Bagaimana Menghadapi Anak yang Terlalu Suka Main Hape dan Gadget Lain?

main hape
Foto: www.gettyimages.com

Melihat betapa lengketnya si Kecil dengan handphone-nya, terkadang membuatmu penasaran apakah dia lebih sayang hape atau ibunya. Hah! Bagaimana sebenarnya menghadapi anak yang terlalu suka main hape dan segala gadget yang dimilikinya? Haruskah anak dimarahi atau dikurangi screen time-nya?

Marcelina Melisa, M.Psi, Psikolog, seorang psikolog dari Tiga Generasi di Brawijaya Clinic Kemang, dan konselor sekolah di North Jakarta Intercultural School, menjelaskan apa yang bisa kamu lakukan saat si Kecil terlalu suka main hape.

Mengapa Seorang Anak Bisa Suka Sekali Main Hape dan Gadget?

Main Hape
Foto: www.freepik.com

“Pada dasarnya gadget memiliki banyak daya tarik yang dapat dinikmati anak dalam satu perangkat,” jelas Lina.

Daya tarik yang dapat dinikmati anak melalui gadget secara sekaligus yaitu:

  • Tampilan penuh warna dan menyenangkan karena terdapat banyak gambar yang disukai oleh anak seusianya
  • Suara dan lagu yang menarik
  • Serta kemudahan untuk memilih dan menghentikan video/game ketika anak tidak menyukainya.

itulah mengapa tidak mengherankan mengapa aktivitas menonton video atau bermain game yang dilakukan dengan gadget dapat dilakoni anak (bahkan juga orang dewasa) secara terus-menerus, “apabila anak tidak memiliki batasan,” jelasnya.

Bagaimana dengan peran orang tua, apakah kebiasaan ini bisa juga merupakan ‘sumbangsih’ orang tua?

Menurut Lina hal tersebut bisa terjadi. Terutama jika:

  • Orang tua tidak memberi batasan dan aturan dalam menggunakan gadget
  • Orang tua menggunakan gadget dengan intensitas dan frekuensi tinggi sehingga anak melihatnya. “Orang tua adalah role model bagi anak,” ujarnya.
  • Orang tua yang bekerja tidak menerapkan aturan yang sama dengan pengasuh yang mengasuh anak di rumah sehari-hari. “Sehingga meskipun orang tua memiliki aturan, namun aturan tidak dijalankan secara konsisten,” katanya.
  • Tidak jarang orang tua yang menjadikan gadget sebagai sarana untuk membuat anak menjadi lebih tenang, terutama saat makan atau ketika orang tua kesulitan untuk menenangkan anak.

Mengapa Orang Tua Perlu Khawatir dengan Kebiasaan Anak Main Hape dan Gadget?

main hape
Foto: www.rawpixel.com

Menurut Lina ada beberapa alasan mengapa orang tua harus memperhatikan tentang screen time anak dan kebiasan anak yang terlalu suka main hape dan gadget. Di antaranya:

  • Menganggu perkembangan bahasa dan komunikasi anak, terutama bagi anak berusia dini.
  • Penggunaan gadget dengan durasi melebihi anjuran American Pediatric Association dapat beresiko menyebabkan berbagai gangguan perkembangan, seperti speech delayed, autism spectrum disorder, dan berbagai gangguan lainnya.
  • Menurunkan daya konsentrasi, anak menjadi susah fokus dan mudah terdistraksi.
  • Mengganggu aktivitas belajar di sekolah

Meski begitu, bukan berarti orang tua perlu secara ekstrim melarang anak bermain hape atau gadget. Yang perlu orang tua lakukan adalah menentukan durasi penggunaan gadget yang disesuaikan dengan usia dan kebutuhan.

Untuk anak yang selalu main hape dan gadget, orang tua bisa melakukan beberapa hal ini:

  • Menentukan durasi penggunaakn gadget yang disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak.
  • Memberikan aktivitas lain sebagai pengganti anak bermain gadget.
  • Membuat jadwal aktivitas keseharian anak, termasuk penggunaan gadget.
  • Jika anak memiliki gejala kecanduan, sebaiknya melakukan detoksifikasi.
  • Merancang aktivitas menyenangkan non-gadget yang dilakukan sekeluarga.
  • Menjadi role model bagi anak, dengan menggunakan gadget sesuai aturan, dan tidak menggunakan gadget ketika sedang bermain bersama anak.
  • Memastikan aturan diterapkan oleh seluruh anggota keluarga.

Kesalahan Apa yang Sebaiknya Dihindari Saat Meminta Anak untuk Tidak Selalu Main Gadget?

Foto: www.freepik.com

Kamu mungkin bertanya-tanya mengapa si Kecil tetap menempel erat dan tidak terpisahkan dengan gadget-nya, bahkan setelah diperingati berkali-kali. Bisakah itu terjadi karena kamu melakukan satu atau beberapa dari kesalahan ini?

  • Hanya melarang saja, namun tidak memberikan aktivitas alternatif.
  • Tidak menyampaikan atau melakukan supervisi berkala pada pengasuh anak di rumah (terutama jika orang tua bekerja).
  • Sering menggunakan gadget ketika bermain bersama anak, atau melanggar kesepakatan penggunaan gadget.
  • Kurang memberikan stimulus bermain yang menarik bagi anak sesuai dengan tahapan usianya.

Coba cek, dan belum ada kata terlambat untuk memperbaikinya.

Bagaimana Mengatur Screen Time yang Tepat untuk Anak?

Foto: www.freepik.com

Mengutip anjuran American Academy of Pediatrics, Lina menjelaskan ada beberapa hal tentang berikut penggunaan screen time pada anak yang setiap orang tua sebaiknya tahu.

  • Anak di bawah usia 18 bulan, sebaiknya tidak diperbolehkan menggunakan media digital selain untuk video-chatting.
  • Orang tua dari anak berusia 18 hingga 24 bulan yang ingin memperkenalkan media digital harus memilih program interaktif yang berkualitas tinggi, dan mendampingi saat menonton agar mereka memahami apa yang ditonton. 
  • Bagi anak yang berusia dua hingga lima tahun, penggunaan media digital dibatasi satu jam per hari untuk program berkualitas tinggi. “Orang tua harus mendampingi untuk membantu mereka memahami yang mereka lihat dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari,” Lina mengingatkan.
  • Sementara untuk anak berusia 6 tahun atau lebih, perlu ada batasan yang konsisten. Baik itu soal durasi konsumsi media, dan tipe media. Orang tua juga harus memastikan media tidak mengganggu kebutuhan tidur, aktivitas fisik, dan kebiasaan lain yang penting untuk kesehatan.

“Orang tua harus menentukan waktu bebas media, misal saat makan dan berada di dalam mobil. Selain itu perlu juga menentukan lokasi bebas media digital di rumah, misalnya di kamar tidur. “Komunikasi juga perlu terus dilakukan dengan anak, terutama soal internet dan keamanan, termasuk bagaimana kita memperlakukan orang lain dengan baik dan sopan,” jelasnya.

Selanjutnya: Perlukah Anak Memiliki Media Sosial? Psikolog Ini Menjelaskannya.