Bagaimana Menghadapi Kegagalan dalam Pernikahan

kegagalan
Foto: www.freepik.com

Awal Mei ini, Bill Gates dan Melinda Gates mengumumkan untuk bercerai setelah lebih dari 20 tahun menikah. Berita ini membuat geger dunia maya dan nyata. Selain pembagian harta, banyak yang bertanya-tanya apa yang menyebabkan pernikahan salah satu pasangan terkaya di dunia itu mengalami kegagalan?

Berikut penjelasan dari Hertha Christabelle Hambalie, M.Psi., Psikolog, seorang Psikolog Klinis dari Clarity Psychology terkait dengan penyebab kegagalan dan cara mengatasinya.

Apa Itu Kegagalan?

kegagalan
Foto: www.rawpixel.com

Menurut KBBI, “gagal” adalah tidak berhasil; tidak tercapai (maksudnya); tidak jadi. “Secara singkat, gagal adalah sesuatu di mana kita tidak mencapai tujuan yang diharapkan. Tentu saja, (gagal) merupakan hal yang wajar terjadi,” Hertha menjelaskan.

Secara umum, kegagalan akan memengaruhi hidup seseorang, akan tetapi tentu akan berbeda pada setiap orang. “Pengaruhnya akan baik atau pun buruk tergantung orangnya. Apakah ini ia jadikan pelajaran untuk ke depannya agar menjadi lebih baik, atau justru dianggap sebagai akhir dan meratapi kegagalannya,” ujarnya.

Hertha menegaskan bahwa tentunya  setiap orang perlu membutuhkan waktu untuk memproses kegagalan yang ia alami. Namun, bagaimana cara memproses hal tersebut?

“Memahami kegagalan adalah hal yang wajar. Evaluasi apa yang sudah baik dan apa yang perlu ditingkatkan. Jadi perlu dilihat dari dua sisi. Berikan waktu untuk kita merasa sedih atau emosi yang lain. Saat lebih tenang, mencoba kembali dan ingat hal-hal baik yang telah dilakukan,” jawabnya.

Mengapa Seseorang Bisa Mengalami Kegagalan?

Foto: www.rawpixel.com

Sesungguhnya, terdapat banyak faktor yang memengaruhi kegagalan tersebut. “Misalnya harapan tidak realistis, cara yang tidak tepat, situasi yang tidak mendukung, kesalahan yang terus berulang, dan lainnya,” papar  Hertha.

Lantas, bagaimana dengan kegagalan dalam pernikahan?

“Perlu dipahami lebih dulu, kegagalan pernikahan artinya tidak berhasil sesuai dengan apa yang ingin dicapai. Menikah namun tidak sesuai dengan tujuan pernikahan bisa dianggap gagal. Misalnya terus-menerus ada di hubungan yang tidak bahagia, terutama jika sudah ada kekerasan emosional, fisik, dan seksual,” tuturnya.

Namun akan abu-abu jika hanya bicara gagal. Untuk itu, Hertha memberikan data yang sah secara hukum terkait faktor penyebab perceraian, yakni:

  • Usia
  • Ekonomi
  • Kurangnya komitmen
  • Usia muda
  • Kekerasan
  • Kebiasaan buruk seperti merendahkan
  • Tidak menyelesaikan konflik dengan baik
  • Harapan yang terlalu tinggi

Bagaimana Tanda-tanda Hubungan Pernikahan Akan Gagal?

kegagalan
Foto: www.rawpixel.com

Pada dasarnya, dalam sebuah hubungan tentu selalu ada dinamika, baik dan buruk. “Namun jika masalah selalu dihindari dan tidak bisa diselesaikan dengan baik, maka akan berulang dan semakin besar. Terlebih jika tidak ada usaha bagi keduanya untuk bekerjasama dan melanjutkan komitmen dalam hubungannya,” ucap Psikolog Klinis yang satu ini.

Hertha menambahkan bahwa kegagalan dalam pernikahan tentu akan memberikan tekanan tersendiri, yang dapat mengakibatkan terganggunya kesehatan fisik dan psikologis.

“Hal ini juga akan berdampak pada anak. Seperti penurunan prestasi, masalah emosi, dan lainnya. Pada akhirnya, jika bercerai tentu akan mengalami fase kehilangan dan beradaptasi dengan situasi yang baru. Tentunya menjadi banyak tantangannya,” tambahnya.

Bagaimana Cara Mengatasi Kegagalan dalam Pernikahan?

Foto: www.pexels.com

Ketika pada akhirnya memutuskan untuk bercerai, maka Hertha menyarankan untuk fokus ke masa depan, bukan ke masa lalu.

“Saat ini yang bisa dilakukan adalah belajar mengenali dan mencintai diri sendiri terlebih dahulu. Pahami perasaanmu, apa yang disukai dan tidak disukai, serta memahami keinginan sendiri,” anjurnya.

Di sisi lain, berikan waktu untuk emosimu, tentu saja diperbolehkan untuk menangis dan bersedih. Namun berikan waktu agar tidak terjadi dengan berlarut-larut.

“Buat lingkunganmu menjadi berubah secara positif. Misalnya ganti barang-barang yang ada di ruanganmu agar tidak mengingatkan ke mantan pasangan tetapi lebih kepada diri sendiri. Buat rencana masa depan secara bertahap, mulai dari 1 minggu dan 2 minggu. Fokus lakukan aktivitas yang positif, misalnya hobi, olahraga, atau berkumpul dengan teman yang membuatmu merasa nyaman,” sarannya,

Tidak hanya itu, dukungan dari orang terdekat tentu juga akan membantu, seperti keluarga dan teman-teman yang dapat memberikan dukungan terhadapmu.

Namun, bagaimana memberikan pengertian kepada anak? Tentunya kegagalan dalam pernikahan akan berdampak pada kehidupan anak.

“Setiap anak akan berbeda tergantung usianya. Namun, jujur apa yang terjadi dan fokus ke anak dengan tetap memberikan kasih sayang baik dari ayah maupun ibu,” ujarnya.

Sampaikan kepastian terkait rencana ke depan, dan berikan waktu untuk anak memproses kejadian ini dan mengatakan perasaan yang dimiliki. Perlu diingat untuk tidak menjelek-jelekkan satu dengan yang lainnya.

Bagaimana Cara Menghadapi Nyinyiran Orang Lain?

kegagalan
Foto: www.unsplash.com

Ketika mengalami kegagalan dalam pernikahan, pastinya ada saja nyinyiran dari lingkungan sekitar, Namun menurut Hertha, “orang menyinyir tidak menjamin hidupnya lebih bahagia. Ingat bahwa tidak ada jaminan yang menikah lebih bahagia pernikahannya daripada orang yang bercerai. Karena dibutuhkan keberanian untuk memutuskan hubungan yang tidak sehat,” tegasnya.

Ia mengingatkan untuk tetap fokus terhadap diri sendiri, karena yang paling mengetahui usaha dan perjuanganmu adalah dirimu sendiri.

Akan tetapi, sebelum mengalami kegagalan dalam pernikahan, tentunya hal ini bisa dicegah. Hertha menuturkan bahwa terdapat cara untuk meningkatkan interaksi yang positif dengan pasangan, menurut Dr. Gottman, yakni:

  • Memahami pasanganmu, apa yang ia sukai dan tidak suka.
  • Pahami apa yang kamu sukai dan kagumi dari pasangan.
  • Berinteraksi secara rutin sehingga bisa saling berbagi momen setiap harinya.
  • Berikan kepedulian dan perhatian.
  • Menghargai pasangan yang memiliki keinginan dan pikirannya sendiri sehingga bisa toleransi.
  • Biarkan pasangan memberi saran sehingga saling mampu untuk meningkatkan diri.
  • Komunikasikan jika ada masalah, dan jangan merasa bahwa pasangan bisa membaca pikiranmu.
  • Komitmen dengan hubunganmu. Memiliki sikap positif dan berbagi kejadian yang bermakna dengan pasangan.

Kesimpulan

Foto: www.rawpixel.com

Untuk pasangan yang sedang berada pada ambang kegagalan, Psikolog Klinis yang satu ini menyampaikan beberapa pesan yakni:

“Lakukan konseling dengan pasangan secara bersama-sama. Jangan takut untuk meminta bantuan dari tenaga profesional, sehingga netral dalam membantumu, baik itu psikolog, tokoh agama, atau konselor,” anjurnya.

“Pikirkan semua hal yang baik dan buruk soal pasangan, sehingga kamu tidak hanya melihatnya dari satu sisi,” tambahnya.