Bagaimana agar Bisa Berpikir Objektif—Terutama di Situasi Sulit?

objektif adalah
Foto: www.freepik.com

Meski terkadang dianggap sulit untuk dilakukan, namun berpikir objektif ternyata bisa kamu coba terapkan. Pasalnya, kondisi tersebut akan mendatangkan beberapa manfaat pada kehidupan. Namun pada kenyataannya, tidak mudah memiliki berpikir rasional, terutama di saat yang sepertinya langit mau runtuh.

Simak penjelasan dari Devi Adriani Susilo, BA., M.Psi., Psikolog, seorang Psikolog Klinis, yang akan memberikan tips agar bisa berpikir objektif.

Apa Itu Objektif?

objektif adalah
Foto: www.freepik.com

Devi menuturkan bahwa objektif adalah “sikap, perilaku, atau pola pikir yang didasari oleh fakta, data, dan informasi yang konkret, imbang, dan non-bias. Seperti contohnya meja itu terbuat dari kayu jati dengan ukuran sekian meter dan diproduksi pada tahun 2019,” paparnya.

Sementara lawan katanya, yakni subjektif merupakan “sikap, perilaku, atau pola pikir yang didasari atau dipengaruhi oleh perasaan, pengalaman, atau selera pribadi. Seperti ungkapan bahwa meja itu terlihat indah dan terkesan elegan,” tambahnya.

Kedua hal tersebut tentunya sangat berbeda.  Karena segala sesuatunya didasari oleh fakta, “berpikir objektif merupakan salah satu pertanda bahwa seseorang adalah pribadi yang kritis dan mementingkan keakuratan sebuah informasi,” ujar Devi.

Apakah Kita Harus Selalu Berpikir Objektif?

Foto: www.freepik.com

Sebenarnya, pola pikir objektif memiliki banyak sekali manfaat. “Namun sebagai manusia, dibutuhkan pula keseimbangan dan ruang untuk pemikiran subjektif, terutama dalam kehidupan pribadi kita,” tutur Psikolog Klinis yang satu ini.

Sehingga, “objektivitas yang berlebihan dan tidak mengenal ruang serta waktu dapat mengganggu kehidupan seseorang seperti kecenderungan untuk bersikap terlalu kaku dan dingin. Hal itu dapat mempengaruhi kehidupan internal dan sosial kita, misalnya,” terangnya.

Akan tetapi, apakah memiliki sikap objektif merupakan hal yang wajar?

“Tentu wajar. Setiap orang sebenarnya memiliki kemampuan untuk berpikir secara objektif, namun dengan tingkat objektivitas yang berbeda-beda. Dibutuhkan keterampilan dan pelatihan untuk dapat benar-benar mencapai tingkat objektivitas yang optimal,” jawabnya.

Apa Manfaat Memiliki Sikap dan Pikiran yang Objektif?

objektif adalah
Foto: www.rawpixel.com

Menurut Devi, terdapat banyak sekali manfaat dari pemikiran dan sikap objektif, seperti:

Membuat keputusan yang tepat

Dengan memiliki sikap, perilaku, atau pola pikir yang objektif, ternyata hal ini dapat “meningkatkan kemungkinan untuk membuat keputusan-keputusan yang tepat dalam hidup,” ujarnya.

Melihat situasi dengan jelas

Selain itu, dengan kemampuanmu yang bisa berpikir objektif, ternyata bisa membantumu untuk “meningkatkan kemungkinan agar dapat melihat sebuah situasi secara tepat, jelas dan akurat,” katanya.

Bersikap adil

Dengan melihat fakta secara jelas, akurat, dan konkret, cara berpikir ini pun bisa meningkatkan kemungkinan untuk bersikap adil dan imbang dalam memandang sesuatu.

Menurunkan tendensi impulsif dalam diri

Salah satu manfaat berpikir dan bersikap objektif ternyata dapat menurunkan tendensi impulsif dalam diri seseorang.

Meredakan rasa bingung

Ketika memandang segala sesuatu sesuai dengan kenyataan dan tidak berdasarkan perasaan, pengalaman, dan selera pribadi, hal ini bisa membantumu untuk “meredakan rasa bingung, ambigu, dan tanpa arah,” ucap Devi.

Lantas, mengapa seseorang bisa berpikir dan bersikap sesuai fakta, data, dan informasi yang konkret? Hal ini tentu bisa disebabkan oleh beberapa cara, dan menurut Devi bisa dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut:

  • Menyadari pentingnya pemikiran objektif
  • Menyadari bahwa situasi yang dialami membutuhkan tipe pemikiran objektif
  • Mencari pengetahuan mengenai pemikiran objektif dan melatih diri untuk dapat melaksanakannya

Bagaimana Ciri-ciri Memiliki Sikap Objektif?

Foto: www.freepik.com

Terdapat beberapa ciri yang menandakan bahwa kita memiliki pemikiran yang objektif, yakni:

Meluangkan waktu

Ketika dihadapkan oleh sebuah pilihan dan diwajibkan untuk mengambil keputusan, biasanya seseorang yang objektif akan meluangkan waktu untuk mencari fakta, data, dan informasi yang konkret.

Melihat segala sesuatu dari berbagai sisi

Seseorang biasanya akan melihat segala sesuatunya dari berbagai sisi sebelum membentuk sebuah opini. Karena ia perlu menemukan informasi lain yang nyata dan berdasarkan fakta.

Terbuka untuk mendapatkan masukan

Seseorang yang memiliki sikap, perilaku, atau pola pikir yang didasari oleh fakta, data, dan informasi yang konkret, imbang, dan non-bias kemungkinan besar akan “terbuka untuk mendapatkan masukan dari pihak-pihak yang terlibat,” papar Devi.

Pembawaan diri yang tenang

Karena segala sesuatunya berdasarkan fakta, data, dan infomasi yang konkret, biasanya seseorang akan terkesan tenang dan yakin ketika harus melakukan suatu hal.

Namun mengapa seseorang terkadang sulit untuk berpikir objektif? Hal ini tentu didasari oleh beberapa faktor, seperti “terlalu dipengaruhi oleh emosi dan tidak memberi waktu untuk menenangkan diri serta berusaha melihat sebuah situasi secara lebih jernih,” terangnya.

Selain itu bisa juga karena ia “mengambil keputusan atau kesimpulan berdasarkan ego. Serta tidak membuka diri untuk menerima masukan atau kritisi dari sekitar,” imbuhnya.

Seseorang juga terkadang sulit untuk berpikir sesuai fakta, data, dan informasi yang nyata karena “hidup dalam sebuah lingkungan atau budaya yang mementingkan sikap patuh pada pihak otoriter. Serta tidak diberi kesempatan untuk mengasah keterampilan berpikir objektif sejak dini,” tuturnya.

Bagaimana Cara Menumbuhkan Pikiran yang Sesuai Fakta?

objektif adalah
Foto: www.freepik.com

Karena memiliki beragam manfaat bagi kehidupan, tentunya kamu juga bisa menumbuhkan pikiran yang sesuai dengan fakta, data, dan informasi yang konkret dengan cara:

  • Mengetahui ciri-ciri sikap objektif dan perbedaannya dengan sikap subjektif
  • Mencari informasi dari sumber dan ahli yang terpercaya
  • Melihat sebuah masalah dari berbagai macam sisi sebelum mengambil sebuah keputusan
  • Terus belajar dan meng-update pemikiran dengan informasi terbaru
  • Terbuka untuk menerima masukan, komentar dan kritisi dari sekitar
  • Menyadari blindspot pada diri dan secara sadar mengakui atau mencari cara untuk mengatasinya

Kesimpulan

Foto: www.freepik.com

Devi mengingatkan bahwa, “objektif merupakan sikap yang sangat bermanfaat dan dapat membantu berbagai aspek kehidupan kita. Namun, jangan lupa bahwa sebagai manusia, sikap subjektif juga sangatlah valid di situasi dan waktu tertentu,” ujarnya.

Ia juga menyarankan agar “mencoba untuk mengimbangi objektivitas dan subjektivitas dalam diri agar kehidupanmu terasa benar-benar bermakna,” pesannya.