Apa Itu Preeklampsia? Ini Penjelasan Dokter Kandungan

apa itu preeklampsia
Foto: www.freepik.com

Selama kehamilan, wanita juga bisa mengalami berbagai macam penyakit dan komplikasi, mulai dari diabetes gestasional hingga preeklampsia. Sehingga penting bagi ibu hamil untuk selalu memeriksakan kandungannya secara rutin. Hal itu bertujuan untuk menghindari terjadinya kondisi yang berbahaya, baik itu pada ibu maupun janin. Namun sebenarnya, apa itu preeklampsia dan bagaimana gejalanya?

Simak penjelasan yang diberikan dari dr. Lydia Olivia Sp.OG, seorang Spesialis Kebidanan dan Kandungan dari RSIA Gladiool, yang akan menerangkan terkait apa itu preeklampsia dan gejalanya, sehingga para ibu hamil dapat lebih hati-hati dan mencegahnya.

Apa Itu Preeklampsia?

apa itu preeklampsia
Foto: www.canva.com

Dokter Lydia menuturkan bahwa preeklampsia merupakan “gangguan hipertensi yang terjadi pada masa kehamilan dengan dampak multisistem. Kondisi ini merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas maternal yang  terjadi pada sekitar 36% kehamilan di seluruh dunia,” terangnya.

Mortalitas merupakan istilah yang digunakan untuk kematian. Sementara morbiditas merupakan istilah dari kecacatan atau cedera.

Biasanya, preeklampsia ditandai dengan “gangguan hipertensi di atas 140/90 mmHg dalam setidaknya kurang dari 4 jam pada dua waktu berbeda. Serta bersamaan dengan proteinuria setidaknya 0.3 g atau >30 mg/mmol protein/creatinine, dan terjadi setelah minggu ke-20 kehamilan sampai minggu keenam pascapersalinan,” ungkapnya.

Mengapa Ibu Hamil Mengalami Kondisi Ini?

Foto: www.freepik.com

Menurut Dokter Lydia, sebenarnya “belum diketahui secara pasti apa itu penyebab preeklampsia. Tetapi hal tersebut dapat dipengaruhi oleh kelainan perkembangan dan fungsi plasenta,” katanya.

Sesungguhnya, kondisi ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor risiko, salah satunya adalah ibu hamil yang usianya di atas 35 tahun. Penyebab lainnya adalah:

  • Riwayat merokok
  • Obesitas
  • Diabetes melitus pregestasional
  • Sindrom antifosfolipid
  • Lupus eritematosus sistemik
  • Ginjal kronik
  • Kehamilan pertama
  • Mola hidatidosa atau hamil anggur
  • Tekanan darah tinggi
  • Kehamilan kembar
  • Kehamilan dengan janin trisomi 13 yang menyebabkan adanya abnormalitas pada plasenta. Trisomi 13 atau sindrom Patau adalah kelainan genetik serius yang disebabkan oleh adanya salinan ekstra kromosom 13 pada sebagian atau seluruh sel tubuh. 

Lantas apakah preeklampsia berbahaya?

Spesialis Kebidanan dan Kandungan ini menjawab bahwa kondisi tersebut dapat “berbahaya apabila tidak diketahui lebih dini dan dapat menimbulkan komplikasi gejala yang lain,” jawabnya.

Oleh sebab itu, preeklampsia harus segera ditangani. Pasalnya, jika tidak ditangani “dapat menyebabkan komplikasi dan eklampsia, yaitu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan kejang. Atau juga menyebabkan kerusakan organ, seperti edema paru, gagal ginjal, dan gagal hati,” paparnya.

Bagaimana Gejala dari Preeklampsia?

apa itu preeklampsia
Foto: www.canva.com

Dokter Lydia menjelaskan bahwa kondisi gangguan hipertensi pada kehamilan ini dapat ditandai oleh beberapa hal, yakni:

  • Tekanan darah ≥160 / 110 mmHg pada dua pemeriksaan terpisah.
  • Trombositopenia (jumlah  trombosit <100.000 per mikroliter).
  • Gangguan fungsi hati yang dibuktikan dengan peningkatan enzim hati secara tidak normal, yakni dua kali konsentrasi traminas normal atau nyeri persisten pada kuadran kanan atas abdomen atau nyeri epigastrik.
  • Gagal ginjal dengan tingkat serum kreatinin >1,1 mg / dl (97,2 μmol/l).
  • Penggandaan tingkat serum kreatinin.
  • Edema paru dan gangguan serebral.

Untuk mendiagnosis kondisi ini, maka dokter akan melakukan evaluasi terhadap tekanan darah dan gejala beratnya.

Untuk itu, ibu hamil perlu mengunjungi dokter “sejak persiapan kehamilan untuk dilakukan screening dengan memperhatikan faktor risiko sebelum hamil. Mulai dari berat badan berlebih, riwayat preeklampsia, penyakit diabetes, penyakit ginjal, dan hipertensi,” tuturnya.

Bagaimana Cara Mengobati Preeklampsia?

Foto: www.freepik.com

Dokter Lydia menuturkan bahwa terdapat cara yang tepat untuk mengatasi kondisi gangguan hipertensi yang terjadi pada ibu hamil. Salah satu caranya adalah dengan melakukan terapi.

Ibu hamil bisa melakukan “pengontrolan tekanan darah dengan antihipertensi. Kemudian diberikan pematangan paru-paru janin bila usia kehamilan kurang dari 34 minggu. Selain itu, juga diberikan obat anti kejang. Bila terdapat gejala berat, maka disarankan untuk dilakukan tata laksana secara multidisiplin,” anjurnya.

Sementara untuk pencegahan, ibu hamil disarankan untuk mengonsumsi “kalsium, vitamin D, dan aspilet yang dapat berfungsi sebagai obat anti pembekuan darah,” lanjutnya.

Selain itu, untuk mencegah terjadinya preeklampsia pada ibu hamil maka “perlu menghindari faktor risiko. Karena yang paling penting adalah mencegah dan melakukan persiapan kehamilan. Jika memang sudah berisiko, maka konsultasikan ke dokter mengenai tipe pencegahannya,” ungkap Dokter Lydia.

Kesimpulan

Preeklampsia merupakan salah satu kondisi di mana terjadinya gangguan hipertensi yang dialami oleh ibu hamil.

Untuk itu, “perlu diperhatikan asupan nutrisi pada ibu dan janin. Selain itu, ibu hamil juga disarankan agar menghindari faktor risiko berbagai penyakit dan tetap menjaga kesehatan, terutama di saat pandemi COVID-19,” anjur Spesialis Kebidanan dan Kandungan yang satu ini.

Dokter Lydia juga menyarankan “jangan lupa untuk selalu kontrol tekanan darah dan periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Ibu hamil juga bisa mencegah adanya komplikasi preeklampsia dan mempertahankan gaya hidup yang sehat,” pesannya.