Konsumsi Oat Bisa Membantu Pasien Kanker Mengatasi Isu Pencernaan, Kata Studi Baru

oat bran
Foto: www.rawpixel.com

Siapa yang menyangka kalau oat bisa menjadi “superfood” bagi pasien yang mengalami kanker. Sebuah penelitian internasional memperlihatkan mengonsumsi makanan kaya serat secara signifikan bisa mengurangi inflamasi pencernaan yang disebabkan oleh radiasi. Uh-uh, makanan kaya serat yang dimaksud adalah oat bran.

Apa yang Kaitan Oat Bran dengan Pasien Kanker?

Oat bran (dedak gandum) adalah lapisan terluar dari gandum, yang mengandung banyak serat dan sedikit lemak jenuh. Satu porsi dedak gandum mengandung 7 gram serat. Sementara oat meal, adalah bagian dalam gandum, yang ketika diproses, bagian “bran“nya akan dilepaskan. Dibandingkan oatmeal, oat bran memiliki lebih banyak serat, protein, vitamin B, dan zat besi.

Dilakukan oleh Universitas Gothenburg, Universitas Lund dan University of South Australia, studi praklinis ini menemukan bahwa konsumsi oat bran (dedak gandum) bisa menetralkan kerusakan gastrointestinal kronis yang disebakan karena radiasi. Hasil studi ini bertentangan dengan rekomendasi klinis yang selama ini diterapkan di dunia medis.

“Pasien dengan kanker sering kali disarankan untuk menjalani diet dengan serat terbatas. Ini karena diet tinggi serat dipercaya memperparah kembung dan diare—dua efek samping umum radioterapi,” kata Dr Andrea Stringer, ahli gastorenterologi dan onkologi, salah satu penulis studi ini.

“Akan tetapi, saran ini tidak berdasarkan bukti yang pasti, dengan ketidakcukupan serat berpotensi menjadi kontraproduktif dan memperparah keracunan gastrointestinal,” katanya.

Apa Pentingnya Hasil Penelitian Ini?

Dan setelah membandingkan diet tinggi serat dan tidak berserat, peneliti menemukan bahwa pola makan tanpa serat ternyata memiliki efek yang lebih buruk pada subjek yang sedang menjalani perawatan radioterapi. Menurut studi ini, diet tanpa serat mengakibatkan inflamasi sitokin yang biasanya tetap ada lama setelah radiasi, yang akhirnya meningkatkan inflamasi sistem pencernaan. FYI, sitokin adalah protein yang dihasilkan sistem kekebalan tubuh untuk melakukan berbagai fungsi penting dalam penanda sinyal sel.

“Sebaliknya, diet tinggi serat menurunkan kehadiran sitokin yang mengurangi inflamasi akibat radiasi, baik untuk jangka pendek dan panjang,” jelas Dr Stringer.

Masalah pada usus akibat dari radioterapi memang menjadi isu banyak banyak penyintas kanker—dan belum ada obat atau cara mengatasinya. Dan meski tahap praklinis studi ini dilakukan pada tikus jantan, para peneliti berharap ini bisa menjadi sebuah titik cerah untuk membantu para pasien dengan kanker.

“Jika kita bisa mencegah sejumlah inflamasi akibat radiasi hanya dengan menyesuaikan level serat, kita bisa meningkatkan kesehatan usus para penyintas kanker untuk jangka panjang, dan mungkin seumur hidup mereka,” katanya.

Selanjutnya: Apakah nasi putih harus dihindari saat diet? ini jawaban spesialis gizi.