Mereka yang Orang Tuanya Cerai Saat Masih Kecil, Memiliki Lebih Sedikit Hormon Cinta

efek perceraian
Foto: www.gettyimages.com

Tahu oksitosin, ‘kan? Yep, sebuah penelitian baru dari Universitas Baylor di Texas, Amerika Serikat, menunjukkan sebuah efek perceraian yang selama ini belum diinvestigasi. Yakni, bahwa level hormon yang disebut dengan “hormon cinta” ini dipengaruhi oleh perceraian. Yakni, orang dewasa yang orang tuanya bercerai ketika mereka masih kecil memiliki level oksitosin yang lebih rendah ketika sudah dewasa dibandingkan dengan mereka yang orangtuanya masih menikah.

Dan rendahnya hormon ini diperkirakan memiliki pengaruh mengapa mereka kesulitan menjalin hubungan ketika sudah dewasa.

Apa yang Dilakukan Penelitian Ini?

FYI, oksitosin adalah hormon yang diproduksi di otak dan dikeluarkan selama masa bonding seperti saat melahirkan, berhubungan seks atau menyusui. Bahkan hormon ini juga dikeluarkan tubuh saat berpelukan. Jika penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa hormon ini sangat penting dalam pembentukan tingkah laku sosial dan keterikatan emosional di awal masa hidup, studi ini ingin meneliti hal lain. Yakni, kaitan antara oksitosin, pengalaman masa kecil dan efeknya pada orang dewasa.

“Oleh karena angka perceraian di masyarakat kita semakin meningkat, ada kekhawatiran tentang efek perceraian pada anak,” kata Maria Boccia, Ph.D., profesor studi anak dan keluarga dan penulis utama.

Dan selama ini mayoritas penelitian fokus pada efek jangka pendek, seperti prestasi akademis, atau jangka panjang seperti dampaknya bagi hubungan. Selain itu, studi-studi sebelumnya memperlihatkan bahwa anak yang orang tuanya bercerai cenderung mengalami mood disorders dan penggunaan obat-obat terlarang. Menariknya, dua tingkah laku berhubungan dengan oksitosin. Tidak hanya itu, anak yang orang tuanya bercerai atau meninggal bisa mengamali depresi dan anxiety saat remaja dan dewasa.

Apa Efek Perceraian Menurut Studi Baru Ini?

Studi yang baru diterbitkan di Journal of Comparative Psychology ini mengamati 128 partisipan berusia 18 hingga 62 tahun. Dari jumlah tersebut, 27,3% partisipan melaporkan orangtunya bercerai, pada saat mereka berusia rata-rata 9 tahun. Selain mengamati sampel urine, peneliti meminta partisipan untuk mengisi kuesioner yang berisikan pertanyaan tentang gaya pola asuh, dan rasa percaya diri. Plus, tentang ketidaknyamanan dekat orang lain, kebutuhan mendapatakan pengakuan, dsb.

Analisa lebih lanjut malah memperlihatkan individu dengan level oksitosin lebih rendah ini menggambarkan bahwa orang tua mereka kurang peduli dan cuek, plus ayah yang cenderung abusif. Dan mereka yang orang tuanya bercerai saat masih kecil ternyata kurang percaya diri, tidak nyaman dekat dengan orang lain, dan merasakan insecurity dalam hubungan. Gaya pengasuhan yang mereka berikan kepada anak mereka juga kurang sensitif dan tidak dekat dibandingkan partisipan yang orang tuanya tidak bercerai.

“Satu pertanyaan pertama yang ditanyakan kepada saya saat mempresentasikan penelitian ini kepada peneliti lain adalah ‘apakah usia anak ketika orang tua bercerai adalah sesuatu yang penting?’ Ini adalah pertanyaan paling penting yang perlu dieksplor,” kata Boccia.

Selanjutnya: Bagaimana menjadi orang tua yang baik ketika masa kecilmu suram? Ini saran seorang psikolog.