Apakah Impossible dan Beyond Meat Lebih Sehat dari Daging Biasa?

Foto: www.gettyimages.com

Di media sosial. Radio. Televisi. Podcast. Media daring. Surat kabar. Konferensi internasional. Di coffee shop. Pemanasan global, cuaca ekstrem, perubahan iklim menjadi salah satu topik yang bisa memanaskan percakapan. Dan salah satu informasi yang kita tahu adalah bahwa konsumsi daging—terutama daging merah—tidak baik untuk lingkungan. New Yorker bahkan mengatakan bahwa setiap 1,8 kilogram daging sapi yang kita makan, produksi gas emisinya sama dengan terbang dari New York ke London. Phiuuf. Tidak heran, industri kuliner berpikir keras untuk menghasilkan “daging” yang terbuat dari tumbuhan. Maka lahirlah: Impossible dan Beyond Meat, yang rasanya mirip dengan daging yang sebenarnya. Ini berita baik sih, tapi apakah “daging imitasi” ini sehat? LIMONE menghubungi, Mochammad Rizal, seorang ahli gizi dan Sport Nutritionist di Komite Olahraga Nasional Indonesia untuk menjawab rasa penasaran tentang dua produk hasil dari kecanggihan teknologi ini. Mari mendengarkan penjelasannya.

Apa Sebenarnya Impossible dan Beyond Meat? Dan Apa Kelebihannya?

Impossible dan Beyond Meat
Foto: www.gettyimages.com

Rizal menjelaskan bahwa menurut literatur, Impossible dan Beyond Meat adalah produk inovasi teknologi pangan alternatif protein hewani (daging) yang terbuat dari campuran beberapa protein nabati seperti gandum, kedelai, dan kacang-kacangan. “Yang menjadikan mereka berbeda adalah meskipun terbuat dari protein nabati, mereka mengklaim bahwa rasa dan teksturnya sangat mirip dengan daging, tidak seperti sumber protein nabati yang lain semisal gluten,” terangnya.

Jika menyinggung tentang kelebihan “daging” ini, Rizal menuturkan bahwa penelitian tentang kedua produk ini masih sangat terbatas. “Beberapa penelitian di antaranya, terutama yang dilakukan pada tikus dalam jangka waktu yang pendek, menyatakan bahwa konsumsi kedua jenis produk ini aman bagi kesehatan. Namun bagi beberapa orang, terutama yang concern dengan produk GMO atau alergi dengan gluten, akan menghindari untuk mengonsumsi produk ini,” jelasnya.

Selain itu, menurutnya “protein nabati tetaplah protein nabati,” tegasnya. “Kandungan asam aminonya tidak akan bisa selengkap kandungan asam amino pada protein hewani. Tidak ada yang lebih baik satu sama lain. Keduanya saling melengkapi,” lanjutnya.

Apakah Impossible dan Beyond Meat Lebih Sehat dari Daging Konvensional?

Impossible dan Beyond Meat
Foto: www.rawpixel.com

Oleh karena ini adalah bukan daging sebenarnya, bisa dibilang makanan olahan—apakah berarti lebih sehat dan baik untuk tubuh?

Rizal menjelaskan bahwa pada prinsipnya, semakin sedikit proses pengolahan pada makanan, maka semakin baik makanan tersebut.

“Namun bukan berarti kita harus mengonsumsi makanan mentah untuk bisa sehat. Contohnya, mungkin lalapan baik jika dikonsumsi mentah asalkan sudah dicuci bersih. Sebaliknya, konsumsi tomat akan lebih baik jika dimasak terlebih dahulu agar kandungan likopennya keluar,” Rizal menerangkan.

Menyebutkan hal tersebut, Rizal juga mengingatkan bahwa bukan berarti kita harus menghindari 100% makanan yang mengalami proses pabrikan. Dirinya memberi contoh untuk mereka yang memiliki obesitas atau hipertensi versus atlet profesional. Yakni, bagi yang mempunyai kondisi obesitas atau hipertensi sangat dianjurkan untuk mengurangi makanan terproses dan kalengan karena pada umumnya tinggi kalori dan natrium. “Sebaliknya, pada atlet profesional beberapa makanan tersebut dibutuhkan untuk menunjang performa mereka,” katanya.

Intinya adalah, “semua tentang keseimbangan. Tahu kapan harus mengonsumsi dan tidak berlebihan,” tegasnya.

Sebagai Seorang Nutrisionis, Apakah Merekomendasikan Dua Daging Buatan Ini?

Impossible dan Beyond Meat
Foto: www.rawpixel.com

Rizal menyampaikan bahwa sebagai seorang nutrisionis, dia akan merekomendasikan jenis makanan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi per individu. Pasalnya, setiap orang memiliki kebutuhan dan kondisi kesehatan yang berbeda-beda.

“Saya belum pernah mengetahui produknya secara langsung. Mungkin saya akan merekomendasikan kepada orang-orang vegan,” katanya. Akan tetapi, ada syaratnya. Yep. Pertama, mereka tidak alergi dengan gluten dan mau mengonsumsi produk GMO. Kedua, dari segi kemampuan finansial. “Karena dari beberapa referensi yang saya baca, produk ini dikenal memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan daging,” jelasnya. Ketiga, dari segi ketersediaan. “Artinya, mungkin saya akan merekomendasikan jika memang produk ini tersedia di sekitar lingkungan orang tersebut. Jika tidak tersedia, kenapa harus memaksakan ketika ada berbagai macam sumber protein lainnya yang lebih mudah didapatkan?” Rizal memberikan penjelasan.

Apa yang Harus Diperhatikan Jika Memutuskan untuk Mengganti Daging Biasa dengan Impossible dan Beyond Meat?

Impossible dan Beyond Meat
Foto: www.unsplash.com

Oleh karena literatur ilmiah tentang produk ini masih sangat terbatas, “jadinya belum bisa diputuskan apakah produk ini benar-benar aman untuk dikonsumsi jangka panjang. Namun saya rasa, ini pendapat pribadi saya ya, jika kamu ingin mengonsumsinya, mungkin 2-3 kali per minggu cukup sebagai substitusi bahan pangan sumber protein yang lainnya,” terangnya.

Dan bagaimana jika kita tertarik mengonsumsi Impossible dan Beyond Meat karena ingin menghindari makan daging dan hanya ingin mengonsumsi plant-based food, adakah opsi makanan lain yang lebih sehat? Maksudnya, makanan-makanan sumber protein yang sudah terbukti dari berbagai penelitian memang baik untuk kesehatan.

“Sumber protein nabati yang lain saya rasa cukup banyak. Tahu, tempe, kedelai, serealia, kacang-kacangan, dan polong-polongan sudah cukup,” Rizal memberikan saran.

Itu ya, tentang Impossible dan Beyond Meat. Semoga informasi ini membantu kamu yang penasaran dan ingin mencobanya karena ingin hidup sehat—dan peduli dengan planet tercinta ini.

Selanjutnya: ingin tahu makanan apa saja yang dikategorikan aman untuk lingkungan. Berikut daftarnya.