Ini Cara Agar Tetap “Waras” di Rumah dan Tempat Kerja

Foto: www.canva.com

Pernyataan di atas terdengar seperti mitos. Terutama jika pekerjaan terus menumpuk (kecepatannya mengalahkan kecepatan motor Marc Márquez), kepala nyut-nyutan (kekuatannya 100x dibandingkan saat setelah menonton Inception), dan toilet di rumah yang masih mampet (pekerjaan dan sakit kepala membuat tidak punya daya menelepon servis). Alhasil, selain sumpah serapah (dalam hati), satu hal yang dikeluarkan oleh tubuh adalah kortisol. Adakah cara agar tetap “waras” saat tuntutan di kantor dan rumah agak tidak berperikemanusiaan? Hmm. A-D-A. Dan kamu bisa melakukannya. Berikut beberapa di antaranya:

Gunakan Semua Jatah Liburanmu

Kamu punya jatah cuti/liburan 12 hari dalam setahun? Gunakan semuanya. Dan jika memungkinkan, ambil cuti secara sporadis. Percayalah, kamu membutuhkan piknik (sebanyak yang bisa kamu dapatkan. Mengambil cuti sebentar dari pekerjaan diperlukan untuk mendapatkan inspirasi, kejernihan pikiran, dan terhubungn kembali dengan dirimu dan keluarga. Dengan melakukan hal ini kamu akan bisa mereflekasikan dan memperoleh kesegaran baru atas tujuan hidup dan tujuan karier.

Makan yang Benar

Konsumsi makanan sehat. Serius, tidak ada yang perlu dibanggakan saat mengatakan, “aduh, nggak punya waktu untuk makan. Sibuk banget!” Kebiasaan tersebut tidak sehat baik untuk pikiran dan tubuh secara fisik. Jadi, pastikan kamu menikmati makan siang dan cemilan sehat sepanjang hari. Kalau bisa, usahakan makan di luar, bukan di depan meja atau komputer. Gunakan waktu makan siang untuk menjalin hubungan dengan teman kantor—atau diri sendiri (tidak ada yang salah dengan makan siang sendirian dan menikmati setiap kunyahan).

Oh, bagaimana dengan junk food? Sebuah video TED Talks bunyinya begini: “junk food tidak memenuhi kebutuhan gizi kita dan sebenarnya membuat kita merasa buruk.” Hei, bukan berarti dilarang ya, tapi mungkin tidak setiap hari?

Miliki Rasa Belas Kasihan

Ngomong sama tangan—begitu mungkin respon spontan beberapa orang. Namun, hal ini penting. Menurut Donald Altman, seorang profesor di Portland State University untuk Interpersonal Neurobiology Certificate Programs dan penulis buku Reflect: Awaken to the Wisdom of the Here and Now, karakter ini akan “mampu mengubah perspektif seseorang,” tulisnya di Psychology Today. Bukan dalam arti yang klise, tapi benar-benar realistis dan membantu. Rasa belas kasih akan membuatmu bisa menerima hal-hal di luar kendali dan tidak bisa diprediksi. Altman mengingatkan bahwa rasa belas kasih ini meliputi rasa belas kasih terhadap orang lain, bersedia menerima belas kasih dari orang lain, dan rasa kasih terhadap diri sendiri.

Jauhkan Diri dari Ponsel

Tenang, tidak perlu berhari-hari. Kita semua tahu betapa detoks digital langsung selama 24 jam super duper nyaris tidak mungkin *emoji angkat bahu*. Jadi, mulai pelan-pelan. Awali dengan membuktikan kamu bisa hidup tanpa teknologi selama 15 menit. Seiring berjalannya waktu, tambah durasinya tanpa mengecek (misalnya) Instagram, Twitter, Facebook dan email (misalnya selama 30, 60 menit dan beberapa jam) sampai akhirnya kamu terbiasa jauh dari dunia maya selama beberapa jam tanpa merasa seperti disiksa oleh Pennywise. Cara lain, tentukan waktu-waktu tertentu di mana kamu tidak akan berselancar di dunia maya dan kapan kamu kamu mengecek email.

Yeah, yeah, kata-kata memang mudah, tapi realitanya… meh! Tapi perubahan akibat detoks digital itu banyak hikmah dan keuntungannya. Seorang psikolog mengatakan, hal tersebut merupakan “investasi yang sangat bernilai bagi kesehatan emosional kita.”

Olahraga, Olahraga dan Olahraga

Kamu pasti sudah sering mendengar ini (dan mungkin sudah muak?), tapi pada kenyataannya ini memang sangat penting. Seperti yang kita tahu, saat olahraga tubuh mengeluarkan endorfin (salah satu happy hormone), membuat tidur lebih nyenyak dan meningkatkan rasa percaya diri. Jadi, singkatnya, olahraga adalah obat terbaik untuk mengurangi stres dan menjauhkan diri dari penyebab stres.

podcast button