Bagaimana Mengatasi Kehampaan yang Dialami Meski Punya Pasangan

hampa
Foto: www.shutterstock.com

Mungkin saat ini kamu sedang merasa hilang arah atau tidak bisa merasakan emosi apa pun, baik itu dalam diri sendiri atau pada hubungan percintaan. Meski ini wajar terjadi, namun jika mengalaminya secara terus-menerus maka tentunya hal tersebut perlu diwaspadai. Lantas muncul pertanyaan di benakmu, bagaimana cara mengatasi perasaan hampa ini? Apa yang perlu dilakukan?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, LIMONE menghubungi Diah Nurayu, M. Psi, Psikolog, Associate Psychologist di Biro Metamorfosis SDC Depok yang akan membahas terkait kehampaan dan cara mengatasinya.

Apa Itu Hampa?

Foto: www.freepik.com

Menurut Diah, ketika kita berbicara mengenai konsep kehampaan atau emptiness, maka kita akan menemukannya tidak hanya dari sudut pandang psikologi. Pembahasan mengenai kehampaan ini juga bisa ditemui dalam filsafat dan teologi.

“Perasan hampa ditunjukkan melalui ketidakhadiran sebuah perasaan, di mana kita tidak mampu merasakan emosi apa pun. Ada kalanya, kita bisa merasakan hampa di saat kita terlalu fokus dengan dunia luar dan kita kurang menyatu dengan diri sendiri,” jelasnya.

Diah menambahkan bahwa “rasa hampa ini akan secara perlahan berkurang jika kita mampu untuk berfokus kembali, menyatu kepada diri sendiri, serta menyadari apa yang terjadi di sekitarnya, here and now. Namun, ini menjadi tidak wajar jika kita terlalu sering dan terlalu lama merasakan perasaan hampa. Serta kita merasa tidak nyaman dengan adanya perasaan hampa tersebut,” paparnya.

Mengapa Seseorang Bisa Merasakan Hampa?

hampa
Foto: www.shutterstock.com

Psikolog Klinis ini menyatakan bahwa “perasaan hampa ini terjadi ketika kita terlepas (detachment), dan tidak terkoneksinya diri kita dengan pengalaman di luar kita. Hal ini diakibatkan oleh kita yang kurang melakukan komunikasi dengan diri sendiri,” katanya.

Selain adanya detachment dengan diri sendiri, tidak ada tujuan yang jelas dan pasti alasan mengapa kita melakukan aktivitas tertentu juga bisa membuat seseorang menjadi hampa. “Kedua situasi ini membuat kita sebagai individu menjadi kurang mampu untuk memberikan makna terhadap aktivitas yang kita lakukan,” lanjutnya.

Baca Juga :  Panduan Lengkap Cara Move On (dan Apakah Rebound Relationship Efektif)

Ketika tidak adanya pemberian makna, tentu akan menyebabkan aktivitas yang kita lakukan menjadi tidak bernilai dan tidak memengaruhi emosi kita. Yang kemudian terjadi adalah munculnya perasaan hampa.

“Selain hal di atas, perasaan hampa juga dapat disebabkan oleh adanya pengalaman traumatis di masa lampau yang belum terselesaikan. Perasaan hampa atau kebas secara emosional merupakan bentuk mekanisme pertahanan diri seseorang agar ia tidak merasakan luka atau rasa sakit akibat dari pengalaman traumatis yang ia alami,” imbuhnya.

Sehingga individi tersebut mulai menekan atau repress perasaannya dan/atau menyembunyikan ingatan yang tidak menyenangkan.

Bagaimana Perasaan Ini Memengaruhi Kehidupan Seseorang?

Foto: www.unsplash.com

“Ketika seseorang merasakan kehampaan, maka aktivitas yang dilakukanpun menjadi tidak bermakna. Biasanya hal ini akan menyebabkan ia merasakan kehidupannya menjadi hambar dan tidak berarti, di mana ini dapat menurunkan kualitas hidupnya,” ungkapnya.

Diah menambahkan bahwa “perasaan hampa yang berlebihan juga memiliki asosiasi dengan masalah kesehatan mental, seperti depresi,” tambahnya.

Lantas, bagaimana cara mengatasinya?

Untuk itu, hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan menyadari dan mengenali perasaan hampa itu sendiri. “Seseorang perlu sadar bahwa ia tidak mampu merasakan emosi. Setelahnya, kenali lebih dalam gejalanya. Seperti kapan gejala ini muncul, sudah berapa lama, dan bagaimana ia memersepsi perasaan hampa tersebut,” jawabnya.

Bagaimana Jika Mengalami Kehampaan dalam Hubungan Percintaan?

hampa
Foto: www.freepik.com

Tidak hanya pada diri sendiri, perasaan hampa ini juga bisa dialami dalam sebuah hubungan. “Ini bisa saja disebabkan oleh pengalaman traumatis yang dialami oleh pasangan. Pengalaman traumatis yang belum terselesaikan ini bisa memicu terjadinya perasaan hampa sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri,” jelasnya.

Namun terdapat alasan lain mengapa seseorang bisa mengalami kehampaan dalam relasi romantisnya. Misalnya “ketika seseorang merasa tidak memiliki tujuan yang jelas mengenai alasannya menjalin relasi ini. Tidak adanya tujuan yang jelas dan harapan yang ingin dicapai juga bisa menyebabkan seseorang tidak menjiwai aktivitas bersama pasangannya,” ucap Diah.

Baca Juga :  Bagaimana Mengetahui Bahwa Kita Mencintai Orang Tepat

Hal ini tentu membuatnya tidak mampu untuk merasakan emosi saat melakukan aktivitas bersama.

Apakah berarti kebas emosi ini juga akan memengaruhi kehidupan percintaannya? “Tentu saja perasaan hampa ini akan memengaruhi kehidupan percintaan, terutama dari segi kualitas dan kepuasan dalam hubungan tersebut,” paparnya.

Sama halnya dengan kehidupan individual, ketika seseorang merasakan kebas secara emosional dalam sebuah hubungan, “ia tidak bisa memaknai hubungannya dengan positif atau negatif. Ia pun menjadi kurang terlibat dan mampu menikmati dalam setiap aktivitas yang ia lakukan bersama pasangannya. Sehingga hal ini dapat memengaruhi hubungannya dengan pasangan,” imbuhnya.

Hampa = Salah Memilih Pasangan?

Foto: www.shutterstock.com

“Untuk masalah di atas, kehampaan belum tentu ada kesalahan dalam memilih pasangan. Karena terdapat beberapa faktor yang bisa memengaruhi, seperti pengalaman traumatis di masa lalu yang menyebabkan ia menjadi hampa. Sehingga ia kurang mampu untuk terlibat dalam setiap aktivitas yang dilakukan bersama pasangannya,” terangnya.

“Selain itu, ia bisa saja tidak mengetahui tujuan ia dalam membina hubungan ini dengan pasangannya sehingga ia hanya mengikuti alur tanpa tahu apa yang ingin dicapai,” lanjut Psikolog Klinis yang satu ini.

Untuk mengatasinya, Diah menyarankan bahwa “ada baiknya setiap pasangan saling refleksi diri untuk melihat pola komunikasi dan aktivitas yang sudah dilakukan. Temukan awal mula kehampaan ini dimulai dan apa yang menyebabkan kehampaan ini bisa muncul,” sarannya.

Setelah menemukan awal masalahnya, maka “pasangan dapat berdiskusi secara terbuka dan dengan kepala dingin untuk menyelesaikan masalahnya. Jika terasa sulit, jangan sungkan untuk menghubungi psikolog atau konselor yang membahas mengenai isu dalam hubungan interpersonal,” anjur Diah.

Apakah Perasaan Hampa Bisa Dicegah?

hampa
Foto: www.shutterstock.com

Psikolog Klinis yang satu ini menuturkan bahwa terdapat “salah satu cara untuk menangani perasaan hampa, yakni dengan melakukan mindfulness. Mindfulness adalah kesadaran mengenai kejadian-kejadian lainnya yang dialami oleh seseorang tanpa ada penilaian di dalamnya,” tuturnya.

Baca Juga :  Tanya Psikolog: Apa Itu Cinta?

Dengan melakukan mindfulness, hal ini dapat melatih diri untuk terkoneksi dengan diri kita dan apa yang terjadi di sekitar kita. “Saat kita mampu menyatukan diri dengan pikiran dan emosi, maka kita mampu untuk memaknai sebuah kejadian dan perasaan hampa pun secara perlahan dapat teratasi,” lanjut Dian.

Diah menuturkan bahwa mindfulness dapat dilakukan dengan beberapa cara, seperti informal mindfulness, mini meditation, dan formal mindfulness.

  • Informal mindfulness adalah kegiatan sehari-hari yang dilakukan dengan penuh penerimaan dan kesadaran seperti mindful eating, mindful bathing, dan lainnya.
  • Mini meditation merupakan meditasi dengan durasi singkat.
  • Formal mindfulness, yakni menyediakan waktu khusus untuk menerapkan aktivitas mindfulness seperti body scan meditation, sitting meditation, dan lainnya.

“Selain mindfulness, kita juga bisa membuat tujuan dari setiap tindakan yang dilakukan, termasuk dalam hubungan romatis. Kita perlu mengetahui apa alasan kita melakukan aktivitas ini dan apa yang ingin didapatkan dari apa yang kita lakukan,” ujarnya.

“Dengan kita mengetahui tujuan dan alasan dibalik melakukan sesuatu, kita bertindak atas dasar sesuatu dan tidak seperti robot (tanpa menjiwai apa yang kita lakukan),” tambah Diah.

Kesimpulan

Foto: www.freepik.com

Ketika kamu merasa hampa, sebaiknya sadari dan kenali terlebih dahulu terkait rasa hampa itu sendiri. Kemudian, “lakukanlah refleksi diri secara mendalam untuk lebih mengetahui awal mula, trigger, tingkat keparahan, dan dampak-dampak yang ditimbulkan,” terangnya.

Jika perasaan hampa ini dirasa sudah mengganggu aktivitas sehari-hari dan berkepanjangan, ”ada baiknya untuk mendatangi tenaga profesional untuk mendapatkan analisis lebih dalam dan juga diagnosis pasti. Dengan berkonsultasi bersama tenaga ahli, penanganan yang diberikan akan lebih intensif sehingga ini bisa mengurangi gejala yang dirasakan,” anjurnya.