Gombalan Receh—Perlukah Dipercaya? Ini Kata Psikolog

gombal receh
Foto: www.freepik.com

Untuk mencairkan suasana, tak jarang seseorang melontarkan gombal receh. Kalimat mesra yang dibumbui dengan humor ini juga terkadang menjadi hal yang menyenangkan. Namun, perlukah kita memercayai rayuan tersebut?

Simak penjelasan dari Galuh Kikiany S., M.Psi., Psikolog Psikolog Klinis Ibunda.id terkait dengan penyebab gombalan, yang bisa membuat seseorang menjadi luluh dan cara menanggapinya dengan baik dan tepat.  

Apa Itu Gombal Receh?

gombal receh
Foto: www.freepik.com

Menurut Galuh, “gombal receh sama halnya dengan rayuan yang menggunakan kata-kata atau kalimat yang manis dan mesra. Akan tetapi pada gombalan receh, biasanya rayuan mesra tersebut ditambahkan dengan sense dan humor, sehingga terdengar lucu dan menarik hati,” terangnya.

Ketika seseorang memberikan gombalan kepada pasangan atau orang lain, biasanya memiliki tujuan masing-masing.

“Seperti mereka berusaha untuk mencairkan suasana agar terasa lebih akrab. Selain itu juga bisa bertujuan untuk menghibur dan membuat pasangan atau orang lain merasa nyaman, serta berusaha untuk menggaet atau menarik perhatian dari orang lain,” ungkap Psikolog Klinis yang satu ini.

Tak hanya itu, “dengan memberikan gombal receh mereka juga dapat membangun hubungan dan kelekatan yang intim, yang artinya saling terbuka dan saling percaya,” tambahnya.

Apakah Gombalan Ini Bisa Membuat Seseorang Menjadi Luluh?

Foto: www.canva.com

Sebenarnya, tidak semua orang bisa menjadi luluh ketika mendengar atau mendapatkan gombalan, tetapi tidak jarang juga beberapa orang menjadi baper.

“Hal tersebut bisa disebabkan oleh gaya komunikasi. Jika penyampaian gombalan receh cenderung membosankan, maka mereka akan dianggap tidak lucu, sehingga jarang untuk bisa meluluhkan hati atau membuatnya terkesan,” paparnya.

Begitu pun sebaliknya, “jika gombalan receh disampaikan dengan cara yang menyenangkan dan memiliki tingkat humor, maka bisa menarik perhatian lawan bicara,” imbuhnya.

Salah satu manfaat dari gombal receh adalah “bisa menjadi cara untuk membuat hubungan kembali harmonis setelah mengalami konflik. Seperti misal yang tadinya sedang emosi atau marah, maka dengan adanya gombal receh dapat mencairkan emosinya menjadi cooling down. Selain itu, juga mampu untuk meningkatkan kualitas hubungan,” tutur Galuh.

Bagaimana Cara Menyikapi Gombalan yang Disampaikan oleh Pasangan?

gombal receh
Foto: www.freepik.com

Menurut Psikolog Klinis yang satu ini, ketika kita mendapatkan gombalan dari orang lain, maka yang pertama perlu dilakukan adalah memahami gombalan tersebut.

“Apakah rayuan tersebut merupakan gombalan yang positif, yang artinya tidak melecehkan? Jika gombalan receh memberikan kesan positif, maka kita juga dapat memberikan respon yang positif yakni perasaan yang senang,” ungkapnya.

Namun, perlukah kita memercayai gombalan tersebut?

“Memercayai atau tidak sebenarnya tergantung pada individu masing-masing. Namun pertama-tama, kita harus tahu terlebih dahulu apa makna dari gombalan yang disampaikan. Apakah rayuan yang diberikan oleh mereka sesuai dengan realita kita (kondisi lawan bicara) atau tidak,” katanya.

Karena di sisi lain, “gombalan itu juga bisa berbentuk pujian, tetapi pujian yang berlebihan dan terkadang berisi kebohongan. Maka untuk itu, kita bisa meresponsnya dengan ‘nggak ah, aku tidak seperti itu, kamu hanya menyenangkan hatiku saja’,” sarannya.

Jadi yang paling penting adalah kita perlu memerhatikan isi atau makna dari gombalan tersebut. Serta perhatikan juga siapa yang memberikan rayuan tersebut, sehingga nantinya kita bisa meresponnya dengan baik.

Bagaimana Jika Kita Tidak Merasa Senang dengan Rayuan yang Disampaikan?

Foto: www.canva.com

Saat menghadapi seseorang yang suka gombal dan tidak senang dengan gombalannya, maka sebaiknya kita tidak perlu untuk terlalu meresponsnya. “Cukup untuk mendengarkan saja apa yang ia sampaikan, dan berikan apresiasi seperti ‘terima kasih, ya dan tidak perlu untuk diambil hati,” anjurnya.

Selain itu, juga bisa “menyampaikan bahwa kita merasa tidak senang untuk mendapatkan gombalan tersebut. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar tidak adanya kesalahpahaman yang akhirnya memengaruhi bagaimana kualitas hubungan,” tambahnya.

Begitu pun ketika kita juga menerima gombalan yang membuat canggung. Galuh menyarankan untuk merespons rayuan tersebut dengan cukup mendengarkan dan berikan apresiasi atas usahanya untuk membuat gombalan.

Mengapa Kebanyakan Gombalan akan Berefek Pada Kehidupan Remaja?

Foto: www.freepik.com

Ketika remaja mulai mengenal perasaan jatuh cinta pada lawan jenisnya, mungkin mereka tidak berpikir panjang atau memaknai dengan baik dari gombal receh tersebut. “Sehingga mudah terlena dengan rayuan-rayuan, dan kemudian mereka juga cenderung untuk menuruti permintaan lawan bicaranya, yang bisa jadi merugikan diri sendiri,” papar Galuh.

Namun hal tersebut bisa terjadi tergantung dengan kecerdasan intelektual, emosional, dan sosial para remaja. “Jika remaja memiliki kecerdasan tersebut, maka mereka akan lebih mampu untuk menanggapi dan merespons gombalan dengan baik dan positif,” lanjutnya.

Akan tetapi semakin bertambahnya usia, biasanya sudut pandang kita terhadap sesuatu bisa berubah, termasuk dalam memandang gombalan. Hal tersebut biasanya dapat disebabkan karena pengalaman yang telah dialami, kemampuan berpikir nalar, dan kematangan emosi.

“Jika di usia remaja gombal receh adalah salah satu cara untuk menghidupkan perasaan cinta, maka di usia dewasa yang begitu kompleks, kalimat atau kata-kata gombal tidak akan semudah itu untuk menyelesaikan masalah,” tuturnya.

Kesimpulan

gombal receh
Foto: www.rawpixel.com

Saat mendapatkan gombalan, “sangat penting untuk memahami makna dari rayuan tersebut. Hal itu bertujuan agar kita bisa lebih bijaksana dan tidak cenderung implusif dalam meresponsnya, seperti memahami dan mencari tahu setiap maksud dari gombalan yang dilontarkan,” ujar Galuh.

Sekalipun mereka melontarkan gombalan yang meluluhkan hati, “tetapi kita harus bisa mengetahui kemana arah ucapan atau gombalan tersebut. Dengan tujuan, kita tidak merasa menyesal ketika hubungan yang dijalani berakhir,” ucapnya.

Dalam sebuah hubungan, “boleh saja kita boleh memberikan gombalan sebagai bumbu pemanis dan meningkatkan kualitas hubungan. Namun, gombalan tersebut jangan sampai berlebihan, yang artinya tidak berdasarkan realita dan merugikan lawan bicara atau pasangan,” tuturnya.