Apakah Produk Paraben Free Selalu Lebih Baik untuk Kulit?

paraben free
Foto: www.gettyimages.com

Sepertinya saat sebuah produk menuliskan “paraben free” di kemasannya, mereka melakukannya dengan super bangga. Tagar #parabenfree pun sudah disebut 1,2 juta kali di Instagram (setidaknya saat artikel ini dituliskan). Ini membuat kita bertanya-tanya: apakah paraben sesuatu yang sudah “diharamkan” oleh dunia kecantikan dan perawatan kulit? Benarkah paraben adalah bahan yang berbahaya?

Kamu pasti penasaran ‘kan dengan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini? Oleh karena LIMONE juga super ingin tahu, makanya menghubungi dr. Fitria Agustina, SpKK, FINSDV, seorang dermatovenereologist, di FitSkinClinic, dan Wakil Sekretaris Umum Pengurus Pusat Perdoski. Berikut penjelasan lengkap tentang tentang paraben free.

Apa Pengertian Paraben?

paraben free
Foto: www.unsplash.com

Menurut Dokter Fitria, paraben adalah pengawet yang diproduksi secara sintetis yang digunakan dalam produk perawatan pribadi, makanan dan minuman, obat-obatan, dan sediaan farmasi sejak tahun 1930-an.

“Paraben diserap melalui kulit dan dari saluran gastrointestinal, selanjutnya dihidrolisis menjadi asam p-hidroksibenzoat, terkonjugasi dan kemudian diekskresikan dalam urin. Secara kimiawi, paraben adalah serangkaian parahydroxybenzoates atau ester dari asam parahydroxybenzoic yang juga dikenal sebagai asam 4-hydroxybenzoic. Paraben secara efektif mencegah pertumbuhan mikroorganisme,” jelasnya.

Paraben juga terdapat di alam, misalnya blueberry, cloudberry, markisa kuning, tetapi pada konsentrasi yang sangat rendah. Misalnya konsentrasi methylparaben di Andrographis paniculata atau Sambiloto jauh lebih rendah, yaitu hanya 0,0008% dari bobotnya.

“Karena tingkat akumulasi yang rendah pada tanaman, semua paraben yang digunakan secara industri diproduksi secara sintetis. Konsentrasi paraben dalam formulasi kosmetik dapat mencapai 0,8% yang hampir 1000 kali lebih banyak dari sumber alami,” tambahnya.

Paraben terkandung dalam berbagai produk kosmetik, misalnya mulai dari produk perawatan pribadi (sampo dan kondisioner, losion tubuh, gel mandi, scrub, kosmetik tabir surya, deodoran dan antiperspirant, pelembap) hingga produk minuman. Yep, minuman seperti bir, minuman ringan, produk susu beku, selai, jeli, saus, sirup olahan. ikan, sayuran olahan dan penyedap rasa juga bisa mengandung paraben.

Mengapa Paraben Banyak Terkandung di Dalam Produk?

paraben free
Foto: www.unsplash.com

Pada intinya, paraben berfungsi sebagai pengawet. Dan dibandingkan bahan pengawet lain, paraben terbilang populer karena memiliki beberapa keunggulan, di antaranya:

  • Spektrum luas dalam menghambat aktivitas melawan ragi, jamur dan bakteri
  • Stabilitas kimiawi (untuk interval suhu yang lebar dan pH berkisar dari 4,5 hingga 7,5)
  • Tingkat toksisitas sistemik yang rendah
  • Frekuensi sensitivitas rendah
  • Kelarutan air yang cukup (memungkinkan untuk memperoleh konsentrasi yang efektif)
  • Penggunaan yang relatif aman
  • Harga yang rendah
  • Tidak ada bau atau rasa yang terlihat
  • Tidak menyebabkan perubahan konsistensi atau pewarnaan produk

Selain itu: Paraben mudah diserap melalui kulit dan usus dan dikeluarkan melalui urine.

“Namun, beberapa dari senyawa ini mungkin tertahan di dalam tubuh. Paraben telah ditemukan dalam darah dan urine termasuk pada wanita hamil, cairan ketuban, jaringan plasenta, darah tali pusat dan jaringan payudara. Paraben juga tersebar luas di lingkungan kita,” tambahnya.

Menurut Dokter Fitria, ada banyak penelitian yang membuktikan bahwa paraben dan asam para-hydroxybenzoic dapat berpengaruh terhadap endokrin estrogenik.

“Paraben dapat meningkatkan risiko kanker payudara dari beberapa penelitian, meskipun tetap diperlukan penelitian lebih lanjut. Beberapa literatur terbaru menunjukkan bahwa mekanisme aksi sitotoksik paraben mungkin terkait dengan kegagalan mitokondria yang bergantung pada induksi transisi permeabilitas membran disertai dengan depolarisasi mitokondria dan penurunan ATP seluler melalui pelepasan fosforilasi oksidatif,” ujarnya.

Apakah Paraben Berbahaya untuk Kulit?

paraben free
Foto: www.freepik.com

Menurut Dokter Fitria, peraturan saat ini tentang penggunaan paraben berbeda di setiap negara.

Menurut Petunjuk Dewan Uni Eropa (UE), kandungan paraben yang diizinkan dalam produk kosmetik adalah konsentrasi maksimum 0,4% untuk setiap ester dan 0,8% untuk total campuran ester.

Di Indonesia sendiri sesuai dengan PerKa BPOM No 23 tahun 2019, untuk penggunaan paraben pada produk kosmetik untuk total campuran ester maksimal 0,8% dan untuk konsentrasi setiap ester maksimum 0,14% (butylparaben dan propylparaben). Serta dilarang dipakai produk tanpa bilas yang dirancang untuk area popok anak-anak di bawah usia tiga tahun. Kenapa?

“Karena iritasi kulit dan oklusi yang ada dapat memungkinkan peningkatan penetrasi atau 0,4% (methylparaben dan ethylparaben) bergantung pada ester yang digunakan,” jelasnya.

Menariknya, pada tahun 2011, pemerintah Denmark memutuskan untuk memberlakukan pembatasan tambahan, melarang penggunaan beberapa paraben (propyl-, isopropyl-, butyl– dan isobutyl-parabens) dalam produk perawatan pribadi yang ditujukan untuk anak di bawah 3 tahun.

“Hal ini menyebabkan Komite Ilmiah Uni Eropa untuk Keamanan Konsumen (SCCS) mengevaluasi kembali subjek dan menyarankan bahwa konsentrasi yang diizinkan tetap tidak berubah untuk methylparaben dan ethylparaben. Namun jumlah konsentrasi individual propylparaben dan butylparaben dalam produk jadi harus dibatasi hingga 0,19%,” jelasnya.

Alhasil, berdasarkan laporan ini, Komisi Uni Eropa mengubah petunjuk tersebut dan, pada tahun 2014, melarang isopropylparaben, isobutylparaben, phenylparaben, benzylparaben, dan pentylparaben.

Nah, kira-kira hampir satu tahun setelah revisi petunjuk tersebut, yakni pada tahun April 2015, Komisi Uni Eropa membatasi konsentrasi maksimum dua pengawet, propylparaben dan butylparaben, dari batas yang diizinkan saat ini. Yakni, dari sebesar 0,4% bila digunakan secara individual, dan 0,8% bila dicampur dengan ester lain, menjadi 0,14%, bila digunakan sendiri-sendiri atau bersama-sama.

“Paraben juga dilarang dari produk tanpa bilas yang dirancang untuk area popok anak-anak di bawah usia tiga tahun karena iritasi kulit dan oklusi yang ada dapat memungkinkan peningkatan penetrasi.

Bagaimana Sikap Negara Lain terhadap Paraben Free?

Foto: www.unsplash.com

Bagaimana respon lembaga internasional lain?

Dokter Fitria menambahkan lembaga sertifikasi internasional ECOCERT (Prancis), BDIH (Jerman), NaTrue (Belgia), Soil Association (Inggris Raya), ICEA (Italia), dan BIOCOSC (Swiss) setuju dengan posisi EU dan EPA Denmark: tidak lagi mensertifikasi produk yang mengandung paraben.

Begitu pula Asosiasi Profesional untuk Kosmetik Alami, Ekologi dan Organik, CosmeBio (cosmebio.org), juga telah melarang penggunaan paraben dalam produk kosmetik sejak 2002 sebagai ‘prinsip kehati-hatian dan karena perhatian terhadap kesehatan konsumen’.

Sementara di Amerika Serikat, meskipun tidak ada larangan penggunaan paraben saat ini di sana, sejumlah produsen kosmetik terkemuka mulai bermigrasi dari paraben dan malah fokus pada pengawet alternatif atau mengurangi jumlah paraben dalam produk mereka karena meningkatnya kekhawatiran konsumen. Beberapa bahan pengawet lain yang umum digunakan termasuk formaldehida, quaternium-15, imidazolidinyl urea, diazolidinyl urea dan dimethyloldimethyl hydantoin.

“Paraben dilaporkan menyebabkan reaksi dermatitis kontak pada beberapa individu yang terpapar kulit. Namun, mekanisme kepekaan ini tidak diketahui. Diperkirakan wanita terpapar 50 mg paraben per hari dari kosmetik. Namun, diperlukan lebih banyak penelitian tentang lebih lanjut,” tegasnya.

Apakah Produk dengan “Paraben Free” Selalu Lebih Baik?

Foto: www.freepik.com

Paraben free tentunya akan lebih baik jika dibandingkan dengan produk kosmetik dengan paraben, namun tetap harus dilihat pengawet apa yang dipakai sebagai pengganti pada sediaan kosmetik tersebut dan bahan-bahan tambahan lainnya yang dimasukkan,” tegas Dokter Fitria.

“Mulai dari pewarnanya juga pengawetnya tetap harus diperhatikan,” tekannya. Lebih lanjut beliau menerangkan bahwa pemerintah Indonesia sendiri saat ini tidak melarang penggunaan paraben dalam sediaan kosmetik sesuai PerKa BPOM No 23 tahun 2019. “Namun dalam konsentrasi yang dibatasi, yaitu total maksimum campuran ester tersebut adalah 0,8%,” imbuhnya.

Seperti yang sudah diterangkan di atas, bahwa jika terserap banyak melalui kulit dan terkonsumsi melalui makanan, “tentunya pada usia berapapun paraben ini dapat menimbulkan efek berbahaya,” jelasnya.

“Namun untuk anak-anak di mana absorpsi perkutan masih sangat tinggi maka dilakukan pembatasan pemakaian. Propylparaben dan butylparaben, dari batas yang diizinkan saat ini menjadi sebesar 0,14% bila digunakan secara individual dan 0,8% bila dicampur dengan ester lain. Mereka juga dilarang dimasukkan ke dalam produk tanpa bilas yang dirancang untuk area popok anak-anak di bawah usia tiga tahun karena iritasi kulit dan oklusi yang ada dapat memungkinkan peningkatan penetrasi,” tegasnya lagi.

Dibandingkan Sulfat dan Alkohol, Di Mana Posisi Paraben Free?

Foto: www.freepik.com

Untuk kamu yang #beautyfreak dan #beautyenthusiast, pasti menyadari bahwa semakin banyak produk kecantikan dan kulit yang memberikan label “bebas sulfat, paraben free, fragrance free dan tanpa alkohol” pada kemasannya. Apakah paraben lebih berbahaya dibandingkan sulfat, alkohol dan fragrance?

“Keempat hal ini bukan sesuatu yang bisa dibandingkan. Karena paraben adalah pengawet sementara alkohol, sulfat dan fragrance bukan pengawet. Jadi bukan sesuatu yang memiliki fungsi sama dan bisa dibandingkan,” jawabnya.

Seandainya kamu ingin tahu, sulfat adalah sodium lauryl sulfat (SLS) dan alkohol adalah isopropyl alcohol. “SLS adalah detergen untuk menghasilkan busa pada produk sabun atau sampo yang sering kali membuat iritasi pada kulit, dan isopropyl alcohol digunakan untuk mengurangi kandungan minyak dan seringkali membuat kulit menjadi kering,” ujarnya.

Kesimpulan

Foto: www.freepik.com

Ah, topik tentang paraben free ini mungkin membuatmu ragu memakai kosmetikk. Banyaknya bahan dengan nama yang sulit dihapalkan (bahkan mungkin membuat lidah keseleo) yang dimasukkan ke dalam produk—mungkin membuatmu skeptis dan ngeri saat memakai produk kulit dan kecantikan. Adakah trik sederhana agar produk yang kita pakai aman di kulit?

“Pemilihan kosmetik sebaiknya selalu perhatikan pesan BPOM yaitu cek KLIK. Yaitu mengecek Kemasan, Label, Izin edar dan Kedaluwarsa. Perhatikan empat hal tersebut maka setidaknya sudah memenuhi kriteria kosmetik yang aman digunakan, termasuk bahan-bahan yang digunakan dalam komposisi kosmetik tersebut,” anjurnya.

Menurutnya, hal utama yang seringkali menyebabkan masalah pada kosmetik adalah pewangi, pewarna dan pengawet, yang seringkali memicu kondisi alergi pada kulit.

“Namun hal ini memang terjadi secara individu, tidak terjadi pada semua orang. Jika terjadi efek samping karena kosmetik, sebaiknya segera dihentikan pemakaian kosmetik tersangka dan berobat ke dokter spesialis kulit terdekat. Agar selanjutnya dapat dilakukan uji tempel kosmetik, untuk mengetahui penyebabnya,” sarannya.

Selanjutnya: Apakah kamu tergoda memakai produk pemutih yang bisa memberikan khasiat dengan super cepat? Sebelum mencoba apapun, coba informasi dari dokter kulit ini, karena bisa jadi produk tersebut mengandung steroid.