Mengapa Seseorang Menjadi Bucin?

apa arti bucin
Foto: www.istockphoto.com

Mungkin hanya orang Indonesia yang baru pulang dari liburan di planet Mars yang belum pernah mendengar istilah “bucin“. Penghuni media sosial kemungkinan besar hafal dan bisa lebih dari tiga kali sehari mendengar kata ini. Apa arti bucin? Dan bagaimana keluar dari hubungan yang tidak sehat ini?

Yuk, baca penjelasan Rena Masri, S. Psi, M. Si, Psikolog, seorang psikolog klinis dewasa, Founder dari cintasetara dan dari Q Consulting tentang apa arti bucin dan bagaimana sebenarnya hubungan yang sehat.

Apa Arti Bucin?

apa arti bucin
Foto: www.freepik.com

Akan sulit mencari tahu arti istilah ini di Kamus Besar Bahasa Indonesia, jadi mari mendapatkan pencerahan dari psikolog ini tentang apa arti bucin.

“Jadi bucin itu budak cinta. Sebenarnya istilah ini baru muncul belakangan ini, jadi bukan sesuatu yang sudah ada sejak awal. Ini berangkat dari fenomena sekarang yang remaja atau orang dewasa sekarang yang disebut bucin,” ujar Rena.

Jadi itu ya, tentang apa arti bucin: budak cinta.

Lebih lanjut, Rena menjelaskan bucin adalah di mana seseorang yang mau mengorbankan apa pun demi cinta, baik itu dalam bentuk harta, bahkan jiwa, raga, demi seseorang yang dia cintainya.

“Jadi kalau melihat dari fenemona sekarang, apa pun yang diminta oleh pasangannya akan dilakukan oleh pasangannya itu. Tanpa melihat apakah itu ada dampak negatif dan positifnya bagi dia, atau apakah hal tersebut akan menyakiti dia atau tidak,” tambahnya.

“Jadi semua yang diminta oleh pasangannya itu akan diusahakan dipenuhi sehingga akan mengorbankan perasaan, harta, atau hal lainnya dalam diri seseorang tersebut. Jadi seseorang tersebut benar-benar tergila-gila dan mau mengorbankan apa pun demi pasangannya,” tambahnya.

Terdengar ekstrem, ya. Itulah sebabnya Rena mengatakan bahwa kondisi ini bukanlah sesuatu wajar.

“Tentunya segala sesuatu yang berlebihan itu tidak wajar. Kenapa? Apalagi sampai seseorang tidak memikirkan kesehatan mental atau kesehatan fisiknya dirinya demi untuk orang lain,” tegasnya.

Apa Tanda-Tanda Seseorang yang Bucin?

Foto: www.freepik.com

Sesuai dengan definisi di atas, mendeteksi apakah diri kita atau orang terdekat berada dalam kondisi bucin, biasanya mereka memperlihatkan tanda-tanda berikut:

  1. Individu tersebut selalu menuruti keinginan pasangannya, baik itu yang positif maupun negatif. “Jadi untuk menyenangkan pasangan kita menurut perkataan pasangan kita. Lalu akhirnya rutinitas harian terganggu, pekerjaan/sekolah bisa terganggu demi untuk pasangan. Jadi, misalkan pasangan meminta kita selalu di samping, kita pun mengorbankan pekerjaan/sekolah demi berada di sisinya,” ujarnya memberi contoh.

  2. Mengorbankan harta. Seseorang yang menjadi bucin tidak akan merasa keberatan jika dia harus selalu mengeluarkan uang untuk pasangannya—yang penting pacarnya tetap menjadi pasangannya. “Bahkan ketika kita tidak punya uang, kita mau melakukan lebih untuknya, misalnya dengan meminjam uang kepada orang lain. Sebegitu besarnya yang kita lakukan, bahkan jika hal tersebut merugikan diri kita sendiri,” ujarnya.

  3. Melakukan apa pun juga, karena ingin menuruti setiap perkataan dan permintaan pasangannya. Misalnya mengikuti permintaannya untuk dijemput atau diantar ke manapun, padahal kita memiliki kegiatan atau pekerjaan penting. “Pokoknya dibela-belain,” tegas Rena.

Apa yang Menyebabkan Seseorang Menjadi Bucin?

Foto: www.freepik.com

Menurut Rena ada sejumlah faktor yang menyebabkan seseorang menjadi bucin, di antarnya:

Pernah mengalami trauma

Dari sisi psikologis, mungkin dia pernah mengalami trauma sehingga ia sangat takut kehilangan orang yang dicintainya. Jadi, pada akhirnya dia mau mengorbankan apa saja untuk orang tersebut.

Kebutuhannya akan rasa sayang atau cinta selama ini tidak terpenuhi

“Sehingga pada saat seseorang memberikan rasa sayang atau cinta, dia tidak ingin orang tersebut tidak memberikan lagi rasa sayang/cinta tersebut. Dia sangat ketakutan, khawatir, merasa insecure, sehingga dia mau melakukan apa pun asalkan orang tersebut akan selalu memberikan cinta itu kepada dirinya,” paparnya.

Meski begitu, menurut Rena, hal tersebut biasanya hanya terjadi di awal. Pasalnya, lama kelamaan, “kita tidak tahu apakah rasa cinta yang memang membuat dia merasa disayang atau hal lain. Karena kadang-kadang banyak juga orang yang menjadi budak cinta, sebenarnya dirinya sendiri juga merasa tertekan, justru bukan merasa bahagia,” bebernya.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Berada di Situasi Ini?

Foto: www.freepik.com

Seperti halnya pada kebanyakan hubungan yang tidak sehat, para penderita bucin sering kali tidak menyadari dirinya berada dalam sebuah toxic relationship. Di sinilah seorang teman atau memiliki orang-orang positif di sekeliling kita menjadi penting.

“Pada umumnya, orang-orang yang berada dalam keadaan bucin, butuh orang lain untuk memberikan insight atau pandangan bahwa hubungannya tersebut bukanlah sebuah hubungan yang sehat. Sehingga dia bisa mulai keluar dari hubungan tersebut.

Keluar dengan cara apa?

“Misalnya dengan memperbaiki hubungan tersebut, atau mungkin memang kalau terjadi kekerasan secara emosional, apakah perlu ditinggalkan atau tidak. Itu yang perlu kita tindak lanjuti,” ujarnya.

Namun di atas semua itu, menurut Rena seseorang kemungkinan besar sulit jatuh ke dalam hubungan tidak sehat adalah jika dia mencintai dirinya sendiri.

“Sangat penting seseorang mengenal diri sendiri, menjaga kepercayaan diri, dan harga diri. Ini akan membuatnya merasa bangga dengan dirinya sendiri, merasa sayang merasa diri sendiri dan tidak ingin menyakiti dirinya. Kalau bucin, ini ‘kan dia bisa melakukan apa pun untuk orang yang disayangi, dengan mengorbnan diri sendiri. [Sedangkan] Kalau memang kita sayang dengan iri kita sendiri, tentunya kita tidak akan melakukan itu,” ujarnya.

Sekali lagi, intinya: mencintai dan menghargai diri sendiri. Menerima diri apa adanya, sehingga kita tidak membiarkan orang lain bertindak negatif kepada diri kita.

“Kita juga bisa melihat kalau seandainya hal tersebut akan memengaruhi kesehatan mental kita, kita harus menolak. Jadi, harga diri, kepercayaan diri, rasa aman nyaman dengan diri kita itu penting sekali agar kita tidak menjadi budak cinta. Dan tentunya kebutuhan-kebutuhan kita akan rasa sayang itu dipenuhi oleh orang-orang di sekeliling kita, terutama oleh orang tua kita, sehingga kita sudah merasakan cinta dan sayang yang cukup,” katanya.

Hubungan Cinta Seperti Apa yang Sehat?

apa arti bucin
Foto: www.xframe.io

Sekali lagi, jika seseorang di dalam sebuah hubungan berstatus “budak cinta” dan ada majikannya, bisa dipastikan hubungan tersebut tidak sehat.

“Kenapa tidak sehat? Yah, karena itu tadi perilaku kita selalu dikontrol oleh pasangan, kita tidak memiliki privasi, tidak bisa bersosialiasi dengan pasangan, harus selalu lapor kepada pasangan. Belum lagi kalau terjadi kekerasan verbal, fisik, emosional—misalnya dikata-katain, tetap saja mau. Dimintain uang walaupun nggak punya, akhirnya berusaha mencari uang demi pasangan. Dan mengalami tekanan yang memengaruhi kestabilan emosi kita. Hubungan seperti ini termasuk hubungan yang tidak sehat,” tekannya.

Dengan kata lain, jika kamu sedang menjalin hubungan dengan seseorang, milikilah hubungan yang sehat dan bahagia. Dua hal ini, adalah kunci dari hubungan yang berkualitas.

Bagaimana menciptakan hubungan yang sehat?

“Tentunya dengan pertama-tama, mencintai diri kita sendiri, menghargai diri kita sendiri,” Rena kembali menekankan.

Pada saat kita mampu mencintai diri kita sendiri, kita juga mencintai orang lain dengan sesuai porsinya shingga kita juga tahu apa yang terbaik untuk hubungan dan apa yang terbaik untuk diri kita.

Selain itu, hubungan yang sehat dan bahagia, akan membuat kedua belah pihak yang terlibat di dalamnya menjadi bertumbuh bersam-sama.

“Dan kita juga bisa bertumbuh bersama pasangan. Jadi bukannya yang satu bertumbuh, yang satu malah nggak tumbuh. Melainkan saling support sehingga kedua belah dapat sama-sama berkembang dan mengoptimalkan semua potensi dan kemampuan dalam dirinya,” ujarnya.

Akibatnya?

“Tercipta hubungan yang sehat, saling support, saling mendukung, mencintai, saling terbuka, saling menjaga privasi, saling percaya dan saling terbuka. Jadi ada trust di situ, komunikasinya terbangun dengan baik, sehingga kualiatas hubungan itu menjadi sangat kuat dan menjadi hubungan sehat dan bahagia,” bebernya.

Kesimpulan

apa arti bucin
Foto: www.freepik.com

Rena mengatakan bahwa dari sudut pandang ilmu psikologi, Robert J. Sternberg, seorang psikolog dan ahli psikometri mengatakan bahwa cinta terdiri dari tiga komponen, yakni intimacy, passion, dan commitment.

“Jadi, menyumbang tentang hubungan yang bahagia dan sehat tadi, hubungan harus memiliki tiga komponen ini. Di mana proporsi ketiga komponen ini dalam hubungan yang sehat harus proporsional. Namun komposisi komponen-komponen ini pun bisa berubah seiring dengan perjalanan pernikahan,” ujarnya.

Misalnya, di awal pernikahan, komponen passion itu memiliki persentase yang tinggi, tapi pada saat pernikahan sudah berjalan 10 tahun, 20 tahun, mungkin komponen ini mulai berkurang. Namun intimacy mungkin meningkat, atau commitment juga meningkat. Yang pasti dalam cinta, tiga komponen ini harus ada.

Nah, bagaimana dengan hubungan bucin dan majikannya, apakah ketiga komponen ini ada? Hanya kamu yang sedang menjalin hubungan cinta yang bisa menjawabnya.