13 Buku Fiksi Terbaik tentang Mental Health

buku fiksi
Foto: Istimewa

Ada banyak hal yang istimewa dengan buku fiksi, dan membuat kita sulit menutupnya hingga halaman terakhir. Dan ada banyak tema yang dipilih oleh penulis fiksi, mulai dari percintaan hingga mental health.

Dari berbagai dekade selalu ada buku fiksi tentang mental health yang mampu mengubah hidup siapapun yang membacanya. Sebut saja The Bell Jarr dari Sylvia Platt, Mrs. Dalloway (Virginia Woolf), The Silver Linings Playbook karya Matthew Quick hingga yang terbaru This is My Brain in Love milik I. W. Gregorio. Jika isu mental health adalah sesuatu yang ingin kamu tahu lebih dalam, berikut adalah buku fiksi terbaik yang menggambarkan kesehatan mental.

This is My Brain in Love | I. W. Gregorio

Foto: www.goodreads.com

Diceritakan dari dua pandangan tokoh utamanya, This Is My Brain in Love merupakan novel YA yang mengekspolasi mental health dan cinta, ras, dan penerimaan diri.

Ada Jocelyn Wu yang hanya memiliki tiga impian di masa remajanya: survive dari rasa bosan, menyutradrai film pendek dengan sobatnya, dan menjalani hidup tanpa dibandingkan dengan Peggy Chang, siswa China lain di sekolahnya. Lalu ada Will Domenici yang memiliki dua mimpi: mendapatkan pekerjaan magang dan menjadi editor sukses untuk surat kabar sekolahnya. Bagaimana saat kedua orang ini bertemu? Inilah sebabnya kamu harus membaca buku fiksi ini.

The Weight of Our Sky | Hanna Alkaf

Foto: www.goodreads.com

Melati, seorang remaja yang suka musik dan menderita OCD, melakukan segala cara untuk bisa kembali kepada ibunya. Hal ini tidak mudah karena Kuala Lumpur, Malaysia, pada saat itu (1969) sedang dipenuhi dengan kekacauan.

Imagine Me Gone | Adam Haslett

Foto: www.goodreads.com

Novel ini fokus pada perjuangan ayah dan anak yang mengalami depresi kronis dan anxiety serta usaha mereka untuk menjalani hidup dengan kondisi tersebut. Meski novel ini bukanlah novel yang mudah atau ringan untuk dibaca, tetapi ceritanya disampaikan dengan begitu hebat dan lembut. Buku fiksi ini masuk daftar pendek National Book Award dan Pulitzer Prize for Fiction 2017.

The Bell Jar | Sylvia Plath

Foto: www.goodreads.com

Buku fiksi klasik ini diterbitkan pada 1963, dan menjadi satu dari buku penting tentang depresi. Sylvia Plath, yang sebelumnya dikenal karena puisinya, untuk pertama kali dan terakhirnya menulis novel dengan nama samaran Victoria Lucas.

Novel ini bercerita tentang Esther Greenwood, seorang penulis muda yang hidup dengan depresi dan kesulitan beradaptasi dnegan hidupnya sebagai jurnalis di New York. Sebagai informasi, Plath melakukan bunuh diri ketika berusia 30 tahun, satu bulan setelah buku ini dirilis di Inggris.

The Marriage Plot | Jeffrey Eugenides

Foto: www.goodreads.com

Novel ketiga karya Eugenide ini berpusat pada karakter bernama Madeline, seorang mahasiswa sastra Inggris yang berjuang memperbaiki hubungannya dengan dunia sastra. Plot utamanya adalah hubungannya yang rumit dengan Leonard. Diperkirakan Leonard adalah David Foster Wallace, teman Eugenides yang mengalami depresi selama hidupnya dan akhirnya memutuskan untuk bunuh diri.

Darius the Great is Not Okay | Adib Khorram

Foto: www.goodreads.com

Darius yakin bahwa dirinya tidak cocok, entah itu di Amerika atau di Iran. Novel debut dari Adib Khorram ini diceritakan dengan lucu dan menyayat hati yang membuatmu tidak akan menutupnya sampai halaman terakhir.

Mrs. Dalloway |Virginia Woolf

buku fiksi
Foto: www.goodreads.com

Di novel yang diterbitkan pada 1923 ini, Virginia Woolf mengisahkan kehidupan seorang ibu rumah tangga bernama Clarissa Dalloway yang merencanakan sebuah pesta. Dan juga menggambarkan kesulitan yang dialami karakter lain di dalam buku ini.

Melalui Septimus, seorang veteran Perang Dunia I, Woolf mempertanyakan metode yang digunakan untuk mengobati gangguan mental pada saat itu. Woolf sendiri adalah memiliki bipolar disorder dan mengalami depresi sepanjang hidupnya, dan bunuh diri pada usia 59 tahun. Buku fiksi ini dianggap sebagai karya terbaiknya.

The Hours: A Novel | Michael Cunningham

buku fiksi
Foto: www.goodreads.com

Buku ini menggabungkan kehidupan dari tiga karakter dari periode yang berbeda dan menggambarkan kehidupan yang dipenuhi dengan depresi, anxiety, dan bunuh diri.

Di Richmond pada 1923, penulis Virginia Woolf sedang menulis Mrs. Dalloway, dan menderita gangguan mental. Di 1949 di Los Angeles, Mrs. Brown, istri dari seorang veteran perang, sedang membaca Mrs. Dalloway. Di 1999 di New York, Clarissa sedang merencanakan sebuah pesta. The Hours memenangkan Pulitzer Prize untuk fiksi pada 1999.

After Birth | Elisa Albert

buku fiksi
Foto: www.goodreads.com

Tidak sedikit wanita yang mengalami postpartum depression, tapi memang masih sedikit yang mengangkat topik ini baik dalam bentuk nonfiksi atau fiksi. Novel dari Albert ini dengan jujur dan blak-blakan menggambarkan bagaimana menjadi ibu memberikan efek bagi fisik dan mental seseorang.

Everything Here Is Beautiful | Mira T. Lee

buku fiksi
Foto: www.goodreads.com

Buku fiksi debut dari Mira T. Lee ini menceritakan hubungan antara dua saudara perempuan yang memiliki darah China-Amerika. Miranda, sang kakak, dan sang adik, Lucia. Bagaimana Miranda, yang meski menderita manik, menjadi perawat untuk adiknya. Everything Here is Beautiful menekankan tentang pengorbanan yang sering kita lakkan untuk orang-orang tercinta.

The Silver Linings Playbook | Matthew Quick

buku fiksi
Foto: www.goodreads.com

Matthew Quick berhasil menuliskan sebuah buku fiksi tentang mental health dengan cara yang menyenangkan. Novel ini bercerita tentang Pat, seorang guru muda yang kelaur dari rumah sakit jiwa dan bertemu dengan Tiffany, janda yang mendorongnya untuk berpartisipasi dalam sebuah kontes menari.

The Silver Linings Playbook mencoba menggambarkan bagaimana hidup saat mengalami depresi, anxiety, dan mood swings. Dan seperti yang kamu tahu Jennifer Lawrence memenangkan Oscar atas kesuksesannya memerankan Tiffany.

The Man who Mistook his Wife for a Hat | Oliver Sacks

buku fiksi
Foto: www.bookdepository.com

Buku ini super menyedihkan dan akan mengubah pandanganmu tentang penyakit mental. Penulis buku ini, ahli saraf Oliver Sacks, menuliskan kasus-kasus dari beberapa pasiennya dengan bahasa yang sangat mudah dimengerti. Termasuk tentang P, seorang guru musik yang menyangka istrinya adalah sebuah topi.

The Catcher in the Rye | J.D. Salinger

buku fiksi
Foto: www.goodreads.com

Geram dengan kemunafikan manusia dan efek menyeramkan dari Perang Dunia II, seorang remaja bernama Holden Caulfield memikirkan tentang bunuh diri dan mengalami berbagai kesedihan, nostalgia dan rasa frustrasi. Meski sudah lama banget diterbitkan (1951, lebih tepatnya), novel ini menggambarkan bagaimana masalah sosial dan kekacauan bisa memberikan dampak mengerikan bagi siapapun.

Selanjutnya: Ini buku dengan cerita cinta yang paling inspiratif.