Bagaimana Membantu Teman yang Menjalani Hubungan Abusive

Foto: www.gettyimages.com

Seakan dunia masih belum cukup suram dengan COVID-19, angka kasus kekerasan di Indonesia dilaporkan naik selama pandemi. Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak P2TP2A dan Komnas Perempuan mencatat peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan sebesar 75% sejak pandemi. Dan jika kamu memiliki seorang teman yang menjalani hubungan abusive adalah kemungkinan besar kamu akan merasa takut, putus asa, dan kemungkinan besar merasa tidak berdaya. Entah kekerasan melibatkan fisik, emosional, ekonomi, atau campuran semua hal ini, kamu mungkin tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Hal pertama yang sebaiknya dilakukan ketika teman bercerita tentang hubungannya yang tidak sehat atau abusive adalah memberikan apresiasi. “Apresiasi karena ia sudah berani terbuka dan percaya pada kamu untuk mendengarkan ceritanya,” terang Ni Putu Mayda Anggarini Artana, M.Psi., Psikolog, seorang psikolog klinis dan Founder dari SETALA Psychological Center.

Lalu, apalagi yang bisa kamu lakukan untuk membantu teman yang memiliki hubungan abusive? Baca terus artikel ini sampai habis untuk mengetahui jawabannya.

Apa Definisi Kekerasan dalam Hubungan?

hubungan abusive adalah
Foto: www.rawpixel.com

Mengutip Katharine D. Kelly, Mayda menerangkan bahwa kekerasan dalam hubungan adalah perbuatan kekerasan atau ancaman dalam konteks hubungan romantis yang dilakukan secara sengaja oleh pasangan, baik secara fisik, seksual, serta psikologis. Jadi kekerasan tidak hanya terbatas pada kekerasan fisik, namun juga bisa berbentuk psikis dan seksual.

Kekerasan fisik didefinisikan dengan, “kekerasan secara fisik dan dampaknya pun pada fisik korban, seperti mendorong, memukul, menendak, menggigit, mencekik, bahkan menusuk dan menembak,” jelasnya.

Sementara kekerasan seksual terjadi, “Ketika pelaku memaksa melakukan aktivitas seksual dari menyentuh hingga melakukan hubungan seksual atau penetrasi di saat pasangannya tidak ingin melakukan,” imbuhnya. Contohnya, memaksa pasangan berhubungan seksual baik dengan kekerasan, serta mengancam pasangan agar mau melakukan aktivitas seksual.

Lalu ada kekerasan psikis yang dapat berupa verbal atau nonverbal, dan aktif atau pasif. “Misalnya, memanggil dengan panggilan buruk (aktif, verbal), membanting pintu atau benda lainnya (aktif, nonverbal), mendiamkan atau merajuk (pasif, nonverbal),” tambahnya.

Apakah Orang yang Sedang Menjalani Hubungan Abusive Menyadarinya?

hubungan abusive adalah
Foto: www.freepik.com

“Beberapa orang sangat mungkin menyadari bahwa sebenarnya dia berada pada hubungan tidak sehat atau abusive dan berani mengambil tindakan dalam hubungan tersebut,” ujarnya.

“Akan tetapi, terdapat pula orang-orang yang tidak menyadari bahwa mereka berada pada hubungan yang tidak sehat atau abusive. Karena mungkin mereka memang tidak mengenali bahwa hubungan tersebut adalah hubungan yang tidak sehat,” jelasnya.

Apa yang mungkin menyebabkan seseorang tidak menyadari bahwa mereka sedang menjalani hubungan yang tidak sehat?

“Hal ini terjadi karena pada lingkungannya, mereka lebih banyak melihat bentuk hubungan yang tidak sehat atau abusive, sehingga mereka tidak mengetahui contoh hubungan yang sehat seperti apa dan tidak memiliki pengetahuan ciri hubungan yang tidak sehat atau abusive,” terangnya.

Selain itu, ada faktor lain yang mungkin menyebabkan orang tidak menyadari, atau sebenarnya menyadari namun menyangkal bahwa dirinya sedang berada pada hubungan yang tidak sehat: ia memiliki pandangan negatif tentang dirinya.

“Orang tersebut merasa ia pantas diperlakukan negatif oleh pasangan. Ia menganggap perilaku pasangannya itu wajar, dan ia beruntung masih ada orang yang mau menerima dirinya. sehingga ia tidak menyadari atau menyangkal bahwa hubungan tersebut sudah tidak sehat atau bahkan abusive,” paparnya.

Saat Mengetahui Teman Memiliki Hubungan Abusive, Apa yang Bisa Dilakukan?

hubungan abusive adalah
Foto: www.freepik.com

Ada dua skenario di sini—dan keduanya sebaiknya ditanggapi dengan cara yang berbeda.

Skenario pertama: kamu tahu bahwa teman menjalani hubungan abusive, tapi tidak langsung dari orang yang bersangkutan (alias dari pihak ketiga). Jika ini yang terjadi, maka “cobalah untuk tidak mengkonfrontasinya apalagi men-judge atau menyalahkan dirinya karena tidak bercerita,” saran Mayda.

“Berusahalah untuk memulai komunikasi dengannya untuk mencari tahu dan memantau keadaannya, serta membuatnya tidak merasa sendirian menghadapi situasi ini,” lanjutnya.

Skenario kedua: kamu tahu langsung dari yang bersangkutan.

“Apresiasi karena ia sudah berani terbuka dan percaya pada kamu untuk mendengarkan ceritanya,” tekannya. Hal ini super penting karena, “berani terbuka dan speak up tentang hubungan yang abusive merupakan sebuah langkah besar. Sehingga alangkah lebih baiknya bila kita mengapresiasi keberanian teman kita,” tegasnya.

Dan saat ia bercerita, jadilah pendengar yang baik, tanpa ada judgment dan upayakan untuk memvalidasi emosinya. “Pada beberapa orang, dengan bercerita pada orang lain, itu cukup membantu me-release emosi negatif yang dirasakan atau beban yang dirasakan. Berikan pula ia dukungan emosional dan penguatan dalam menghadapi situasi ini,” jelasnya.

Bagaimana jika teman tersebut meminta saran?

“Berikan sudut pandang objektif dan pertimbangan-pertimbangan agar ia dapat mengambil langkah dalam menghadapi masalahnya. Arahkan pula untuk mempersiapkan rencana keselamatan. Tekankan bahwa keselamatan dirinya adalah yang utama dan banyak bantuan tersedia baginya, baik bantuan hukum maupun professional lainnya,” jawabnya.

Hal yang sangat penting: “Biarkan ia yang memutuskan langkah apa yang harus ia ambil,” tegas Mayda.

“Kamu dapat menawarkan bantuan, namun menjadi pilihan mereka apakah akan menerima atau tidak. Akan tetapi, bila kamu menyaksikannya dan mengetahui bahwa kekerasan tersebut sudah mengancam keselamatan temanmu, maka kamu dapat membantunya untuk keluar dari situasi kekerasan tersebut dan dapat menghubungi pihak berwenang,” sarannya.

Bagaimana Membicarakan Masalah Ini dengan Teman?

hubungan abusive adalah
Foto: www.freepik.com

Seperti yang dikatakan di atas, bahwa saat seseorang terbuka dan membicarakan tentang hal ini—adalah sesuatu yang membutuhkan keberanian besar. Namun, bagaimana jika teman tercintamu tersebut menolak membeberkan hubungan abusive yang dialaminya?

“Jika teman menolak untuk bercerita, jangan terlalu memaksanya untuk bercerita atau menghakiminya karena menolak untuk bercerita. Berikan ia waktu, mungkin ia memang butuh mengambil jarak sendiri dan memproses semuanya sendiri,” saran Mayda.

Meski begitu, jangan tinggalkan dia.

“Tetap pantau keadaan dan keselamatan teman kita dengan menjaga komunikasi, seperti menanyakan keadaannya. Katakan juga padanya bahwa kita selalu ada untuknya, kapan pun ia membutuhkan kita, sehingga ia merasa tidak sendirian dalam menghadapi situasi ini. Sekali lagi, bila kamu mengetahui bahwa hubungan tersebut sudah mengancam keselamatan temanmu, maka kamu dapat membantunya untuk keluar dari situasi kekerasan tersebut dan dapat menghubungi pihak berwenang atau professional,” tegasnya.

Dan saat dia memilih untuk menceritakan permasalahannya, pertama-tama apresiasi keberaniannya. Lalu, saat ia bercerita, jadilah pendengar yang baik. “Alangkah lebih baik bila berbicara dengan mereka secara lembut dan tanpa penilaian. Katakan bahwa kamu mengkhawatirkan keselamatan mereka, baik keselamatan fisik maupun psikis,” sarannya.

Apa yang Sebaiknya Dikatakan kepada Teman yang Berada dalam Hubungan Abusive Ini?

hubungan abusive adalah
Foto: www.unsplash.com

Berhubung ini adalah situasi yang sangat sensitif dan rumit, mungkin kamu bingung harus mengatakan apa. Sebagai saran, Mayda menganjurkan mengucapkan kata dan kalimat seperti ini:

  • Maaf ini terjadi pada kamu.”
  • “Aku tahu ini rumit.”
  • “Ini semua bukan salahmu.”
  • “Kamu tidak pantas mendapatkan ini”.

“Dan ketika teman kamu cukup terbuka, kamu dapat menawarkan bantuan. Namun menjadi pilihan mereka untuk menerimanya atau tidak,” Mayda menekankan. Dalam situasi seperti ini, kamu bia mengucapkan beberapa hal ini:

  • “Kamu tidak sendiri, orang-orang di sekitar kamu peduli dengan kamu dan ingin membantu.”
  • “Apa yang bisa saya lakukan untuk kamu?”

Kamu pun juga dapat memberikan pertimbangan tentang bantuan atau langkah yang dapat dilakukan, seperti mengajukan pertanyaan ini:

  • “Apakah kira-kira kamu memerlukan perhatian professional seperti dokter atau psikolog?”
  • “Apakah kamu ingin melakukan tindakan tegas dengan pergi ke polisi atau berbicara dengan pengacara?”

Selain itu, Mayda menganjurkan untuk tetap menjaga komunikasi dengan teman kita tersebut untuk mengecek kondisinya. “Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa pelaku kekerasan terkadang memantau teks, telepon, atau media sosial teman kamu, dan mungkin mendengarkan percakapan kalian,” terangnya.

Oleh karena itu, pilihlah kata-kata dengan hati-hati sampai kamu yakin kalian aman untuk berbicara, seperti saat menelepon coba tanyakan, “Apakah sekarang waktu yang tepat untuk berbicara?”

Apa yang Sebaiknya Tidak Dikatakan kepada Mereka?

Foto: www.freepik.com

“Sebaiknya hindari men-judge, menilai, menyalahkan, atau menghakimi teman kita yang sedang berada pada hubungan abusive,” ujar Mayda.

Hindari mengatakan kalimat, pernyataan dan pertanyaan seperti ini:

  • Kenapa sih, kamu baru cerita sekarang, harusnya dari dulu.”
  • “Tuh ‘kan, udah aku bilang bakal kejadian kayak gini. Kamu sih, nggak dengerin aku. Masih aja sama dia.”
  • “Iya kamu sih, ngebiarin dia ngelakuin ini ke kamu.”
  • “Kamu ada ngelakuin kesalahan nggak? Makanya dia gituin kamu.”
  • “Kenapa sih, kamu nggak bisa ninggalin dia? ‘Kan gampang langsung tinggalin aja.”

“Hindari pula memaksa dia untuk bercerita atau melakukan suatu hal. Kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya ia hadapi, apa yang ia rasakan, atau pikirkan. Mendorong mereka untuk melakukan sesuatu yang belum siap mereka lakukan, atau mereka merasa tidak aman untuk melakukannya, hanya akan membuat mereka menghindari kamu dan tidak lagi bercerita pada kamu,” ujarnya.

Intinya, “saat teman kita berada dalam hubungan abusive atau sudah berhasil keluar dari hubungan abusive tersebut, bantu dan temani dia untuk mengurangi dampak dari hubungan tersebut, baik dampak fisik maupun psikologis,” anjurnya.

Dan jika kamu sebagai teman merasa tidak berdaya, karena misalnya dampak yang dirasakan teman terlalu besar, maka kamu dapat memberikan bantuan lain, yakni dengan menyarankannya bertemu profesional seperti psikolog atau dokter. Terutama bila dampak dari hubungan tersebut sudah mengganggu aktivitas sehari-harinya dan ia mulai menyakiti diri sendiri.

Bagaimana jika dia enggan melakukannya?

“Bila ia menolak untuk pergi ke profesional, sebisa mungkin janganlah memaksanya namun tetap arahkan ia, dengan menekankan kepentingan psikologisnya. Lebih baik bila ia pergi ke profesional karena kesadaran penuh, sehingga penanganan yang diberikan dapat berpengaruh secara maksimal. Hal lain yang dapat kamu lakukan adalah tetaplah bantu dan tetap temani dia dalam menghadapi situasi tersebut, sehingga ia menyadari bahwa kamu selalu ada untuknya dan lebih mendengarkan kamu,” sarannya.

Selanjutnya: Ini hal yang bisa kamu lakukan agar rasa percaya diri tidak rusak setelah bercerai.

podcast button