Bagaimana Orang Tua Menghadapi Anak Yang Memperlihatkan Ciri-Ciri Pubertas

ciri-ciri anak pubertas
Foto: www.pexels.com

Tidak hanya pada dirinya sendiri, biasanya masa puber yang dialami oleh buah hati juga akan berdampak pada kehidupan orang tua. Oleh karena itu sangat penting bagi orang tua untuk memahami ciri-ciri anak pubertas.

Sehingga nantinya ketika ciri-ciri anak pubertas ini telah muncul, maka orang tua bisa mendampingi buah hati untuk melewati masa ini dengan baik.

Simak penuturan dari Yohana Budisusetia, M.Psi., Psikolog, seorang Psikolog Pendidikan Anak dan Remaja dari Biro Pusat Pengembangan Psikologi Jejak Kaki Jakarta Selatan sekaligus Founder Tuwaga Community, terkait cara menghadapi anak yang tengah mengalami masa puber.

Apa Itu Pubertas?

ciri-ciri anak pubertas
Foto: www.canva.com

Menurut Yohana, pada tahap perkembangan remaja nantinya anak akan mengalami pubertas. “Pubertas adalah masa peralihan dari anak-anak menjadi dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan hormon di dalam tubuh, biasanya ini berkaitan dengan kematangan organ-organ reproduksinya,” ungkapnya.

Sebagian besar anak perempuan memulai masa puber ketika mereka berada dalam usia 8-13 tahun. Sementara pada anak laki-laki, pubertas akan dialami saat mereka memasuki usia 10-16 tahun.

“Memang anak laki-laki mengalami masa puber lebih lambat dibandingkan dengan anak perempuan,” katanya.

Apakah Pubertas Akan Berdampak pada Kehidupan Anak?

Foto: www.pexels.com

Psikolog Pendidikan Anak dan Remaja ini mengatakan bahwa pubertas dapat berdampak pada perkembangan anak. Mulai dari perkembangan fisik, kognitif, bahasa, emosi, dan sosial.

Fisik

“Terdapat perubahan fisik yang paling menonjol. Karena memang banyak terjadi pada perubahan organ tubuh,” ujarnya.

Kognitif

Selain itu, perkembangan otak pada saat pubertas juga ikut berkembang. “Jika sebelumnya anak membutuhkan pelajaran secara konkret, begitu memasuki masa pubertas sudah bisa mengenal konsep abstrak,” paparnya.

“Yakni tanpa melihat objek secara nyata, namun anak sudah mulai mampu membayangkan dan menganalisis,” lanjutnya.

Bahasa

Kemampuan bahasa pada anak remaja juga akan berkembang, mereka lebih bisa memahami konteks berbahasa.

“Jadi remaja sudah bisa membedakan gaya berbicara dengan orang yang lebih tua dan dengan teman-teman sebayanya,” tutur Yohana.

Emosi

Pada usia remaja biasanya akan sangat terpengaruh oleh hormon. “Jadi akan cukup umum untuk remaja mengalami mood swing, yaitu misalnya pada siang hari seorang anak akan merasa girang tetapi bisa saja di sore harinya tiba-tiba ia merasa murung karena ada sesuatu yang tidak disukainya,” ujarnya.

“Remaja juga merasa dirinya unik, berbeda dari orang lain, dan tidak akan ada orang yang bisa memahami keunikannya. Karena secara emosional sedang berkembang, maka mereka kemudian lebih banyak mengamati dirinya,” lanjut Yohana.

Perubahan-perubahan tubuhnya yang relatif mendadak juga bisa membuatnya bingung. Di saat yang bersamaan, mereka juga berusaha untuk memahami emosinya sendiri.

Sosial

Perkembangan sosial yang paling terlihat adalah kebutuhan yang jauh lebih besar kepada teman. “Yang tadinya seorang anak sangat bergantung pada ibunya, begitu remaja ia akan lebih ingin berbagi segala rahasia kepada temannya saja,” tuturnya.

“Remaja merasa lebih membutuhkan orang-orang yang memiliki pengalaman dan merasakan hal yang sama dengan dirinya. Mereka juga membutuhkan dukungan dan persetujuan dari teman seusianya,” kata Yohana.

Apakah Pubertas Anak Ini Berdampak bagi Orang Tua?

ciri-ciri anak pubertas
Foto: www.pexels.com

“Karena orang tua berperan untuk mendampingi dan juga membantu remaja agar bisa melewati masa pubertas dengan baik. Sehingga orang tua akan secara tidak langsung juga mengalami dampaknya,” ungkapnya.

Sebagai orang tua, ayah dan ibu sangat perlu memberikan pendampingan serta dukungan sepenuhnya. Hal ini bertujuan agar fase pubertas dapat terlewati tanpa rasa khawatir, atau setidaknya fase ini menjadi fase yang menyenangkan untuk dilalui.

“Dengan memberikan perhatian lebih, kedekatan antara orang tua dan anak juga bisa menjadi lebih baik. Orang tua bisa mencoba untuk memahami apa yang dirasakan oleh anak,” tuturnya.

Seperti menjadi teman yang menyenangkan untuk mendengar semua keluh kesah sang buah hati. Baik itu tentang tubuhnya, pergaulannya, atau hal kecil lain yang mungkin sangat berarti baginya.

Baca Juga :  Bagaimana Menghadapi Anak yang Suka Menangis?

“Cobalah untuk meyakinkannya jika perubahan yang terjadi ini adalah fase yang normal dan semua anak mengalaminya. Hanya saja, setiap anak mungkin memiliki cerita yang berbeda,” saran Yohana.

Psikolog Pendidikan Anak dan Remaja ini juga menambahkan bahwa komunikasi menjadi kunci penting dalam mendampingi anak melalui fase puber.

“Berikan pujian atas keberhasilan yang dicapai, tetapi hindari untuk memuji secara berlebihan. Selalu berikan arahan agar anak lebih percaya diri dan mampu mengekspresikan dirinya lebih baik lagi pada setiap kesempatan,” anjurnya.

Rangkulan orang tua dapat membantu mereka untuk melalui kekecewaan atau kegagalan dalam hal apa pun.

Bagaimana Ciri-Ciri Anak Pubertas?

ciri-ciri anak pubertas
Foto: www.pexels.com

Yohana menuturkan bahwa ciri-ciri anak pubertas ini terbagi dalam dua hal, yakni

Ciri-ciri anak perempuan pubertas

Ciri-ciri anak pubertas pada perempuan adalah:

  • Pertumbuhan payudara
  • Menstruasi pertama
  • Mulai tumbuh jerawat pada wajah
  • Tumbuh rambut di area organ seksual dan ketiak
  • Munculnya kumis tipis pada beberapa anak perempuan
  • Lebih mudah berkeringat
  • Mulai mengalami keputihan
  • Tinggi badan meningkat drastis sejak menstruasi, biasanya 5-7.5 cm setiap tahun
  • Berat badan mulai meningkat
  • Pinggul membesar sementara pinggang mengecil

Ciri-ciri anak laki-laki pubertas

Sedangkan ciri-ciri pubertas pada anak laki-laki ditandai dengan:

  • Pertumbuhan penis dan testis
  • Skrotum anak laki-laki akan berubah menjadi semakin gelap
  • Tumbuh rambut di area organ seksual dan ketiak menjadi lebih tebal
  • Produksi keringat bertambah
  • Mengalami mimpi basah
  • Terjadinya perubahan suara yaitu menjadi lebih berat
  • Mulai tumbuh jerawat baik di area wajah maupun badan
  • Tinggi anak laki-laki bertambah hingga 7-8 cm setiap tahun
  • Terbentuk otot-otot pada tubuh
  • Mulai tumbuh rambut pada wajah

Apa yang Harus Dilakukan Anak yang Sedang Pubertas?

Foto: www.canva.com

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan anak yang tengah mengalami pubertas, yakni:

Menjaga kebersihan tubuh

“Dalam masa pubertas, aktivitas kelenjar minyak dan keringat akan meningkat. Akibatnya wajah akan mudah berjerawat dan tubuh berbau kurang sedap,” tuturnya.

Oleh karena itu remaja perlu menjaga kebersihan tubuh dengan mandi secara teratur. Serta mengenakan pakaian yang mudah menyerap keringat.

Menjaga kesehatan dengan memilih makanan sehat dan berolahraga

Yohana menyarankan agar mencoba memilih makanan yang lebih sehat. “Yakni yang berasal dari bahan-bahan segar dan diolah dengan cara yang sehat, misalnya tanpa pengawet, pemanis buatan, atau penyedap rasa,” katanya.

“Perbanyak pula minum air putih untuk menggantikan cairan tubuh yang keluar berupa keringat,” lanjutnya.

Hati-hati bergaul dengan lawan jenis

Pada masa puber, organ reproduksi telah aktif. Oleh karena itu sebaiknya remaja perlu bergaul dengan lawan jenis dalam batas yang wajar dan hindari berdekatan terlalu eksklusif antara laki-laki dengan perempuan.

Memilih bacaan dan tontonan yang sesuai umur

“Saat ini, akses untuk bacaan dan tontonan dapat dengan mudah kita peroleh lewat internet. Namun coba pilihlah bacaan dan tontonan yang baik, menambah wawasan, sesuai dengan usia remaja, dan hindari membaca atau menonton konten dewasa,” sarannya.

Adakah Bahaya Psikologis yang Bisa Terjadi Ketika Anak Pubertas?

Foto: www.freepik.com

Yohana berkata bahwa gangguan psikologis juga termasuk salah satu masalah remaja yang perlu mendapatkan perhatian dari orang tua.

“Penelitian telah mengungkapkan bahwa sekitar 50% gangguan kesehatan mental yang dialami orang dewasa, dimulai pada usia 14 tahun. Faktanya, sepertiga kematian remaja disebabkan karena bunuh diri yang dipicu oleh depresi,” ungkapnya.

Berikut beberapa masalah psikologis yang rentan terjadi pada usia remaja:

  • Kecemasan dan gangguan mood
  • Masalah harga diri atau kepercayaan diri. Perasaan inferioritas atau superioritas sering muncul dari penampilan mereka dan penerimaan tubuh mereka, seperti warna kulit atau kecantikan
  • Kinerja yang buruk di bidang akademik dan IQ rendah juga dapat menurunkan motivasi mereka
  • Depresi adalah salah satu masalah psikologis umum yang terkait dengan masa remaja
  • Stres dan tekanan masa remaja dapat menciptakan masalah terkait kecemasan, sementara perubahan suasana hati dapat menyebabkan perilaku memberontak
  • Gangguan makan juga bersifat psikosomatik, karena mereka mulai dengan remaja yang memiliki citra diri yang buruk dan kebutuhan untuk mengubah penampilan mereka dengan cara apa pun.
Baca Juga :  Mengapa Ada Yang Lebih Memilih Tidak Berpacaran Tapi Tetap Menjaga Komitmen?

Mengapa Remaja Pubertas Cenderung Berperilaku Antisosial?

ciri-ciri anak pubertas
Foto: www.pexels.com

Di masa pubertas, anak mulai mengalami perubahan pada tubuhnya, dan ketika apa yang terlihat tidak sesuai dengan harapannya, maka anak akan merasa kecewa. Ini akan memberikan pengaruh buruk terhadap konsep diri.

“Hal tersebut dapat menyebabkan perilaku antisosial, di mana dukungan sosial juga sangat memengaruhi konsep diri. Ketika anak tidak cukup mendapatkan dukungan sosial dari orang lain, hal ini akan menimbulkan sikap negatif terhadap diri anak tersebut,” ungkapnya.

Jika konsep diri yang kurang baik pada anak terus berkembang, hal itu akan segera terlihat dalam perilaku anak sehari-hari.

“Anak akan menjadi lebih menarik diri dan sedikit melibatkan dirinya dalam kegiatan sosial. Atau menjadi lebih agresif dan tertutup, serta cenderung menunjukkan bentuk agresivitas terhadap perlakuan yang dianggap tidak adil,” terangnya.

Bagaimana Sikap Orang Tua Menghadapi Anak yang Antisosial?

ciri-ciri anak pubertas
Foto: www.pexels.com

Sebagai orang tua, kita perlu peka terhadap perubahan emosi dan perilaku anak. Karena masa puber adalah masa-masa yang naik turun.  

“Orang tua mesti peka terhadap perubahan emosi dan perilaku pada anak. Cermati apabila anak mengalami kurang tidur atau tidur berlebihan, cemas, depresi, tidak berteman, hingga perubahan nilai di sekolah,” sarannya.

Cobalah untuk membantu anak untuk menghadapi masalah mereka dengan menjadi pendengar dan teman yang baik. “Jangan ragu untuk meminta bantuan profesional seperti konselor atau psikolog untuk mengatasi masalah pada anak,” anjurnya.

Bagaimana Jika Anak Mengalami Masalah Pubertas?

Foto: www.canva.com

Tak jarang, terdapat beberapa anak yang mengalami masa pubertas terlambat atau terlalu cepat.

Pubertas dini

Seorang anak dikatakan mengalami pubertas dini atau pubertas prekoks apabila ia mengalami ciri-ciri pubertas yang lebih awal sebelum memasuki masanya. “Kondisi ini terjadi di usia sembilan tahun pada anak laki-laki dan usia delapan tahun pada anak perempuan,” ucapnya.

Kondisi pubertas dini merupakan pertumbuhan abnormal yang dapat memengaruhi pertumbuhan fisik dan mental anak pada masa mendatang.

“Masalah yang dihadapi ketika anak mengalami pubertas dini adalah buah hati sulit untuk beradaptasi secara emosional dan sosial. Adanya masalah kepercayaan diri atau merasa kebingungan adalah yang paling sering dialami anak perempuan karena perubahan fisiknya,” jelas Yohana.

“Perubahan perilaku dapat terjadi pada anak laki-laki maupun perempuan yang diakibatkan karena perubahan mood dan cenderung lebih cepat marah. Anak laki-laki dapat cenderung menjadi agresif dan memiliki dorongan seks yang tidak sesuai dengan usianya,” lanjutnya.

Pubertas terlambat

Pada kasus tertentu, anak masih belum merasakan perubahan saat umurnya sudah menginjak usia pubertas. Kondisi ini bisa juga disebut sebagai late atau delayed puberty.

“Puber yang terlambat bisa terjadi pada anak laki-laki maupun perempuan. Pada anak laki-laki, tandanya bisa dilihat ketika ukuran penis belum meningkat di usia 14 tahun,” ujar Yohana.

“Sementara pada anak perempuan, hal ini bisa ditandai ketika payudara belum berkembang di umur 14 tahun. Keterlambatan pubertas ini dapat berisiko membuat anak remaja menjadi depresi,” imbuhnya.

Hal ini sering kali terjadi karena faktor lingkungan yang memojokkan keterlambatan pubertas tersebut.

Lantas, bagaimana orang tua harus menyikapinya?

“Umumnya orang tua akan merasa khawatir jika anak tidak menunjukkan ciri-ciri pubertas saat sudah memasui usia puber atau bahkan terlalu dini. Sebaiknya orang tua dapat berkonsultasi pada dokter jika buah hati mengalami masalah di fase pubertasnya,” jawab Psikolog Pendidikan Anak dan Remaja ini.

Kesimpulan

Foto: www.freepik.com

Masa pubertas mungkin merupakan masa yang tidak mudah bagi setiap anak yang menghadapi. Sebab perubahan bukanlah hal yang mudah.

“Namun ketika berhasil melewati masa pubertas dengan baik, maka akan memiliki dampak yang positif pada remaja nantinya. Oleh karena itu, bagi remaja cobalah untuk tetap menjalani masa pubertas dengan semangat dan positif,” saran Yohana.

Sedangkan untuk orang tua yang tengah menghadapi anak yang sedang mengalami masa pubertas, “ingatlah bahwa peranan kita sebagai orang tua menjadi sangat penting. Jadi berikan waktu dan jangan sia-siakan kesempatan untuk mendampingi anak agar bisa melewati masa pubertas dengan baik,” tutupnya.