Mengenali Ciri, Kelebihan dan Kekurangan Extrovert

extrovert
Foto: www.istockphoto.com

Sebuah pertanyaan: Apakah kamu lebih bersemangat ketika bersama orang lain atau justru ketika sedang menyendiri? Jika kamu merasa lebih berenergi saat berada di antara banyak orang, mungkin kamu termasuk ke dalam golongan extrovert. Namun, apakah arti dari extrovert ini? Bagaimana ciri-cirinya?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, LIMONE telah menghubungi Alexandra Gabriella A., M.Psi, Psi., C.Ht, C.ESt, Psikolog Klinis dan Hipnoterapis dari Smart Mind Center Consulting, Ciputra Medical Center, dan Nous Consulting yang akan membahas arti dan penyebab seseorang menjadi ekstrover.

Apa Itu Extrovert?

extrovert
Foto: www.rawpixel.com

“Istilah extrovert dan introvert itu pertama kali dicetuskan oleh psikolog Carl Gustav Jung. Jadi sebenarnya bukan berarti extrovert , introvert, atau ambivert itu menjelaskan tentang kepribadian seseorang, tetapi lebih ke pada arah energi. Jadi ke mana orang itu mengarahkan energinya dan fokusnya,” paparnya.

Alexandra menambahkan bahwa arah energi dari introvert itu lebih ke diri sendiri, sedangkan “extrovert itu lebih ke luar dari dirinya. Ambivert adalah ketika seseorang itu ada di tengah-tengah. Jadi bisa nggak terlalu cenderung ke kiri sebagai introvert, tapi nggak cenderung ke kanan sebagai ekstrover,” jelasnya.

Sementara, arah energi yang dimaksud adalah bagaimana seseorang memaksimalkan potensinya ketika sedang dalam kondisi seorang diri atau bersama orang lain.

“Dalam artian ada orang yang kalau bisa fokus, maka ia akan menjadi lebih cemerlang  dan bisa berpikir lebih dalam ketika dia sendiri atau justru ketika sedang berdiskusi dengan orang lain,” ujar Alexandra.

Ketika seseorang sedang berdiskusi dan semua pikirannya terbuka, itu yang disebut dengan extrovert. Namun jika seseorang merasa bisa benar-benar fokus atau berpikir ketika sedang seorang diri, itu bisa dikatakan orang introvert.

Bagaimana Cara Mengetahui Kepribadian Diri?

Foto: www.rawpixel.com

“Tes kepribadian itu tujuannya adalah untuk melihat gambaran sikap dan pikiran kita. Tetapi kalau untuk kasus klinis memang untuk melihat apakah masih ada trauma. Apakah ada satu hal yang mengarah ke masalah-masalah emosional atau masalah lain yang berkaitan dengan kondisi psikologis seseorang,” ucapnya.

Trauma yang dimiliki akan memengaruhi bagaimana kita bisa mempersepsikan, bertindak, dan menanggapi atau memahami suatu hal. “Jadi biar bagaimana pun tidak selalu berhubungan dengan arah energi itu,” imbuhnya.

Sementara untuk mengetahui kepribadian diri, maka hal tersebut dapat dilakukan dengan tes kepribadian, “tetapi biasanya tetap akan ada wawancara dan observasi dari psikolognya untuk melihat secara keseluruhan,” terangnya.

Lalu, apakah hasilnya akan akurat?

“Hasilnya akurat atau tidak, sebenarnya lebih ke pada gambarannya saja. Dalam artian gambaran itu termasuk spektrum dan nggak bisa dibilang benar-benar 100% . Tetapi berupa spektrum, ada yang besarannya sekian atau pun lebih ringan, tapi yang jelas ada di arah sana,”

Mengapa Seseorang Bisa Menjadi Extrovert?

extrovert
Foto: www.freepik.com

Alexandra menuturkan bahwa “mengenai sikap, kepribadian, atau pengembangan manusia, semua itu dipengaruhi dari genetik ataupun nature, dan pola asuh atau yang kita sebut nurture. Jadi selalu ada faktor nature dan nurture,” tuturnya

“Salah satu yang paling dipertimbangkan, khususnya orang extrovert dan introvert adalah bagaimana neurotrasmiter dopamin itu bekerja di otak mereka. Jadi dalam artian ketika orang extrovert mungkin akan mengalami peningkatan dopamin yaitu neurotrasmiter yang membuat seseorang merasa senang, puas, dan rewarded itu terjadi ketika mereka bersama orang lain di dunia luar,” jelasnya.

Sementara untuk introvert, biasanya aktivitas dopaminnya akan jauh lebih meningkat ketika ia seorang diri, menikmati waktu dan berpikir sendiri.

“Jadi memang dua faktor itu saling berpengaruh. Ketika seseorang yang extrovert pada dasarnya terlahir lebih suka untuk mendapatkan stimulus dari luar dan harus berada dalam lingkungan yang individual, jelas saja pasti akan ada efek yang berbeda. Karena semuanya saling memengaruhi,” lanjutnya.

Bagaimana Ciri-ciri Arah Energi Ini?

Foto: www.unsplash.com

Ciri-ciri dari arah energi ekstrover ini dapat ditandai dengan beberapa hal, yakni:

Merasa optimal ketika berada di antara orang lain

Mereka (orang extrovert) akan benar-benar terlihat berenergi secara optimal ketika berada di antara orang lain. “Atau ketika mereka eksplorasi sesuatu di tempat lain yang tidak hanya seorang diri,” kata Alexandra.

Memiliki ide yang lebih cemerlang ketika bersama orang lain

“Ciri-ciri lain yang biasanya terjadi, mungkin akan terlihat lebih aktif dan brilian. Karena pada dasarnya mereka suka dan lebih optimal bersama orang lain. Jadi ide-idenya akan lebih cemerlang ketika berada di antara orang lain,” ungkapnya.

Bertanya dengan lebih mendalam

Seseorang dengan kepribadian ini biasanya suka menanyakan sesuatu secara mendalam. “Jadi ketika ngobrol sama mereka, kita bisa lebih mudah menggali suatu masalah dengan jauh lebih dalam,” ujarnya.

Menyukai perubahan

Selain itu, seseorang akan terlihat lebih bersemangat dan menyukai perubahan. Serta mencoba untuk menantang dirinya dalam perubahan yang ada.

“Tetapi bukan berarti introvert itu seperti yang orang-orang pikir, yakni minder, anti sosial, atau pun malu-malu dan tidak mau mencoba segala sesuatu. Mereka punya ketertarikan yang sama namun mereka tidak menunjukkannya. Jadi kalau memang hal-hal yang disebutkan seperti minder dan lainnya, itu masalah lain, tidak berkaitan sama introvert-nya itu,” tegasnya.

Karena sebenarnya, banyak pula orang extrovert yang minder. “Mereka bisa berbicara di depan umum, tetapi sebenarnya mereka mudah merasa kalah dengan orang lain,” lanjut Alexandra.

Lalu, apakah memiliki arah energi ektrover dapat memengaruhi kehidupan seseorang?

Let’s say kita sebut dari ketertarikan dan passion, itu saja sudah bisa memengaruhi hidup seseorang. Kalau orang yang sukanya seni disuruh kerja di bidang accounting, pasti mereka akan stres ‘kan?” tanyanya.

“Jadi di sini kita bisa lihat bahwa pilihan-pilihan hidup pun sangat dipengaruhi oleh bagaimana kita bersikap, berpikir, mengambil keputusan. Terutama passion dan arah energi kita. Jadi coba bayangkan kalau orang-orang introvert disuruh jadi marketing dan orang-orang extrovert disuruh jadi accounting, itu juga akan sulit,” ungkap Alexandra.

Apa Kelebihan dan Kekurangan Extrovert?

extrovert
Foto: www.xframe.io

Untuk mengetahui kekurangan, hal tersebut dapat dilihat “ketika kita berada di kalangan atau situasi yang menganggap keunikan kita itu tidak berharga. Dalam artian kalau orang extrovert terlalu suka perubahan dan tidak terlalu suka situasi yang monoton dan ketika dia hidup di lingkungan monoton,. Itu jadi kekurangannya,” paparnya.

Tetapi ketika ia hidup di lingkungan yang berubah-ubah, seperti bisnis atau sesuatu yang butuh kondisi yang dinamis, “maka itu menjadi suatu kelebihan mereka. Jadi agak sulit untuk membedakan apa kelebihan dan kekurangan extrovert,” lanjutnya.

Bagaimana Cara Menghadapi Seorang Extrovert?

Foto: www.pexels.com

“Sering kali, orang extrovert itu mereka akan lupa karena saking serunya. Bayangkan ketika kita ketemu orang dan merasa senang dan berharga karena pengaruh dari dopamin tadi, pasti akan semangat untuk menceritakan segala sesuatu dan bertukar pikiran dengan orang lain,” ucapnya.

“Jadi kadang sampai terkesan kurang berempati sama orang lain karena mengajukan pertanyaan yang terlalu detail. Serta mereka tidak akan menyadari bahwa hal itu mungkin akan merugikan kita. Jadi ada baiknya kalau sama orang-orang ekstrover, kita ngomong saja dengan tegas, tetapi tetap menjaga perasaan mereka,” tambahnya.

Apakah Seseorang yang Dulunya Ekstrovert Bisa Berubah Menjadi Introvert?

extrovert
Foto: www.freepik.com

Menurut Alexandra, “kalau seperti ini biasanya lebih bersifat sementara. Misalnya orang ekstrover yang depresi, pastikan terlihatnya juga sukanya menyendiri dan lainnya. Tapi kepribadian awalnya akan kembali ketika depresinya sudah pulih. Namun apakah bisa berubah sejauh itu, dari kutub E ke kutub I, saya rasa tidak. Tetapi kalau dari ekstrover atau introver ke ambivert itu masih bisa,” jawabnya.

Meski terkadang sebagian orang menganggap bahwa ekstrover memliki kemampuan berbicara yang lebih baik, namun “sebenarnya kemampuan bicara atau komunikasi itu tidak selamanya berhubungan dengan extrovert atau introvert,” ujar Alexandra.

“Jadi itu adalah suatu skill yang perlu dipelajari. Kalau ada seorang introvert yang memang, ingin punya skill tertentu yang sering dianggap mencerminkan ekstrover seperti kemampuan berbicara atau sosial, itu cukup dipelajari saja. Walaupun memang tidak bisa semulus orang-orang yang pada dasarnya punya bakat seperti itu. Namun yang namanya ilmu, bakat, dan keterampilan itu bisa dipelajari,” lanjutnya.

Kesimpulan

Foto: www.rawpixel.com

Untuk seseorang yang memiliki arah energi extrovert, Alexandra menyarankan untuk “mengenali diri terlebih dahulu. Lalu kenali lingkungan dan cari pilihan-pilihan hidup yang sesuai dengan diri kita. Karena tidak semua orang akan cocok di semua tempat. Untuk memiliki hidup yang lebih sejahtera, maka carilah orang-orang dan tempat yang cocok dengan kita,” sarannya.

Untuk mengetahui lingkungan yang cocok, biasanya akan disarankan untuk mencoba tes kepribadian terlebih dahulu.

“Atau mungkin di anak-anak SMA dilakukan tes penjurusan yang bertujuan untuk melihat potensi dan kelebihan-kelebihan kita supaya diarahkan ke yang lebih baik,” anjurnya.