Bagaimana Menikmati Menjadi Orangtua Saat Kamu Seorang Introver

Foto: www.unsplash.com

Selamat ya, kamu akhirnya jadi orangtua! Itu artinya, siap sedia 24 jam 7 hari—sepanjang hidup. Hore… tapi kamu merasa masuk ke dalam speaktrum introver (baca: super duper capek setelah berinteraksi dengan orang banyak dan setelahnya butuh waktu sendiri)—menjadi orangtua itu bisa menjadi sesuatu yang bikin menakutkan. Jadi, apa yang bisa kamu lakukan untuk menikmati menjadi ibu dan kebutuhan emosional tetap terpenuhi? Untuk para ibu introver—pertama: tarik nafas, buang (ulang tiga kali). Dua: Baca ini. Sampai habis.

Ada Apa dengan Introver yang Menjadi Orangtua?

Foto: www.unsplash.com

Menurut  Psikolog Fania Kusharyani, M.Psi, introver merupakan salah satu kepribadian manusia sehingga tak jadi masalah jika kita seorang ibu yang introver.

“Sebenarnya sih nggak ada masalah ya, kalau pun kita menjadi salah satu orangtua yang introver. Itu kan memang salah satu kepribadian manusia, bukan kepribadian yang bermasalah. Perbedaan yang introver dan ekstrover itu lebih kepada bagaimana seseorang mendapatkan energi bagi dirinya. Misalnya ekstrover bisa mencari energi dari lingkungan di luar. Misalnya, saat berkumpul dengan orang lain, atau saat di keramaian,” ungkapnya.

Nah, sementara kepribadian introver ketika “menghabiskan waktu bersama orang atau berada di dalam kerumunan atau situasi yang ramai, justru energinya habis. Jadi, orang introver mendapatlan energi dari dalam dirinya. Makanya dia perlu melakukan me time yang sifatnya tenang, rilek, menyendiri. Jadi apakah salah kita selaku orangtua yang introver? Nggak salah,” ucap Fania.

Ini Tantangan yang Mungkin Dihadapi oleh Introver

Foto: www.unsplash.com

Menurut psikolog dari Tiga Generasi ini menjadi ibu yang introver akan dianggap sebagai orangtua yang tidak sempurna. Hal ini disebabkan secara normatif, orangtua dipandang sebagai orangtua yang baik jika menghabiskan waktu atau setiap momen bersama anaknya.

“Sekarang pandangan masyarakat masih seperti itu: ingin selalu bersama anaknya dan mendahulukan anak di atas yang lainnya. Sedangkan orang introver memiliki kebutuhan dasar yang bertentangan dengan orang pada umumnya,” terangnya. “Biasanya orang introver membutuhkan waktu untuk menyendiri dan menjauh dari tugas mereka untuk me-recharge energi. Itu sesuatu yang mereka butuhkan. Tapi bukan berarti mereka orangtua yang buruk.”

Perbedaan pandangan umum di masyarakat saat ini menimbulkan salah persepsi. “Seringkali orang yang melihat, akan berkata ‘kok ibunya gini ya, seperti acuh pada anaknya’. Misalnya saat melihat seorang anak dibiarkan bermain sendiri. Akan ada yang bilang, ‘kok ibunya tega ya, jauh-jauh dari anaknya dalam waktu yang lama’. Padahal, kebutuhan orangtua yang introver juga penting lho, dipenuhi,” ucapnya.

Dua Sisi Seorang Ibu Introver

Foto: www.freepik.com

Sama seperti koin, ada dua sisi dari seorang introver yang menjadi ibu.

Sisi yang menjadi sebuah tantangan: “Dengan me-recharge tubuhnya sendiri dulu, dia merasa ada jarak bersama dengan anak dan orang sekitar. Hal itukan bertentangan dengan norma yang saat ini ada di masyarakat,” paparnya. “

Menurutnya hal ini seringkali menimbulkan perasaan bersalah karena bertentangan dengan norma yang berlaku. “Norma yang berlaku orangtua selalu menghabiskan waktu bersama anaknya. Sedangkan yang introver kok kayaknya ada perasaan ingin jauh ‘dulu’ dari anaknya. Sehingga mulailah muncul perasaan bersalah dan tidak menjadi ibu yang baik,” sambungnya. “Masalah tersebut meningkatkan masalah psikologis misalnya kecemasan. Misalnya, ‘kok saya bukan seperti orang lain ya, selalu menikmati waktunya bersama anak’. Atau, ‘kok saya merasa ingin sendiri dul’u. Nah, jika tidak ditangani nantinya kesehatan orangtuanya tidak baik.”

Di sisi lain, keuntungannya terdapat pada pola pengasuhannya. “Introver itu dia lebih sensitif, lebih peka dalam melihat sesuatu secara detail. Ketika dia mengasuh anaknya, dia benar-benar akan memperhatikan anaknya,” jelas Fania.

Foto: www.unsplash.com

Menurut Fania, biasanya orangtua yang introver lebih sensitif dan sadar akan perubahan pada anaknya. “Misalnya, ‘eh kok anak saya terlihat murung, ya’. Mungkin bagi orangtua ekstrover tidak akan sadar dengan kesadaran kecil tersebut.”

Tidak hanya itu, tapi dalam rumah tangganya pun introver pun lebih detail atau sensitif. “Biasanya lebih terencana, lebih detail dan membuat planning yang jelas. Mengerti apa yang akan dilakukan, misalnya  suaminya butuh ini itu, harus dipersiapkan begini begitu. Jadi kualitas hubungannya lebih dalam.”

Pengaruh Ibu Introver Pada Anak

Foto: www.unsplash.com

Fania berpendapat orangtua yang introver akan memberikan pengaruh jika orangtua tidak menyadari atau memahami dirinya.

“Kebanyakan orangtua tidak menyadari apakah dia seorang yang introver atau nggak. Seringkali walaupun dirinya sudah capek, tetap ingin bersama anaknya. Akibatnya pengasuhannya pun bisa tidak optimal; ia akan lebih mudah marah dan tidak sabaran,” ujar Fania. “Anaknya akan merasa tidak mendapat pengasuhan yang hangat, bahkan merasa tidak dipenuhi ibunya. Akhirnya, berdampak pada psikologis anaknya. Kelak anak bisa jadi akan memiliki masalah perilaku yang terkait dengan emosi.”

Ini Cara Mengenal Apakah Kamu Seorang Ibu Introver

Foto: www.unsplash.com

Orang yang introver bukannya tidak suka berteman atau menjalin hubungan sosial. Namun, “ciri pertama adalah saat kita merasa lelah, kita butuh waktu sendiri tanpa anak dan melakukan sesuatu yang kita sukai atau me time,” ungkap Fania. “Ketika melakukan me time yang bersifat tenang, rileks dan tidak bertemu dengan orang banyak, mereka merasa kondisinya lebih baik, kembali berenergi.”

Ciri berikutnya yaitu ketika di sekolah berhadapan dengan orangtua murid lainnya. “Bukannya tidak mau berkenalan,” ucapnya, ‘tapi, yah kalau kenalan hanya sebatas itu aja.” Seorang ibu introver biasanya tidak terlalu berminat untuk menjalin hubungan lebih dalam. “Biasanya lebih membatasi diri untuk kegiatan sekolah atau kegiatan playdate, misalnya cukup sekali seminggu.”

Ini yang Harus Kamu Lakukan Jika Kamu Seorang Ibu Introver

Foto: www.unsplash.com

Jika kamu merasa enggan berkenalan dengan orangtua lain di sekolah, cobalah untuk menjadi fleksibel. “Dalam hal sekolah anak, orangtua harus terlibat untuk mendapatkan informasi tentang sekolah serta membantu anak-anak dalam bergaul,” uajarnya.

Ketika kebutuhan untuk mendapatkan informasi tentang sekolah itu kita sadari, ini mungkin akan membuat kita lebih akfif dalam lingkungan sosial. “Sebenarnya nggak ada yang benar-benar pure introver. Jadi, mereka pasti bisa memberikan usaha lebih.”

Memang sih, tidak mudah dan membuat kita super lelah. Itu berarti, pilih dan prioritas. “Mana yang diperlukan atau paling penting. Maka mental akan lebih sehat,” sarannya.

Ini Cara Menemukan Me Time Saat Menjadi Orangtua

Foto: www.shutterstock.com

Pertama-tama, buat jadwal aktivitas harian. Dengan begini, “kita bisa tahu bahwa kapan waktunya  untuk me time atau tidur siang.” Menjadi pencuri waktu dari jadwal harian yang menggila.

Cara kedua yaitu dengan komunikasikan dengan pasangan mengenai apa yang kamu alami.“Jelaskan kalau misalnya kalau kamu butuh waktu menyendiri dan itu akan membuatmu lebih bahagia. Alhasil, bisa mengasuh lebih baik,” sarannya. Atau, “kerja sama dengan pasangan dengan bergantian mengasuh anak. Atau, kalau anak sudah cukup besar dan mengerti, bisa katakan, ‘baterai mama habis nih, mama kecapekan mau istirahat.'”

Selanjutnya, pilih aktivitas yang tenang atau kegiatan yang tidak terlalu aktif, misalnya mewarnai atau membaca buku bersama anak. “Hal ini ‘kan, bisa dilakukan tanpa ngomong. Pokoknya jangan ragu meminta bantuan, dan komunikasikan bersama anak dan pasangan,” tekannya.

Selamat mencoba dan menikmati menjadi ibu! Selanjutnya, lakukan ini agar kesehatan mental dan jasmanimu tetap terjaga sampai tua.