Katakan Ini (Bukan Itu) Saat Menjelaskan Social Distancing kepada Anak

menjelaskan social distancing
Foto: www.gettyimages.com

Sebuah kejujuran: waktu pertama kali mendengar istilah social distancing, kita sebagai orang dewasa saja mungkin bingung dan harus membaca banyak literatur untuk mengetahui definisi yang benar. Lalu bagaimana cara menjelaskan social distancing kepada anak? Begini penjelasannya dari seorang psikolog anak dan remaja.

Apa yang Harus DIsampaikan kepada Anak Mengenai Social Distancing?

menjelaskan social distancing
Foto: www.gettyimages.com

Pertama-tama, sebelum menjelaskan social distancing penjelasan kamu harus memiliki pengetahuan tentang hal ini terlebih terlebih dahulu. “Ini untuk menghindari menyampaikan informasi yang kurang akurat,” jelas Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., Psikolog, Psikolog Anak & Remaja dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia.

Kedua, siapkan penjelasan sederhana yang bisa dipahami anak tanpa menimbulkan kecemasan berlebihan pada anak. “Social distancing bagi anak dipahami sebagai pembatasan di mana dia sementara ini belum bisa bersekolah dulu, belum bisa bermain bersama teman-temannya dulu. Belum bisa jalan-jalan atau ke tempat umum dulu. Jelaskan bagaimana penularan bisa terjadi sehingga berkumpul atau berdekatan dengan orang lain sementara dibatasi dulu,” tambahnya.

Ketiga, ini berkaitan dengan hal yang kedua: menjelaskan social distancing bisa dengan menggunakan infografis, video, buku buku cerita dan cerita dari para story teller atau pendongeng yang memang ditujukan untuk anak.

Apa yang Sebaiknya Dikatakan dan Tidak Dikatakan Orangtua kepada Anak?

Foto: www.istockphoto.com

Banyak orang dewasa yang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan situasi sosial ini. Banyak ahli kesehatan mental pula mengkhawatirkan bahwa salah satu dampak social distancing bagi orang dewasa adalah kesepian, rasa cemas dan stres. Bagaimana efek social distancing terhadap anak-anak?

“Anak-anak juga mengalami kesulitan yang sama, mungkin lebih berat karena tingkat pemahaman mereka yang masih terbatas dan kebutuhan mereka untuk main atau bergerak  lebih besar,” jelas Vera. “Namun, anak-anak sangat terpengaruh oleh bagaimana lingkungan sekitarnya bereaksi akan situasi seperti ini. Anak-anak akan melihat bagaimana orangtua/orang dewasa di sekitarnya bereaksi. Untuk itu pengendalian emosi dan stres bagi para orangtua penting sekali agar tidak mempengaruhi anak,” anjurnya.

Dan jika anak sedih karena misalnya, tidak bisa bertemu teman-teman atau rutinitasnya berubah drastis—menurut Vera itu adalah yang wajar.

“Kita perlu memahami bahwa munculnya emosi negatif seperti sedih adalah hal yang wajar muncul di masa-masa seperti sekarang ini, termasuk juga dirasakan oleh anak-anak,” tambahnya. Oleh karena ini hal yang wajar, maka ketika anak bersedih Vera menyarankan orangtua untuk mencoba memahami dan mengenali perasaannya. Caranya, dengan mengatakan, ‘Kamu sedih ya, karena tidak bisa bertemu teman-teman?’

“Lalu bicarakan lagi pelan-pelan dengan anak mengapa kita semua harus menjalani sementara waktu #dirumahsaja ini. Dengan anak, bicarakan hal-hal positif apa saja yang didapatkannya dalam situasi ini, misalnya masih bisa berkumpul di rumah bersama ayah dan ibu, masih sehat, tidak sakit, dan lain sebagainya. Cari hal-hal yang bisa disyukuri. Rutinitas anak memang berubah, tapi masih bisa diterapkan semaksimal mungkin meski bentuknya berubah. Misalnya belajar, tetap belajar meski lewat online. Tetap ada waktu untuk bermain, meski hanya sebatas pekarangan rumah,” bebernya.

Sekali lagi, bicarakan hal-hal yang positif. Sementara itu, hindari berdiskusi mengenal hal-hal yang menimbulkan ketakutan atau kecemasan berlebihan pada anak, misalnya kecemasan orangtua tentang keberlangsungan pekerjaan di tengah situasi seperti ini. 

Intinya, di masa pandemik ini orangtua sebaiknya membuat anak merasa tetap aman, nyaman dan senang. “Jalani keseharian apa adanya dengan perasaan yang positif. Orangtua perlu tetap optimis dan positif karena jika tidak, anak akan terpengaruh juga,” imbuhnya.

Apakah anak sepertinya malas belajar di rumah? Begini tips dari seorang psikolog tentang bagaimana membantu anak lebih rajin dan semangat belajar.