-orang di sekitar yang mampu memberikan vibra positif dan menerima diri kita,” sarannya.

Kesimpulan

Foto: www.freepik.com

Tak hanya pada anak, menjadi orang tua tunggal tentunya dapat berdampak bagi kehidupan kita sendiri.

“Kita mungkin lebih mudah merasa kelelahan karena berpikir bahwa kita satu-satunya yang bertanggung jawab terhadap hidup kita dan buah hati. Tentunya ini bukan hal yang mudah untuk dihadapi. Ditambah lagi pada beberapa kasus, masalah finansial menjadi hal yang berat juga untuk ditanggung sendiri,” ucapnya.

Tentunya dampak tersebut bisa dirasakan dengan munculnya stres, frustasi, kesepian, dan campuran dari berbagai emosi yang tidak nyaman. Jika gagal mengelolanya dan tidak memiliki support system yang memadai, maka hal tersebut bisa masuk ke dalam gangguan psikologis.

Ketika merasa berat untuk menjalani ini semua, “kendalikan fokus kita, atur ekspektasi, sirami diri dengan hal yang positif, dan cari support system. Jika kondisi berat ini mulai mengganggu fungsi harian kita, maka carilah bantuan profesional,” saran Ega.