Apa Itu Allulose dan Apakah Lebih Baik dari Gula Biasa?

Apa itu allulose
Foto: www.gettyimages.com

Dari sekian banyak food trend di 2020 ini (selain CBD, bubuk kolegan, Impossible Burgers, oat milk) adalah allulose. Apa itu allulose dan apakah lebih baik dibandingkan gula biasa? LIMONE menghubungi dr. Kurnia Sitompul, M.Gizi, Sp.GK, seorang dokter spesialis gizi klinik, untuk mendapatkan penjelasan lengkap tentang bahan makanan trendi ini.

Apa Itu Allulose?

Apa itu allulose
Foto: www.freepik.com

Dokter Kurnia menerangkan bahwa allulose, atau lebih dikenal dengan nama kimia D-Allulose, D-ribo-2-hexulose atau D- Psicose, merupakan pemanis dengan kalori sangat rendah, disebut pula sebagai rare sugar.

Mengapa disebut rare sugar? “Ini karena termasuk gula monosakarida yang terdapat dalam jumlah sangat sedikit—bahkan langka di alam,” jawabnya.

Allulose semakin berjaya di tahun 2020, dan membuat kita mungkin bertanya-tanya apakah ini sesuatu yang baru ditemukan. “Pada awalnya D-Allulose ditemukan lebih dari 60 tahun yang lalu melalui pengolahan tebu, bit molase dan tanaman gandum. Sehingga allulose bukanlah sebuah penemuan baru,” jelasnya.

Lebih lanjut beliau menerangkan bahwa D-Allulose atau yang dikenal sebagai rare sugar ini berbeda dengan gula alami dan gula buatan lainnya. D-Allulose justru jarang ditemukan di alam dan cenderung sulit untuk disintesis secara kimiawi. Hal ini yang menyebabkan D-Allulose mahal dan sulit ditemukan.

Tidak hanya lebih mahal, dibandingkan dengan gula biasa dan pemanis buatan lainnya, D-Allulose juga memiliki banyak kelebihan lain. “Rare sugar tersebut diketahui memiliki tingkat kemanisan hanya 70% dari sukrosa , selain itu juga kelarutannya lebih tinggi sehingga mudah digunakan dalam proses pengolahan makanan,” paparnya.

Selain itu, berdasarkan berbagai penelitian, D-Allulose juga dilaporkan mampu mencegah akumulasi sel lemak tubuh sehingga berefek sebagai anti-obesitas, selain itu juga memiliki efek anti-oksidan, anti-inflamasi, efek proteksi sel saraf serta berefek untuk mencegah aktivitas radikal bebas dalam tubuh. Wow.

“Pada suatu penelitian dinyatakan bahwa penambahan D-Allulose pada karbohidrat (dengan rasio 1:15) dapat secara efektif menekan peningkatan kadar gula darah. Bahkan ada hasil penelitian yang menyatakan bahwa konsumsi D-Allulose ternyata tidak memiliki efek pada kadar gula darah dan hormon insulin tubuh. Dengan demikian, D-Allulose dilaporkan memiliki efek anti-diabetes,” bebernya.

Apakah Allulose Aman untuk Semua Orang?

Foto: www.rawpixel.com

Seandainya kamu penasaran dan bertanya-tanya tentang apakah tubuh memberikan respons yang berbeda dengan gula mahal dan langkah ini, ternyata mirip dengan karbohidrat sederhana lainnya.

Dokter Kurnia menjelaskan bahwa sama dengan karbohidrat sederhana lainnya, D-Allulose juga akan diserap di usus halus dan dikeluarkan melalui urin setelah 24 jam.

“Namun, dilaporkan bahwa D-Allulose memiliki tingkat penyerapan yang lebih rendah dibandingkan dengan gula lainnya,” tambahnya.

“Selama proses penyerapan juga akan terjadi proses kompetisi terutama dengan gula jenis fruktosa dan glukosa, sehingga D-Allulose akan menghambat penyerapan kedua jenis gula tersebut. D- Allulose juga akan ditransportasikan ke usus besar, namun berbeda dengan gula lainnya, hanya sedikit dari rare sugar ini yang akan difermentasi di usus besar,” imbuhnya.

Mendengar semua penjelasan tersebut, membuat kita juga bertanya-tanya apakah allulose aman untuk semua orang?

D-Allulose sudah dinyatakan aman oleh US Food and Drug Administration (FDA) sejak tahun 2014. Berdasarkan tingkat toksisitasnya, D-Allulose termasuk dalam kategori ‘relatively harmless‘, yaitu produk dengan toksisitas yang sangat rendah,” jawabnya.

Eits, tapi ada “tapinya”—yah, namanya juga gula.

“Namun, layaknya gula sederhana yang tidak tercerna, maka satu-satunya efek samping D-Allulose adalah ketidaknyamanan saluran cerna hingga diare ketika dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan. Walaupun demikian, hal tersebut dinyatakan bukan suatu efek toksisitas, karena efek yang ditimbulkannya adalah efek yang umum muncul saat terdapat karbohidrat tak tercerna dalam tubuh,” ujarnya.

“Satu hal yang perlu diingat, walaupun D-Allulose merupakan golongan rare sugar, namun juga memiliki karakter sama dengan gula lainnya saat diolah dalam suhu tinggi, yaitu dapat memicu reaksi Maillard dan karamelisasi. Kedua reaksi tersebut pada beberapa sumber dilaporkan berefek buruk bagi kesehatan,” katanya.

Kesimpulan

Foto: www.freepik.com

Sekarang kamu tahu apa itu allulose dan tertarik untuk mencoba mengonsumsinya. Seberapa banyak sebaiknya dikonsumsi?

“Sebuah studi klinis menunjukkan dosis D-Allulose yang dapat ditoleransi oleh populasi Asia adalah sekitar 33,3 gram/hari (pada laki-laki dengan berat badan 67 kg), dan 31 gram/hari (untuk perempuan Asia dengan berat badan 52 kg),” jelasnya.

Dan amankah dikonsumsi setiap hari?

“Ya, D-Allulose dapat dikonsumsi sehari-hari dan dapat digunakan dalam diet normal. Namun, karena keterbatasan produksi dan persediaannya di pasaran, maka hingga saat ini D-Allulose lebih banyak digunakan sebagai pemanis buatan dalam produksi makanan tertentu. Rare sugar ini merupakan pemanis yang menguntungkan dan dianggap berkhasiat, sehingga bila dari segi harga dan persediaannya cukup terjangkau, maka D-Allulose tidak akan dianggap hanya sebagai sebuah tren,” tegasnya.

Selanjutnya: sambil menunggu D-Allulose menjadi lebih terjangkau, tetap seduh teh hijau dan konsumsi dengan rajin, karena penelitian baru ini menunjukkan minuman kafein ini bisa mengurangi risiko diabetes.