Bagaimana Cara Meminta Maaf kepada Pasangan—dengan Benar

Foto: www.istock.com

Kapan terakhir kali kamu berbuat kesalahan—dan bilang “mea culpa” (saya salah) kepada pasangan? Jawaban untuk yang pertama mungkin, ehm… lima menit yang lalu, sementara respon untuk pertanyaan terakhir, ehm… kapan, ya? Kamu tidak sendirian. Menurut sebuah penelitian, sejumlah orang menolak untuk meminta maaf karena tidak ingin merasa buruk atas dirinya sendiri. Bahkan beberapa percaya bahwa meminta maaf kepada pasangan berarti merendahkan diri dan membiarkan orang lain menang! Oh, well.

Seorang ahli berpendapat bahwa, “sebuah permintaan maaf merupakan sebuah bentuk komunikasi penting dan utama yang mengungkapkan sebuah pesan sederhana bahwa kamu adalah manusia biasa dan bentuk pertanyaan: “saya sadar dan saya peduli”. Lantas, bagaimana cara meminta maaf kepada pasangan tanpa membuat harga diri dan mukamu seperti tercoreng dan ternoda? Berikut beberapa tips dari para ahli.

Pertama dan utama: miliki rasa empati

Hal ini langkah pertama yang sebaiknya dilakukan karena tanpanya akan membuat permintaan maaf terdengar basa-basi. “Ambil waktu untuk mendengarkan pasanganmu, dan biarkan mereka menggambarkan perasaan dan pikiran mereka,” tulis Jessa Zimmerman, M.A., seorang terapis seks dan penasihat pasangan, pembawa acara Better Sex Podcast. Tunjukkan respek dengan cara tidak menyela atau membela diri saat dia berbicara; ini agar kamu bisa mengerti perspektif mereka. Cobalah untuk bersabar. Ada hal yang tidak kamu setujui? Utarakan saat dia selesai berbicara.

Lalu, komunikasikan tentang apa yang kamu dan dia bicarakan. Tanya apakah ada yang kamu lewatkan atau ada hal lain yang mereka ingin tambahkan. Selanjutnya, lakukan tahap ke dua di bawah ini.

Akui kesalahan dan bertanggung jawab

Perkataan “maaf” saja tidak cukup. Memberikan alasan kenapa sebuah pernyataan atau tindakan dilakukan dan membuat pasangan sakit hati juga tidak membantu. “Kamu malah terdengar defensif saat membenarkan perilakumu tersebut,” tulis Ann Gold Buscho, Ph.D., seorang psikolog klinis dan ahli masalah keluarga. Membuat pernyataan maaf tersebut adalah hanya tentang kamu, bukan pasanganmu. Sebaliknya, ketika kamu mengakui kesalahan, berarti kamu bertanggung jawab dengan apa yang sudah kamu lakukan.

Coba katakan, “Ya ampun, aku benar-benar lupa janji kita dan membuatmu menunggu lama! Kamu pasti marah dan sakit hati. Ini sebuah kesalahan, dan aku benar-benar minta maaf. Aku juga janji akan mengaktifkan reminder supaya tidak lupa lagi. Adakah yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahan ini?”

Ekspresikan permintaan dengan kata-kata dan non-verbal

Meski kata-kata “maaf” itu penting, tingkah laku yang kita tunjukkan selama dan setelahnya juga sangat penting. Ucapkan permintaan maaf dari hati yang paling dalam (terdengar klise, tapi memang begitu kenyataannya). Dan jangan lakukan lagi kesalahan yang sama.

Sebuah penelitian terbaru bahkan percaya bahwa “air mata bisa membuat permintaan lebih efektif” dibandingkan sikap tubuh lainnya. Asal jangan air mata buaya, kancil atau tikus, ya! Akan tetapi, air mata juga tidak selalu berhasil! “Apa yang sepertinya penting bagi korban adalah para peminta maaf berjanji untuk tidak mengulangi hal yang sama di masa depan, dan pelaku menepati “janji-janji nyata” yang diungkapkan melalui permintaan maaf tersebut,” jelas penelitian tersebut.

Kesimpulannya? Sebuah penelitian lain menyarikan komponen-komponen penting dalam meminta maaf:

  • Mengekpresikan penyesalan
  • Menjelaskan apa yang salah
  • Mengakui dan tanggung jawab atas kesalahan
  • Deklarasi tidak akan mengulanginya lagi
  • Menawarkan cara memperbaikinya
  • Meminta pengampunan

Pasanganmu belum bersedia memaafkan detik itu juga? Berikan waktu karena “pengampunan adalah sebuah proses, bukan sebuah peristiwa.”

podcast button