Menurut Dokter, Begini Cara Mengenali Tanda-Tanda Alergi Susu Sapi Pada Anak

alergi susu sapi
Foto: www.freepik.com

Meski umum untuk dialami oleh bayi, namun alergi susu sapi menjadi hal yang bisa berbahaya jika tidak ditangani dengan tepat. Oleh karenanya orang tua perlu mengenali gejala dari alergi yang muncul.

Untuk mengetahui lebih lanjut terkait penanganan alergi susu sapi terhadap buah hati, LIMONE telah menghubungi dr. Syilvia Jiero, MKed (Ped), SpA, seorang Dokter Spesialis Anak dari RS Kasih Herlina Timika Papua, yang akan menjelaskan terkait gejala dan dampak yang bisa ditimbulkan dari alergi yang satu ini.

Apakah Bayi Bisa Mengalami Alergi yang Disebabkan Susu?

Foto: www.unsplash.com

Dokter Syilvia menjelaskan bahwa pada dasarnya bayi bisa mengalami alergi yang disebabkan oleh susu sapi. Dan kondisi ini sesungguhnya tidak berbahaya jika segera ditangani dengan baik.

“Namun jika tidak ditangani dengan baik, maka quality of life anak akan terganggu. Pada kasus yang lama tidak ditangani, bayi bisa tidak tumbuh dengan baik,” ujarnya.

Hal ini dikarenakan penyerapan nutrisi yang tidak optimal dan bisa berkembang menjadi bentuk alergi lain ketika beranjak dewasa. Oleh sebab itu, kondisi cukup berbahaya bila tidak segera ditangani dengan baik.

Apa yang Menyebabkan Bayi Bisa Mengalami Alergi Susu Sapi?

Foto: www.freepik.com

Pada dasarnya, alergi susu sapi disebabkan oleh terganggunya fungsi sistem kekebalan tubuh.

“Apabila anak memiliki alergi terhadap susu sapi, maka sistem kekebalan tubuh akan mengenali protein susu sapi sebagai zat asing yang berbahaya di dalam tubuh,” ungkap Dokter Spesialis Anak ini.

Lalu tubuh akan membentuk antibody Immunoglobulin E (IgE) yang akan menetralkan protein (alergen).

Antibodi IgE ini akan mengenali dan memberikan sinyal kepada sistem kekebalan tubuh untuk melepaskan histamine dan zat-zat lainnya, akibatnya timbul tanda dan gejala alergi yang beragam.

Menurut Dokter Syilvia, pelepasan senyawa kimia akibat alergi susu sapi ini didasari oleh beberapa sebab, yakni:

Reaksi Immunoglobulin E (IgE) mediated

Immunoglobulin E merupakan antibodi yang berperan dalam melawan alergi. Pada kondisi ini, sistem imunitas melakukan pelepasan senyawa histamine, yakni senyawa kimia yang dilepaskan tubuh saat merespons alergi.

“Gejala ini berlangsung sekitar 20-30 menit setelah bayi mengonsumsi protein susu sapi. Namun gejala juga bisa muncul lebih dari dua jam,” katanya.

Reaksi Non-immunoglobulin E-mediated

“Sel T atau sel darah putih ditafsir sebagai penyebab dari munculnya gejala alergi. Biasanya gejala akan muncul secara bertahap, dari 48 jam hingga satu minggu setelah bayi mengonsumsi protein susu sapi,” tutur Dokter Syilvia.

Campuran reaksi immunoglobulin E dan Non-immunoglobulin E mediated

Pada kondisi ini terjadinya gabungan reaksi antara immunoglobulin E dan Non-Immunoglobulin E mediated.

Bagaimana Gejala Alergi Susu Sapi pada Bayi?

Foto: www.freepik.com

Ketika bayi mengalami alergi yang disebabkan saat mengonsumsi susu sapi, hal ini menimbulkan dua jenis gejala, yakni ringan dan berat.

Gejala ringan terdiri dari:

  • Muntah, diare, konstipasi, dan adanya darah pada tinja
  • Perut kembung
  • Anemia defisiensi besi
  • Nafas berbunyi (mengi)
  • Pilek, batuk, dan kronik
  • Kolik yang berlangsung terus-menerus (lebih dari tiga jam per hari dan terjadi selama tiga minggu)
  • Bintik merah di kulit
  • Bengkak pada wajah
  • Mata yang memerah

Sedangkan gejala berat bisa ditandai dengan:

  • Gagal tumbuh
  • Anemia defisiensi besi

Apakah Alergi Susu Sapi Sama dengan Intoleransi Laktosa?

alergi susu sapi
Foto: www.canva.com

Beberapa orang mungkin menganggap bahwa alergi yang dialami bayi karena susu sapi memiliki arti yang sama dengan intoleransi laktosa, namun kenyataannya Dokter Syilvia menjelaskan bahwa kondisi ini sangat berbeda.

“Alergi susu sapi disebabkan oleh terganggunya fungsi sistem kekebalan tubuh ketika kontak dengan protein susu sapi (zat alergi). Berbeda dengan alergi susu, intoleransi laktosa tidak berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh,” jelasnya.

Intoleransi laktosa sendiri disebabkan karena tubuh bayi kekurangan enzim khusus (laktase) untuk mencerna laktosa yang merupakan komponen karbohidrat yang terdapat di dalam susu.

Bagaimana Mendiagnosis Alergi yang Disebabkan Susu Sapi?

alergi susu sapi
Foto: www.rawpixel.com

Ketika muncul reaksi negatif yang ditunjukkan bayi saat mengonsumsi susu sapi atau produk susu sapi, maka hal ini diindikasikan sebagai gejala dari alergi susu sapi.

“Gejala-gejala alergi susu sapi pada bayi akan jauh lebih baik jika diketahui sedini mungkin. Ibu dapat segera berkonsultasi dengan dokter ketika ditemukan gejala-gejala dari alergi tersebut,” ujarnya.

Berikut beberapa langkah yang akan dilakukan untuk menegakkan diagnosis alergi susu sapi:

Menanyakan riwayat perjalanan alergi

Untuk menegakkan diagnosis alergi yang disebabkan oleh susu sapi, maka dokter akan menanyakan riwayat perjalanan alergi pada bayi atau orang tua bayi, meliputi makanan dan minuman apa saja yang pernah dimakan.

Serta adakah riwayat alergi debu atau udara dingin dan apa saja gejala alergi yang timbul. Selain itu, apakah gejala berkurang atau menghilang ketika makanan atau minuman dihentikan, serta menghindari pencetus alergi seperti debu dan udara dingin.

Pemeriksaan fisik

Selanjutnya, akan dilakukan pemeriksaan fisik untuk memeriksa indikasi alergi yang terjadi pada tubuh bayi.

Pemeriksaan darah

Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan darah. Ini bertujuan untuk memeriksa kadar antibody Imunoglobulin E dalam darah bayi.

Pemeriksaan kulit

Kemudian, pemeriksaan melalui kulit juga akan dilakukan, umumnya dengan membuat luka kecil pada permukaan kulit bayi. Nantinya akan diletakkan sejumlah kecil protein susu pada luka kecil di kulit tersebut.

“Jika saat pengamatan muncul benjolan kecil yang gatal di daerah tersebut, maka menandakan adanya alergi susu,” ungkap Dokter Syilvia.

Bagaimana Cara Mengatasi Alergi yang Disebabkan Susu?

Foto: www.freepik.com

Ketika buah hati mengalami alergi susu, maka terdapat beberapa cara yang disarankan oleh Dokter Syilvia untuk dilakukan oleh orang tua, di antaranya adalah:

Berkonsultasi dengan dokter

“Konsultasi dan periksakan ke dokter mengenai kondisi kesehatan bayi yang memiliki alergi susu sapi secara rutin. Kemudian simpan riwayat kesehatannya dengan baik, hal ini bertujuan agar memudahkan bagi ibu untuk memantau nutrisi dan kesehatan harian bayi,” pesannya.

Berikan ASI eksklusif

Kemudian, disarankan agar bayi menerima ASI eksklusif. “Apabila bayi mengonsumsi ASI eksklusif, maka ibu perlu menghindari untuk mengonsumsi produk atau olahan makanan yang mengandung susu sapi,” tuturnya.

Sebab, protein susu sapi yang dikonsumsi oleh ibu akan tersalurkan juga melalui ASI yang dikonsumsi oleh bayi.

Ganti jenis susu formula

Selain itu, Dokter Spesialis Anak ini juga menyarankan jika memang bayi tidak menerima ASI eksklusif, maka disarankan untuk mengganti jenis susu formula khusus untuk alergi susu sapi.

Dokter Syilvia menambahkan bahwa orang tua juga perlu mengajak bayi berjemur setiap pagi dan melakukan terapi desensitisasi.

Apa Dampaknya Ketika Alergi Ini Tidak Segera Diatasi?

alergi susu sapi
Foto: www.canva.com

Terdapat beberapa dampak jangka panjang yang bisa terjadi ketika alergi susu sapi pada bayi tidak segera diatasi, yakni:

Dampak kesehatan

Jika alergi susu sapi tidak segera diatasi, maka hal ini bisa meningkatkan risiko penyakit degeneratif. Seperti penyakit degeneratif, obesitas, tekanan darah tinggi, dan sakit jantung.

Gangguan tumbuh kembang

“Anak dengan alergi dapat mengalami keterlambatan pertumbuhan, karena hal ini berhubungan dengan jenis dan durasi pantang makanan,” papar Dokter Syilvia.

Seperti yang diketahui, mukosa saluran cerna merupakan tempat terjadinya penyerapan zat-zat nutrisi tubuh, yakni makronutrien seperti karbohidrat, protein, dan lemak, serta mikronutrien yang terdiri dari vitamin dan mineral.

Ketika mukosa saluran cerna rusak, maka penyerapan zat gizi pun tidak berlangsung secara optimal.

“Bayi dan anak, terutama dalam masa 1000 hari pertama kelahirannya, sangat memerlukan zat gizi yang seimbang untuk menunjang tumbuh kembangnya yang optimal,”jelasnya.

“Kerusakan mokusa saluran cerna karena adanya alergi susu sapi dapat menyebabkan makronutrien dan mikronutrien tidak dapat dicerna dengan baik,” lanjutnya.

Pada akhirnya, hal ini dapat mengganggu tumbuh kembang bayi.

“Di awal-awal bisa terjadi penurunan berat badan, kemudian lama-lama tinggi badannya akan lebih pendek dari anak seusianya. Serta jika terus-menerus terjadi maka perkembangan kecerdasan kognitifnya juga akan terganggu,” imbuhnya.

Dampak ekonomi

Alergi yang dialami oleh anak dan tidak segera diatasi juga bisa berdampak pada ekonomi, terutama ekonomi keluarga. Orang tua jadi perlu mengeluarkan biaya pemeriksaan dan pengobatan yang lebih besar.

Dampak psikologis

Dokter Syilvia juga menuturkan bahwa alergi yang tidak segera diatasi dapat memicu dampak psikologis pada anak kelak, seperti stres. “Alergi berkepanjangan bisa mengganggu pola tidur bayi hingga menjadikannya stres,” katanya.

“Nantinya bayi akan merasa minder karena memiliki tubuh yang kecil dibanding temannya, kalah cerdas, tertinggal, dianggap kurus, pendek, dan yang jelas mengarah gagal menjadi generasi maju,” ungkapnya.

Kondisi stres ini tidak hanya dialami oleh anak, tetapi juga oleh orang tua. Selain stres memikirkan keadaan keuangan, orang tua juga rawan mengalami stres karena memikirkan tumbuh kembang anaknya yang tidak normal.

Ketika mengalami efek samping dari alergi susu sapi, maka orang tua harus melakukan beberapa cara, yakni:

  • Tidak meremehkan gejala alergi sekecil apa pun
  • Cepat mengatasi gejala dengan memeriksakan bayi ke Dokter Spesialis Anak
  • Bila ada gejala, coba eliminasi atau hindarkan bayi dari susu sapi sementara. Untuk bayi yang ASI eksklusif, sebisa mungkin hindari produk susu sapi lain, seperti keju, yoghurt, dan biskuit
  • Pantau selalu grafik tumbuh kembang buah hati, biasanya terdapat di buku kontrol berobat atau Kartu Menuju Sehat (KMS)
  • Bila bayi didiagnosis alergi susu sapi oleh Dokter Spesialis Anak, gunakan alternatif pemberian susu dengan jenis susu lain

Bisakah Mencegah Timbulnya Alergi Susu pada Buah Hati?

Foto: www.freepik.com

Ketika bayi diberikan ASI eksklusif, maka ibu perlu menghindari untuk mengonsumsi produk atau olahan makanan yang mengandung susu sapi. Soalnya protein susu sapi yang dikonsumsi ibu nantinya akan tersalurkan juga melalui ASI.

“Jika bayi diberikan susu formula, maka cobalah menggunakan susu protein hidrolisat parsial untuk preventif. Jadi diberikan pada bayi yang punya faktor risiko atopi dan belum ada gejala alergi yang muncul,” ungkapnya.

“Sedangkan pada yang sudah ada manifestasi alergi, maka pilihannya adalah protein hidrolisa ekstensif atau asam amino,” lanjutnya.

Berikut beberapa susu formula alternatif yang bisa diberikan pada bayi yang mengidap alergi susu sapi, yakni:

  • Susu formula hidrolisan ekstensif
  • Formula asam amino
  • Formula kedelai (soya)

Kesimpulan

alergi susu sapi
Foto: www.freepik.com

Pada dasarnya, alergi yang dialami oleh bayi karena susu sapi bisa diatasi dengan baik apabila orang tua segera mengenali gejala dan berkonsultasi dengan dokter.

Namun ketika tidak diatasi dengan cepat, hal ini dapat memicu timbulnya risiko yang tidak baik untuk tubuh bayi.

Oleh karenanya, Dokter Syilvia menyarankan agar “mari kita tanggap alergi dengan gerakan ‘3K’ yakni Kenali gejalanya, Konsultasikan ke dokter, dan Kendalikan faktor penyebab alergi yang dialami oleh anak,” pesannya.