Apa Itu Tes Kepribadian, dan Mengapa Kita Perlu Melakukannya?

tes kepribadian
Foto: www.gettyimages.com

Ada banyak tes di dunia ini (tes masuk sekolah, rapid test, swab test), tapi satu yang membuatmu agak panik adalah tes kepribadian. Uh-uh, tes ini sering diadakan ketika kamu melamar sebuah pekerjaan, misalnya. Seberapa penting sebenarnya melakukan tes kepribadian—dan apa fungsinya bagi kehidupan yang super pelik dan penuh dilema ini?

Untuk menjawab segala kemisteriusan di balik tes kepribadian, LIMONE menghubungi Arlita, M.Psi., Psikolog, seorang psikolog pendidikan di Hibo.id, sebuah biro konsultan psikologi, dan konselor sekolah TK & SD di Bekasi.

Apa Definisi Kepribadian dan Bagaimana Mencari Tahunya?

tes kepribadian
Foto: www.unsplash.com

Sebelum mengulik tentang tes kepribadian, mari menyamakan persepsi tentang definisi ‘kepribadian’. Menurut Arlita, kepribadian didefinisikan sebagai “organisasi dinamis dari sistem psikofisik individu yang menentukan karakteristik perilaku dan pemikirannya.”

Kepribadian mencakup sifat, karakter, dan temperamen. “Aspek-aspek psikologis seperti karakter, temperamen, sikap, motivasi, dan lain-lain membentuk pola kepribadian individu yang unik dan relatif menetap, sehingga menunjukan pola pemikiran, respon emosi, dan perilaku tertentu,” paparnya.

Dan bagaimana cara mengetahui seperti apa kepribadian kita?

“Pernah mendengar istilah ‘nobody knows you better than you do‘? Ternyata anggapan ini tidak sepenuhnya benar,” kata Arlita.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa ada banyak teori tentang kepribadian, “namun hampir semuanya menyetujui bahwa secara umum, terdapat identitas diri yang kita sadari. Termasuk penilaian kita terhadap suatu hal, perasaan yang kita rasakan, atau sifat yang kita anggap menonjol dari diri kita. Kita dapat lebih memahami kepribadian yang dapat disadari dengan melakukan evaluasi diri secara objektif,” tekannya.

Selain yang kita sadari, terdapat pula bagian dari identitas diri yang keberadaannya kurang kita sadari atau di dalam alam bawah sadar kita. Hal ini termasuk karakter, belief, dan value, maupun ingatan kita terhadap suatu hal di masa lampau.

“Aspek-aspek ini dapat muncul kesadaran kita dalam konteks dan kecenderungan perilaku tertentu. Misalnya, jika kita memiliki value yang tinggi terhadap keluarga, dalam pengambilan keputusan kita akan cenderung memprioritaskan anggota keluarga dibandingkan hal lainnya,” ujarnya.

Bagaimana Memastikan Hasil Tersebut Valid?

tes kepribadian
Foto: www.freepik.com

Menurutnya ada banyak jenis inventory psychological test yang dapat digunakan untuk mengetahui gambaran aspek kepribadian kita dalam tingkatan ini. “Beberapa secara popular juga disebarkan dan digunakan secara daring, namun jika ingin mencoba perhatikan validitas situs dan tesnya, ya!” tegasnya.

Selain itu, terdapat bagian dari identitas diri yang tidak disadari namun memiliki pengaruh yang besar terhadap kecenderungan kita dalam berpikir dan berperilaku.

“Terkadang masalah hidup yang ada sulit dihadapi karena kurangnya pemahaman kita mengenai aspek dalam bagian ini. Hal ini dapat mencakup aspek kepribadian yang bersifat genetik dan biologis seperti temperamen dan insting dasar manusia, maupun  hal yang muncul karena trauma pada usia tertentu,” bebernya.

Bagaimana mengetahui aspek kepribadian yang sepertinya terkesan misterius ini?

“Untuk dapat mengetahui aspek kepribadian pada tingkatan ini, biasanya diperlukan tes proyeksi seperti tes menggambar pohon, orang, atau Tes Rorschach. Akan tetapi, pengetesannya memerlukan teknik tertentu sehingga hanya bisa dilakukan oleh orang dengan latar belakang psikologi, dan hanya bisa dianalisis dan diinterpretasi oleh psikolog. Jadi, jangan percaya dengan tips & trik yang banyak tersebar di internet,” tegasnya.

Apakah Tes Kepribadian Sama dengan Psikotes?

tes kepribadian
Foto: www.freepik.com

Keith Coaley, seorang psikolog klinis terkenal, yang mendefinisikan psikotes sebagai usaha pengumpulan dan analisa data objektif yang dilakukan untuk mengevaluasi perilaku, kemampuan, dan karakteristik lainnya dari individu. “Hasil dari psikotes  dapat digunakan untuk menggambarkan, memprediksi, menjelaskan, mendiagnosa, hingga membuat keputusan mengenai individu tersebut,” papar Arlita.

Dan apa kaitan psikotes dengan kepribadian? Kepribadian merupakan salah satu aspek yang dapat diukur melalui psikotes.

“Dengan kata lain, tes kepribadian dapat menjadi bagian dalam suatu rangkaian psikotes yang dilakukan. Aspek lainnya yang biasanya juga diukur adalah potensi kemampuan individu (aptitude), kecerdasan, minat, hingga aspek lain yang lebih spesifik seperti kepuasan kerja, kebahagiaan, tingkat kecemasan atau persepsi individu akan suatu hal,” ujarnya.

“Aspek apa saja yang akan diukur dalam suatu rangkaian psikotes biasanya disesuaikan dengan tujuan yang dimiliki individu, misalnya pemilihan jurusan, rekrutmen kerja, hingga pemecahan permasalahan personal,” lanjutnya.

Mengapa Kita Perlu Melakukan Tes Kepribadian?

tes kepribadian
Foto: www.freepik.com

Menurut Arlita, dalam menentukan rencana hidup, mengambil keputusan penting, dan menyelesaikan masalah yang kita miliki, kita membutuhkan strategi. “Untuk dapat menentukan strategi hidup yang tepat, hal yang paling penting yang harus lakukan adalah memahami diri kita sendiri,” tekannya.

Contohnya, dalam menentukan jurusan kuliah, kita dapat dengan mudah mencari informasi mengenai prospek jurusan dan bagaimana gambaran universitas di dalam internet.

“Akan tetapi, kita perlu memahami apa yang menjadi passion kita, apa value diri kita, serta apa tujuan hidup kita untuk dapat memilih jurusan yang tepat dan berguna bagi diri kita nantinya. Dengan lebih mengenal diri sendiri, kita dapat merumuskan rencana hidup dengan lebih detil dan sesuai, memprediksi potensi masalah hidup yang akan muncul, sehingga pada akhirnya akan membantu kita menemukan strategi yang sesuai,” tegasnya.

Apa yang Perlu Kita Ketahui Sebelum Melakukan Tes Ini?

Foto: www.rawpixel.com

Ini beberapa hal yang perlu kamu ketahui sebelum melakukan tes kepribadian.

Lakukan dengan jujur.

Tes kepribadian hanya akan akurat ketika kita melakukan dengan sebenar-benarnya atau sejujur-jujurnya tanpa ada usaha untuk memanipulasi. “Kalau hal tersebut tidak dapat dilakukan, maka hasilnya tidak akan valid dan berdampak pada pengambilan keputusan yang salah. Terkadang kita merasa takut mendapatkan penilaian diri yang negatif dari hasil sehingga muncul kecenderungan untuk mengisi sesuai norma pada umumnya,” ujarnya.

Ketahui alasan melakukannya.

Sebelum mengikuti tes kepribadian, Arlita menyarankan untuk sebaiknya mengetahui alasan mengapa kita ingin melakukan hal tersebut atau apa hasil yang diharapkan.

Refleksikan hasilnya.

Setelah mendapatkan hasil dari tes kepribadian, refleksikan hasilnya. Bagaimana jika hasil yang dijelaskan atau dituliskan sesuai dengan diri kita? Jika hasilnya tidak sesuai kemungkinannya adalah:

  • Hasil tes tidak akurat karena kondisi fisik yang kurang fit atau adanya manipulasi saat pengerjaan.
  • Muncul insight baru mengenai aspek kepribadian yang tidak disadari sebelumnya. “Pada kasus tertentu, individu membutuhkan waktu untuk dapat menerima hal ini,” jelasnya.

Aplikasikan hasilnya.

“Setelah mendapatkan hasilnya, apa yang harus dilakukan? Jika kita sudah memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai diri sendiri, mulailah memahami situasi yang dihadapi serta orang lain yang ada di sekitar kita. Hal ini berguna untuk membantu kita mengetahui apa yang harus kita lakukan dalam menghadapi masalah atau berinteraksi ke depannya,” ujarnya

Apakah Kepribadian Kita Tidak Bisa Berubah?

Foto: www.unsplash.com

“Kepribadian merupakan hal yang relatif menetap, dan biasanya hanya bisa berubah saat ada kejadian hidup yang secara signifikan berdampak pada individu. Hal ini memunculkan kecenderungan berpikir atau bertingkah laku pada setiap individu,” jelasnya.

“Akan tetapi, perlu pula dipahami bahwa kecenderungan ini dapat memunculkan perilaku dan pemikiran yang berbeda pada konteks dan situasi yang berbeda,” ujarnya.

Berikut beberapa ilustrasi yang dapat menjadi contoh:

  • Kepribadian introver biasanya digambarkan sebagai seseorang dengan pekerjaan individual dan minim interaksi. “Namun kenyataannya banyak influencer atau selebritis yang memiliki kepribadian introvert, namun tetap dapat berinteraksi dengan baik saat melakukan pekerjaannya. Hal ini dikarenakan perilakunya juga dipengaruhi oleh tuntutan kerja, maupun keterampilannya dalam berkomunikasi,” jelasnya.
  • Apakah kamu menampilkan perilaku yang sama di rumah dan di kantor? “Banyak dari individu yang menjawab tidak. Misalnya, di rumah kita jarang melakukan pekerjaan rumah dan lebih memilih bermalas-malasan, namun di kantor kita sangat rajin dan cekatan. Hal ini dikarenakan situasi dan konteksnya berbeda,” tambahnya.
  • Seseorang memiliki masalah setiap harus melakukan pekerjaannya sebagai manajer. “Setelah mengikuti tes kepribadian, ia mengetahui bahwa ia memiliki kecemasan yang tinggi terutama dalam interaksi sosial. Apakah artinya ia harus menyerah karena dia akan selamanya menjadi pencemas? Tentu tidak. Sangat tidak mungkin kita membatasi diri untuk tidak bertemu dengan orang lain. Memahami kepribadian kita yang menjadi kelemahan diri bisa menjadi awal untuk mencari strategi yang tepat yang bisa digunakan,” etgasnya.

Apakah Tes Berdasarkan Optical Illussion Valid untuk Mengetahui Kepribadian? 

Foto: www.gettyimages.com

Artikel atau unggahan “gambar pertama yang kamu lihat dalam deskripsi ini bisa memperlihatkan kepribadianmu”—mudah menjadi viral di sosial media. Apakah tes optical illusion seperti ini valid atau hanya buat ‘iseng’?

“Terdapat beberapa jenis tes yang menggunakan stimulus visual di dalamnya, salah satunya adalah tes kemampuan kognitif dan tes proyeksi. Akan tetapi, tidak semua alat tes tersebut akurat,” terangnya.

Penyebabnya? ini antaranya:

  • Biasanya hanya menggambarkan satu dari sekian banyak aspek psikologis yang menjadi bagian dari diri kita, sehingga tidak akan bisa menggambarkan kepribadian atau karakter kita sepenuhnya. “Aspek yang mampu terlihat biasanya lebih berkaitan dengan aspek kemampuan berpikir seperti, apakah cenderung melihat hal detail atau hal umum; bagaimana kemampuan persepsi visualnya, dan sebagainya—dibandingkan dengan aspek kepribadian. Sehingga artikel di mana seseorang bisa mengetahui banyak sifat dan karakternya hanya dari satu jawaban gambar bisa dikatakan tidak akurat,” ujarnya.
  • Untuk tes proyeksi yang digunakan untuk melihat gambaran kepribadian di tingkatan paling dalam, analisanya akan berbeda pada setiap individu. Kenapa? Karena biasanya digabungkan dengan data dari hasil tes lain atau dari wawancara dengan individu tersebut. “Hal ini dikarenakan ilmu psikologi mempercayai bahwa tidak ada kepribadian yang sama persis, semua individu memiliki kepribadian yang unik. Tes tersebut biasanya jauh lebih kompleks jika dibandingkan dengan artikel popular yang beredar, dan hanya bisa dianalisa dan diinterpretasi oleh ahlinya,” tekannya.
  • Semua jenis tes psikologi dikatakan akurat saat aspek reliabilitas dan validitasnya sudah teruji dengan proses pengujian yang panjang dan kompleks. “Sedangkan kita tidak mengetahui pasti apakah proses ini dilakukan dalam pembuatan artikel popular tersebut,” tegasnya.

Tes kepribadian apa yang sudah pernah kamu lakukan? Oh, bagaimana hasilnya? Untuk memastikan kevalidannya, sepertinya lebih baik libatkan psikolog kali, ya.

Selanjutnya: Apakah kamu sedang membesarkan anak yang narsis? Ini cara mendeteksinya, kata seorang psikolog anak.