Apakah Junk Food Benar-Benar Tidak Sehat? Seorang Spesialis Gizi Menjawab Misteri Ini

Foto: www.stocksy.com

Yeay, akhir pekan! Saatnya memanjakan diri dengan sedikit dengan junk food. Boleh ‘kan, ya? Sebelum menikmati burger, mi instan, pizza (menyebut semua makanan ini membuat air liur menetes), ada baiknya kita mengecek terlebih dahulu. Oleh karena yang paling tepat menjawab ini adalah seorang, LIMONE menghubungi Dr Ida Gunawan, MS SpGK (K), pengajar dosen luar biasa program studi gizi klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. Dan juga yang berpraktik di RS Pondok Indah Puri Indah dan RS Hermina Daan Mogot, Jakarta.

Mau tahu seperti apa agar kamu bisa menikmati junk food tanpa merasa bersalah (sesuatu yang kita rasakan setiap kali selesai makan donut)? Baca terus artikel ini sampai habis.

Apa Sebenarnya Junk Food?

junk food
Foto: www.freepik.com

Junk food merupakan makanan yang secara umum tidak memberikan manfaat kesehatan bagi tubuh, karena mengandung kalori yang besar, di mana kalori tersebut umumnya didapat dari gula, lemak jenuh, lemak trans, garam, dll. Sementara zat gizi yang bermanfaat bagi tubuh seperti serat, protein, vitamin, mineral, dll hanya terdapat dalam jumlah yang minimal/ kurang di dalam makanan ini,” jelasnya.

Lebih lanjut, Dokter Ida kembali menekankan bahwa makanan ini tidak memberikan manfaat kesehatan, karena mengandung gula, lemak jenuh, lemak trans maupun garam yang memang tidak dibutuhkan tubuh dalam jumlah yang berlebih.

“Karena dapat menyebabkan timbulnya berbagai penyakit degeneratif. Dan biasanya junk food mengandung gula, lemak jenuh, lemak trans maupun garam dalam jumlah yang memang berlebih dari yang dianjurkan?

Apa Efek Mengonsumsi Junk Food?

Foto: www.unsplash.com

Menurut Dokter Ida, makanan ini dapat “menyebabkan timbulnya berbagai masalah kesehatan seperti naiknya gula darah, darah tinggi, lemak darah yang ikut naik, dan lain-lain.”

Dua penelitian yang diterbitkan pada Mei 2019 di British Medical Journal menunjukkan mengonsumsi ultra-processed food, seperti camilan kemasan, chicken nuggets, dan makanan instan, meningkatkan risiko penyakit jantung dan kematian dini.

Kesimpulan ini didapatkan setelah mengikuti lebih dari 105.000 orang dewasa selama lebih dari lima tahun. Di satu studi, para peneliti ini menemukan bahwa setiap peningkatan 10% jumlah ultra-processed food yang dimakan orang, risiko mereka terkena serangan jantung, stroke, dan penyakit kardiovaskular serius lainnya meningkat menjadi 12%.

Sementara satu studi lagi yang mengamati hampir 20.000 orang dalam periode 20 tahun menemukan bahwa mereka yang mengonsumsi empat porsi makanan olahan setiap hari memiliki risiko lebih tinggi mengalami kematian dini. Hal ini dibandingkan dengan mereka yang hanya mengonsumsi dua porsi per hari.

Studi-studi ini tidak membuktikan apakah junk food sepenuhnya berkaitan dengan kondisi kesehatan tersebut. Namun, makanan olahan tidak hanya penuh dengan lemak, gula, garam, dan kalori. Penelitian ini menunjukkan bahwa junk food mengandung sangat sedikit serat, vitamin, mineral yang mencegah penyakit jantung. Sementara itu, zat pengawet dan aditif lain yang terkandung di dalamnya bisa menyebabkan kenaikan berat badan, pradiabetes, inflamasi, yang berdampak negatif bagi jantung.

Seperti kata Dokter Ida, efek junk food bagi kesehatan, tergantung pada:

  • Seberapa sering makannya
  • Seberapa banyak makannya
  • Apakah ada makanan bergizi lainnya yang dimakan bareng ? Misalnya ayam goreng saja atau ada sayuran lalap yang porsinya besar?

Bagaimana agar Tetap Sehat Saat Sesekali Mengonsumsi Makanan Ini?

Foto: www.unsplash.com

“Secara umum jika mengikuti pedoman diet seimbang, tentunya tidak dianjurkan untuk konsumsi junk food,” tekan Dokter Ida. Dan, “semua orang tidak dianjurkan mengonsumsi junk food dengan frekuensi sering, tanpa memilih kelompok usia,” ujarnya.

Menurutnya jika kamu memang harus (atau terpaksa) makan junk food (karena tidak ada pilihan lain), maka sebaiknya:

  • Dikonsumsi bersama diet sehat lainnya, seperti diberi tambahan serat dari sayuran.
  • Untuk garam yang tinggi bisa dikurangi dengan tidak mengonsumsi kuah makanan tersebut.
  • Untuk makanan yang digoreng, bisa disiasati dengan meniriskan minyak terlebih dahulu dan disertai dengan serat yang cukup.
  • Hindari mengonsumsi dalam jumlah yang berlebih, cukup satu potong saja.

Selanjutnya: Apakah rebusan pertama mi instan perlu dibuang? Ini jawaban dan keterangan dari dua orang ahli gizi.

podcast button