Apakah Perlu Mengendorkan Aturan Screen Time Anak saat Pandemik?

durasi screen time anak
Foto: www.gettyimages.com

Jika kamu adalah seorang ibu yang menghuni planet Bumi, kemungkinan besar isu yang kamu alami di rumah sama seperti jutaan ibu lain di penjuru dunia: screen time. Lalu datang pandemik coronavirus, home learning, social distancingscreen time menjadi sebuah bahan perdebatan yang semakin panas. Lebih intens daripada plot The World of the Married. Jadi, apakah perlu mengubah durasi screen time anak saat masa pandemik? Mari bertanya kepada ahlinya. Setuju? Pastikan screen time kamu masih panjang karena penjelasannya lumayan lebar dan dalam.

Berapa Lama Screen Time yang Disarankan untuk Anak per Hari?

durasi screen time anak
Foto: www.gettyimages.com

Untuk kita yang hidup di era digital, teknologi dan gawai adalah bagian esensial dari hidup. Termasuk bagi anak. Tidak jarang kita melihat seorang balita lebih dahulu tahu cara menggeser layar sentuh smartphone, daripada mengucapkan kata “mama”. Jadi, memang teknologi memang perlu diperkenalkan kepada anak secara tepat dari awal.

“Dari sisi perkembangan fisik, emosi, dan kognisi, anak-anak masih dalam tahap perkembangan yang membutuhkan banyak stimulasi dari lingkungan. Stimulasi yang nyata dan interaksi dua arah. Jadi, saat hendak memperkenalkan teknologi sebaiknya mempertimbangkan dan memperhatikan usia anak,” jelas Ristriarie Kusumaningrum, seorang psikolog anak dan remaja dari Sekolah Pantara, Biro Konsultasi Ruang Tumbuh dan Jakarta Eye Center, Kedoya, Jakarta, kepada LIMONE melalui email.

“Perhatikan juga kebutuhan dan urgensi memperkenalkan gawai kepada anak untuk apa saja. Bisa jadi anak memang belum membutuhkan, namun orangtua yang ingin segera memperkenalkan karena lingkungan sekitar juga melakukan hal yang sama atau ada kekhawatiran anak akan tertinggal kemajuan teknologi,” tambahnya.

Psikolog anak dan remaja yang akrab dipanggil Arie ini menyarankan bahwa pada perkembangan anak usia di bawah 2 tahun, “memang sebaiknya stimulasi yang mereka peroleh secara langsung, yakni dengan berinteraksi dengan orang maupun lingkungan sekitar. Jadi stimulasi dua arah, seperti kegiatan bermain dengan ayah ibu memang direkomendasikan.”

Lalu, saat anak berusia 3-5 tahun, gawai mulai diperkenalkan dan sebaiknya waktu untuk menggunakan gawai sekitar 1 jam per hari. Sementara, usia 6-12 tahun sekitar 2 jam per hari, 13-18 tahun sekitar 2-3 jam per hari. “Waktu ini dapat di bagi menjadi beberapa bagian. Misalnya dalam satu hari anak bisa menonton 15 menit, kemudian istirahat dan menonton 15 menit lagi atau bisa membuat kesepakatan dengan anak,” sarannya.

Adakah Istilah “Durasi Screen Time yang Ideal”?

durasi screen time anak
Foto: www.istockphoto.com

Ah, kamu pasti bingung soal ini. Apalagi berbagai teori dan pendapat tentang durasi screen time anak beredar di mana-mana, mulai dari di arisan keluarga sampai grup WhatsApp. Sering kali bukannya membantu, malah membuatmu mengalami dilema.

“Sebenarnya memberikan batasan waktu melihat tayangan maupun gawai juga memperhatikan dari tahapan usia perkembangan dan faktor kesehatan anak,” jelas Arie.

“Setiap usia anak memiliki beberapa hal yang sebaiknya diberikan secara nyata kepada mereka, bukan dalam bentuk gawai atau screen time. Waktu bermain bersama dengan orangtua, mengeksplorasi, dan berkreasi sekaligus berimajinasi lebih disarankan karena akan membantu perkembangan anak lebih optimal. Jadi memberikan batasan waktu yang ideal memang diperlukan karena anak-anak butuh hal lainnya untuk bisa lebih berkembang,” jelasnya.

Diberikan batasan—seperti mengimplikasikan bahwa screen time memiliki dampak negatif. Apakah alasannya?

“Alasan screen time perlu dibatasi mengacu kepada kebutuhan anak akan stimulasi yang tepat bagi perkembangannya dan kesehatan fisik anak, terutama indera penglihatan. Anak yang memiliki waktu sangat atau terlalu banyak untuk melihat gawai atau tayangan, akan berpengaruh juga terhadap kondisi fisik mereka. Mereka menjadi lebih sulit untuk diajak bergerak, fokusnya juga bisa berpengaruh, kesehatan mata juga membuat mereka bisa lebih rentan untuk menggunakan kacamata lebih dini maupun masalah kesehatan mata lainnya, seperti iritasi dan radiasi dari tampilan layar yang bercahaya,” bebernya.

Hei, bukan berarti anak harus dijauhkan dari gawai—seperti Donald Trump yang sejatinya mesti dijauhkan dari KFC dan Twitter.

“Menikmati tayangan maupun mengunakan gawai memang tetap dapat diberikan, namun tetap mengacu pada usia anak dan durasi penggunaannya. Orangtua juga sebaiknya tetap mendampingi selama anak menggunakan gawai atau menonton tayangan guna memastikan kesesuaian dengan usia anak,” ujarnya.

Apakah Screen Time Perlu Dikendorkan dalam Masa Pandemik Ini?

Foto: www.gettyimages.com

Masihkah kamu memiliki memori tentang durasi screen time anak pra-COVID-19? Uh-uh, bukan hanya kamu yang kesulitan mengingatnya.

Mengenai durasi penggunaan gawai maupun menonton selama masa pandemik ini, Arie menyarankan untuk tetap memberlakukan batasan yang memang sesuai dengan usia anak. “Memang kegiatan anak akan lebih banyak di rumah, baik untuk mengerjakan tugas sekolah maupun mengisi waktu luang dengan menggunakan gawai. Hal yang terpenting dilakukan oleh orangtua adalah membuat rencana kegiatan harian bersama anak dan menjelaskan situasi kepada anak tentang penggunaan gawai saat ini dengan bahasa yang sederhana dan situasinya sedang santai,” sarannya.

Jelaskan, lalu buat kesepakatan tentang kapan mengerjakan tugas dan berapa lama durasi screen time anak. “Misalnya mereka boleh menggunakan gawai atau laptop atau membuka situs tertentu yang sesuai dengan arahan tugas sekolah. Ketika mereka sudah selesai, maka mereka dapat diminta untuk beristirahat terlebih dahulu.”

Apa yang sebaiknya dilakukan jika anak sudah lelah dan tugas sekolah belum kunjung selesai? “Berikan jeda waktu, kemudian dapat dilanjutkan lagi. Demikian juga orangtua dapat mengambil jeda guna melakukan kegiatan lainnya,” terangnya.

Tidak hanya sampai pada menjelaskan, membuat kesepakatan tentang screen time dan waktu menyelesaikan tugas, tapi sebaiknya orangtua dan anak juga membuat rencana tentang kegiatan menarik apa saja yang bisa dilakukan setelah bermain gawai. Misalnya bermain dengan mainannya, melibatkan anak mengerjakan tugas rumah tangga sederhana. “Jadi anak juga tidak bingung mau melakukan apa setelah ia selesai bermain dengan gawainya. Dan tetap ada interaksi dan kegiatan yang menyenangkan buat anak. Sehingga anak pun tidak akan sulit berpisah dari gawai mereka ketika orangtua meminta mereka untuk istirahat,” Arie menganjurkan.

Normalkah Jika Orangtua Memberikan Kelonggaran Screen Time pada Anak?

Foto: www.rawpixel.com

Pandemik COVID-19 ini adalah periode yang luar biasa dan tidak normal. Jadi, sepertinya memang diperlukan strategi yang tidak biasa pula dalam hal pengaturan dan durasi screen time anak.

“Ada beberapa situasi yang memang membuat batasan waktu yang ditetapkan akan berubah,”ujar Arie, memahami dilema para orangtua. “Jadi, fleksibilitas memang tetap diperlukan, terutama ketika saat orangtua masih harus menyelesaikan tugas kantor dari rumah atau menyelesaikan urusan rumah tangga,” tegasnya.

Dalam hal ini, “ajak anak diskusi tentang pengaturan ini dan seberapa besar fleksibilitas yang dapat diberikan oleh orangtua, tergantung pada kebutuhan dan urgensinya,” tuturnya.

Agar kepalamu tidak pecah, tidak merasa bersalah dan tetap ada stabilitas di dalam rumah, kamu memang perlu menerapkan trik tertentu selama pandemik ini. Arie membocorkan beberapa strategi yang bisa kamu adopsi di rumah agar anak tetap aktif dan kreatif.

Jadilah contoh. Saat orangtua memberikan batasan kepada anak tentang penggunaan gawai, maka pastikan juga orangtua memberikan batasan pada diri sendiri untuk memegang gawai. “Anak akan melihat contoh dari orangtuanya,” Arie mengingatkan.

Ikut bermain aktif bersama anak. “Jika saatnya untuk main bersama anak, maka letakkan dulu gawai dan bermainlah bersama anak.”

Buat agenda harian kegiatan yang akan dilakukan bersama anak. “Libatkan anak dalam membuat dan mengetahui kegiatan yang hendak dilakukan bersama pada hari itu. Kegiatannya sebaiknya bervariasi dan melibatkan olahraga fisik, walaupun hanya sekitar 15-20 menit.”

Pastikan anak memiliki beberapa pilihan kegiatan saat orangtua meminta mereka untuk istirahat dari gawai. Misalnya bermain dengan mainan, membaca buku bersama, menggambar, membuat kreasi lainnya, dan lain-lain.

Libatkan anak dalam kegiatan sehari-hari di rumah. “Berikan tugas sederhana sesuai dengan usia mereka. Hal ini juga akan membantu kemandirian anak, misalnya terlibat dalam memasak, membersihkan rumah, membantu menyiapkan makanan, dan lain-lain,” sarannya.

Selanjutnya: Dan jika kamu anak sepertinya sulit berkonsentrasi dan menyelesaikan tugas saat home learning, coba lakukan tips dari psikolog ini.