Bagaimana Mengajarkan Anak untuk Menghargai Perbedaan?

anak menghargai perbedaan
Foto: www.rawpixel.com

Bagaimana mengajarkan anak untuk menghargai perbedaan? Pertama, mungkin memperkenalkan lagu Imagine dari Beatles? Selain itu, kamu wajib membaca artikel ini untuk mendapatkan inspirasi bagaimana memperkenalkan si kecil dengan rupa-rupa manusia dan mengajarkan anak untuk menghargai perbedaan.

Mengapa Kita Perlu Membicarakan tentang Perbedaan kepada Anak?

Foto: www.gettyimages.com

Sama seperti sayur dan makanan sehat, Firesta Farizal, M.Psi., Psikolog, seorang psikolog klinis dan Direktur Klinik Psikologi dan Pusat Terapi Mentari Anakku menjelaskan bahwa konsep perbedaan sebaiknya dikenalkan sejak dini. “Bisa dimulai sejak anak sudah bisa diajak berkomunikasi,” jelasnya kepada LIMONE.

Untuk memperkenalkan dan mengajarkan anak untuk menghargai perbedaan, Firesta mengungkapkan bahwa pola asuh yang bersifat autoritatif perlu dilakukan orangtua.

“Pola asuh di mana orangtua biasanya lebih bersikap demokratis, menghargai pilihan, dan membuat anak menjadi lebih bertanggung jawab kepada pilihannya. Orangtua dengan pola pengasuhan ini memberikan kasih sayang dan perhatian yang dibutuhkan anak, juga dibarengi dengan menerapkan aturan dan batasan yang jelas untuk anak,” paparnya.

Hal pengenalan tentang konsep perbedaan ini bisa mulai dilakukan dengan memberikan anak pilihan yang berbeda.

“Anak-anak yang sudah terbiasa diberikan kesempatan untuk memilih, untuk mengungkapkan pendapatnya, akan lebih mudah paham bahwa setiap orang bisa saja punya pilihan dan pendapat yang berbeda-beda. Sehingga, pelan-pelan mereka juga akan belajar bahwa berbeda itu tidak apa-apa. Setiap orang boleh punya pilihan dan kesukaannya masing-masing dan kita butuh untuk menghormatinya,” imbuhnya.

Contohnya, saat mengatakan, “Oh, kamu sukanya mobil-mobilan yang biru ya, Nak? Kalau Mama sukanya yang merah”—orangtua sebenarnya mengajarkan konsep dasar perbedaaan. Begitu juga ketika orangtua mengatakan, “Yuk, kita pilih baju. Kakak pengin pakai baju yang mana? Kalau Adik sukanya yang mana?” Atau, “Wah, ini makanan kesukaan Mama nih, Nak. Kalau kamu, makanan kesukaannya apa?”

Dan dengan memberikan kesempatan dan pilihan berbeda ini, maka akan membuat anak bisa memahami dan menerima perbedaan.

“Anak yang sejak kecil sudah terbiasa diajak memahami bahwa setiap orang bisa punya pilihan yang berbeda-beda (pilihan baju, pilihan kegiatan, pilihan musik kesukaan, dll), akan lebih mudah untuk memahami bahwa pilihan agama dan keyakinan tiap orang juga bisa berbeda-beda. Dan kita butuh menghargai dan menghormati perbedaan tersebut,” ujarnya.

Bagaimana Membicarakan Konsep Perbedaan kepada Anak?

anak menghargai perbedaan
Foto: www.unsplash.com

Firesta menjelaskan di usia 5 tahun ke atas, orangtua sudah mulai bisa membicarakan mengenai konsep-konsep perbedaan yang lebih dalam. Misalnya, kenapa si A rambutnya keriting, sementara si kecil berambut lurus. Atau kenapa teman di sekolah beli pohon Natal, sementara dia tidak.

“Intinya, yang butuh kita jelaskan adalah kalau terkait dengan ciri fisik, maka kita butuh menjelaskan bahwa setiap orang diciptakan Tuhan unik, berbeda satu sama lain. Tidak ada yang sama,” jelasnya.

Dan jika si kecil bertanya mengapa manusia diciptakan berbeda-beda? “Kita bisa menjawab dengan: ‘supaya bisa saling menghargai, melengkapi, dan mengagumi satu sama lain. Coba bayangin kalau semua orang rambutnya lurus, nggak seru ‘kan, ya? Kamu jadi nggak tahu kalau ternyata rambut keriting itu juga cantik banget,'” Firesta memberikan contoh.

Sementara jika terkait dengan perbedaan agama dan nilai-nilai yang dianut, orangtua bisa menjelaskan bahwa setiap orang dan keluarga memiliki pilihan masing-masing. Dan katakan pada anak bahwa meyakini hal yang berbeda itu merupakan sesuatu hal diperbolehkan.

Lalu, jika ingin membicarkan tentang perbedaan kemampuan, maka “Kita butuh menjelaskan bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda. Dan ini justru untuk bisa saling melengkapi,” terangnya.

Untuk ini, kamu mungkin bisa mengajak anak untuk berimajinasi dan membayangkan jika semua orang di dunia ini memiliki kemampuan yang sama.

Misalnya dengan mengatakan, “Kamu kebayang nggak kalau semua orang jago matematika aja. Kita semua cuma akan belajar matematika, apa serunya? itulah sebabnya, memang ada orang-orang yang jago matematika, jago bahasa, jago science, dll. Bayangin juga kalau semua orang cuma suka main gitar, nggak ada yang suka main keyboard, drum, biola, dll? Nggak seru, ‘kan? Nggak bisa deh, jadi band atau nggak bisa deh menciptakan harmoni yang asyik.”

Bagaimana Membicarakan Perbedaan tanpa Membuat Anak Bingung? Apa Saja yang Perlu Dipersiapkan?

Foto: www.gettyimages.com

Untuk menghindari kebingungan, coba bicarakan konsep perbedaan dari hal-hal yang sederhana dan terjadi sehari-hari.

Adakah hal-hal khusus yang perlu dipersiapkan dan diperhatikan orangtua sebelum dan selama membahas tentang perbedaan?

“Keterbukaan dalam berpikir dan memandang sesuatu harus dimiliki orangtua. Kalau kita berharap anak kita dapat menghargai perbedaan, tentu harus dimulai dari kita,” tegas Firesta.

“Tunjukkan bahwa kita terbuka dengan berbagai pendapatnya. Dan kita harus memberikan ia kesempatan untuk memilih, tentu tetap sambil kita berikan arahan agar ia berpegang pada hal-hal yang prinsipal,” imbuhnya.

Sebagai orangtua, sebaiknya juga berperan aktif dalam menunjukkan bahwa kamu juga pribadi yang menghargai perbedaan yang ada di sekitarmu. “Contohnya adalah dengan kita sebagai orangtua bergaul dan dan berusaha menjalin interaksi positif dengan berbagai orang dengan berbagai karakteristik (agama, suku, tingkat sosial ekonomi, pekerjaan, dll). Kita tunjukkan bahwa kita bisa menebar kebaikan ke siapa pun, tanpa melihat perbedaannya,” jelasnya.

Bagaimana Jika Lingkungan di Sekitar Anak Cenderung Homogen?

anak menghargai perbedaan
Foto: www.istockphoto.com

Berhubung Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika, maka kemungkinan besar lingkungan di sekitar adalah heterogen. Pasalnya, konsep perbedaan tidak hanya mencakup tentang agama dan ciri fisik, tapi juga tentang suku, tingkat ekonomi, dan masih banyak lagi.

Namun, “Kalaupun misalnya anak sekolah di sekolah homogen dan orangtua merasa anak butuh terekspos pada lingkungan yang lebih heterogen, maka orangtua bisa memberikan anak kesempatan untuk beraktivitas di situasi-situasi yang lebih beragam. Misalnya dengan ikut kursus yang diminati, diajak ikut pertemuan dengan teman-teman orangtua yang heterogen, dll. Tapi sebetulnya, menurut saya tidak mungkin lingkungan anak betul-betul homogen. Asal kita bisa lebih peka untuk melihat dan menerima perbedaan yang ada di sekitar kita,” sarannya.

Selanjutnya: Jika tadi dijelaskan tentang cara mengajarkan anak untuk menghargai perbedaan, psikolog ini memberikan tips tentang bagaimana mendidik anak menjadi pribadi yang baik sejak dini.

podcast button