Apa Saja Sifat Buruk Laki-laki Yang Harus Diwaspadai? Ini Jawaban Psikolog

sifat buruk laki-laki
Foto: www.freepik.com

Pernahkah kamu merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama? Mungkin kebanyakan dari kita pernah mengalaminya. Bahkan tak jarang beberapa orang menginginkan seseorang tersebut untuk menjadi pasangannya. Namun sebelum itu, kamu juga harus mengetahui karakternya, baik dan sifat buruk laki-laki. Sebab nantinya hal tersebut bisa berpengaruh ke dalam hubungan yang akan dijalani.

Untuk mengetahui sifat buruk laki-laki yang harus diwaspadai, LIMONE telah menghubungi Cindi Meidiana Gustia, M.Psi., Psikolog, seorang Psikolog Klinis dari Workmi by Ibunda.id, sekaligus Co-founder dan Managing Director dari Sejiwa Psikologi.

Benarkah Kesan Pertama yang Ditunjukkan Seseorang Sangat Penting?

Foto: www.canva.com

Biasanya, pandangan pertama merupakan respons awal yang muncul dalam diri kita akan menjadi kesan saat pertama kali melihat atau mengenal seseorang.

“Istilah pandangan pertama ini lebih sering dipakai dalam kosa kata yang berhubungan dengan cinta, seperti misalnya love at first sight,” ungkapnya.

“Secara naluriah, kita sebagai manusia akan mengikuti insting untuk melindungi diri. Oleh karena itu, secara otomatis kita akan langsung ‘menilai’ kehadiran orang lain berdasarkan judgement subjektif untuk mendasari tindakan kita selanjutnya,” tuturnya.

“Hal inilah yang menjadi dasar dari kesan pertama terhadap seseorang yang pertama kali kita lihat atau kenal,” paparnya.

Jadi, kesan pertama yang ditunjukkan seseorang kepada kita memang penting. “Karena akan menentukan respons kita terhadap orang tersebut. Apakah nantinya menerima, menolak, ramah, bermusuhan, atau lainnya. Dalam psikologi, hal ini dinamakan halo effect,” lanjutnya.

Halo effect merupakan suatu istilah yang dikemukakan oleh Edward L. Thorndike, salah satu psikolog dari Amerika.

Meski begitu, kesan pertama ini tidak menjadi satu-satunya hal yang penting dalam penilaian kita terhadap orang lain secara keseluruhan. Terlebih lagi ketika kita lebih banyak melakukan interaksi, maka halo effect terhadap orang lain akan termodifikasi dengan judgement-judgemet baru yang muncul,” jelas Cindi.

Mengapa Kita Bisa Menyukai Seseorang Saat Pertama Kali Bertemu?

Foto: www.freepik.com

Psikolog Klinis yang satu ini menuturkan bahwa terkait dengan ketertarikan pada lawan jenis saat pertama kali bertemu, hal ini dapat dijelaskan secara biologis.

“Serta didasarkan pada faktor secara fisik yang ditandai dengan meningkatnya hormon tertentu dan gejala fisik lainnya. Mulai dari jantung berdebar, napas yang mungkin kurang teratur, berkeringat, dan lainnya,” terangnya.

“Zsok, Haucke, De Wit, dan Barelds, sekelompok peneliti melalui risetnya menemukan bahwa pengalaman cinta pada pandangan pertama tidak ditandai dengan hasrat (passion), keintiman (intimacy), atau komitmen (commitment) yang tinggi, yang merupakan komponen dari cinta,” lanjutnya.

Baca Juga :  Apa Yang Harus Dilakukan Jika Chat Tidak Dibalas Pasangan? Ini Saran Psikolog

Akan tetapi kemunculan ini dipengaruhi oleh ketertarikan fisik semata. “Jadi ketertarikan saat pertama kali bertemu dengan lawan jenis, akan wajar terjadi pada siapa pun,” katanya.

Apa Saja Hal yang Perlu Diperhatikan Ketika Memilih Pasangan?

sifat buruk laki-laki
Foto: www.canva.com

Ketika memutuskan untuk memilih seseorang yang akan dijadikan pasangan, hal ini perlu diperhatikan lebih lanjut.

“Banyak sekali faktor yang dapat memengaruhi keputusan kita dalam memilih pasangan. Dan ini tidak dapat disamakan antara satu orang dengan yang lainnya. Bisa jadi tergantung dari tujuan atau kebutuhan seseorang untuk memilih pasangan,” tuturnya.

“Misalnya ketika seseorang memilih pasangan sebagai pacar, pastinya memiliki pertimbangan yang tidak sama dengan seseorang yang memilih seseorang sebagai pasangan hidup,” lanjutnya.

Selain itu, Cindi memaparkan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi seseorang dalam memilih pasangan, yakni:

  • Ketertarikan fisik
  • Kedekatan atau intimacy
  • Komitmen
  • Ekspektasi atau harapan
  • Pengalaman
  • Dukungan dari orang sekitar

“Pada intinya, dalam mempertimbangkan keputusan untuk memilih pasangan adalah kita bisa mengenali dan menyadari faktor apa saja yang penting untuk diri sendiri, yang sesuai dengan kebutuhan dan value yang kita ambil dalam hidup,” paparnya.

Perlukah Mempertimbangkan Sifat Asli Pasangan?

Foto: www.unsplash.com

Menurut Cindi, sifat dan kepribadian dari pasangan juga menjadi salah satu faktor yang cenderung penting untuk dipertimbangkan.

“Karena dalam membina sebuah hubungan dengan lawan jenis, kepribadian pasangan menjadi dasar mereka untuk berperilaku. Hal tersebut dapat memberikan pengaruh terhadap judgement dan respons kita dalam berperilaku, juga dalam membina hubungan tersebut,” ungkapnya.

Jadi secara tidak langsung, “segala komponen dalam diri kita dan pasangan yang termasuk sifat serta kepribadian, pastinya memiliki dampak terhadap hubungan,” imbuhnya.

Apa Saja Contoh Sifat Buruk Laki-laki yang Harus Dipertimbangkan?

sifat buruk laki-laki
Foto: www.freepik.com

Psikolog klinis ini berpendapat bahwa tidak bisa menitikberatkan pada sifat-sifat spesifik dan tidak bisa memberikan judgement apakah sifat-sifat tersebut baik atau buruk.

“Tetapi sebetulnya dalam membina hubungan yang paling penting untuk diperhatikan dan dipertimbangkan dari komponen yang ada di pasangan adalah bagaimana pengelolaan emosinya. Terutama saat sedang merasakan emosi negatif seperti marah atau sedih. Serta komitmennya terhadap hubungan,” jelas Cindi.

Ketiga hal tersebut sebaiknya bisa kita kenali dari diri pasangan. “Kemudian kita pertimbangkan apakah di antaranya ada yang dapat berisiko menimbulkan adanya masalah dalam hubungan,” lanjutnya.

“Jadi, sifat buruk laki-laki atau baiknya, serta kepribadian pasangan itu dinilai secara subjektif dan dipertimbangkan menurut kebutuhan diri dan hubungan yang kita miliki,” ungkapnya.

Bagaimana Jika Sifat Buruk Laki-laki Tersebut Baru Muncul Setelah Menjalin Hubungan?

sifat buruk laki-laki
Foto: www.freepik.com

Cindi berkata bahwa bisa saja sifat yang mungkin merugikan atau berdampak negatif terhadap diri atau hubungan ini baru bisa dikenali setelah lama menjalin hubungan dengan pasangan.

Baca Juga :  Apa Yang Harus Dilakukan Ketika Pasangan Meminta Waktu Sendiri?

“Tetapi bisa jadi juga sifat atau sikap dari pasangan yang berdampak negatif tersebut memang baru terbentuk setelah beberapa waktu, bukan karena ada dari awal,” ujarnya.

Either way, yang terpenting bukanlah bagaimana kita ingin ‘mengubah’ sifat pasangan, karena itu adalah hal yang berada di luar kendali. Tetapi yang perlu dilakukan adalah menentukan bagaimana respon dan tindakan kita terhadap hal tersebut,” tambahnya.

Membantu mengingatkan

“Kita memiliki pilihan untuk bertindak sebaik yang kita bisa, dengan membantu untuk mengingatkan, memberi contoh, mengomunikasikan, memberikan dampak secara tidak langsung terhadap perubahan sifat pasangan,” sarannya.

Namun, “kita tidak punya kendali untuk mengubah secara langsung. Karena hal tersebut berada dalam kendali diri pasangan,” ingatnya.

Menerima sifat buruk laki-laki

Selanjutnya, kita juga bisa menerima dan menjalani hubungan sebaik yang kita bisa.

Memilih untuk meninggalkan

Kemudian yang terakhir, “kita bisa memilih untuk meninggalkan. Setiap pilihan dan keputusan memiliki konsekuensi masing-masing yang harus kita pertimbangkan dan kita terima jika memang ingin mengambil jalan tersebut,” katanya.

Kesimpulan

Foto: www.freepik.com

Sebetulnya, sifat buruk laki-laki tidak hanya secara spesifik ditujukan pada kaum Adam. “Setiap individu pasti memiliki keterbatasan termasuk sifat yang mungkin bisa merugikan orang lain, khususnya pasangan,” ungkap Cindi.

“Jadi pesan saya untuk semua orang (tidak terkecuali laki-laki maupun perempuan), ketika menjalin hubungan secara romantis, menjadi sempurna itu terlalu mustahil. Yang penting adalah kita berusaha melakukan yang terbaik yang kita bisa untuk menjalani hubungan dengan pasangan kita setiap saat,” ujarnya.

“Bayangkan saja jika setiap orang berusaha melakukan yang terbaik untuk satu sama lain, nantinya hubungan akan lebih terjaga keberlangsungannya,” tutup Psikolog Klinis yang satu ini.