Merasa Tidak Sanggup Dalam Memenuhi Kewajiban Rumah Tangga? Ini Saran Psikolog

arti kewajiban
Foto: www.freepik.com

Saat memutuskan untuk menikah, selain menyiapkan pesta perayaan kita juga perlu untuk mengetahui peran dari masing-masing pasangan. Baik istri maupun suami, perlu menentukan peran serta mengetahui arti kewajiban yang dimilikinya.

Simak penjelasan dari Zahra Frida Intani, M.Psi., Psikolog, seorang Psikolog Klinis dari Hanania Consulting, terkait dengan arti kewajiban dan cara menentukannya dengan adil.

Apa Arti Kewajiban?

arti kewajiban
Foto: www.canva.com

Menurut Zahra, arti kewajiban adalah sesuatu yang wajib untuk dikerjakan atau harus dilakukan sebagai manusia. Umumnya, kewajiban berkaitan dengan tanggung jawab, “karena tanggung jawab adalah hal yang diberikan (amanah) untuk kita selesaikan,” paparnya.

Jadi, “biasanya ketika ada masalah-masalah mental atau tidak sehat secara fisik, kita akan kesulitan untuk menyelesaikan tanggung jawab. Itu pasti akan ada perasaan guilty, rasa bersalah, dan sebagainya. Karena kita tahu bahwa itu adalah hal yang seharusnya diselesaikan,” lanjutnya.

Bagaimana mengetahui apa yang menjadi kewajiban kita?

Untuk mengetahui apa saja kewajiban yang dimiliki, perlu untuk “mengenal terlebih dahulu terhadap diri kita. Seperti ‘Oh kita ini manusia, berarti membutuhkan apa saja. Hal yang perlu dipenuhi apa saja’. Misalnya butuh untuk makan atau memenuhi nutrisi tubuh, berarti wajib untuk menjaga kesehatan seperti makan, tidur, dan lainnya,” paparnya.

Setelah mengetahui tentang dasarnya diri kita ini siapa, maka “perlu mengetahui peran yang dimiliki, apakah perannya sebagai anak, orang tua, mahasiswa, istri, atau lainnya.

“Jadi untuk mengetahui arti kewajiban, maka harus mengetahui diri kita ini siapa dan punya peran apa. Karena ini nantinya akan terkait dengan kewajiban kita di dunia seperti apa,” lanjutnya.

Bagaimana dengan Kewajiban dalam Pernikahan?

Foto: www.unsplash.com

Zahra menuturkan bahwa saat menikah, kita sudah mengucapkan janji atau akad untuk bertahan sampai maut memisahkan, serta untuk memenuhi kewajiban-kewajiban dalam pernikahan. “Bentuk kewajibannya perlu disesuaikan dengan perannya seperti apa, baik istri maupun suami,” ujarnya.

“Apakah ada yang sifatnya ini tidak bisa digantikan oleh yang lainnya, misalnya seperti berhubungan seksual dalam bereproduksi. Karena itu tidak bisa diganti dengan orang lain, maka perlu dipenuhi oleh suami dan istri,” lanjutnya.

Kemudian misalnya kewajiban suami yang perlu memberi nafkah, ini perlu untuk dipahami terlebih dahulu.

“Memberi nafkah seperti apa yang harus dilakukan? Apakah wajib untuk memiliki rumah, atau memastikan kebutuhan pokok sehari-hari terpenuhi. Ini harus didiskusikan dengan pasangan,” tutur Psikolog Klinis yang satu ini.

Perlukah Penentuan Kewajiban Ini Selalu Didiskusikan dengan Pasangan?

Foto: www.canva.com

Jika kewajiban ini berkaitan dengan ikatan pernikahan, maka wajib untuk didiskusikan.

“Seperti misalnya yang memberi nafkah memang laki-laki, tetapi ternyata kebutuhan saat ini masih menghidupi orang tua, akan lebih baik jika istri juga bekerja. Hal tersebut silakan untuk didiskusikan,” ungkap Zahra.

Selain itu, bisa juga mendiskusikan terkait pembagian tugas dalam rumah tangga, apakah hanya diwajibkan untuk satu pihak atau kedua belah pihak. Namun untuk menjaga kebersihan pastinya keduanya wajib untuk menjalaninya.

Baca Juga :  Bagaimana Membantu Orang Terdekat Yang Mengalami OCD? Ini Saran Psikolog

“Misalnya dalam operasionalnya ini didiskusikan seperti saat saya bekerja sampai sore—sedangkan istri atau suami di rumah saja—maka di akhir pekan saya bisa membantu membersihkan kamar mandi. Oleh karena itu, penting sekali untuk didiskusikan,” ujarnya.

Apa Saja Hal yang Perlu Diperhatikan Ketika Menjalani Sebuah Kewajiban?

Foto: www.canva.com

Baik istri maupun suami, perlu untuk memerhatikan batasan-batasan yang telah ditentukan.

Katakanlah kewajiban yang perlu dipegang dalam hubungan rumah tangga adalah menjaga kesetiaan, kemudian nafkah, serta merawat keluarga dalam artian mendidik anak, itu perlu dipenuhi. Dan kita lihat terlebih dahulu apakah bisa memenuhinya.

“Misalnya seperti mendidik anak, itu kita perlu lihat kebutuhan dan kemampuan diri dalam memenuhi kewajiban tersebut. Jika merasa belum mampu, maka minta bantuan ke asisten rumah tangga, itu tidak masalah. Yang penting kita tahu kewajibannya apa dan potensi kita,” paparnya.

Kalau potensi kita belum mampu untuk memenuhi kewajiban tersebut, boleh kita diskusikan dengan pasangan, apakah boleh meminta bantuan ART atau tidak. Tetapi kesepakatannya harus ditentukan oleh kedua belah pihak.

Jadi perlu mengetahui kapasitas kita seperti apa untuk memenuhi hal tersebut.

“Namun tidak terbatas juga. Jika akhirnya kapasitas tidak memenuhi kewajiban, misalnya saya merasa tidak mampu untuk menafkahi, terus hanya diam saja, itu tidak boleh. Karena kita tandanya tidak memenuhi kewajiban,” jelasnya.

Mungkin merasa saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan pokok, “tetapi perlu diingat bahwa kita punya tubuh, tenaga, dan akal untuk berpikir. Sehingga artinya saya belum memaksimalkan potensi tersebut. Jadi masih bisa dimaksimalkan,” sarannya.

Apakah Kewajiban akan Berdampak pada Hubungan Pernikahan?

arti kewajiban
Foto: www.canva.com

Arti kewajiban yang kita tahu dari peran-perannya itu pasti tidak akan mengambil hak masing-masing, dan tidak akan menyakiti jika dipahami secara benar.

“Jadi kalau misalnya ada kewajiban-kewajiban yang ‘loh kok kewajiban ini malah menyakiti pasangan saya? Anak saya?’ perlu ditanyakan lagi, perlu dievaluasi lagi, benar tidak ini wajib dilakukan,” ungkapnya.

“Misalnya ada rumah tangga yang mewajibkan untuk membeli rumah. Ia pun sampai jatuh bangun tidak pernah ada waktu untuk pasangan dan anak, malah sibuk untuk melakukan hal lain untuk memenuhi kewajiban punya rumah, itu perlu dipertanyakan. Apakah benar punya rumah ini merupakan kewajiban? Karena arti kewajiban ini harusnya memiliki sifat yang baik,” terang Zahra.

Karena memenuhi kebutuhan diri, maka juga bisa berdampak pada hubungan pernikahan. Ketika masing-masing menjalani peran dan tanggung jawabnya, harapannya pasangan, rumah tangga, dan keluarga akan memiliki hubungan yang baik.

Bagaimana Jika Pasangan Tidak Melakukan Kewajibannya?

Foto: www.unsplash.com

Ketika seseorang tidak melakukan kewajibannya, seperti misalnya harus menjaga kesetiaan dengan tidak memiliki pasangan lain di luar keluarga, dan itu dihiraukan, maka perlu diberi tahu. “Bisa bilang bahwa hal tersebut sudah dilanggar dan akan berpengaruh pada rumah tangga. Selain itu, pelakunya pasti akan merasakan dampak negatif,” ujar Zahra.

Nantinya tinggal ia mau atau tidak untuk menyadari dan jujur mengakui bahwa saat itu tidak melaksanakan kewajiban. Maka pilihannya ingin menjadi orang yang bertanggung jawab atau tidak.

“Nah, kalau pasangan lainnya itu memiliki tugas untuk mengingatkan pastinya, ya. Tetapi perihal pasangannya mau mendengarkan atau tidak, itu memang sudah di luar kuasa kita. Karena arti kewajiban itu sifatnya personal,” lanjutnya.

Baca Juga :  Ingin Memakai Rok Kebaya? Ini 8 Model Paling Cantik

Masing-masing kita punya kewajiban, dan dengan melaksanakan kewajiban terseebut akan berpengaruh pada dinamika dengan pasangan atau anak, sehingga itu pilihan kita mau memenuhi atau tidak.

Bagaimana Jika Merasa Tidak Sanggup dalam Melaksanakan Kewajiban?

arti kewajiban
Foto: www.freepik.com

Menurut Psikolog Klinis yang satu ini, terdapat situasi dan kondisi yang bisa memengaruhinya. “Ada dua contoh misalnya kewajiban untuk jujur tidak berselingkuh, itu situasi satu. Yang kedua adalah kewajiban untuk mencari nafkah,” jelasnya.

“Ketika kita tidak merasa sanggup dalam melaksanakan kewajiban untuk tidak selingkuh, benarkah karena tidak sanggup dan tidak punya potensi untuk menghindari hal tersebut? Sebab kewajiban itu ada karena kita tahu dengan memenuhinya maka bisa membuat hubungan pernikahan lebih baik,” ujarnya.

Dan pastinya kewajiban juga dibuat bukan menjadi hal yang tidak mungkin dilakukan.

“Maka perlu dievaluasi apakah benar tidak sanggup atau ada hal yang membuat kita kesulitan. Misalnya seperti adanya interaksi intens dengan lawan jenis lain, berarti bisa dikurangi interaksi intensnya. Agar yang hal dirasa tidak sanggup, menjadi hal yang bisa diatasi,” lanjut Zahra

Sementara untuk situasi pemberian nafkah, tidak sanggupnya ini harus kita pahami terlebih dahulu.

“Misalnya pengeluaran sehari-hari sebesar 50 juta, dan kita tidak merasa tidak sanggup. Setelah mengamati potensi diri, dan mampu bekerja dengan penghasilan sebulan 10 juta misalnya, apakah perlu mencari pekerjaan lain atau tidak,” contohnya.

“Atau, 50 juta ini yang dievaluasi, apakah kebutuhan tersebut termasuk pemenuhan nafkah atau ternyata bukan? Seperti ada hal-hal yang sifatnya tersier, misalnya keinginan-keinginan dan bukan kebutuhan—itu bisa dievaluasi untuk mempertanyakan lagi tidak sanggupnya itu bagaimana,” tuturnya.

Namun, apa biasanya penyebab seseorang merasa tidak sanggup untuk memenuhi kewajibannya? “Karena mereka sendiri belum paham arti kewajiban itu apa dan apa saja bentuknya. Serta tidak paham potensi dan tidak mengenal dirinya, akhirnya merasa tidak mampu atau menyepelekan,” jawab Psikolog Klinis yang satu ini.

Kesimpulan

arti kewajiban
Foto: www.canva.com

Terkait dengan kewajiban dalam pernikahan, Zahra mengusulkan untuk mengenali diri terlebih dahulu. “Diri ini kita tahu siapa, potensi kita apa, dan perannya apa. Dengan hal tersebut, kita jadi tahu mana yang wajib dilakukan dan mana yang sifatnya ketika dilakukan lebih baik atau lebih buruk,” terangnya.

“Dengan mengenal diri kita juga bisa tahu punya potensi apa untuk memenuhi kewajiban ini. Dalam peran-peran yang kita ketahui, cari tahu perannya apa saja. Misalnya ‘Oh, ternyata tidak apa-apa kalau misalnya istri tidak bisa keluar air susunya‘—mungkin awalnya merasa tidak bisa menjadi istri dan ibu yang baik karena tidak mampu memberikan ASI pada anak,” paparnya.

Padahal ketika diamati lagi, “meskipun ASI lebih sehat untuk anak, tetapi ketika kita tidak bisa memberikannya maka bukan berarti kita gagal memenuhi kewajiban. Individu bisa mencari alternatif lain, yang penting kebutuhan anak terpenuhi,” sarannya.

“Jadi nantinya tidak menyakiti diri sendiri dengan merasa gagal jadi ibu atau istri, karena tidak bisa memberikan ASI, padahal memang ASI-nya tidak keluar. Yang diminta sebagai kewajiban bagi seorang ibu adalah dengan memenuhi kebutuhan nutrisi anak agar sehat,” tutupnya.