Diabetes Gestasional—Apakah Berbahaya bagi Ibu Hamil? Ini Jawaban Ahli

diabetes gestasional
Foto: www.freepik.com

Ternyata, diabetes atau kencing manis juga bisa muncul pada masa kehamilan meskipun tidak ada riwayat sebelumnya. Hal ini sering kali disebut dengan istilah diabetes gestasional (DMG) atau kencing manis pada kehamilan. Seperti diabetes pada umumnya, penyakit yang satu ini juga dapat menimbulkan risiko pada ibu maupun janin. Lantas, bagaimana cara mencegahnya?

Simak penjelasan dari dr. Olivia Widyanti Budiman, SpOG, Spesialis Obstetri dan Ginekolog dari RS Bhayangkara Brimob, RS Murni Teguh Jakarta, dan Happybaby.inc, terkait cara mengatasi sekaligus mencegah terjadinya diabetes gestasional pada ibu hamil.

Apa Itu Diabetes Gestasional?

diabetes gestasional
Foto: www.freepik.com

Menurut Dokter Olive, diabetes gestasional adalah kondisi “gangguan toleransi glukosa yang terjadi pada saat hamil. Penyebab hal ini bisa terjadi adalah karena adanya perubahan keseimbangan dari hormon-hormon tertentu saat hamil,” terangnya.

Sehingga, akhirnya terjadi “peningkatan resistensi insulin yang akan mengakibatkan peningkatan kadar gula darah pada ibu hamil,” imbuhnya.

Berdasarkan statistik, diabetes gestasional sering terjadi pada usia kehamilan diatas 24 minggu. “Oleh karena itu, tes skrining rutin wajib dilakukan pada usia kandungan 24-28 minggu,” papar Dokter Olive.

Lantas, apakah kondisi ini berbahaya pada kehamilan? “Ya. Jika tidak dikontrol dengan baik, diabetes gestasional bisa mengakibatkan komplikasi pada ibu hamil. Contohnya seperti meningkatkan risiko preeklampsia dan prematuritas,” jawabnya.

“Sementara pada janin, kondisi ini bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan, pematangan organ yang terlambat, hingga IUFD atau janin yang meninggal di dalam kandungan,” lanjutnya.

Bagaimana Gejala dari Diabetes Gestasional?

Foto: www.xframe.io

Sesungguhnya, tidak ada gejala spesifik dari penyakit yang satu ini. “Sehingga perlu dilakukan tes skrining secara rutin dengan menggunakan metode TTGO atau tes toleransi glukosa oral. Jadi tidak cukup hanya melihat gula darah sewaktu atau reduksi urine saja,” tuturnya.

Pada tes toleransi glukosa oral, “pasien akan diminta untuk puasa dalam 10 sampai 12 jam sebelum pemeriksaan. Artinya makan terakhir 10 jam sebelum diperiksa, namun tetap boleh meminum air putih. Lalu setelah diambil darah, maka pasien akan diberikan glukosa yang terukur,” jelasnya.

“Kemudian dilakukan pemeriksaan kembali pada satu hingga dua jam setelah meminum air gula tersebut. Selama pemeriksaan pasien juga dilarang mengonsumsi makanan lain selain air putih,” lanjutnya.

Adakah Risiko yang Ditimbulkan dari Penyakit yang Satu Ini?

Foto: www.freepik.com

Ada beberapa risiko yang ditimbulkan dari diabetes gestasional, baik itu dialami oleh ibu maupun janin.

Risiko pada ibu

Komplikasi yang terjadi pada ibu hamil terkait diabetes gestasional adalah “dapat meningkatkan risiko preeklampsia, prematuritas, polihidramnion, hingga kematian ibu,” ungkap Dokter Olive.

Preeklampsia dulu dikenal sebagai kondisi keracunan pada kehamilan. “Jadi terdapat kondisi di mana ketika hamil, tekanan darah ibu dapat meningkat di atas 140/90 mmHg. Serta disertai dengan kebocoran protein pada urin atau kerusakan pada organ lain,” jelasnya.

“Bahkan preeklampsia bisa mengakibatkan kejang pada ibu, gangguan ginjal akut, edema paru atau paru-paru yang terendam air, hingga kematian pada ibu dan bayi,” lanjutnya.

Sementara untuk risiko prematuritas disebabkan karena “komplikasi akibat diabetes melitus gestasional yang bisa mengancam nyawa ibu atau bayi. Terdapat kemungkinan persalinan dilakukan sebelum waktunya, sehingga bayi dilahirkan secara prematur atau belum cukup bulan,” terang Dokter Olive.

Untuk risiko polihidramnion adalah “kondisi di mana air ketuban yang berlebihan. Biasanya situasi ini disebut dengan kembar air. Ini biasanya disebabkan karena gula darah yang tidak terkontrol atau bisa juga karena kelainan pada janin,” imbuhnya.

Risiko pada janin

Diabetes gestasional juga dapat berdampak pada kondisi kesehatan janin. Di antaranya adalah “gangguan pertumbuhan janin, pematangan organ yang terlambat, hingga IUFD atau janin yang meninggal di dalam kandungan,” paparnya.

Lantas, kapan waktu yang tepat untuk mengunjungi dokter terkait risiko diabetes gestasional? “Kalau melakukan pemeriksaan di puskesmas, biasanya tes skrining dilakukan dengan GDS atau gula sewaktu, dan hal tersebut tidak bisa dijadikan sebagai patokan,” jawab Dokter Olive.

Namun, “jika ada faktor risiko seperti riwayat diabetes sebelumnya atau riwayat diabetes pada keluarga, riwayat bayi besar, riwayat preeklampsia , riwayat kesulitan untuk hamil, dan lainnya, alangkah baiknya untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan,” imbuhnya.

Bagaimana Mengatasi Diabetes Gestasional?

diabetes gestasional
Foto: www.freepik.com

Untuk mengobati diabetes gestasional, Dokter Olive menyatakan bahwa hal tersebut dapat dilakukan dengan “pengaturan pola makan atau diet sehat. Serta olahraga secara rutin dan evaluasi yang dilakukan secara serial atau berkala,” ungkapnya.

Selain itu, jika tidak mencapai target, yakni belum mampu menurunkan kadar gula darah, maka “perlu dibantu dengan mengonsumsi obat-obatan. Tak jarang, ketika mengalami kondisi ini juga perlu berkolaborasi dengan dokter IPD atau spesialis penyakit dalam,” terangnya.

Sementara untuk mencegah terjadinya diabetes gestasional pada ibu hamil, “maka wajib untuk mengenali faktor risiko sejak dini. Serta mengatur pola makan dan melakukan olahraga yang teratur,” ujar Dokter Olive.

Untuk pengaturan pola makan selama hamil, hal ini bersifat dinamis. Namun “yang paling sering dilupakan adalah asupan karbohidratnya ditambah tetapi proteinnya tidak. Sehingga asupan karbohidratnya jadi berlebihan. Padahal kebutuhan protein selama hamil meningkat hingga 20 gram per hari,” paparnya.

Sedangkan untuk asupan nutrisi yang wajib dipenuhi selama hamil adalah “tidak hanya berasal dari nutrisi makro seperti karbohidrat, protein, dan lemak. Melainkan vitamin dan mineral juga dibutuhkan untuk bisa dicukupi sesuai usia kehamilan. Jadi tidak cukup dengan asam folat saja, tetapi perlu juga vitamin B kompleks, zinc, zat besi, dan DHA atau asam lemak omega-3,” jelasnya.

Kesimpulan

Foto: www.freepik.com

Dokter Olive menegaskan bahwa “hamil bukan berarti makan dengan porsi dua orang. Yang perlu ditambahkan adalah terutama asupan protein yang bisa bermanfaat untuk pertumbuhan janinnya. Karena sesungguhnya, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, apalagi berat badan yang naiknya secara berlebihan,” ujarnya.

“Untuk diabetes gestasional (DMG) ini sering kali tidak terdeteksi dan bisa mengakibatkan komplikasi pada kehamilan. Supaya terhindar dari DMG, maka alangkah baiknya mengatur pola makan sejak dini, olahraga dengan teratur, luangkan waktu untuk berjemur, dan melakukan pemeriksaan lab untuk skrining,” sarannya.