Tanya Psikolog: Unggahan Apa yang Sebaiknya Tidak Diposting di Medsos?

unggahan di media sosial
Foto: www.rawpixel.com

Sudah 2020—hampir 10 tahun setelah Instagram diluncurkan, dan 14 tahun setelah Twitter pertama kali mengijinkan kita mencuit. Namun, tetap saja pertanyaan ‘unggahan apa yang layak dipublikasikan di media sosial‘ masih terus muncul. Adakah istilah “terlalu berlebihan” dalam unggahan di media sosial? Seperti apa unggahan yang sebaiknya disimpan untuk kalangan terbatas? LIMONE mencolek Tiara Puspita, M.Psi., Psikolog, seorang psikolog klinis dewasa di International Wellbeing Center, untuk mendapatkan pencerahan tentang do’s and don’ts unggahan di media sosial (medsos).

Bagaimana Mengidentifikasi Unggahan yang Patut Dibagikan di Media Sosial?

unggahan di media sosial
Foto: www.unsplash.com

“Pertama-tama, kita perlu tahu terlebih dahulu kenapa kita senang membagikan informasi di media sosial. In general, 30%-40% dari konten pembicaraan kita adalah tentang diri kita sendiri, tapi jika konteksnya dilakukan di media sosial, angkanya bisa mencapai 80%. Kenapa? Karena konten yang kita bagikan di medsos dapat kita pikirkan, pilih, dan olah terlebih dahulu sebelum kita post dibandingkan interaksi secara langsung,” jelasnya.

Menurutnya, jika melihat tren media sosial sekarang ini, ada kecenderungan banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi influencer. “Dan kalau kita lihat, biasanya informasi yang dibagikan tidak jauh dari informasi tentang diri dan kehidupan mereka, apa yang mereka gunakan, apa yang mereka konsumsi, dan sebagainya,” ujarnya.

Ini salah satu tren unggahan di media sosial: “Semakin kontroversial sebuah berita atau penampilan di media sosial, akan menjadi viral, dan akan lebih besar chances untuk menambah followers,” tambahnya.

Dan berbicara tentang media sosial, kita memiliki hubungan yang ‘spesial’ dengan jumlah likes dan followers. “Pride dan self-esteem juga terbentuk dari jumlah likes dan followers. Akibatnya, batasan antara informasi pribadi dan informasi untuk umum menjadi blur, ranah pribadi menjadi semakin mudah diakses oleh publik,” terangnya.

Lebih lanjut, Tiara mengatakan bahwa kebutuhan untuk menjadi viral dan memperoleh banyak followers memang sudah menjadi hal yang lumrah saat ini dengan tren medsos. “Namun kita juga tetap perlu memahami bahwa interaksi di dunia maya = dunia nyata. Apa yang kita lakukan di dunia maya dapat dimintai pertanggungjawaban di dunia nyata juga. Bahkan, menurut saya pribadi, lebih berat tanggung jawabnya di dunia maya dibandingkan di dunia nyata, karena semuanya terekam. Dan jika sudah viral—apalagi jika viralnya karena hal negatif—akan stay terus di dunia maya,” imbuhnya.

Bagaimana dengan Unggahan yang Bersifat Personal?

unggahan di media sosial
Foto: www.rawpixel.com

Jadi, bagaimana kita tahu apa yang patut dibagikan di media sosial?

“Tentunya kembali ke keputusan masing-masing individu,” tegasnya. Undang-undang ITE mungkin bisa dipakai sebagai batasan jika berkaitan dengan hukum (misalnya menyebar hoax atau konten berbau pornografi).

Namun masalahnya menjadi rumit ketika unggahan tersebut bersifat pribadi.

“Jika sifatnya personal terkadang sulit juga untuk menentukan batasannya. Banyak orang yang dengan sengaja mengumbar informasi yang bersifat personal, menjadi viral, lalu kemudian menangis sambil meminta maaf ketika terancam pidana, dengan beralasan ‘tidak dipikirkan dulu’, atau ‘tidak sengaja’, dan sebagainya,” tuturnya.

Seandaianya kamu butuh panduan sederhana tentang mengunggah sesuatu di media sosial, mungkin daftar pertanyaan ini bisa kamu ajukan sebelum akhirnya mengklik tanda ‘tweet‘ atau ‘post‘.

  • Apakah informasi yang saya sebarkan bersifat faktual atau asumsi/ opini/ gosip?
  • Apakah informasi yang saya bagikan akan mempengaruhi kehidupan kita di dunia nyata secara jangka panjang?
  • Apakah informasi pribadi saya layak menjadi konsumsi publik?
  • Apakah konten saya dapat merugikan diri sendiri atau orang lain?
  • Apakah saya dapat terlibat hukum jika seseorang merasa tidak suka dengan konten yang saya sebarkan?

Menurut Tiara, setiap pengguna media sosial perlu bertanggung jawab atas informasi yang dibagikan di ranah publik, apapun alasannya.

Dan oh, satu hal: hindari mengunggah sesuatu saat sedang emosi.

“Ada beberapa orang yang memposting hal-hal negatif yang dianggap bertujuan untuk menyakiti ‘mantan pacar; karena merasa patah hati, tapi kemudian tidak menyadari bahwa keputusan posting tersebut justru membuka aibnya sendiri, karena terbawa emosi pada saat posting. Untuk itu, jika kita akan memposting sesuatu (khususnya konten yang bersifat pribadi) di media sosial, sebaiknya tidak dalam kondisi emosi karena ingin mendapat perhatian atau simpati publik. Apapun alasan, tujuan, dan kontennya,” anjurnya.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Saat Sudah Terlanjur Mengunggah yang Terlalu “Personal” di Media Sosial?

Foto: www.unsplash.com

Satu contoh lagi yang diberikan oleh Tiara, yakni unggahan tentang KDRT yang menjadi viral.

“Saya ingat ada seseorang yang pernah membagikan informasi mengalami KDRT yang dilakukan oleh pasangannya, kemudian menjadi viral karena meminta bantuan hingga menghebohkan netizen di Indonesia dan KBRI juga kalau tidak salah (karena kejadiannya di luar negeri). Lalu setelah viral orang tersebut memutuskan untuk kembali dengan pasangannya,” ujarnya.

Awalnya, unggahan tersebut menarik banyak simpati, tapi kemudian mendapatkan reaksi negatif dari warga net karena dianggap plinplan.

“Di sini yang perlu diperhatikan adalah informasi pribadi yang dibagikan ke publik dapat memunculkan berbagai reaksi yang tidak hanya dapat menguntungkan tetapi juga merugikan diri kita,” Tiara mengingatkan.

Sebagai warga media sosial yang giat, mungkin akan ada ‘oops moment‘ , di mana kamu tiba-tiba menyadari bahwa unggahan tersebut TMI (too much information) hal pribadi. Apa yang sebaiknya dilakukan?

“Jika tanpa sengaja kita membagikan informasi pribadi dan kemudian menyadari bahwa itu tidak layak untuk dibagikan, sebaiknya segera hapus konten tersebut tanpa menunggu situasinya menjadi berlarut-larut,” sarannya.

Sementara jika hal tersebut menyangkut orang lain dan merugikan orang tersebut, “sebaiknya langsung menghubungi pihak terkait dan meminta maaf secara pribadi dan klarifikasi terlebih dahulu. Jangan melalui medsos,” tambahnya.

Selanjutnya: jika situasi sudah dapat dikontrol dan merasa tenang, kedua belah phak bisa sama-sama klarifikasi di media sosial masing-masing jika merasa perlu.

Bagaimana jika kamu yang menjadi pihak tersakiti atau dirugikan?

“Tidak ada salahnya juga meminta klarifikasi dari pihak yang memposting informasi tersebut dan mencoba menyelesaikannya di balik layar sebelum situasinya menjadi lebih keruh. Sebaiknya hal ini dilakukan di saat kita merasa tenang juga ya, dan baiknya melalui percakapan langsung. Bukan bukan melalui teks, karena bisa multi interpretasi,” anjurnya.

Kesimpulan

Foto: www.rawpixel.com

Ungkapan ini mungkin terdengar basi, tapi tetap relevan: ‘bijaklah dalam bermedsos‘. Dan dalam hal ini satu ungkapan jadul lain juga berlaku: ‘mencegah lebih baik daripada klarifikasi berkali-kali.’

Dan seandainya, beberapa unggahan di media sosial sering kali menjadi bumerang buat diri sendiri, sepertinya sudah saatnya mencoba introspeksi perilaku kita di dunia maya.

“Apa yang membuat kita memperoleh reaksi negatif. Apakah ada ucapan, perilaku, informasi yang kita bagikan yang tidak tepat untuk disebarkan, dan buat batasan yang lebih jelas untuk kemudian hari sehingga tidak terjadi kejadian serupa,” tegasnya.

Dan jika ada pihak yang tersakiti dian dirugikan, ajukan permintaan maaf.

“Minta maaf bisa menjadi salah satu cara untuk move on, tapi ucapan maaf yang keluar dari mulut juga sebaiknya ucapan yang betul-betul tulus. Bukan untuk membela diri, karena terpaksa, atau justru malah mengulangi lagi di kemudian hari,” tekannya.

Tidak kalah penting: jika pengalaman menggunakan media sosial membuatmu trauma atau stres hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya berkonsultasi dengan psikolog.

“Konseling akan membantu menganalisa kesalahan kita secara obyektif dan membuat strategi untuk dapat move on secara sehat. Dan juga mengelola stres, trauma, serta dampak negatif lainnya dari perilaku kita di dunia maya,” tegasnya.

Selanjutnya: Apakah anak butuh memiliki akun media sosial? Coba baca penjelasan psikolog anak ini.

podcast button