Bagaimana Mengajarkan Empati kepada Anak Sejak Dini, Menurut Psikolog Anak

empati adalah
Foto: www.freepik.com

Selamat—kamu sudah berhasil menjadi pribadi yang memiliki empati (bukti teranyarnya adalah kamu selalu memakai masker setiap keluar rumah dan memilih untuk tetap di rumah jika memungkinkan). Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana menularkan rasa empati tersebut kepada si kecil? Pasalnya, empati adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan, tapi sepertinya menjadi karakter yang langka saat ini (melirik Twitter dan instagram).

Untuk mencari tahu cara mengajarkan kemampuan ini kepada anak, LIMONE menghubungi Fathya Artha Utami, M.P.si., Psikolog, seorang psikolog anak dan Co-founder TigaGenerasi.

Apa Sebenarnya Definisi Empati?

empati adalah
Foto: www.rawpixel.com

“Secara umum empati adalah diartikan sebagai kemampuan untuk membayangkan perasaan orang lain di situasi tertentu dan kemudian memberikan respon yang sesuai dengan penuh perhatian,” jelas Fathya.

Simpati. Empati. Hanya berbeda tiga huruf, dan bunyinya mirip dan berima. Apakah ini dua hal yang sama?

“Empati dan simpati berbeda,” tegasnya.

Coba perhatikan gambar di atas. “Empati lebih dalam dari simpati, sehingga orang yang memiliki simpati belum tentu ia berempati,” terangnya.

Oh.

“Empati juga simpati pun memiliki fungsinya masing-masing. Simpati bisa digunakan ketika memang kita berhadapan dengan permasalahan dari orang yang tidak terlalu dekat atau asing. Sedangkan empati digunakan ketika kita menghadapi permasalahan yang membutuhkan keterlibatan juga kehadiran diri kita,” paparnya.

Dengan kata lain, empati ini sesuatu yang sering ditunjukkan oleh sahabat baikmu saat kamu kesulitan. Sementara simpati adalah sesuatu yang kamu perlihatkan ketika sesama melihat seorang penumpang kereta api yang berdiri tepat di sampingmu kehilangan e-money-nya, dan kamu berusaha menolong dengan melirik-lirik lantai kereta dan ikut bahagia ketika akhirnya kartu tersebut ditemukan.

Mengapa Penting Mengajarkan Anak untuk Memiliki Rasa Empati Sejak Dini?

empati adalah
Foto: www.rawpixel.com

Sebagai seorang dewasa yang sudah malang-melintang di dunia fana ini selama lebih dari 20 tahun, mungkin kamu sudah tahu bahwa empati adalah sesuatu yang penting dimiliki seseorang. Oleh karenanya, bertekad untuk mengajarkan hal ini kepada anak sedini mungkin. Jika ini menjadi salah satu ambisi dalam hidupmu sebagai orangtua, kamu sedang berada di jalur yang tepat.

Pasalnya, “Empati memiliki peran yang penting dalam kehidupan sosial. Anak-anak usia sekolah yang memiliki empati yang baik cenderung memiliki pergaulan pertemanan yang lebih membahagiakan dirinya yang kemudian berdampak pada kesenangannya di sekolah,” jelas Fathya.

Itulah sebabnya, “Empati merupakan kemampuan yang perlu dilatih—dan bisa dilatih sejak dini,” tekannya.

Mungkin kamu penasaran apa yang berpotensi terjadi jika anak tidak diajarkan rasa empati sedari dini.

“Peneliti neuroscience, Max Planck, mengatakan bahwa memang secara umum manusia  memiliki kecenderungan untuk memikirkan diri sendiri, egocentric. Sehingga bagian otak manusia yang mengatur kemampuan empatik perlu dilatih. Jika tidak dilatih tentu kemampuan tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya,” jawabnya.

Bagaimana Mengajarkan Empati kepada Anak?

Foto: www.freepik.com

Jika tadi kita sudah menyinggung tentang mengapa empati adalah sesuatu yang diajarkan kepada anak, sekarang giliran mencari tahu tentang bagaimana melakukannya.

Yang pasti, “Usia menjadi faktor penting karena hal tersebut berkaitan dengan perkembangan kemampuan berpikir, kemampuan bahasa, dan kemampuan sosialnya,” jelas Fathya.

Menurutnya, anak-anak di bawah 4 tahun umumnya masih baru belajar mengenai konsep ini sehingga cukup wajar jika mereka masih belum bisa menunjukkan empati sepenuhnya.

Meski begitu, orangtua tetap bisa melatih anak sejak dini. Berikut beberapa hal yang bisa kamu lakukan:

Untuk melatihnya orangtua bisa melakukan hal-hal berikut:

  • Melatih mengenal emosi, dimulai dari pengenalan emosi dasar pada anak.
  • Melatih untuk memberikan label pada emosi yang dirasakan.
  • Mengajak anak berdiskusi tentang apa yang dirasakan oleh seseorang. Misalnya ada temannya yang menangis, orangtua bisa bertanya, “Kara menangis, apa ya, yang dirasakan oleh Kara?”
  • Mencontohkan. “Contohkanlah bagaimana orangtua juga berempati pada situasi sulit yang dihadapi anak,” ujarnya.
  • Mengajak anak menemukan kesamaan akan dirinya dan temannya, misalnya, ‘Wah lihat deh ,baju kalian sama-sama biru.’ “Latihan menemukan kesamaan ini pun juga bisa melatih anak untuk bisa berempati dan memiliki pemikiran bahwa, ‘ohya, walaupun aku dan orang lain berbeda, tetapi kita tetap memiliki kesamaan,'” paparnya.
  • Ajak anak untuk berlatih bersyukur.

Apa yang Sebaiknya Tidak Dilakukan saat Mengajarkan Hal Ini kepada Anak?

empati adalah
Foto: www.rawpixel.com

Berhubung kita semua masih terus belajar menjadi orangtua yang baik, pasti akan sangat membantu jika ada bocoran tentang apa yang sebaiknya dihindari saat mengajarkan empati pada anak. Iya ‘kan? Berikut hal yang sebaiknya dihindari:

  • Menunjukkan respon yang tidak empatik pada anak. “Ketika kita ingin mengajarkan sesuatu, tentu hal yang paling pertama kita lakukan adalah dengan memberikan contoh. Sehingga, usahakan setiap respon yang kita berikan pada anak memang mencerminkan kemampuan empati,” jelasnya.
  • Terlalu cepat memberikan kesimpulan atau penilaian. “Hindari penggunaan label ‘kamu egois’, ‘kamu kok pelit nggak mau berbagi’, ‘kamu nggak punya empati’ dan hal serupa lainnya. Karena menjadi orang yang memiliki rasa empati ada sebuah proses, sehingga berikan umpan balik yang memang  berfokus pada perilaku yang ia perlihatkan, misalnya ‘lain kali, bisa lho, temannya dibagi makananmu. Sepertinya dia tadi mau,'” ujarnya memberikan contoh.
  • Membandingkan apa yang anak lakukan dengan anak lain. “Hal tersebut malah membuat anak menjadi merasa tidak mampu,” tegasnya.

Bagaimana Mengetahui bahwa Anak Sudah Memiliki Kualitas Ini?

Foto: www.unsplash.com

Meski memiliki kemampuan ini adalah sebuah proses, pasti sesekali kamu ingin mengecek apakah distribusi ilmu dan teladan yang kamu berikan, sudah diresapi dan menjadi bagian dari karakter si kecil.

Fathya menjabarkan bahwa hal ini sangat bisa terlihat oleh mata. Berikut beberapa hal yang ditunjukkan oleh anak ketika dia sudah memiliki rasa empati.

  • Anak bisa membedakan bahwa dirinya dan orang lain adalah berbeda sehingga bisa merasakan dan juga memikirkan hal yang berbeda dalam situasi tertentu.
  • Anak dapat mengenali dan memberikan nama pada perasaan yang ia dan orang lain rasakan.
  • Anak bisa meregulasi emosinya ketika ingin memberikan respon pada orang lain.
  • Anak bisa membayangkan respon seperti apa yang bisa ia tunjukkan untuk menolong seseorang pada situasi tertentu.

“Ketika anak sudah menunjukkan hal-hal tersebut dapat dikatakan bahwa anak mengerti dan bisa mengaplikasikan konsep empati. Namun perlu diingat bahwa empati merupakan kemampuan yang perlu dan bisa dilatih sehingga bisa terus dikembangkan pada anak dan tentu berkembang sesuai dengan usianya,” tekannya.

Selanjutnya: Ini cara mengajarkan anak bisa mengambil keputusan sejak dini.