Bagaimana Mendisiplinkan Anak Tanpa Melukai Harga Dirinya

cara mendisplinkan anak
Foto: www.stocksy.com

Apakah cita-citamu membantu anak memiliki percaya diri dan nyaman dengan dirinya sendiri? Plus, membantu anak belajar bertanggung jawab, termasuk saat dia melakukan kesalahan? Jika jawabanmu adalah anggukan kepala super semangat, baca artikel ini sampai habis. Kepada LIMONE, Rizqina P. Ardiwijaya, M.Psi., Psikolog, seorang psikolog anak dan remaja dari Klinik Terpadu UI Depok, Ruang Mekar Azlia dan Rumah Dandelion, menjelaskan bagaimana cara mendisiplinkan anak tanpa melukai harga dirinya.

Apa Pengertian Self-Esteem atau Harga Diri?

cara mendisplinkan anak
Foto: www.unsplash.com

Sebelum kita mengetahui cara mendisiplinkan anak dan kaitannya dengan harga diri, ada baiknya kita mengetahui definisi yang sering diucapkan berkali-kali di sinetron ini.

Self-esteem atau dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan harga diri merupakan evaluasi atau nilai yang diberikan oleh individu terkait seberapa berharga dirinya. Dengan kata lain, self-esteem itu dapat diartikan seberapa besar kita menghargai dan menyukai diri kita sendiri,” jelas Rizqina.

Sama seperti bagi orang dewasa, harga diri merupakan hal yang penting bagi seorang anak.

Self-esteem memiliki peran penting dalam memotivasi anak sepanjang hidupnya,” tekannya.

Bagaimana Mengetahui Anak Memiliki Harga Diri yang Sehat?

cara mendisplinkan anak
Foto: www.unsplash.com

Jika kamu penasaran tentang tanda-tanda anak yang memiliki self-esteem tinggi dan sehat, yakni: “Apabila anak mengetahui kemampuan yang mereka miliki (apa yang bisa dan tidak bisa mereka lakukan) dan percaya diri dalam menjalankannya” tuturnya.

Di sisi lain, anak-anak yang memiliki self-esteem tinggi, namun tidak sehat: biasanya cenderung tidak realistis dalam menilai kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki. “Sehingga kesulitan dalam mencapai kesuksesan,” tambahnya.

Selain itu, Rizqina menjelaskan bahwa anak-anak yang memiliki self-esteem sehat biasanya mengetahui bahwa mereka dicintai, memiliki kepercayaan diri untuk mencoba hal-hal baru.

“Mereka merasa bangga dengan apa yang bisa mereka lakukan. Anak-anak yang memiliki self-esteem sehat dapat menerima kesalahan dan kembali bangkit ketika mengalami kegagalan. Hal ini akan mendorong anak-anak untuk mencoba lagi, bahkan jika mereka gagal pada awalnya,” paparnya.

Adalah sangat penting bagi seorang anak memiliki self-esteem yang sehat, tekannya. “Karena akan membantu anak-anak untuk memiliki prestasi yang lebih baik di sekolah, serta hubungan yang baik dengan keluarga dan teman-teman.

Impian orangtua adalah memiliki anak dengan self-esteem sehat, tapi pada kenyataannya sering kali menjadi pribadi yang mempunyai self-esteem yang rendah.

“Anak-anak dengan self-esteem rendah akan cenderung merasa tidak yakin pada diri mereka sendiri, sulit membela diri, atau menyerah dengan mudah,” tuturnya. “Mereka sering kali berpikir bahwa orang lain tidak menerimanya, misalnya berpikir, ‘Ah teman-teman pasti nggak mau kalau aku ikutan main bareng,'” lanjutnya.

“Tak jarang, anak-anak dengan self-esteem rendah ini juga cenderung membiarkan orang lain memperlakukan mereka dengan buruk karena mereka merasa dirinya tidak berharga. Anak-anak dengan self-esteem rendah memiliki kesulitan dalam mengatasi ketika kesalahan, kekalahan, atau kegagalan. Setiap hal negatif yang terjadi dalam hidup mereka akan semakin membuat self-esteem-nya rendah,” tekannya.

Jadi, apa yang bisa dilakukan orangtua? “Apabila anak kita memiliki self-esteem yang rendah, tugas kita sebagai orangtua adalah membantu mereka membangun kembali self-esteem-nya,” tegasnya.

Seberapa Penting Mendisiplinkan Anak?

cara mendisplinkan anak
Foto: www.freepik.com

Kamu ingin si kecil memiliki rasa percaya yang sehat, tapi mungkin ini menjadi rumit saat dia berperilaku negatif dan kamu ingin menerapkan disiplin terhadap kesalahan yang dilakukannya. Kamu, sebagai orangtua, takut proses pendisiplinan itu akan melukai harganya. Ah.

Namun, Rizqina menekankan bahwa cara mendisiplinkan anak yang tepat sangat penting diterapkan untuk mendukung perkembangan si kecil.

Menurutnya, dalam pengasuhan, disiplin erat kaitannya dengan upaya membantu anak-anak belajar mengelola diri mereka sendiri, perasaan, perilaku dan dorongan hati mereka.

“Jadi, tujuan disiplin itu bukan berarti anak bisa tepat waktu mengerjakan sesuatu atau kita memegang kendali pada perilaku anak. Tujuan dari mengajarkan disiplin adalah agar anak mengembangkan kompas moral mereka sendiri untuk memilah perilaku, dorongan hati dan perasaan. Dengan diajarkan disiplin, anak bisa mengetahui dan memilah sendiri mana yang ‘benar’ dan ‘salah’, serta ‘harus dilakukan’ dan ‘tidak boleh dilakukan’ tanpa harus diberitahu lagi oleh orangtua,” paparnya.

Itu, tentang disiplin yang tepat. Bagaimana dengan metode mendisiplinkan yang keliru dan efeknya pada self-esteem?

“Cara mendisiplinkan anak yang bisa memengaruhi self-esteem biasanya dikaitkan dengan cara disiplin yang terlalu mengontrol anak. Anak tidak diberikan kesempatan untuk memberikan pendapatnya atau melakukan apa yang ia mau. Anak-anak yang dibesarkan dengan cara seperti ini, akan mengembangkan perasaan tidak mampu dan ragu terhadap kemampuan diri sendiri karena tidak diberikan kesempatan untuk memiliki kontrol terhadap diri mereka sendiri dan apa yang mereka lakukan,” tekannya.

“Bayangkan, jika orangtua itu adalah komandan dalam perang. Anak-anak yang selalu dibiasakan untuk mengikuti perintah komandan ketika melakukan sesuatu akan kewalahan jika komandannya tidak ada. Alhasil, mereka akan tumbuh menjadi anak tidak mampu dan ragu jika orangtuanya tidak ada. Sedangkan, yang kita tahu orangtua tidak akan 24/7 bersama anak-anak,” katanya.

Mengapa Anak Sering Kali Marah Ketika Kesalahannya Dikoreksi?

cara mendisplinkan anak
Foto: www.freepik.com

Ah, di dunia ideal (terutama saat kita sedang capek dan banyak pikiran), ketika anak melakukan kesalahan dan dikoreksi—dia menerimanya dengan lapang dada. Namun yang lebih sering terjadi adalah anak mengambek. Kamu mungkin otomatis ingin menjambak rambut sendiri karena frustrasi.

Akan tetapi hei, mungkin ada alasannya mengapa mereka mengambek atau marah saat ditegur oleh orangtuanya (yang sudah mengandung dan membanting tulang untuk menafkahinya, katamu dalam hati saking frustrasinya).

Alasan anak sering kali marah dan ngambek ketika orangtua mengoreksi kesalahannya kemungkinan disebabkan karena ada sensitif terhadap kritik atau self-esteem yang rendah. Anak-anak yang terlalu sering dikoreksi perilakunya oleh orangtua akan lebih menghindari koreksi,” jelas Rizqina.

Oleh karena itu, cara orangtua dalam mengoreksi perilaku anak juga harus tepat. “Jangan sampai koreksi yang kita berikan diartikan sebagai kritik oleh anak,” ujarnya.

Begini beberapa cara yang bisa dilakukan agar anak tidak merasa dikritik.

  • Tujukkan empati agar anak merasa dipahami. Misalnya dengan mengatakan, “Mama tahu, Kakak tidak bermaksud untuk menyakiti teman, tetapi bagaimanapun memukul teman tidak diperbolehkan. Kalimat seperti, “Mama tahu”, atau “Mama mengerti” bisa digunakan untuk menunjukkan bahwa kamu benar-benar mengerti apa yang ia rasakan.
  • Jelaskan konsekuensi dari perbuatannya. Misalnya dengan mengucapkan, “Kak, memukul teman itu tidak diperbolehkan karena berbahaya, bisa menyakiti dan mencelakakan orang lain. Teman yang Kakak pukul bisa lecet, berdarah, benjol.”
  • Sampaikan dengan nada dan ekspresi yang tenang. Meski begitu, orangtua boleh memberi nada penekanan pada beberapa kata yang penting.

Metode Disiplin Seperti Apa yang Disarankan agar Tidak Melukai Harga Diri Anak?

Foto: www.freepik.com

“Disiplin positif dapat dijadikan dalah satu cara mendisiplinkan anak yang tidak merusak self-esteem-nya,” saran Rizqina.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa disiplin positif adalah jenis disiplin yang menggunakan teknik seperti pencegahan, pengalihan, dan penggantian untuk menghentikan anak melakukan hal-hal yang tidak diharapkan. Dan dalam disiplin positif, orangtua selalu menjelaskan konsekuensi yang akan didapatkan dari apa yang anak lakukan.

“Dalam disiplin positif, anak-anak juga diajak diskusi dan diberikan kesempatan untuk menentukan pilihan dalam menyelesaikan masalah. Para ahli yang mendukung pemberian disiplin positif mengklaim bahwa metode ini dapat membantu memperkuat ikatan dan meningkatkan kepercayaan antara orang tua dan anak-anak. Strategi ini juga mengurangi konflik antara orangtua dan anak,” jelasnya.

Bagaimana Cara Memotivasi Anak untuk Bertingkah Laku Baik?

cara mendisplinkan anak
Foto: www.freepik.com

“Hal penting yang harus kita ingat dan tanamkan dalam diri kita saat mendisiplinkan anak adalah There are no bad kids, just bad behavior,'” tekan Rizqina.

“Jangan sampai kita menganggap anak kita adalah anak yang nakal, apalagi hingga mengucapkan kata tersebut di depan anak. Jika kita menyebut anak kita ‘anak nakal’, itu akan memperkuat citra negatif anak, baik dalam pikiran kita maupun dalam diri anak,” Rizqina mengingatkan.

Menurutnya, selalu ada alasan mengapa anak melakukan hal negatif. Oleh karena itu, sanagt penting mengajak anak berdiskusi tentang apa yang dilakukannya, dan memberikan pandangan dan jalan keluar tentang hal tersebut.

“Alih-alih fokus pada kesalahannya, bantu anak untuk menemukan cara untuk memperbaikinya,” anjurnya.

Berikut beberapa cara yang bisa digunakan oleh orangtua.

Buatlah aturan dan konsekuensi yang jelas

Ini untuk menghindari munculnya perilaku yang tidak diharapkan. “Dalam penerapannya, aturan harus dijalankan dengan konsisten. Jelaskan konsekuensi yang akan mereka dapatkan apabila menunjukkan perilaku baik dan buruk,” jelasnya.

Tetap tenang dan berbicara dengan baik-baik, tapi tegas

Dalam mengoreksi perilaku, kita hanya perlu tetap tenang dan berbicara baik-baik tetapi tegas. “Misalnya, ulangi bahwa ‘Kita tidak mengambil barang orang lain tanpa izin.’ Atau, ‘Kita tidak mengambil barang orang lain tanpa izin bahkan jika ia tidak mau berbagi.’ Gunakan kalimat yang pendek, dan katakan berulang-ulang tanpa kehilangan kesabaran atau meninggikan suara,” sarannya.

Tunjukkan empati

Orangtua juga bisa menunjukkan empati agar anak merasa dimengerti, misalnya dengan mengatakan, ‘Mama tahu, kamu ingin boneka yang dimainkan oleh teman, tetapi mengambil barang orang lain tanpa izin bukanlah pilihan yang tepat.’ “Kalimat seperti, ‘Mama tahu’, ‘Mama mengerti’ bisa digunakan untuk menunjukkan bahwa kita benar-benar mengerti apa yang ia rasakan,” terangnya.

Tawarkan pilihan

Tawarkan beberapa pilihan untuk menyelesaikan masalah. “Pilihan memberi anak memiliki rasa kontrol dan bisa membangun self-esteem-nya,” tegasnya. Berikan pilihan sederhana seperti, ‘Kita buat teman kamu merasa lebih baik, yuk! Kakak mau bilang minta maaf atau salaman?’. Atau, ‘Kakak mau minta maaf sekarang atau mau sama Mama dulu sampai marahnya hilang?’

Gunakan kalimat sederhana sebagai pengingat

Ketika anak sudah mengetahui tugas dan kewajibannya, kita hanya memerlukan kalimat sederhana atau pertanyaan untuk mengingatkan anak. “Misalnya, selesai bermain si kecil lupa membereskan mainannya, maka kamu bisa mengucapkan dengan, ‘Kak, mainannya’, atau ‘Kakak sudah bereskan mainannya?’ Atau, “Dimana ya, kita biasanya menyimpan mainan?’ Pastinya, katakan dengan nada tenang dan santai,” sarannya.

Selanjutnya: Penasaran bagaimana agar anak lebih percaya diri? Psikolog ini membocorkan cara membantu anak agar lebih pede.

podcast button