Bagaimana Menghadapi Teman yang (Hampir) Selalu Sarkastik?

sarkasme
Foto: www.freepik.com

Tunjuk tangan siapa di sini yang memiliki teman yang membalas hampir percakapan dalam bentuk sarkasme? Harus diakui, bahkan jika kita sudah mengenal teman tersebut dari lahir, terkadang bisa bingung menghadapi ucapan sarkastiknya. Berikut penjelasan Elya Marfu’atun, S.Psi.,M.Psi.,Psikolog, seorang psikolog klinis dari Build Up Consulting, Kudus, Jawa Tengah.

Apa Pengertian Sarkasme?

Foto: www.freepik.com

Sebelumnya, “sarkasme dan sarkastik memiliki arti yang sama, hanya penggunaannya saja yang berbeda. Sarkastik merupakan kata sifat dari sarkasme,” Elya menjelaskan.

Menurut KBBI, “sarkasme” adalah ungkapan kata-kata pedas untuk menyakiti hati orang lain; cemoohan atau ejekan kasar. Sarkasme termasuk dalam majas Bahasa Indonesia yang biasanya digunakan untuk menyinggung dan menyindir dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan dengan maksud asli yang ingin disampaikan. Sarkasme ini dapat disampaikan melalui sindiran halus melalui humor, ataupun sindiran kasar yang dapat dilihat dari nada bicara dan ekspresi wajah.

Mengapa Orang Melakukan Sarkasme ?

sarkasme
Foto: www.pexels.com

Menurut Elya, sarkasme yang dilakukan dengan niatan agresi sebenarnya merupakan manifestasi dari perasaan marah, tidak percaya dan kurang berjiwa satria untuk berani menyampaikan maksud yang sebenarnya.

“Bisa juga disebabkan oleh rasa takut terhadap risiko ketika mengungkapkan maksud sebenarnya. Secara singkat, sarkasme dapat pahami sebagai rasa marah dan ketidaksukaan yang dibungkus dalam humor,” tegasnya.

Tanggapan sarkastik yang diucapkan untuk merendahkan orang lain biasanya karena ingin menunjukkan bahwa dirinya memiliki power dan posisi lebih tinggi (superior). Padahal perilaku tersebut justru menunjukkan bahwa ia merasa inferior dan tidak merasa dirinya cukup berharga, sehingga berupaya membuktikan power-nya dengan menjatuhkan orang lain.

Sarkasme juga dapat bersumber dari keyakinan ‘ketika kamu merasa ‘buruk’, saya merasa ‘lebih baik’. Kondisi ini juga menunjukkan cara komunikasi yang disfungsional.

“Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa sarkasme bersifat negatif ketika mengandung makna agresi untuk menyerang dan menyakiti pihak lain, dengan menggunakan kata dan nada bicara yang kasar. Kondisi ini bisa memicu konflik, menciptakan disharmoni dan komunikasi yang tidak sehat,” ujarnya.

Apakah Gaya Bicara Sarkastik Selalu Berarti Negatif?

Foto: www.xframe.io

Eits, tapi sarkasme tidak melulu berarti negatif.

“Seiring perkembangan pola komunikasi dan hubungan antar manusia, sarkasme ini bisa membawa dampak positif ketika digunakan untuk bercanda, mencairkan suasana dan membangun keakraban. Dengan catatan tidak ada tujuan untuk menyerang atau melukai pihak-pihak tertentu. Dilakukan oleh dua belah pihak yang memiliki hubungan dekat dan ada kesepahaman antar dua belah pihak sehingga tidak menimbulkan sakit hati,” tambahnya.

Bagaimana cara membedakannya? Dua jenis sarkasme ini bisa dibedakan dari nada bicara, intonasi suara dan ekspresi wajah.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa sarkasme berhubungan dengan kemampuan inteligensi dan meningkatkan kreativitas bagi expresser maupun receiver. Namun, hasil penelitian ini perlu dilihat lebih detail lagi agar tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru.

“Sarkasme secara positif  (jenaka) melibatkan kemampuan berpikir abstrak untuk mengolah dan mengasosiasikan kata-kata (majas) yang pas agar bisa sesuai dengan kondisi saat ini dan membutuhkan kreativitas karena dilakukan secara spontan. Namun sarkasme yang dilakukan hanya untuk menyindir dengan tujuan menyerang atau merendahkan orang lain tidak membutuhkan keterampilan di atas, sehingga tidak mencerminkan tingkat kecerdasannya,” paparnya.

Bagaimana Menghadapi Teman yang Sarkastik?

sarkasme
Foto: www.rawpixel.com

Menurut Elya, saat kita menjadi objek dari celetukan sarkastik, kita bisa mengambil ambil sisi positifnya sebagai bahan untuk koreksi diri: apakah yang disampaikan memang ada benarnya? Adakah kesalahan yang kita perbuat?

Di sisi lain, jika kamu tersinggung dengan ucapan tersebut, tidak ada salahnya untuk berterus terang.

“Kita juga dapat berterus terang menyampaikan perasaan kita yang terluka/tersinggung atas ucapan atau sikapnya. Hal ini perlu dilakukan karena kadang orang yang melakukan sarkasme tidak menyadari bahwa perbuatannya menyakiti dan menyinggung orang lain,” tuturnya.

Tentu saja, kita bisa menyampaikan perasaan kita dengan  cara yang baik, salah satunya menggunakan ‘i-statement‘. Contohnya, “Aku merasa sakit hati ketika kamu bilang bahwa aku ____________.”

Selain itu, ketika sarkasme untuk menyerang atau merendahkan kita, kita dapat sesekali merespons untuk mengoreksi bahwa yang disampaikan adalah hal salah. Atau kita bisa sesekali membalas ucapannya untuk menunjukkan bahwa omongan tersebut tidak membuat kita merasa terjatuh/buruk.

Apalagi tindakan yang bisa kita lakukan?

“Jika perilaku sarkasme masih diulang-ulang dan kondisi diri sudah tidak begitu kuat menerimanya, maka kita bisa memilih untuk menghindar dan membuat boundaries,” tegasnya.

Plus, “Perkuat self worth kita agar ungkapan sarcasm tidak menjatuhkan harga diri dan kepercayaan diri kita. Bisa melalui self talk, latihan mindfulness, forgiving, gratitude journaling, dll,” sarannya.

Bagaimana Jika Kitalah yang Memiliki Kebiasaan Ini?

Foto: www.unsplash.com

“Ketika kita menjadi orang yang melakukan sarkasme, kita bisa mengevaluasi cara komunikasi kita. Apa yang membuat aku kesulitan untuk berterus terang menyampaikan maksud yang sebenarnya, sehingga memilih menyampaikan melalui sindiran?” anjur Elya.

Menurutnya, perilaku sarkasme sebaiknya kita hindari karena dapat membawa dampak negatif bagi orang yang menerimanya, di antaranya menurunkan kepercayaan diri, mendatangkan kecemasan dan depresi, menarik diri dan menurunkan produktivitas

Ingin menguranginya tapi bingung mulai darimana? Berikut beberapa cara yang bisa kamu lakukan:

  1. Berlatih komunikasi asertif (terus terang)
  2. Melatih respon spositif kita dengan membiasakan melihat sisi positif dari setiap hal, sehingga fokus kita tidak lagi pada hal-hal yang negatif
  3. Menjunjung tinggi asas menghargai dalam berhubungan dengan orang lain
  4. Memberikan apresiasi kepada orang lain