Kata Psikolog, Begini Cara Menjawab Pertanyaan Si Kecil “Dari Mana Datangnya Anak?”

dari mana datangnya anak
Foto: www.canva.com

Menurut sebuah survei, orang tua ditanyai 55 pertanyaan dalam satu hari oleh mertua anak mereka. Berat ya, jadi orang tua! Uh-uh. Salah satu dari puluhan pertanyaan yang paling sering diajukan anak adalah “dari mana datangnya anak?”

Bagaimana menjawab pertanyaan ini? LIMONE menghubungi seorang psikolog untuk membantu kamu menghadapi situasi seperti ini.

Apakah Pertanyaan “Dari Mana Datangnya Anak” Perlu Dijawab?

dari mana datangnya anak
Foto: www.freepik.com

Pertama, yang sebaiknya kamu ingat: sebagian besar wajah orang tua memerah ketika pertanyaan ini terucapkan. Jadi, merasa agak malu, gerah, dan—itu wajar.

Kedua: sering kali orang tua tidak tahu bagaimana sebaiknya menjawab pertanyaan, ‘dari mana datangnya anak’ atau ‘dari mana datangnya bayi’.

Biasanya orang tua kesulitan menjawab pertanyaan anak mengenai ‘asal bayi’ karena orang tua sudah memiliki persepsi tersendiri dari jawaban pertanyaan tersebut,” ujar Binky Paramitha Iskandar, psikolog pendidikan dan co-founder Rumah Dandelion.

“Sebenarnya ketakutan ini biasanya karena orang tua memiliki persepsi tertentu mengenai pendidikan seksual. Biasanya dianggap tabu, sehingga justru menjadi topik yang dihindari,” paparnya.

Menurutnya, sebaiknya orang tua meluruskan persepsi agar “lebih nyaman untuk berbicara dengan anak. Baca juga referensi yang tepat hal-hal apa saja yang perlu dibicarakan terkait pendidikan seksual sesuai dengan usia perkembangan anak.”

Seorang dokter, bernama Dr. Elise Berlan mengatakan pada Popsugar untuk “tidak panik” dulu tentang informasi apa yang harus diberikan kepada karena pada dasarnya orang tua adalah orang yang paling tepat untuk mengajarkan reproduksi.

Dan apakah kamu perlu menjawab pertanyaan “dari mana datangnya anak”? “Pertanyaan tersebut sebaiknya dijawab orang tua,” saran Binky.

Dan seandainya kamu belum siap, “coba katakan pada anak bahwa kamu butuh waktu (misalnya beberapa jam atau esok hari) untuk mencari jawabannya dan kemudian segera sampaikan jawaban ke anak,” ujarnya.

“Sebaiknya, tidak didiamkan karena anak bisa merasa terabaikan. Rasa ingin tahunya pun menjadi tidak terpupuk, dan kalau anak sudah besar bisa jadi dia justru mencari jawaban di tempat lain yang belum tentu benar dan aman,” Binky mengingatkan.

Bagaimana Cara Menjawab Pertanyaan “Dari Mana Datangnya Anak”?

Foto: www.canva.com

Binky menjelaskan bahwa saat pertanyaan ini keluar dari mulut si anak, ini adalah salah satu momen yang tepat untuk membicarakan seks. “Tapi disesuaikan dengan usia dan pemahamannya,” tekannya.

Sebelum kamu memberikan penjelasan, tidak ada salahnya juga mengajukan pertanyaan balik seperti “kalau menurut kamu dari mana, ya?” Taktik ini menurut Binky untuk mengetahui sejauh mana pemahaman anak.

Jadi bagaimana menjawabnya? Pastinya jujur dan yang sebenarnya.

Dalam artian, kebenaran itu “bisa dimengerti oleh anak, yang artinya kamu tidak perlu menjelaskan detailnya. Jelaskan bagian kebenaran yang bisa dimengerti oleh anak dan tambahkan informasi lebih detail seiring bertambahnya umur sang anak,” kata Dr. Miriam Stoppard, seorang dokter dan penulis buku Conception, Pregnancy & Birth, kepada Mirror.

Lalu, “untuk anak usia 3 tahun misalnya, bisa coba dijawab dengan penjelasan sederhana. Seperti, ‘adik bayi itu asalnya dari perut mama,'” ujar Binky.

Baca Juga :  Apakah Herpes Kelamin Bisa Ditularkan Lewat Dudukan Toilet? Ini Kata Ahli

Pada usia ini, Dr Debra Laino, seorang terapis dan ahli seksual, mengatakan kepada publikasi Metrokids bahwa si anak hanya ingin tahu dan kemungkinan besar tidak sedang berbicara tentang seks.

Binky pun menganjurkan bahwa orang tua belum perlu menjelaskan proses pembuatan bayi secara biologis yang detail. 

Jika anak puas dengan jawaban itu—ah, leganya. Namun, ada usia di mana anak menjadi kritis dan memiliki pertanyaan lanjutan, misalnya saat dia sudah berusia 8 tahun atau di atasnya. Untuk itu kamu bisa memberikan informasi yang lebih.

“Kalau misalnya anak sampai bertanya, ‘dari perut keluarnya dari mana’? Boleh saja orang tua untuk menyampaikan bahwa keluar dari vagina,” kata Binky.

Selain itu, jika anak sudah cukup besar, bukan balita lagi, juga menjelaskan dengan menggunakan bahasa dan istilah ilmiah adalah sesuatu yang sangat penting. Misalnya pakai ‘uterus’ atau ‘rahim’, bukan ‘perut’

Kesimpulan

Foto: www.canva.com

Intinya, jika pertanyaan ini muncul—jangan dibuat rumit. “Orang tua cenderung membuatnya lebih rumit daripada yang sebenarnya,” kata Dr. Laino kepada Metrokids. “Jawab pertanyaan mereka secara sederhana, tidak kurang tidak lebih.”

Ah, tapi pada kenyataannya menghadapi situasi “dari mana datangnya anak” ini tidak mudah. Nah, Binky mengatakan bahwa kamu bisa mengunakan alat bantu visual, misalnya buku bergambar, video atau foto asli saat kamu sedang mengandung.

“Pastikan segala bentuk visual sesuai dengan kebutuhan anak di usianya,” Binky menekankan. Alat bantu itu sebaiknya disesuaikan dengan konteks, pemahaman anak, dan usia anak.