Bagaimana Menghadapi Orang Terdekat yang Menolak Lakukan Social Distancing

menolak social distancing
Foto: www.rawpixel.com

Instruksinya jelas: dunia sedang dilanda pandemik COVID-19. Tetaplah di rumah. Lakukan social distancing. Namun, ternyata tinggal di rumah itu membutuhkan usaha dan kemauan yang keras. Kita yang terbiasa aktif dan menikmati dunia di luar dinding rumah, pasti mengerti banget perjuangan agar tetap betah di rumah. Iya ‘kan? Dan bagi sebagian orang, social distancing adalah sesuatu yang sangat sulit, sehingga kemudian ada yang menolak melakukannya. Apa yang bisa kita lakukan jika orang-orang terdekat kita menolak social distancing? Apakah itu berarti mereka orang yang buruk? Seorang psikolog memberikan saran saat menghadapi situasi dilematis seperti ini.

Apa yang Biasanya Menyebabkan Seseorang Menolak Melakukan Sesuatu?

menolak social distancing
Foto: www.rawpixel.com

Pastinya ada banyak faktor yang mempengaruhi seseorang berperilaku tertentu. “Salah satunya adalah pemahamaan dan persepsi seseorang,” terang Anisa Rahmanita, M.Psi., Psikolog, dari ANISA Rumah Psikologi.

“Persepsi adalah bagaimana kita menginterpretasi atau menerjemahkan suatu stimulus yang muncul sehingga memunculkan respon tertentu baik dalam pola pikir hingga ke perilaku. Jadi, mengapa seseorang menolak sesuatu itu bisa dikarenakan orang tersebut tidak memiliki persepsi ataupun pandangan yang sama dengan sesuatu tersebut,” jelasnya.

Dan jika kita membicarakan tentang menolak melakukan social distancing, Anisa berpendapat bahwa ada berbagai alasan mengapa seseorang berperilaku seperti. Sebut saja karena alasan manusia sebagai mahluk sosial, sehingga sulit untuk tidak bersosialisasi secara langsung dengan orang lain.

Atau, alasan pekerjaan, “yang memaksa untuk berdekatan dengan orang atau justru menganggap tidak akan ada pengaruhnya kesehatan dan social distancing yang dirinya lakukan,” ujarnya.

“Dan perlu dipahami bahwa istilah social distancing baru saja kita kenal, jadi wajar kita butuh lebih belajar dan memahami,” imbuhnya.

Bagaimana Menghadapi Mereka yang Menolak Social Distancing?

menolak social distancing
Foto: www.rawpixel.com

Kepada orang terdekat, apakah kita perlu memberitahu A-Z tentang social distancing?

“Benar sekali, kita sangat perlu mengedukasi kaitannya antara pandemik dan social distancing ini,” tegasnya.

Soalnya, “yang dibutuhkan saat ini adalah ‘paham’, bukan sekedar tahu saja. Jadi, berikanlah pengetahuan yang tepat dan dari sumber tepat serta terpercaya. Saat ini sangat banyak sekali media yang dapat digunakan dalam menberikan edukasi, bisa melalui artikel-artikel ilmiah, video ilustrasi hingga diskusi-diskusi online dengan pakarnya. Artinya, memberi penjelasan social distancing ini bisa kita coba dengan berbagai metode,” sarannya.

Sebut saja kamu dan orang terdekat tersebut, misalnya pasangan atau teman satu rumah, sudah menonton video tentang COVID-19. Membaca artikel-artikel dari sumber yang tepat dan terpercaya. Namuh, tetap saja orang tercinta tersebut menolak melakukan social distancing. Apa yang harus kita lakukan? Perlukah memberi ultimatum, misalnya ‘kalau tetap menolak, lebih baik pindah ke tempat lain dulu?’ Ah, rasanya kok jadi sedih, ya?

“Lebih baik tak bosan-bosan memberikan edukasi kembali ketimbang memberikan ultimatum,” anjur Anisa.

“Banyaknya informasi yang beredar tentang pandemik ini tentu saja tidak semuanya tepat, jadi edukasi kembali berdasarkan sumber yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Selain mengedukasi atau memberikan informasi yang tepat, cara lainnya adalah dengan memberikan contoh. Mulailah dari diri kita sendiri yang dengan konsisten melaksanakan social distancing dengan konsisten. Kita memberikan contoh langsung yang tepat. Bisa ditambahkan juga pengetahuan protokol lainnya tentang pencegahan pandemik. Menjaga kebersihan ataupun melaksanakan pola hidup bersih,” bebernya.

Kapan Kita Boleh Menyerah dan Menerima Keputusan Mereka?

Foto: www.rawpixel.com

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan, tapi pada akhirnya keputusan ada di tangan orang tersebut. Benar ‘kan? Jika tetap saja sulit, kapan kita boleh menyerah dan membiarkan mereka dengan pilihannya?

“Ini bukan tentang pertempuran ataupun keributan sehingga tidak perlu ada yang menyerah atau tidak,” tekan Anisa.

Jika memungkinkan, tetaplah menjelaskan, berikan pengertian dan tetap menjadi contoh yang baik.

“Ingat, kita hanya membantu memberikan edukasi dan pemahaman, tetapi perubahan mutlak merupakan pilihan individu yang bersangkutan. Tidak perlu berkecil hati jika orang terdekat tetap pada keputusannya. Kamu sudah melakukan tugas dan kewajiban yang  sangat tepat. Perlu diingat juga situasi pandemik ini mengubah banyak hal dalam kehidupan kita, jadi wajar saja setiap orang memiliki waktu adaptasi yang berbeda- beda pula,” ujarnya memberi semangat.

Mungkin akan sulit menerima pilihan mereka tersebut. Lalu bagaimana agar hubungan tidak rusak karenanya?

“Fokuslah pada permasalahannya bukan pada emosi kita, rasa marah, kesal dan kecewa. Tugas kita mengedukasi dan mengingatkan bukan mengubah seseorang. Jadi tidak perlu membenci orangnya apalagi sampai merusak hubungan baik,” sarannya.

Pelajaran moral yang bisa diambil sepertinya ini: bahkan ketika orang terdekat tetap menolak melakukan social distancing, paling tidak pandemik ini mengajarkan kita banyak hal yang penting, termasuk bagaimana bersabar dan berempati. Dan pastinya, sekarang kita tahu bagaimana mencuci tangan yang benar.

Apakah kamu kesulitan menjelaskan social distancing pada anak? Psikolog ini memberikan kisi-kisinya. Dan ini agar hubunganmu dengan pasangan tetap harmonis saat terjebak di dalam rumah 24/7.

podcast button