Para Perempuan yang Bekerja Sampai Paruh Baya, Cenderung Lebih Sehat

manfaat bekerja bagi kesehatan perempuan
Foto: www.canva.com

Senin. DI luar hujan dan kasur terasa ekstra empuk. Rasanya ingin terus menempel dan memeluk bantal. Apalagi jika membayangkan sederet email dan presentasi yang harus dilakukan hari ini. Akan tetapi, ingat baik-baik: perjuanganmu bangun pagi, menyiapkan diri dan mengarungi macet selama puluhan tahun—itu ada hikmahnya. Setidaknya menurut sebuah studi baru, tentang manfaat bekerja bagi kesehatan.

Studi Ini Menganalisa Ribuan Perempuan Selama Puluhan Tahun

Dipublikasikan di jurnal Demography, sebuah studi menemukan bahwa para perempuan yang konsisten bekerja pada usia 30 sampai 40-an ternyata lebih sehat secara mental dan fisik setelah pensiun. Ini jika dibandingkan dengan mereka yang tidak bekerja.

Studi ini menganalisa 5100 perempuan. Dan hebatnya, survei ini dimulai ketika para perempuan tersebut berusia 30 dan 44 tahun dan berakhir ketika mereka berumur 66 sampai 80 tahun. Lama, ya.

Hasilnya? Data memperlihatkan bahwa para wanita yang bekerja selama 20 tahun pada permulaan studi ini, ternyata cenderung kurang mengalami depresi saat pensiun. Ini artinya, risiko kematian dini berkurang 25% dibandingkan mereka yang tidak bekerja dan digaji.

“Pekerjaan yang dibayar adalah salah satu penentu sosial terpenting bagi kesehatan laki-laki dan perempuan,” tulis studi ini. Pasalnya, pekerjaan bisa menyediakan sokongan finansial dan sosial yang mendorong terjadinya kestabilan dan kesehatan.

Para perempuan yang memiliki pengalaman negatif saat bekerja (misalnya, tidak menemukan kepuasaan pada pekerjaan mereka dan menjadi korban diskriminasi) cenderung mengalami gejala depresif. Tidak hanya itu, kesehatan mereka juga menurun. Akan tetapi meski mengalami gejala depresif dan kesehatan mereka menurun, mereka tetap lebih sehat dibandingkan perempuan yang tidak bekerja. itu manfaat bekerja bagi kesehatan perempuan.

Sisi Positif Orangtua yang Tidak Bekerja

“Penemuan kami ini menyokong kesimpulan bahwa bekerja memberi dampak positif bagi kesehatan perempuan, terlepas dari situasi ekonomi dan bahkan ketika mereka tidak mendapatkan pengalaman bekerja terbaik,” kata Jennifer Caputo, Ph.D, pemimpin studi ini dalam sebuah rilisan pers.

Pastinya: mau bekerja atau tinggal di rumah adalah pilihan pribadi, bukan karena tekanan sosial. Meski di studi ini menekankan keuntungan bekerja, penelitian lain juga memperlihatkan sisi positif menjadi ibu rumah tangga penuh waktu.

Dalam sebuah studi di tahun 2013, para anak dari orangtua yang memilih tinggal di rumah memiliki prestasi akademik yang lebih tinggi. Belum lagi, hubungan yang stabil dan konsisten antara orangtua dan anak menjadikan anak cenderung tidak memiliki masalah sikap dan psikologis saat mereka dewasa.

Jadi, apa pun kondisimu saat ini, pastikan kamu mengelilingi diri dengan orang-orang yang positif baik di kantor maupun di rumah. Ini alasannya.

podcast button