Parental Burnout Adalah Sesuatu yang Nyata—Bagaimana Menghadapinya?

parental burnout
Foto: www.gettyimages.com

Job burnout mungkin sering kali kita bicarakan, tapi ada satu jenis “burnout” yang sulit kita diskusikan: parental burnout. Bisa karena bersalah—atau malu—dan berpikir: orangtua macam apa yang mengeluh dan merasa capek mengurus anak? Namun, sama seperti pandemik, parental burnout adalah sesuatu yang nyata. Jadi, bagaimana menghadapinya saat kita mengalaminya? LIMONE bertanya kepada Samanta Ananta, M.Psi., Psikolog, seorang psikolog anak dan keluarga

Apa Definisi, Penyebab dan Tanda-Tanda Parental Burnout?

Foto: www.istockphoto.com

Secara definisi, burnout adalah kondisi di mana kita merasa penat, lelah secara fisik, emosi dan mental.

Dan jika kamu adalah seorang ibu yang masih memiliki darah dan berstatus manusia—mengalami parental burnout adalah sesuatu yang (drum rolls, please)… wajar.

“Siapa pun dapat mengalami rasa bosan atau penat apalagi dalam menjalankan peran pengasuhan anak,” ujar Samanta kepada LIMONE, melalui email. Dan ketika kamu mengalami parental burnout saat pandemik, adalah merupakan sesuatu yang “sangat wajar karena kita hidup dalam ketidakpastian yang membuat kita merasa malu jika tidak tahu dan gagal jika ada kesalahan meski kesalahannya minor,” terangnya.

Apa yang sebenarnya penyebab parental burnout?

“Adanya kondisi permintaan peran dan tanggung jawab yang lebih besar yang belum bisa kita terima sebagai proses penyesuaian diri yang baru, serta belum merasa ada di kondisi yang stabil atau seimbang (lagi),” jawabnya. Selain itu, penyebab lain bisa jadi karena kamu merasa ada hak-hak yang direngut yang tak bisa kamu nikmati lagi selama pandemi ini,” jawabnya.

Itu semua, plus: “tidak adanya kepastian akan berapa lama kita bertahan hidup dengan kondisi yang seperti ini. Ada banyak ketidaktahuan dan serba ambigu,” imbuhnya.

Untuk mengetahui apakah kamu mengalaminya, ada tanda-tanda yang bisa perhatikan. Kelelahan akut atau fatigue? √. Pola tidur berkurang? √. Konsentrasi menurun dan tingkat kecemasan bertambah? √.

“Selain itu ada rasa frustrasi yang lebih besar, merasa sendirian di rumah, kurang mendapat dukungan yang diperlukan, merasa terjebak, mulai ada ketegangan dalam berinteraksi dengan anak ataupun pasangan. Kamu juga lebih sering marah-marah, menghindari tugas penting yang sehari-hari dilakukan, susah bangun tidur atau sulit tidur di malam hari, serta ada gangguan kesehatan fisik dan merasa hopeless,” tambahnya.

Bagaimana Membedakan Parental Burnout dengan Stres atau Depresi?

parental burnout
Foto: www.freepik.com

Apakah yang kamu rasakan adalah parental burnout atau stres? Untuk mengetahui hal ini, Samanta menerangkan bahwa perbedaannya terletak “pada intensitas, durasi dan frekuensi yang dialami selama tanda-tandanya muncul,” terangnya.

Burnout yang tidak diatasi akan mengarah pada tingkat stres yang lebih tinggi, semakin dibiarkan akan menuju fase depresi. Maka penting untuk menscreening tingkat burnout kita dan cepat-cepat kita atasi sebelum mengarah pada gangguan yang lebih berat,” anjurnya.

Sebuah penelitian mengindikasikan parental burnout memiliki implikasi yang sangat serius. Termasuk escape ideation, yakni fantasi meninggalkan statusnya sebagai orangtua dan segala hal yang membuat seseorang tertekan. Selain itu, parental burnout juga bisa mengarah ke sikap lalai dan kategori “kekerasan”, termasuk kekerasan verbal dan psikologis (seperti ancaman dan cemooh), serta kekerasan fisik (memukul atau menampar) yang dilakukan kepada anak.

Dengan kata lain, parental burnout penting untuk diakui, dihadapi dan diatasi.

Apa yang Bisa Dilakukan Saat Mengalami Parental Burnout?

parental burnout
Foto: www.istockphoto.com

Sekali lagi, kamu tidak perlu malu atau merasa rendah diri saat mengalami parental burnout. Dan sama seperti mayoritas masalah di dunia ini, ada hal-hal yang bisa kamu lakukan untuk mengatasinya.

Percayalah.

“Belajar hidup dengan mindfulness. Yakni, fokus hanya pada satu kegiatan atau aktivitas dan hanya fokus pada agenda per hari, tidak memikirkan besok atau pun yang lalu,” tutur Samanta adalah salah satu langkah awal yang bisa kamu jalankan.

Jika kamu suka—atau tertarik—dengan meditasi dan menulis jurnal, dua aktivitas ini juga bisa membantu. “Ini adalah sebuah bentuk self-love, perhatian untuk diri sendiri,” terangnya.

Selain itu, kamu juga bisa membuat rutinitas baru bersama keluarga. Plus, aturan baru di rumah yang lebih humanis.

“Misal, aturan baru ‘we take care each others at home‘, maka ada rutinitas sehari-hari untuk menggambar bersama keluarga, atau salat bersama, atau meditasi bersama,” anjurnya.

Satu lagi yang bisa kamu terapkan: “Pastikan selalu melakukan me-time check up bersama keluarga dengan membicarakan, ‘aku merasa’, ‘aku butuh’, ‘aku memaafkan’, ‘aku melepaskan’, ‘aku percaya’, dan ‘aku merayakan,'” tambahnya.

(Ketuk meja dua kali) Bagaimana jika pasangan kita juga mengalami parental burnout? Apa yang sebaiknya dilakukan?

“Selalu pertolongan pertama, kita lakukan pada diri kita,” katanya.

“Setelah kita ada di fase stabil kita bisa menolong anggota keluarga yang lain yang mau menerima pertolongan kita. Misal, anak-anak lebih mendengarkan kita, maka kita bergandengan tangan dulu bersama anak-anak. Setelah itu, kita rangkul pasangan kita bersama anak. Jika pasangan merupakan orang yang mau menerima pertolongan dari kita, maka kita bisa mulai dengan memberikan pertolongan selanjutnya pada pasangan, kemudian kita rangkul anak-anak bersama pasangan,” bebernya.

Jika kondisi belum membaik setelah kamu melakukan hal di atas, berkonsultasi dengan psikolog adalah solusi yang bisa dilakukan (kita sama sekali tidak perlu malu).

Selanjutnya: Dan sebuah penelitian menyimpulkan bahwa hal super sederhana ini bisa mengurangi stres.